
Rena tampak keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang sudah fresh, karena ia baru selesai membersihkan diri.
"Bunda aku boleh makan ice cream?" tanya Misel.
"Boleh sayang. Tapi jangan banyak-banyak ya," sahut Rena. Karena tadi Soraya datang dengan membawa jajanan kesukaan Misel. Perempuan baya itu berharap dengan itu, perlahan Misel akan melupakan kejadian kemarin.
"Hanya dua. Nenek hanya bawain dua Bunda," jawab Misel yang membuat Rena dan Soraya tersenyum. Kemudian anak itu mulai makan ice creamnya, di temani Soraya yang berada di sisinya.
Rena melangkah dan duduk di sisi suaminya yang masih serius dengan pekerjaannya. "Perasaan tadi udah ke kantor. Memangnya masih banyak aja kerjaannya bang?"
"Hem."
"Istirahat lah bang. Jangan kerja mulu, uang itu bisa dicari tapi kesehatan tetap nomor satu," ujar Rena pada sang suami. Ia khawatir suaminya itu drop karena kebanyakan bekerja.
"Iya sayang, ini udah selesai kok!" Alby menutup laptopnya setelah sebelumnya menyimpan filenya. Kemudian ia menoleh ke arah istrinya yang tengah menggosok rambutnya yang terlihat basah. Lelaki itu menggeser tubuhnya, kemudian meletakkan kepalanya diceruk leher istrinya.
"Wangi," bisiknya.
Rena berdecak berusaha menjauhkan kepala Alby. "Jangan begini bang. Ada ibu dan Misel, kamu tuh!"
"Orang cuma bersandar doang kok. Emangnya aku ngapain? Pikiran kamu tuh yang kemana-mana," kilah Alby. Rena hanya memutar bola matanya jengah, ia tau itu hanya alasan saja. Karena kebiasaan Alby itu adalah tak akan mau melewatkan kesempatan. Kalau udah mode-mode mendekat seperti itu, biasanya akan menjurus hal yang lain. Tidak harus hubungan suami istri, tapi Alby pasti akan mencuri kecupan, atau tangannya yang bergelya ke arah lain. Memang memiliki suami tingkat mesum itu harus banyak bersabar.
"Aku lapar bang," ujar Rena. Alby yang saat itu tengah bersandar di sofa menoleh.
"Mau makan apa?" tanyanya.
"Em.." Rena mulia berfikir ingin memakan apa. Tapi, belum sempat keluar idenya, pintu ruangan terbuka. Ternyata yang datang keluarga Rena. Ada Mommy Dinda, Daddy Rava, Davis dan Nadila.
"Mommy? Daddy?" Rena langsung bangkit menghampiri mereka. Begitupun dengan Alby melakukan hal yang sama. Keduanya menyalaminya dengan takzim.
Rena memeluk Dinda dengan erat. "Hemm kangen Mommy!" ucapnya manja. Dinda mengusap punggung putrinya.
"Minggir dulu, Mom mau nyapa besan dulu. Kamu ini gimana nahan Mommy begini!" Omel Dinda seraya mengurai dekapannya.
Sementara Dinda bertegur sapa dengan Soraya. Rena menghampiri Davis dan kakak iparnya. Nadila duduk tampak asyik dengan rujak di tangannya. "Kakak lagi ngidam ya?" tanya Rena membuat semua orang menoleh ke arahnya dan Nadila tersedak. Davis langsung sigap memberikan air mineral pada istrinya.
"Makasih kak," seru Nadila pada Davis. Membuat lelaki itu hanya mengangguk.
Rena menatap keduanya heran, dan meringis.
"Aku hanya suka saja dengan rujak Re," jawabnya yang itu artinya menandakan dirinya tidak sedang dalam keadaan hamil.
Rena mengangguk. "Ku pikir aku mau dapat keponakan."
Mendengar hal itu Davis hanya menghela nafasnya dengan berat, Nadila menunduk.
"Dari pada kamu hanya mengharapkan keponakan. Mending kamu buat sendiri aja, Re?" celetuk Dinda kemudian. Ia menangkap perubahan wajah anak dan menantunya. Jadi, ia berinisiatif membantu.
Rena mengerucutkan bibirnya, wajahnya nampak sendu, lalu tangannya meraba di perutnya yang rata. "Udah kok Mom. Tanya aja sama Abang? Iya kan bang?"
"Apa?" Alby yang saat itu tengah mengobrol dengan ayah mertuanya, gelagapan sekaligus merasa malu.
"Dasar otak mesum!" umpat Davis kemudian.
****
Sementara itu Alena yang masih dalam perjalanan bersama Dokter Ryan hanya terdiam. Ia bingung harus membuka obrolan dengan cara apa. Sementara mulutnya sudah terasa gatal ingin mengoceh. Kadang Alena merutuki dirinya sendiri, yang cerewetnya kelewat ampun, jadi saat ia harus bergaya menjadi perempuan pendiam ia merasa tidak betah.
"Kening gimana? Gak benjol kan?" tanya Dokter Ryan tiba-tiba. Lelaki itu berinisiatif membuka obrolan.
"Eh apa?" Alena menoleh ke arah lelaki itu dengan bingung.
"Oh ini!" Alena mengusap keningnya. "Udah gak apa-apa kok Dokter. Kan tadi udah diobatin."
Alena mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela, di mana langit perlahan mulai berubah menjadi senja. "Nanti uangnya aku kirim deh ke akun Pak Dokter," ucapnya kembali.
Lelaki dengan kemeja biru laut yang di gulung sebatas siku itu tertawa mendengarnya. Alena pasti mengira dirinya serius. "Aku hanya bercanda, Alena."
Alena kembali menoleh menatap lelaki yang tengah menertawakan dirinya itu. "Dan aku juga bercanda Pak Dokter!" Sahutnya kemudian dengan tawa yang pecah. Alena baru ingat saldo ovo nya hanya tersisa sepuluh ribu.
Sesaat Dokter Ryan menikmati tawa yang keluar dari bibir perempuan itu. Lelaki itu membelokkan mobilnya, membuat Alena menghentikan tawanya dalam keadaan bingung.
"Loh, kok belok Pak Dokter? Ini mah bukan jalan ke rumahku. Katanya tadi tau alamat rumahku," ujar Alena bingung.
"Iya tau. Tapi aku lapar, kita makan dulu ya. Aku tau kok kedai Mie ayam yang enak," seru Dokter Ryan.
"Tapi kan aku-"
"Sebentar saja. Sejak siang aku belum makan, kamu juga pasti sama kan."
Alena mengangguk. "Baiklah kalau dokter memaksa. Lagian makan gratis apa salahnya."
Ucapan Alena membuat Dokter Ryan tertawa kecil. Ia baru ingat jika apa yang diucapkan Rena tentang gadis itu benar. Alena itu tipikal perempuan yang apa adanya. Kini, lelaki itu menepikan mobilnya untuk parkir.
"Di mana tempatnya?" tanya Alena menoleh ke arah samping karena ia tak melihat kedai makan apapun.
"Tuh." Dokter Ryan menunjuk ke arah depan. "Ayuk turun!" Ajaknya.
Keduanya turun menghampiri kedai Mie ayam, dan duduk di salah satu kursi di sana. Tak lupa Dokter Ryan pun memesankan dua porsi mie ayam, tentu dengan request sayur yang banyak untuk Alena. Beberapa saat kemudian pesanan mereka pun sudah siap, dan hanya tinggal menyantap.
"Gimana kuliahnya?" tanya Dokter Ryan di sela-sela makannya.
"Lancar!"
"Udah mulai skripsi?"
"Lagi ngerjain sih. Susah juga ya, aku ngerjain satu bab aja bisa berhari-hari mikirnya. Otak aku kaya mau ngelag gitu Pak Dokter." Alena menertawakan dirinya sendiri.
"Gak apa-apa, pelan-pelan asal selesai. Kalau ada yang bisa aku bantu. Mau ku bantu?"
Alena mengangkat kepalanya menatap Dokter Ryan. "Eh! Tidak Pak Dokter," tolaknya.
Dokter Ryan mengangguk, memahami Alena. "Pantas saja kamu masuk ke akuntansi. Ternyata papamu pemilik restoran, setelah lulus pasti mau bekerja di sana ya?" tanyanya.
Alena menggeleng. "Enggak ah! Aku malas."
"Terus? Nyari kerja di perusahaan lain atau menikah?" Dokter Ryan memangku salah satu tangannya menatap Alena.
Alena berdecak. "Pak Dokter ngaco. Nikah sama siapa coba, aku kan jomblo. Pacar aja gak punya."
Dokter Ryan terkekeh. "Menikah itu kan tidak harus pacaran."
"Maksudnya?"
"Ya maksudnya bisa aja kan kamu nikah setelah selesai kuliah. Kalau tiba-tiba ada yang ngelamar gimana coba?"
Alena terdiam sesaat. Mencoba meresapi ucapan lelaki di depannya. "Tapi jarang lah Pak Dokter. Orang menikah tanpa pacaran dulu. Aku mah santai saja sih, ikutin aja gimana Tuhan menuntut takdirku. Tapi.. kalau menikah kayaknya masih jauh deh. Soalnya menurut pengamatanku jodohku itu masih jagain jodoh orang!" celetuk Alena kemudian.
"Maksudnya jodoh kamu itu teman kamu yang tadi ikut jenguk Misel itu ya?" tanya Dokter Ryan. Membuat Alena tersedak.