
Alby terperangah ketika sang istri menurunkan celananya tanpa ragu, dan ia pun melakukan hal yang sama pada tubuh istrinya, meloloskan gaun malam yang Rena juluki sebagai saringan santan kelapa, sesuai request sang suami. Memindai meraba tiap jengkal tanpa ada yang terlewatkan.
Decapan lidah semakin memanas, kala tubuh keduanya sudah dalam keadaan polos. Alby menggiring tubuh istrinya ke ranjang, dan duduk bersandar di ranjang. Sesaat Alby menatap istrinya, kemudian ia membantu Rena untuk duduk di pangkuannya. Rena terkejut, tapi karena sebuah janji maka ia pun menurut.
Luar biasa, betapa mesumnya sang suami, saat Rena mengambil posisi duduk di atas tubuhnya. Dengan gerakan cepat ia memasukkan miliknya, membuat Rena menjerit ketika merasakan memenuhi miliknya di bawah sana. Aneh! Padahal ia merasa sudah berulang kali melakukan hubungan seperti ini. Tapi, sensasinya masih sama seperti pertama kali ia melakukan hal itu. Sedikit perih, hingga membuat kedua tangan Rena mencengkram bahu sang suami.
Kini keduanya saling berhadapan dengan Rena yang mulai membiasakan diri, menerima Alby di bawah sana. Alby me nge lus punggung Rena dari atas sampai bawah begitu seterusnya, sengaja menggoda Rena agar terus melakukan aktivitas panas di atas tubuhnya.
Kedua benda padat yang tersaji di depannya, langsung dilahap secara bergiliran. Dihisap terkadang digigit dengan gemas, membuat Rena me nge rang ketika merasakan sensasi yang luar biasa, dari permaisuri bibir sang suami.
"Enak?" tanya Alby dengan suara serak, yang berhasil membuat Rena merona. Pertanyaan macam apa itu? Meskipun terasa enak, pantaskah Rena menjawabnya.
"Enak bang!"
Alby tertawa, hal itu membuat Rena menyadari bahwa dirinya baru saja menjawab pertanyaan absurd sang suami. Lagi-lagi berhasil membuat pipi Rena merona.
"Abang suka Re, kamu begini," ucap Alby sambil memilih puncak da da kiri. Lagi hal itu berhasil membuat tubuh Rena meremang, apalagi saat Alby mendekatkan wajahnya lalu menciumnya dengan penuh perasaan. Lama keduanya saling bergumul bertugas saliva. Rena mencoba melepas kala ia merasa hampir kehabisan oksigen.
"Bang jangan dikasih merah-merah leherku malu." Rena berucap dengan terbata sambil masih bergerak karena Alby pun masih menahan pinggulnya di bawah sana.
"Biarin! Biar semua orang tau kamu ada yang punya," sahutnya posesif, dan lagi ia kembali mengigit leher istrinya, membuat Rena menjerit seraya memukul pelan dada suaminya.
"Lebih cepat lagi sayang!" pintanya.
Rena bergerak lebih cepat sesuai permintaan suaminya, dan Alby semakin puas men cum bui sang istri, lidah dan ciu man nya berlabuh di semua tempat yang bisa ia gapai. Keduanya semakin cepat memacu mencari pelepasan mengejar gelombang kenikmatan yang sebentar lagi akan sampai.
Hingga akhirnya... Rena terkulai lemas di dada bidang suami. Terdiam menetralkan detak jantung dan nafas yang tak beraturan, begitu juga dengan Alby.
Hah! Hah! Hah!
Rena pikir permainan itu telah usai, tapi ternyata dengan cepat, Alby kembali menggulingkan tubuh istrinya ke samping lalu mengukungnya di bawah tubuhnya.
"Bang!!" pekik Rena, "aku cape!" imbuhnya kemudian.
Bukannya rasa melas yang ia dapatkan, tapi seringai licik tercetak jelas di bibir sang suami. "Kamu diam aja. Kali ini abang yang kerja, Re. Abang belum puas, kita lembur sampai pagi ya," ucap Alby yang membuat Rena terkejut.
****
Alena melajukan mobil SUV Toyota Rush miliknya menuju kampusnya, dengan kecepatan penuh, sesekali ia akan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, berharap ia akan tiba tepat waktu.
Tiba di depan jalanan yang cukup sepi, mobil Alena tiba-tiba berhenti secara mendadak.
"Loh.. loh... Kenapa lagi ini mobil?" keluhnya kala mobilnya tiba-tiba berhenti secara mendadak. Ia mencoba menyalakan mesinnya, namun ternyata tetap tidak bisa. Alena memilih turun memeriksa mobilnya.
"Sialan! Pake kempes segala lagi mobilnya." Alena menendang ban mobilnya, tapi justru membuat ia kesakitan sendiri lantaran kakinya menghantam ban mobilnya cukup keras. "Mana gak bisa masang ban sendiri lagi. Tau gini dulu aku mending ambil jurusan otomotif daripada akuntansi!" imbuhnya kemudian.
Alena masih mondar-mandir di tepi jalan. "Oh tuhan! Kalau memang tidak ada taksi yang lewat, bisakah kau kirimkan pangeran berkuda putih untukku, menyelamatkan ku dari hukuman sang dosen killer pagi ini."
Beberapa orang yang lewat menatap Alena dengan pandangan aneh, karena sejak tadi perempuan itu terus menggerutu sendiri. Mungkin mereka pikir Alena adalah orang yang tak waras, tapi Alena tak peduli. Yang penting ia tak mengganggu kenyamanan orang lain.
"Tuhan kirimkan aku penolong. Kalau dia perempuan akan ku jadikan sahabat, kalau dia laki-laki akan ku jadikan suami!," ucapnya sontak ia langsung menepuk mulutnya. Bagaimana bisa ia sembarang mengucapkan janji, semoga Tuhan tak mendengar ucapannya barusan. Bukankah mengerikan jika ia bertemu laki-laki seperti partner kencan butanya waktu itu. Alena bergidik ngeri, memilih bersandar di kap mobil sambil melipatkan tangannya di dada.
Sebuah mobil mercy berwarna hitam berhenti tepat di depan Alena membuat perempuan itu terkejut, lalu kaca bagian depan terbuka.
"Kenapa mobilnya?"
Suara yang tak asing terdengar, membuat Alena terkejut. "Eh pak Dokter?" sapanya kikuk, Dokter Ryan tersenyum tipis seraya menaikan alisnya karena pertanyaannya belum terjawab. "Oh ini mobil ku bannya kempes, tapi aku gak bisa buat masang ban serepnya. Aku lagi nunggu taksi Pak Dokter, mau ke kampus."
"Oh... Ya udah masuk!" titah Dokter Ryan.
"Ehh.. bagaimana bisa?"
"Bisa! Aku akan mengantarmu sementara mobilmu nanti biar ku panggilkan montir, siang nanti biar sekalian diantarkan ke kampusmu," terang Dokter Ryan.
"Eh?!"
"Ayo buruan masuk. Nanti keburu telat," titah Dokter Ryan.
Alena tersenyum ragu, kembali terlintas ucapannya barusan.
'Ya Tuhan, kalau aku bareng dia. Artinya, tidak harus kan aku menjadikan dia suamiku. Ngeri, aku gak mau nikah sama dokter.'
"Ayo buruan!" ucap Dokter Ryan sambil membunyikan klakson mobilnya, karena Alena justru melamun.
"Tapi apa tidak-"
"Tidak merepotkan, karena aku sekalian lewat mau ke rumah sakit," potong Dokter Ryan cepat, yang mengerti akan jalan pikiran Alena.
Alena mengangguk, dan langsung menarik pintu mobil bagian belakang, dan duduk di sana. Dokter Ryan menyentak nafasnya.
"Kamu anggap aku sopir mu apa?" sergahnya terdengar kesal.
"Ehh tapi-"
"Pindah depan!" titahnya dengan cepat.
Alena langsung mengangguk, tanpa keluar dari mobilnya, perempuan itu justru langsung mengubah posisinya duduk di sisi dokter Ryan, dengan cara sedikit melompat.
Dokter Ryan memijat kepalanya. "Astaga! Perempuan ini tidak ada jaim-jaimnya. Kelakuannya absurd sekali," gumamnya.