Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Ketakutan Misel



Rena melongo melihat ruang tamunya kini penuh dengan belanjaan. Tampak Misel tengah membuka salah satu bungkusan, yang ia duga isinya pasti mainan atau alat-alat belajar.


“Bunda, sini deh. Misel punya banyak hadiah dari Nenek dan Grandma.” Misel melambaikan tangannya ketika melihat Rena tiba di rumahnya. Ia melangkah mendekati putrinya, dengan pelan ia mendudukkan dirinya di sebelah Misel. Anak itu dengan cekatan membuka bungkusan besar yang entah apa isinya.


Rena memindai rumahnya seperti mencari sesuatu. “Nenek sama Grandma kemana sayang?”


“Udah pulang. Soalnya Bunda dan Ayah lama sih,” sahut Misel. Rena menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa saat ia merasa pinggangnya terasa pegal, ia juga mengusap perutnya yang tampak begah. Mau langsung beranjak ke kamar ia juga kasihan dengan putrinya itu, karena seharian ia kurang memperhatikannya.


“Wahhh alat melukis!” pekik Misel girang begitu mendapati apa yang di dapat. “Bunda lihat aku dibelikan alat melukis. Aku akan melukis nanti,” sambungnya.


“Iya sayang. Nanti lukis Bunda ya?” goda Rena.


Misel terkikik kecil. “Misel kan masih kecil. Bisanya coret-coret, tapi Misel pengen kaya Mama bisa gambar baju bagus-bagus.”


Rena tersenyum ternyata sifat ada yang menurun juga dari Miranda pada putrinya, mungkin itulah cita-cita Misel.


“Bisa. Asal Misel mau belajar dan sekolah yang rajin!” ujar Rena memberi semangat, ia membelai rambut panjang putrinya itu.


“Tentu. Tahun depan kan aku sudah masuk SD Bunda, aku juga mau punya adik bayi.” Misel meletakkan peralatan lukis itu kemudian meringsek memeluk Rena, mengecup perut Bundanya. Kemudian ia merenggangkan tubuhnya, dan bersandar pada sandaran sofa, setelah itu ia hanya terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu.


“Kenapa sayang? Misel lagi ada masalah yang mau diceritakan ke Bunda?” tanya Rena lembut.


Gadis kecil menoleh menatap raut wajah Rena dengan sendu. “Nanti kalau adik bayi lahir, Bunda masih tetap sayang sama Misel kan? Bunda tetap jadi Bunda Misel kan?” tanyanya dengan wajah muram.


Rena terperangah mendengarnya. Ia terkejut tak menyangka jika pertanyaan itu akan keluar dari bibir putrinya. Ada apakah sebenarnya? Bukankah sebelumnya Misel juga begitu kekeh meminta seorang adik.


“Tentu sayang. Bunda itu selamanya akan menjadi Bundanya Misel. Tidak akan mengubah keadaan apapun, meski nanti adik bayi lahir. Kalian tetap saja anak-anak Bunda.” Rena menarik Misel ke dalam dekapannya, mengecup pucuk rambutnya dengan sayang. Mengapa perasaan putrinya mendadak sensitif seperti itu. Melepaskan dekapannya, Rena menangkup pipi putrinya. “Kenapa Misel bisa kepikiran seperti itu sayang?” tanyanya.


“Soalnya teman Misel ada yang bilang. Gara-gara punya adik lagi, ia jadi terabaikan, namanya jadi gak sayang lagi sama dia. Terus dia bilang ke Misel juga gitu Bunda. Karena Bunda kan bukan ibu kandung Misel. Aku sedih memikirkan itu Bunda. Aku takut Bunda berubah gak menganggap aku lagi,” ucap Misel seraya terisak. Rena kembali membawa anak itu ke dalam dekapannya. Misel membalasnya dengan pelukan erat.


“Hei kenapa kamu bisa bicara seperti itu. Ingatkah Misel bagaimana Bunda bisa berada di rumah ini? Bagaimana Bunda bisa menikah dengan Ayah? Dulu semua ini Bunda lakukan hanya demi Misel. Ingatlah baik-baik nak, meskipun kamu bukan lahir dari rahim Bunda. Kamu tetaplah anak Bunda. Tidak akan ada yang membedakan antara anak kandung dan anak tiri. Jadi Bunda minta berhentilah untuk berpikir yang tidak-tidak. Jadi, Bunda hanya berharap kamu dan adik nanti harus saling menyayangi.” Rena mengusap lembut rambut putrinya.


“Iya Bunda. Misel sayang Bunda.”


“Bunda juga sayang Misel.” Misel mengeratkan pelukannya dengan nyaman.


“Hemm... Ada apa ini? Kok main peluk-pelukan, Ayah gak diajak?” goda Alby yang baru tiba, karena tadi lelaki itu memasukkan mobilnya ke garasi lebih dulu. Kini ia mendudukkan dirinya di sebelah istrinya.


“Gak perlu. Soalnya ini urusan perempuan,” cetus Misel setelah melepaskan pelukannya. Alby tergelak lucu, bahkan dengan sengaja ia meledek putrinya dengan cara memeluk istrinya di depannya. Hasilnya Misel mendaratkan pukulan di perutnya, menggunakan tangan mungilnya. Lelaki itu berpura-pura kesakitan, hingga membuat Misel meminta maaf. Rena tersenyum sehangat dan sederhana itu kehidupan keluarga kecilnya. Ia bersyukur tengah memiliki seorang suami dan putri sambung yang begitu penyayang, bahkan Misel sampai takut jika sampai kehilangan kasih sayang dirinya. Rena berjanji tidak akan membedakan kasih sayang anaknya dengan Misel nanti. Lagi-lagi ia tertawa kala melihat kini sang suami dijadikan kuda oleh putrinya, karena ketahuan sudah membohonginya tadi dengan berpura-pura sakit.


Malam hari, setelah selesai menemani Misel sampai tidur. Rena kembali ke kamarnya, ia merangkak naik ke atas ranjang, melihat sang suami masih asyik bermain ponsel.


“Lihatlah, kelakuan temanmu. Istrinya terbaring di rumah sakit kok pamer,” celetuk Alby ketika melihat foto yang dikirimkan Miko di grup, tampak Miranda tengah terbaring di rumah sakit.


Rena tertawa mendengarnya. “Ya gak apa-apa bang. Namanya juga berbagi kebahagiaan.”


“Kebahagiaan apaan? Orang sakit kok dibagi-bagi. Abang mah ogah,” desis Alby.


“Abang tuh cuma lihat fotonya ya gak baca captionnya. Ini Miko tuh lagi bahagia tahu bang, Mbak Miranda hamil.” Miranda menggeser tubuhnya mendekati suaminya, lalu memperlihatkan captionnya.


“Ohh ya baguslah. Misel bakal punya adik lagi. Jadi rame dia pasti senang,” ujar Alby positif.


Rena menghela nafasnya, mengingat kembali ucapan putrinya tadi.


“Kenapa sayang?” tanya Alby.


“Aku jadi kepikiran ucapan Misel tadi.”


“Ada apa?” Alby meringsek memperhatikan istrinya. Rena mulai bercerita pembicaraannya dengan Misel tadi. Ia hanya mengangguk paham.


“Namanya anak kecil sayang. Gak apa-apa wajar kok, besok dia akan baik-baik saja, yang terpenting kita harus bersikap adil,” seru Alby.


“Tapi bang–”


Sssttt... Alby meletakkan jari telunjuk di bibir istrinya. “Udah jangan dipikirin. Mending kita–” Alby memberi sesuatu kode lewat matanya.


“Apaan bang?”


”Once again sayang. Kan jatah Abang Minggu ini belum.”


Rena berdecak urusan begituan aja suaminya selalu ingat nomor satu. “Abang gak capek apa?”


Alby justru menggerakan ototnya seolah dirinya segar bugar. “Gak sayang. Lihat ini Abang fresh gini.”


Rena mengerutkan keningnya. “Tapi punggung aku pegal. Mending Abang pijitin aku deh.” Rena mulai merebahkan tubuhnya, dengan posisi miring meminta sang suami untuk memijat punggungnya.


“Tapi nanti kasih hadiah ya sayang?” pinta Alby.


“Hemm...” jawab Rena sambil menguap.


guys baca ulang ya tadi bab nya ketuker efek ngantuk. Maaf ya, tetap beri aku dukungan ya guys thank you