
Hari berlalu Miranda masih kerap menganggu Misel di sekolah. Tapi ia selalu gagal membawa Misel pergi karena Teguh yang menjadi pengawal untuk Misel selalu sigap. Tapi bagi Rena dan Alby, keduanya masih belum bisa bernafas dengan lega.
Kini Rena terdiam di atas ranjang dengan laptop yang menyala di pangkuannya. Dua hari ini Rena sudah mulai menjalankan skripsi, tapi keadaan keluarganya yang sedang sedikit terancam membuat Rena tak bisa fokus, ia begitu takut jika sampai kehilangan Misel.
Di sisi lain, sebagai seorang perempuan, ia pun kerap merasa dilema. Apakah sikapnya yang melarang Miranda bertemu pada putrinya adalah hal yang benar? Bukankah seperti apapun kelakuan Miranda di masa lalu. Dia tetaplah seorang ibu kandung bagi Misel yang tak bisa tergantikan, meski itu dirinya. Apakah dirinya dan Alby tak egois melakukan hal ini, hanya karena takut Miranda membawa pergi. Rena pikir masalah ini tak akan selesai jika tak bicarakan dengan baik-baik.
Sementara Alby yang baru selesai menemani Misel tidur, kini berlalu ke kamarnya, begitu membuka pintu ia mengerutkan keningnya hingga alisnya menyatu, kala menatap istrinya yang sibuk melamun dengan laptop yang menyala di pangkuannya, sementara jarinya sibuk mengetuk-ngetuk keyboardnya.
Entah apa yang tengah perempuan itu pikirkan. Seingatnya Rena mengatakan hendak mulai mengerjakan skripsi tadi, sampai di kamar justru melamun. Bahkan kedatangan sang suami saja Rena tak menyadarinya. Hingga Alby berhasil naik ke atas ranjang, perempuan itu masih tetap sibuk dengan lamunannya. Alby menatap ke arah laptop Rena yang masih menyala.
"Re, itu loh naskahmu bisa ke hapus begitu," ujar Alby seraya menepuk pundak istrinya, membuat Rena tersadar dan menatap ke arah laptopnya, sedetik kemudian ia terpekik.
"Naskahku!!!" pekiknya. Rena berusaha menekan-nekan tombol lain, yang ia kira dapat mengembalikan naskah miliknya yang sebagian terhapus. Sayangnya, usahanya itu sia-sia karena memang naskah Rena belum tersimpan ke dalam file apapun.
"Abang?? Ini gimana, padahal udah setengah jalan. Kok bisa hilang begini, ini gara-gara Abang," sungutnya kesal seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.
Alby melongo mendengar istrinya menyalahkan dirinya. "Loh kok Abang sih? Orang kamu yang sibuk melamun sambil tekan-tekan tombol delete. Makanya kalau lagi sibuk nulis ya nulis aja gak usah ngelamun."
"Pokoknya ini semua karena Abang?! Rena kesel sama Abang," sungutnya.
"Re...?"
"Aku tuh ngelamunin Abang, jadinya kan gini. Aaahh Rena pokoknya kesel sama Abang,"
Alby mengusap wajahnya, ia bahkan tidak tau apa-apa kenapa jadi ia yang disalahkan. "Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang Abang? Kenapa sampai melamun gitu. Bahkan Abang masuk kamar saja kamu sampai tidak sadar," tutur Alby lembut. Ia pikir mengalah adalah jalan terbaiknya saat ini. Bukankah semboyan perempuan itu sangat berlaku, perempuan itu dimana-mana selalu benar.
Rena tersenyum masam meratapi naskahnya yang setengahnya menghilang. Alby mengambil alih laptop istrinya menyimpan filenya, lalu menutup kemudian menyimpannya fi atas nakas. Lelaki itu merasa suasana hati istrinya sedang buruk, kemudian ia menarik kepala istrinya untuk ke letakkan di pundaknya.
"Kenapa Re?" tanyanya seraya mengusap lembut wajah istrinya.
"Bang, aku kepikiran mbak Miranda," ucapnya lirih. Membuat Alby menghentikan gerakan tangannya menatap istrinya penuh selidik.
"Kamu gak-"
Rena menggeleng dengan cepat. "Jangan berfikir yang enggak-enggak bang. Aku hanya berfikir kita salah tidak sih, melarang mbak Miranda untuk bertemu Misel. Sementara perempuan itu begitu kekeh ingin bertemu dengan Misel."
"Re?"
"Aku tau maksud Abang. Dengarkan aku bicara dulu bang." Rena segera menyela ucapan suaminya, dan Alby terdiam menuruti permintaan istrinya.
"Bagaimanapun mbak Miranda itu kan ibu kandungnya Misel bang. Apa gak sebaiknya kita bicara baik-baik agar masalah ini selesai?" ujar Rena.
Alby menghela nafasnya. "Menghadapi Miranda itu tidak bisa dengan baik-baik sayang. Dia itu perempuan ular."
"Tapi bang-"
Sssttt... Alby meletakkan jarinya tepat di bibir istrinya. "Abang ngantuk. Kita tidur aja ya. Kamu juga harus istirahat pasti lelah."
Rena mengangkat kepalanya dan mencebik. Alby memilih merebahkan tubuhnya karena merasa lelah, bukan hanya fisiknya melainkan juga otaknya. Rena hanya menatap sang suami dalam diamnya.
Hari Minggu pagi seperti kebiasaan Reba dan Alby sebelumnya. Keduanya tengah melakukan joging bersama. Sementara Misel yang pagi itu baru bangun tak mendapati keberadaan kedua orang tuanya. Memilih berlalu ke depan rumah, terlihat Bi Surti tengah menyirami tanaman.
Gadis kecil yang masih mengenakan piyama itu berlari.
"Non Misel, jangan main air nanti basah," ujar Bi Surti pada Misel.
"Gak apa-apa Bibi. Aku kan belum mandi, jadi tidak masalah bermain air lebih dulu," kekehnya yang semakin senang bermain air, ia mengarahkan selang air itu ke dalam beberapa tanaman di sana.
"Aduh! Bisa mati ini tanaman kaktus Nyonya." Bi Surti menatap miris pada pohon kaktus milik Rena. Pasalnya Rena mengatakan sangat menyayangi tanaman kaktus itu, sementara jenis tanaman kaktus itu tak bisa terkena banyak air.
"Tenang saja Bibi. Bunda tidak akan marah, bilang saja itu aku yang melakukannya. Bunda itu orang baik mana mungkin marah. Paling dia hanya akan mengatakan, duh tanaman Bunda rusak. Ya udahlah yang penting kamu senang nak." Misel memperagakan ketika Rena berbicara. Membuat Bi Surti tertawa kecil.
Tak lama kemudian, Bi Surti berpamitan masuk ke dalam. Sementara Misel masih betah bermain air di depan rumah, seraya menunggu Ayah dan Bundanya pulang dari joging pagi.
Sebuah mobil BMW berhenti tepat di depan rumah, Misel yang sedang asyik bermain tak menyadari kedatangan Miranda. Turun dari mobil, perempuan itu tersenyum kemenangan, akhirnya tidak sia-sia ia berusaha mencari alamat rumah Alby yang sekarang. Tujuan kedatangannya masih sama, yaitu membawa Misel pergi. Pagi itu ia lihat rumah Alby dalam keadaan sepi. Ia pikir ini adalah kesempatan yang bagus, melihat Misel tengah bermain air seorang diri di depan rumah, ia merasa ini adalah kesempatan yang bagus.
Dengan pelan Miranda membuka pintu gerbang rumah Alby, lalu melangkah masuk.
"Misel? Mama datang nak?" ucapnya yang mengejutkan Misel.
Gadis yang sudah dalam keadaan basah kuyup itu beralih menatap ke arah Miranda dengan tatapan tajam. "Pergi!!" teriaknya marah.
Miranda menggeleng. "Tidak nak. Ini mama nak, mama kangen sama kamu."
Misel masih menggenggam selang di tangannya menggeleng. "Tidak! Aku tidak mau, kau bukan mamaku. Kau itu jahat, aku tidak mau. Pergi! Aku bilang pergi!"
Miranda menatap Misel dengan perasaan campur aduk. Anak itu terlihat ketakutan ketika melihat dirinya. Sepercik dalam dari hatinya yang dalam pun berbisik, apakah dia seburuk itu.
Namun, ia menggelengkan kepalanya dengan kuat mengenyahkan pikirannya. Lalu kembali melangkah mendekati Misel.
Seiring dengan langkah Miranda yang mendekat, Misel akan mundur.
Miranda mengulurkan tangannya. "Ini mama nak. Kemarilah mama ingin memelukmu," pintanya.
Misel menggeleng kuat, wajahnya nampak takut. Tiba-tiba pandangannya teralihkan pada selang air yang masih ia genggam. Entah darimana ide itu muncul, ia langsung mengarahkan selang itu ke hadapan Miranda. Membuat perempuan itu menjerit tatkala merasakan guyuran air dari selang yang di pegang Misel.
"Aaaaa.... Misel. Hentikan!!!" teriaknya.
"Rasakan!" sahut Misel kesal.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Rena dan Alby kembali ia melihat pemandangan itu. Di mana Misel masih betah mengguyur tubuh Miranda.
"Misel?" seru Rena.
"Bunda?" Misel langsung membuang selangnya, dan berlari ke arah Rena.