
Sore hari, karena dokter sudah memperbolehkan Rena pulang. Akhirnya, Alby dan keluarga pun membawanya pulang. Terlihat barang-barang Rena sudah dibereskan.
“Mau pakai kursi roda, apa mau gendong sayang?” tawar Alby ketika selesai beberes.
“Aku bisa jalan aja lah bang, pelan-pelan,” sahut Rena. Dengan stelan piyama tidur berwarna biru, wajah perempuan itu masih terlihat pucat.
“Ck! Gak boleh. Jahitan kamu itu belum kering. Kamu gak boleh beraktivitas berat-berat sayang,” pungkas Alby.
“Lah Abang itu gimana. Aku itu jalan doang Abang.”
“Kalau Abang bilang gak boleh ya gak boleh sayang,” tegas Alby.
Para orang tua yang melihat perdebatan itu hanya menggelengkan kepalanya. Pada akhirnya Rena hanya pasrah ketika sang suami langsung menggendong dirinya ala bridal style menuju loby utama rumah sakit itu. Baby Alka tampak di gendong oleh Dinda, sedangkan yang lainnya hanya mengikuti dengan membawa barang-barang Rena.
Sepanjang jalan, banyak sepasang mata yang menatap ke arahnya. Bahkan tak sedikit yang menggoda Rena, pasalnya di rumah sakit itu hampir semua pegawai adalah teman-teman kerja Rena. Ia merasa malu hingga menyeludupkan kepalanya di dada bidang sang suami.
“Kenapa?” tanya Alby pelan.
“Malu bang. Banyak yang lihatin,” jawab Rena.
Alby hanya tertawa kecil, membuat Rena mencebik kesal lalu menabok dada pria itu. “Aduh sayang. Jangan tabok-tabok. Nanti kamu jatuh gimana?" seru Alby masih dengan tawa kecilnya.
“Abang itu ngeyel. Orang aku pengen jalan aja, malah digendong.”
“Punya suami yang siaga dan romantis itu harusnya kamu senang, kok ini malah kesal.”
“Romantis? Kapan?” tanya Rena dengan kedua alisnya terangkat, sengaja untuk menggoda suaminya.
Alby menghentikan langkahnya tepat di depan loby, menunggu Papa Galih mengambil mobil di parkiran. Ia menatap ke arah istrinya yang tengah menatap dirinya dengan tatapan menggoda seperti tadi. “Seperti ini.”
Cup! Alby berhasil mendaratkan kecupan di bibir istrinya, membuat Rena terbelalak tak percaya, sang suami bisa menciumnya di depan umum seperti itu. Bahkan tak peduli akan tatapan orang-orang yang lain. Tidak ada luma tan, hanya sebuah kecupan kecil. Namun, Alby masih menahan bibirnya di sana.
“Ck! Susah kalau orang udah bucin itu. Di mana pun tempatnya, selalu merasa dunia hanya milik berdua,” cibir Davis yang memang sore itu sengaja ikut menjemput adiknya. Yang lainnya hanya terkekeh mendengarnya.
Rena memukul pelan dada sang suami, hingga bibirnya terlepas dari kecupannya.
“Kamu kan juga punya kekasih halal. Kalau kamu mau, tinggal ikut praktekkin!” timpal Dinda.
“Gak lah Mom.”
Mobil Galih tiba, lantas Alby membawa Rena masuk. Begitupun dengan Mommy Dinda dan Ibu Soraya.
Sementara Davis memilih berlalu mengambil mobil miliknya. Hari itu ia memang hanya mengantarkan Dinda, karena Rava tak bisa menemani sang istri ke rumah sakit.
Tiba di mobil Davis menyandarkan punggungnya sesaat di kursi, lalu menghela nafasnya. “Jangankan berciuman. Memegang tangannya saja, bisa ku hitung pakai jari. Entah sampai kapan aku harus bersabar,” keluhnya. Seraya mulai menjalankan mobilnya, mengikuti mobil Galih di depannya.
🦋🦋🦋
Rena merasa senang karena ASI nya berhasil keluar, meski belum terlalu lancar. Ia mencoba memberikan ASI eksklusif pada Alka. Namun, karena baru pertama kali ia merasakan pucuk miliknya itu terasa sangat sakit. Hingga membuatnya buru-buru melepaskan bibir putranya dari sana.
Alka yang merasa sangat haus pun menangis sangat kencang hingga menggemparkan isi rumah.
“Sebentar sayang. Ini sakit banget, sebentar dulu ya. ASI Bunda juga belum lancar keluarnya,” seru Rena seraya meringis sakit kala merasakan ujung miliknya pun sampai lecet akibat gesekan lidah Alka. Kemungkinan, karena baru pertama kali menyusui di tambah keluarnya ASI yang tak lancar membuatnya sakit.
Rena mencoba menekan-nekan da Danya, berharap ASI-nya cepat keluar lancar. Namun, tangisan Alka yang menggelegar membuatnya terasa panik.
“Sayang, diam dulu ya. Please sayang sebentar saja,” kata Rena sedikit panik karena Alka tak kunjung mau berhenti nangis. Ia kembali menggendong Alka, menghadapkan pada dadanya. Gerakan bibir mungil itu begitu cepat menjangkau titik pusat asi milik Rena. Namun, karena keluarnya tak lancar, Alka kembali menangis kencang.
Tangisan yang menggema menggemparkan isi rumah, Alby yang saat itu tengah berada di ruang kerjanya pun, menyudahi aktivitasnya, kemudian berlalu ke kamar.
“Ada apa sih sayang? Kok Alka nangis terus?” tanya Alby.
“Kok ada apa, ada apa? Jelas-jelas anaknya nangis. Abang malah enak-enakan kerja,” omel Rena.
“Kan tadi Abang udah bilang sama kamu, cuma sebentar. Abang baru lima menit lho di sana. Alka udah nangis gitu."
Alby mendekati istri dan putranya. Terlihat Alka menangis kencang, bibirnya seakan berusaha mencari sesuatu. “Dia haus sayang. Ayo kamu beri dia ASI.”
“Gak mau!"
Alby mendelik tak percaya akan jawaban istrinya. “Lho gak mau katanya–”
“Sakit bang. Sakit banget,” keluh Rena.
Alby terdiam, mencoba meraih Alka membawanya ke dalam gendongannya. Ia menepuk-nepuk pantat Alka. Namun, tetap saja bayi itu tak mau berhenti menangis.
“Gak mau diam sayang. Ini dia itu haus dan lapar," ujar Alby melihat bibir Alka yang terus bergerak gelisah seperti mencari sumber ASI-nya. Alby kembali menatap ke arah istrinya. “Dicoba beri ASI dia lagi ya sayang?” sambungnya membujuk.
Rena menggeleng dengan cepat. “Gak mau. Sakit banget Abang. Abang itu bisanya nyuruh doang, gak ngerasain sakitnya,” teriaknya marah.
Alby menelan ludahnya, menyentak nafasnya, berusaha mengendalikan emosinya. Sebisa mungkin ia harus sabar menghadapi mood Rena yang tengah naik turun. “Ya udah kalau gitu. Abang bawa keluar, buatin dia susu formula aja ya. Kebetulan, yang dari rumah sakit tadi masih ada,” ujar Alby pelan.
“Tidak!” tolak Rena cepat. “Janganlah bang. Kasihan masa kasih susu formula terus,” omel Rena.
“Ya terus gimana sayang? Kamunya gak mau menyusui, anaknya nangis terus. Masa iya Abang yang beri dia ASI gitu, yang benar aja lah,” sergah Alby.
“Kok jadi Abang yang marah-marah sih!” sahut Rena kesal, wajahnya memerah sedetik kemudian berubah menggelap, seiring dengan air matanya luruh.
“Abang tuh gak marahin kamu sayang. Cuma memberi solusi,” seru Alby pelan.
“Gak! Abang tuh marah-marah. Egois gak ngerti jadi aku gimana. Aku juga mau kasih dia ASI bang, tapi kan gak keluar lancar.”