Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kamu Serius?



Alena tengah berdiri di balkon kamarnya, seraya mengusap perutnya. Hari kian beranjak malam, tapi sang suami belum juga pulang. Entahlah akhir-akhir ini Ryan begitu sibuk di rumah sakit. Tampaknya jadwal operasi membludak.


“Alena, sudah malam kenapa belum tidur?” tegur Mama Ayu. Sudah dua hari yang lalu, Alena dan Ryan masih menginap di rumah mereka. Karena saat ini Mama Elena sedang menemani Papa Bastian ke luar kota, mengecek pembangunan rumah sakit di Surabaya. Jika saja tidak dalam kondisi hamil, Alena pasti lebih memilih ikut kedua mertuanya, dibandingkan hanya berdiam diri di rumah. Ia merasa bosan hanya diam di rumah tidak melakukan apapun. Belum lagi sang suami yang begitu sibuk. Bahkan hari Minggu kemarin, Ryan sama sekali tidak mengambil libur.


Mau pergi bersama Sena. Ryan sudah tegas tidak memperbolehkan ia pergi, jika tidak bersama dengan dirinya. Kejadian di pusat perbelanjaan kala itu, membuat Ryan merasa trauma dan khawatir. Untuk itu sekarang ia lebih over protective pada istrinya. Makanya karena dirinya merasa sibuk, dan di rumah Mama Elena tak ada teman, Ryan membawa istrinya itu ke rumah Mama Ayu. Berharap di sana Alena akan merasa senang karena mempunyai teman.


“Belum ma. Aku nunggu Masry kok belum pulang ya,” balas Alena seraya melirik ke arah pintu gerbang yang masih tertutup.


“Lagi di jalan kali, Le. Atau gak pasien di rumah sakit sedang banyak,” ujar Ayu.


Alena menatap sendu. “Padahal aku tunggu satenya,” keluhnya.


“Sate?” ulang Mama Ayu.


“Iya, tadi pagi udah pesan sama Masry pulangnya aku mau sate.”


“Terus tadi kamu chat apa gak? Kalau mau sate sayang?”


“Enggak ma,” sahut Alena seraya beranjak masuk karena perlahan ia mulai merasa dingin.


Ayu menutup pintu bagian balkon itu. “Kalau gak chat lagi, gimana nanti suamimu ingat, Le? Kalau lupa gimana?”


“Iya justru itu keunikannya. Aku pengen tahu Masry ingat apa gak,” seru Alena.


“Kalau mau sate, itu di depan gang juga ada penjualnya kok.”


“Gak maulah. Aku mau makan sate, kalau yang jual berkumis,” celetuk Alena.


Ayu hanya melongo mendengarnya. Apa bedanya pikirnya. Tidak lama kemudian terdengar suara deru mobil.


“Itu pasti Masry,” katanya yakin. Ia langsung berlalu ke luar kamar, setengah berlari.


“Hati-hati, nak. Kamu itu lagi hamil,” protes Ayu. Ia memang paham sifat putrinya itu sedikit pecicilan, untuk itu ia harus waspada melihatnya.


Alena terus menyusuri tangga tanpa mendengarkan perkataan ibunya. Hingga tiba di anak bawah hampir saja ia terhuyung, beruntung Ryan sigap menangkapnya. Menahan tubuh istrinya, membuatnya tidak jadi jatuh. Alena merasa lega sekaligus takut melihat wajah datar suaminya.


“Kebiasaan kamu itu lari-lari. Apa kamu itu gak ingat lagi hamil?” omel Ryan seraya menegapkan tubuh istrinya.


Alena mengerucut bibirnya ke depan. “Aku gak sengaja Masry. Tadi udah hati-hati kok.”


“Jangan ceroboh dan membahayakan Dede bayi, Le.”


“Ya maaf. Aku tuh udah nunggu Masry dari tadi. Tapi, Masry lama pulangnya.”


“Iya lama. Pasien di rumah sakit banyak. Belum lagi ini.” Ryan mengulurkan kantong kresek kecil pada istrinya. “Yang lebih lama lagi, karena Mas juga nyari pesanan kamu yang aneh ini," sambungnya mengeluh.


“Kok aneh sih?” protes Alena seraya mengambil alih kantong kresek itu.


“Iya aneh. Soalnya itu sate bukan sembarang sate, tapi harus ada kumisnya.”


“Maksudnya penjual satenya yang ada kumisnya Masry, bukan satenya,” protes Alena.


“Aku kira Masry itu lupa,” ujar Alena.


“Gaklah udah Mas catat, gak mungkin keinginan istri dilupakan. Aku gak mau tidur di luar malam ini,” jawab Ryan tersenyum. Karena sudah lama Alena memang tak pernah meminta makanan yang aneh, semenjak insiden dirinya jatuh dari pohon jambu kala itu. Ryan sempat khawatir istrinya itu trauma meminta sesuatu. Untuk itu saat pagi tadi dirinya mau berangkat ke rumah sakit, Alena meminta sate. Ryan berjanji akan mendapatkannya. Meski rasanya sedikit aneh, bahkan ia harus memutari komplek demi kompleks hanya untuk satu porsi sate itu.


“Ya udah Mas ke kamar dulu bersih-bersih ya. Kamu makan aja dulu satenya sayang,” ujar Ryan.


“Gak mau lah. Mau ditemenin Masry.”


“Mas gerah. Harus segera mandi, di temenin Mama aja ya,” saran Ryan ketika melihat ibu mertuanya pun turun dan kini berada di belakang istrinya.


“Gak mau. Aku maunya Masry yang temenin. Ya udah Masry mandi aja nanti aku tunggu di bawah.”


Ryan menghela nafasnya, melihat keinginan istrinya begitu menggebu-gebu ingin memakan sate itu, mana mungkin ia masih suruh menunggunya lagi. Lagian ia yakin istrinya itu sejak tadi pasti sudah menunggunya.


“Ya udah ayo mas temenin dulu.” Ryan lebih memilih berlalu menggiring istrinya ke meja makan.


“Masry gak makan?” tanya Alena pada sang suami yang sejak tadi hanya melihatnya.


“Nanti aja sayang. Badan Mas kan lengket, mana enak makan dulu.” Ryan tersenyum melihat istrinya begitu lahap makan sate dan lontong.


“Kalau udah lapar mah enak aja Masry,” protes Alena.


Ryan tertawa kecil. Alena mengulurkan satu tusuk sate yang masih utuh sama sang suami. “Gak mau sayang. Buat kamu aja, lihat kamu makan aja udah senang kok sayang.”


“Coba aja Masry. Satu tusuk aja coba deh ini itu enak. Lagian aku tahu Masry kan belum makan,” kekeh Alena.


Pada akhirnya Ryan hanya pasrah ketika sang istri menyuapkan sate mulutnya.


“Enakan Masry?”


Ryan tersenyum mengangguk. “Kamu kok bisa tahu. Kalau ini sate Mas beli seusai permintaan kamu gimana sayang? Kan kamu gak lihat Mas belinya?” tanyanya penasaran karena sejak tadi Alena tidak bertanya apa-apa, hanya terus makan dengan lahap.


“Tahu dong. Kalau sate ini gak sesuai keinginan aku, berarti mencium baunya saja aku pasti langsung mual,” jawab Alena.


Ryan mengangguk paham.


“Hari ini padat banget jadwalnya ya Masry. Udah sepuluh hari lho Rena pulang dari rumah sakit. Kita belum jenguk dia. Aku juga belum belikan kado untuk menantu kita,” tutur Alena.


Ryan mengambil minum di depannya, meneguknya secara pelan. “Menantu?” tanyanya tak percaya.


“Iyalah, Masry. Alka itu kan calon menantu kita.”


“Kamu itu serius? Ya ampun, sayang. Dia itu masih bayi sayang. Dan lagi kita juga kan gak tahu anak kita itu perempuan apa laki-laki,” dengus Ryan heran.


“Ya kalau anak kita sekarang laki-laki, nanti kita buat lagi lah sampai kita mendapatkan anak perempuan,” ucapnya Alena asal.


Ryan melongo mendengarnya. Satu aja belum lahir udah mau lagi. “Karena aku ibu rumah tangga gak ada kegiatan. Gak apa-apa banyak anak,” sambungnya.