
Empat bulan kemudian
Seorang lelaki tinggi, garis rahang tegas, rambut pirang, alis tebal tengah mengendarai mobilnya membelah jalanan ibu kota. Beberapa kali matanya sempat melirik goody bag di kursi sebelah. Senyum merekah tercetak di bibirnya. Kemarin lusa dirinya baru tiba di Indonesia. Hari ini ia memenuhi janji untuk bertemu dengan anak-anak mantan istrinya – Miranda.
Damian Marley seorang duda tanpa seorang anak. Itu merasa senang karena hubungannya dengan keluarga mantan istrinya berjalan baik. Bahkan Miko dan Miranda tak hentinya memberinya dukungan di saat ia mengatakan dirinya sakit, dan sialnya saat itu dokter hanya salah mendiagnosa dirinya.
Sempat merasa heran saat itu dengan keadaan tubuhnya yang baik-baik saja. Damian mencoba memeriksa tes ulang. Ternyata dirinya sama sekali tidak menderita penyakit leukimia.
Damian sempat merasa kesal, karena ia sempat mengira dirinya akan mati lebih cepat. Memiliki harta berlimpah membuat ia merasa bingung harus mewasiatkan hartanya pada siapa. Sementara dirinya tak memiliki keturunan atau pasangan. Haruskah ia beri pada keluarganya? Ah merasa sudah terlalu banyak harta.
Namun, di sisi lain ia merasa senang. Karena hal itu pula ia menjadi sadar akan kesalahannya. Percayalah ada hikmah disetiap kejadian.
Damian bahkan sempat beberapa kali menerima tawaran perjodohan keluarganya. Sayangnya tidak ada yang cocok dengannya. Menurutnya mereka semua tidak sopan, dan kebanyakan melihat Damian itu dari harta. Sepertinya akan lebih baik ia mencari jodoh orang Indonesia lagi.
Brak!!!
Tubuh Damian terguncang ke depan, saat mobil miliknya di tabrak oleh seorang dari arah belakang, ia menduga bamper miliknya pasti pasti lecet. Kesal! Tentu saja, karena ia memang bukan tipikal lelaki yang mempunyai kesabaran seluas samudera.
🦋🦋🦋
Sementara itu di kediaman Miranda. Alby, Ryan dan Miko tengah kerepotan mengasuh anak-anaknya. Karena saat itu para istri memintanya untuk melakukan me time bersama.
Alby merasa tenang karena hanya memiliki satu anak. Alka memang dekat dengannya jadi bisa ia kendalikan. Sementara pun sama, Rey tampak asik bermain dengan Alka.
Miko merasa pusing lantaran ketiga anaknya terus menangis secara bergantian. Dan saat itu ia hanya menggunakan jasa baby sitter satu, biasanya dua hanya saja yang satu pulang kampung.
“Ini maksudnya tuh apa coba? Mereka mengajak kita kemari, lalu meninggalkan,” decak Alby menatap ke arah Miko yang tengah kerepotan. Kemarin Rena memang mengatakan meminta waktunya sehari bersama teman-temannya. Namun, ia tidak menyangka jika pada akhirnya ia malah mengajaknya ke rumah Miranda, dan mereka bepergian dari sana.
“Berasa dikerjain gak sih,” timpal Ryan.
Keduanya melihat objek yang sama. Mendengar anak-anak Miko menangis secara bersama. Bukannya menengkan Miko justru ikutan berguling di karpet pura-pura nangis. Sontak ketiga anaknya langsung menangis dengan kencang.
“Kalau lihat kelakuan Miko yang begitu. Aku jadi mikir kalau Mbak Miranda berasa pinta empat bayi,” celetuk Ryan.
“Ya benar,” sahut Alby.
Baby sitter si kembar pun mengambil alih anak-anak Miko. “Ya ampun, rame banget nangisnya. Aku malah heran bagaimana istriku kadang bisa mengurus ketiganya sendirian. Aku dibantu pengasuh aja, rasanya pengen menjerit menangis!”
Deru mobil terdengar di depan rumah. Tak lama terdengar ucapan salam.
“Hello, baby ABC. Daddy i'm comming,” teriak Damian yang langsung masuk karena pintu rumah terbuka.
“Daddy, Daddy apaan? Dasar bule tengik, pake minta anakku manggil dia Daddy lagi,” sungut Miko membawa baby Chiara keluar yang sedikit rewel.
Terlihat Damian tengah bersalaman dengan Ryan dan Alby. Ketiganya pun ngobrol.
“Wahh anakku!” pekik Damian langsung beranjak dari tempatnya, menghampiri Chiara. Lucunya melihat lelaki itu Chiara langsung terdiam. Bahkan ia mengulurkan tangannya.
“Come on. Ikut Daddy!” ucapnya mengambil Chiara dalam gendongan Miko. Chiara terlihat senang dalam gendongan Damian. Bahkan lelaki itu juga mengangkatnya sedikit tinggi, hingga Chiara tertawa kecil, lalu menjambak rambut pirang Damian. “Aduh sayang rambut Daddy kenapa di jambak,” ringis Damian.
Miko dan yang lainnya tertawa.
Hingga tak lama terdengar langkah kaki masuk. Tiga orang perempuan melangkah mendekati dirinya.
“Mas Damian,” panggil Miranda.
Hal itu membuat semua orang menoleh. Baik Ryan, Alby dan Miko merasa lega melihat istrinya sudah pulang. Anak-anak mereka lantas langsung mengulurkan tangannya. Begitupun dengan Chiara yang langsung meminta gendong Mamanya.
“Mbak Miranda, ini taro di mana ya kainnya,” tanya Eva seraya membawa beberapa kain dari luar.
“Letakkan di situ saja, Va. Nanti aku akan suruh orang untuk membawanya ke butik besok,” ujar Miranda.
Damian mengerutkan keningnya melihat Eva. Wajahnya nampak tak asing, lalu keduanya menoleh.
Semua yang berada di sana semakin bingung. “Ini ada apa sih, VA? Kalian saling mengenal, kok kaget gitu?” tanya Miranda.
“Perempuan ini yang udah nabrak mobil ku tadi, Mir.”
“Aku kan sudah minta maaf, Om Bule!” dengus Eva tak terima. Ya tadi itu ia tak sengaja menabrak mobil Damian, karena saat itu ia terburu-buru. Mau menjemput Miranda yang tengah berada di toko kain bersama teman-temannya.
“Udah-udah sih damai aja. Gak usah tuduh-tuduh gitu. Gak usah sampai melempar rasa benci entar jodoh loh,” celetuk Miko asal.
Eva dan Damian sontak melototkan kedua matanya pada Miko.
“Nah kan, baru ku bilang. Udah kompak aja kalian berdua!”
Miranda mencubit perut suaminya, membuat ia mengaduh kesakitan. “Aduh sayang. Jangan sekarang, nanti malam aja kalau kepengen. Kasihan kan di sini ada para jomblo.”
Setelahnya, keluarga kecil Ryan ataupun Alby memilih berpamitan pulang. Damian dan Eva pun memilih berdamai, tidak memperpanjang masalah sepele.
“Va, daripada sama-sama aki-aki tua yang kamu bilang mau dijodohkan mending sama sama Mas Damian deh!” celetuk Miranda sontak membuat Eva dan Damian yang tengah menikmati secangkir teh tersedak.
“Apa?!”
“Aku serius ini lho!”
“Mbak aku kan gak suka bule,” jawab Eva terang-terangan.
“Dia gak suka bule. Tapi sukanya aki-aki, yang sudah loyo,” celetuk Damian tak kalah kesalnya.
Seketika tawa Miko langsung pecah. Miranda langsung menabok suaminya memintanya untuk diam.
“Bukan begitu Pak Damian. Masalahnya aku tuh juga bingung, kita kan juga baru kenal. Sementara, di posisi lain aku juga gak pengen nikah sama juragan itu. Lagian aku kesal banget sama Bapak dan Ibu main terima tawarannya aja, pengen kabur ajalah.”
“Yuk!” ajak Damian.
Sontak yang berada di sana melongo. “Ke mana?”
“Katanya mau kabur. Aku temenin, biar aku yang bawa kamu kabur.”
“Apaan sih!" Dengus Eva.
“Aku serius. Lagian benar juga apa kata mantan istriku. Dari pada kamu nikah sama aki-aki mending sama aku aja. Nanti malam aku lamar kamu ya,” ucapnya serius.
“Pak kita kan–”
“Aku itu sudah berumur Eva. Gak ada waktu buat pacar-pacaran. Kalau mau ayo kita nikah serius. Baru kita saling mengenal, nanti.” Damian berkata dengan serius. Ingatkan dia tentang ucapan meminta jodoh orang Indonesia lagi, dan ternyata bertepatan dengan itu mobilnya di tabrak oleh Eva. Kemungkinan saja Eva itu jodohnya kan.
“Ta–tapi!”
“Udah gak usah pake tapi. Ayo aku akan melamarmu sekarang!” Damian langsung menarik tangan Eva keluar dari rumah Miranda.
“Astaga! Itu si bule kebelet amat. Lamar anak orang tanpa persiapan!” kata Miko heran.
Miranda terkekeh. “Ya udah kamu ganti baju susul mereka. Kasihan entar Mas Damian di sidang gak ada yang bantu.”
“Oke sayang!”
💞
💞
lunas ya janjiku beri extra Part tentang Damian.