Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Curhat



Dua Minggu setelah pulang dari rumah sakit keadaan Miranda kian membaik. Miko benar-benar melarang perempuan itu beraktivitas apapun kecuali membuat desain gaun, itupun Miranda lakukan di atas ranjang. Kehamilan awalnya ini terbilang cukup rileks. Miranda justru akan muntah jika ada suaminya. Bukan karena ia mual bau parfum suaminya, tapi ia merasa anaknya itu begitu ingin diperhatikan Papanya. Entah itu benar atau hanya perasaannya saja.


Baik Rena, Alena, maupun Miranda. Ketiganya saling berbagi pengalaman kehamilan ketika mengobrol di grup chat, atau saat bertemu. Seperti kali ini Rena dan Alena yang tengah berkunjung ke rumahnya, dengan alasan rujak bareng. Kebetulan ini adalah weekend jadi hari yang santai untuk keluarga. Dari ketiganya tentu yang memiliki pengalaman terbanyak tentu Miranda.


“Aku awal kehamilan benci banget sama Masry. Kalau lihat wajahnya gitu bawaannya kesal,” curhat Alena seraya mengunyah buah kedondong di mulutnya. Ryan merenggut mendengar penuturan istrinya, sementara yang lain tertawa.


“Wahh sepertinya anakmu punya dendam pribadi.” Miko tertawa mengejek, menepuk pundak Ryan.


“Akhirnya Masry sering tidur di sofa!” kata Alena lagi seraya terbahak. Miranda dan Rena hanya tersenyum menyimak. Alby tetap saja sibuk dengan ponselnya.


“Aku gak heran sih. Anakmu emang aneh. Malam-malam juga minta mie ayam ganggu aku lagi mantap-mantap aja,” celetuk Miko yang masih kesal kala mengingat kelakuan Ryan saat itu. Tanpa peduli jika sang istri sudah melotot tajam ke arahnya.


“Masih ingat aja sih Mik. Aku sumpahin nanti ngidam istrimu lebih parah!” ujar Ryan kesal.


“Kagak ya. Anakku mah kalem gak minta neko-neko.” Miko mengusap lembut perut istrinya. “Iya kan sayang?”


“Bukan gak. Tapi belum,” ujar Miranda karena saat ini usia kandungannya memang baru memasuki Minggu ke sepuluh, ia baru merasakan mual-mual dan tak enak makan. Semua tidak menutup kemungkinan jika nanti ia menginginkan sesuatu.


“Anak-anak Papa yang baik. Please jangan minta yang aneh-aneh ya nanti, kasihani Papa sayang, Papa kan harus kerja. Minta aja sering-sering dijenguk seminggu tiga kali gitu. Papa akan dengan senang hati mengabulkannya,” kata Miko. Miranda langsung berdecak apa-apaan itu permintaan suaminya, masih aja urusan ranjang yang diinginkan. Dalam hati Miranda semoga anaknya tidak mendengarkannya.


“Biasanya yang diem seperti itu lebih parah. Bisa jadi mintanya lebih aneh dari anaknya Dokter Ryan,” timpal Alby yang sejak tadi hanya diam namun tetap menyimak.


“Ih apaan sih Pak Alby.” Miko berdecak kesal menoleh ke arah Rena. “Re, bilangin kek ke suamimu jangan nyumpahin aneh-aneh. Kamu juga Le, lakimu kayaknya dendam banget sama aku,” lanjutnya yang disambut tawa oleh mereka.


“Apalagi anak kamu tuh kembar tiga, pasti anakmu lebih repot dan aneh mintanya. Kan satu minta apa? Satunya lagi apa gitu. Misalnya satu minta belut, satu ayam tetangga, satunya lagi kambing orang. Siap-siap aja kamu gak tidur!” Alby semakin gencar meledek Miko. Pasalnya ia juga begitu kesal saat dirinya diledek kurang top cer karena Rena hanya mengandung satu bayi, sedangkan dia langsung tiga, Miko begitu besar kepala. Alena dan Dokter Ryan terbahak mendengarnya, senang karena dibalik ejekan Alby, artinya mereka dibela. Rena hanya menghela nafasnya, menahan diri untuk tak tertawa melihat wajah sahabatnya bertekuk kesal. Ia tak cukup heran jika suaminya begitu gencar mengejek Miko.


“Belut apa dulu ini?” sahut Miko santai.


“Belut sawah lah, emang belut apa lagi. Emang ada belut di laut,” timpal Dokter Ryan beranjak duduk di sisi Alena.


“Ngapain harus ke sawah, aku juga punya belut,” jawab Miko membuat semua orang menatap ke arahnya. Alena yang memang sedikit lemot justru memindai ruangan itu, mencari aquarium barangkali sahabatnya itu memang pelihara belut.


“Orang gak ada belut kok ngaku punya,” celetuk Alena polos.


Bugh!


Miko jatuh ke lantai begitu Miranda mendorong dirinya. “Mesum!” seru Miranda.


“Aku gak beran si mbak kalau suamimu itu mesum. Soalnya semasa sekolah dari jaman SMA sampai kuliah, dia itu kan suka koleksi film blue,” kata Alena seraya menahan tawanya, tak memperdulikan jika Miko sudah melotot ke arahnya. Pokoknya saat ini ia tengah menggunakan kesempatan itu untuk meledek habis-habisan sahabatnya itu.


“Wahh parah kamu Mik. Ternyata kamu dari remaja saja sudah omes. Kamu paling muda, tapi ternyata kamu paling pro!” kata Ryan semakin mengompori. Karena ia merasa senang melihat Miranda kini menatap kesal pada suaminya itu.


“Enggak sayang, itu tuh gak benar. Mana aku koleksi film begituan, kamu kan tahu sayang betapa polosnya aku saat menikah denganmu,” bela Miko memasang wajah melas.


Miranda mendengus, anehnya ia tidak percaya ucapan suaminya. Ingatkan Miko soal pertengkaran ketika lelaki itu baru pulang dari Bali, di mana Miko hampir saja melecehkan dirinya, hanya demi melancarkan hubungan mereka, karena terhalangnya sebuah restu orang tua. Bahkan saat itu lelaki itu sampai meninggalkan jejak kemerahan di tubuhnya.


“Bohong mbak. Polos apaan? Miko itu dari dulu suka bolos. Sering banget kena hukum guru BK, om Irawan aja sampai gak tahu caranya ngomong sama dia.”


“Le, diem gak? Kamu tuh jangan bocorin aib aku semua dong!” keluh Miko. “Aku sumpal mulutmu pake kedondong ya,” sambungnya mengancam.


Miranda menghela nafasnya, seraya mengusap perutnya.


“Kenapa sayang perutnya?” tanya Miko.


“Gak apa-apa.”


“Itu binimu ngusap perutnya, sambil bilang amit-amit ya Tuhan jangan sampai anak-anakku kaya Papanya,” kata Ryan terbahak.


“Sialan! Dia anak ku ya mirip aku lah masa mirip tetangga.”


“Sifatnya maksudnya Mik,” ujar Alena pelan.


Miranda menunduk, wajahnya berubah menggelap, saat setitik bayangan kesalahan masa lalu itu kembali muncul. “Terus mirip siapa dong? Mirip aku ya. Aku juga kan bukan orang baik, aku dulu kan jahat sama anak aku sendiri,” katanya pelan.


Tawa yang sempat terdengar kini menjadi redup, semua yang berada di sana menoleh ke arah perempuan itu, hingga sebersit rasa bersalah dalam diri Alena dan Ryan hinggap. Niatnya bercanda tak ia duga Miranda membawa rasa. Sebenarnya bukan Miranda yang salah, tapi mereka lupa jika saat ini perempuan itu tengah mengandung di mana emosinya di terkendali akibat hormon kehamilan.