Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Jarum Suntik Ajaib



Alena keluar dari restoran dengan wajah marah. Kakinya terus melangkah hingga keluar gerbang, tak perduli akan teriakan Dokter Ryan yang terus memanggil namanya. Saat ini yang ia pikirkan adalah menjauh dari sana.


Alena menatap lalu lalang taksi yang lewat, ia ingin memberhentikan salah satu taksi di sana, agar ia bisa secepatnya pergi. Namun, sayangnya ia baru ingat jika ia tidak membawa uang sama sekali, bahkan ponselnya pun ada pada Sena. Saat ini ia keluar hanya membawa pakaian yang ia kenakan dan high heels di kakinya saja.


"Aduh. Kesal banget aku, pokoknya aku marah. Semua orang jahat sama aku," omel Alena. Ia terus melangkahkan kakinya menyusuri trotoar. Malam Minggu banyak pasangan muda-mudi yang tengah menghabiskan waktu, saling memadu asmara. Dari sekian banyaknya orang yang lewat Alena merasa hanya dirinya yang bernasib sial dan menyedihkan.


Tin! Tin!


Mobil Mercy milik Dokter Ryan tiba di sisinya, dan juga memberikan klakson pada Alena. Tapi perempuan itu tak peduli, berpura-pura tak melihat.


"Alena, masuk yuk. Aku akan jelasin semuanya," bujuk Dokter Ryan melambatkan laju mobilnya.


"Siapa anda?" tukas Alena.


Dokter Ryan menghela nafasnya, benar kata Papanya Alena. Kalau sifat putrinya itu memang kekanak-kanakan, dan ia perlu kesabaran tinggi.


"Calon suami," jawab Dokter Ryan.


Alena melengos. "Aku menolak perjodohan ini. Pergilah Pak Dokter, jangan ganggu aku," jawab Alena terus melangkah, dan Dokter Ryan hanya mengikutinya dari dalam mobil. Akan ia biarkan sampai perempuan itu benar-benar lelah.


Karena matanya terus menatap ke samping, bibirnya terus mendumel marah, Alena kehilangan fokus jalannya, hingga ia pun tersandung membuat high heelsnya pun patah, dan ia pun terjatuh, hingga jempol kakinya berdarah.


"Mama sakit," ringis Alena kala merasakan ujung jempolnya yang terasa perih.


Dokter Ryan langsung menghentikan mobilnya, turun dan menghampiri Alena dengan wajah panik.


"Biar aku bantu ya?" tawar Dokter Ryan seraya menekuk kedua kakinya menatap ke arah Alena.


Alena menggeleng. "Tidak. Aku bisa sendiri!"


"Jempolmu berdarah dan ini harus segera diobati Alena," ujar Dokter Ryan.


Alena tetep kekeh menolak, dengan susah payah ia mencoba berdiri, tapi kakinya yang terasa sakit membuat ia kembali terjatuh. Beruntung Dokter Ryan sigap menahan tubuhnya, hingga Alena tak jadi terjatuh.


Alena menelan ludahnya gugup, kala tatapan matanya bertemu dengan Dokter Ryan. Jantungnya berdetak lebih kencang, nyaris memekik di telinga.


"Lepas!" Alena melepaskan tangan Dokter Ryan dengan paksa.


"Kakimu sakit Alena, biar ku bantu. Nanti biar aku obati dulu, sepertinya kakimu juga terkilir," ujar Dokter Ryan.


"Aku bisa mengobatinya sendiri," pungkas Alena keras kepala.


Dokter Ryan memicingkan matanya. Perempuan di depannya ini benar-benar keras kepalanya, rasanya ia sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi. Lelaki itu menepuk jasnya, kemudian langsung menggendong Alena layaknya membawa beras dalam karung. Tak peduli sekalipun Alena meronta dalam gendongannya. Aksi keduanya bahkan menjadi sorotan orang-orang di sana.


"Lepas... Lepas Pak Dokter!" Alena memukul pundak Dokter Ryan menggunakan tangannya. Lelaki itu tetap acuh, membuka pintu mobil bagian depan kemudian mendudukan Alena di sana. Menutup pintu mobil, lalu berjalan ke sisi pintu satunya.


Alena mencoba untuk membuka pintu mobil. Namun, gagal karena Dokter Ryan ternyata sudah menguncinya lebih dulu, hal itu membuat Alena kesal.


"Alena, apa kau tau. Jika kakimu dibiarkan terluka dan tak segera diobati maka bisa jadi harus diamputasi?" ujar Dokter Ryan menakut-nakuti demi membuat mulut Alena diam yang sejak tadi terus berteriak ingin keluar.


"Benarkah?" sahut Alena polos. Bayangan jarum suntik dan benda yang akan memotong kakinya terlintas, seketika membuat ia bergidik takut.


Dokter Ryan hanya mengangguk sambil menahan senyumnya.


"Aku tidak mau itu terjadi!" lanjut Alena.


"Makanya biarkan aku mengobati kakimu. Kita cari tempat yang nyaman untuk ngobrol ya," ujar Dokter Ryan.


"Jadi, tadi aku itu tidak cantik?" tanya Alena wajahnya nampak kesal, membuat Dokter Ryan mengusap wajahnya. Apakah ia salah bicara?


"Cantik kok."


"Bohong, aku tau kok pikiran Pak Dokter, pasti tengah bergumam kalau aku kekanak-kanakan."


Dokter Ryan terkesiap. Langsung memutar tubuhnya menyamping. "Eh siapa bilang? Gak kok, Alena itu dewasa banget. Anaknya lucu aku suka," ujar Dokter Ryan seraya mendekatkan tubuhnya pada Alena. Membuat perempuan itu memundurkan kepalanya tapi malah terkantuk kaca dan tak bisa bergerak lagi, karena ruang terbatas. Seiring dengan tubuh Dokter Ryan yang kian mendekat. Entah lelaki itu mau berbuat apa? Alena merasa gugup, hingga membuat otaknya mempunyai fantasi tersendiri, traveling seperti di drama Korea yang kerap ia tonton. Apakah lelaki itu akan menciumnya, saat ini? Haruskah ia menikmati atau menamparnya?


Alena bahkan sampai menahan napas tanpa sadar. Karena kaget dengan hal itu. Namun tiba-tiba....


Klik!


Bunyi dari seatbelt yang terpasang terdengar. "Sudah. Aku tidak ingin ditilang polisi, hanya karena kau lupa memasang seatbelt Nona Alena," ujar Dokter Ryan seraya menjauhkan tubuhnya. Membuat Alena merasa lega.


Lelaki itu bukannya langsung menjalankan mobilnya seperti tujuan awalnya. Dokter Ryan justru menyandarkan punggungnya di tempatnya sambil memejamkan matanya.


Alena berdecak kesal, kenapa malah tidur. Padahal Alena sudah merasakan sakit pada ujung jempolnya.


"Pak Dokter?" Karena sudah tidak tahan menahan nyeri, Alena mencoba memanggil lelaki itu.


"Sebentar Alena. Aku tenangkan dia dulu," jawabnya yang membuat Alena melongo tak mengerti.


"Hah? Maksudnya?" tanya Alena.


"Aku gak sengaja ngeliat belahan dada kamu tadi. Terus.. eh.. em dia bangun gitu aja," terang Dokter Ryan.


"Dia siapa Pak? Perasaan di sini tidak ada siapa-siapa." Alena menoleh ke arah belakang yang memang tidak ada siapa. Lalu kenapa Dokter Ryan menyebut dia, dia siapa sih? Apakah Dokter Ryan mempunyai Indra ke enam hingga bisa melihat makhluk halus di manapun, seketika Alena bergidik ngeri.


Dokter Ryan semakin pusing, karena Alena tak juga mengerti dengan ucapannya. Ia malah bergerak dengan leluasa, membuat lelaki itu semakin frustasi. Akhirnya lelaki itu melepas jas miliknya, kemudian memakaikan pada tubuh Alena.


"Dipakai ya biar gak dingin," ucapnya. Padahal bukan itu maksudnya. Pundak polos Alena yang terekspos mampu membuat otak Ryan berfantasi hal yang lain.


Alena mengangguk. "Pak tadi yang bangun siapa?"


Dokter tergelak, tampaknya Alena benar-benar tak mengerti. "Itu jarum suntik," jawabnya asal seraya mulai menjalankan mobilnya.


Alena terdiam, membuat Dokter Ryan mengangguk karena mengira Alena sudah paham dengan istilah yang ia berikan.


"Jarum suntiknya pasti ajaib bisa bangun sendiri," celetuk Alena kemudian.


Ciiiittttt!!!


Dokter Ryan tiba-tiba menginjak rem dalam membuat Alena hampir terhuyung ke depan, beruntung gadis itu sudah mengenakan seatbelt.


.


.


.


.


.


Selamat datang bulan Oktober. Yuk semangat komen dan bagi hadiahnya ☺️. Maaf ya telat update kuota habis, WiFi juga gangguan. Nasib sepertinya sedang tak berpihak padaku😂😂.