Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kamu Itu Candu



“Gimana, Mom. Alka dan Misel gak rewel kan?” tanya Alby. Saat ini ia tengah berdiri di atas balkon menelpon ibu mertuanya. Tentunya Alby sudahrapi bersih, sudah mengenakan pakaian semula. Sementara, Rena masih tidur nyenyak.


“Tidak, tenang saja. Mereka ngerti kok apa yang orang tuanya butuhkan. Nikmati aja waktu berduanya,” sahut Dinda di balik telpon.


“Makasih ya, Mom. Ya udah Alby tutup dulu telponnya ya,” ujar Alby.


“Ya nak.”


Usai menutup ponselnya, Alby menatap ke arah depan sejenak. Kemudian, beranjak ke masuk ke dalam kamar. Lelaki itu memilih duduk di sofa agar tak menganggu istrinya yang tengah tidur. Ia tahu Rena butuh waktu untuk istirahat yang cukup. Bukan hanya perihal rasa lelah yang dirinya ciptakan saat aktivitas panas keduanya tadi. Tapi, Rena juga seorang ibu menyusui yang harus mempunyai istirahat yang cukup.


Alby memilih duduk bersandar di sofa dengan memainkan game di dalam ponselnya. Game yang biasa Misel mainkan saat meminjam ponselnya. Sesekali ia akan melirik ke arah istrinya, memastikan Rena sudah bangun apa belum.


Beberapa menit kemudian, Rena menggeliat, perlahan membuka kedua matanya. Samar-samar ia menyapu ruangan, ia tersentak mana kala menyadari itu bukan di kamarnya.


Rena langsung buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk.


“Alka!” panggilnya. Hal itu membuat Alby berada di sofa terkejut.


“Sayang, kamu udah bangun.” Alby beranjak menghampiri istrinya.


Melihat sang suami, Rena menghela nafas lega. Ia pikir tadi ia tengah bermimpi diculik lalu di bawa ke hotel. Akhirnya, ia baru ingat jika ia dan suami yang datang ke hotel itu.


“Kenapa?” tanya Alby begitu telah duduk di sisi istrinya. Rena mengeratkan selimut ke dalam dadanya. “Mimpiin Alka?” sambungnya seraya mengusap lembut rambut istrinya.


Rena mengangguk. “Iya. Abang udah rapi kok gak bangunin aku,” serunya.


“Kamu pules banget. Abang gak tega bangunin.”


“Ini jam berapa Bang?” tanya Rena.


”Baru jam sepuluh sayang.”


“Apa!!” pekik Rena langsung menyingkap selimutnya dengan terburu-buru berniat ke kamar mandi.


”Hei sayang. Jangan terburu-buru!” ujar Alby.


“Abang itu gimana? Kita udah kelamaan di sini. Gimana kalau Alka dan Misel nangis. Harusnya Abang tuh bangunin aku dari tadi,” omel Rena.


“Tenanglah mereka tidak rewel. Abang udah telpon Mommy tadi.”


Rena melototkan kedua matanya, lalu berbalik menuju kamar mandi.


Alby mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. “Oh Tuhan. Perempuan kalau udah jadi ibu-ibu begitu ya. Kemana pergi yang di ingat pasti anak,” kata Alby.


Rena hanya membutuhkan waktu setengah jam kurang untuk membersihkan diri. Ia merasa khawatir dengan putranya di rumah.


“Ayo bang buruan pulang,” ajak Rena.


“Iya sayang. Pelan aja gak usah buru-buru,” protes Alby.


“Abang gimana sih. Aku kan khawatir kalau Alka rewel. Terus stok ASI aku habis. Dia kan masih ASI eksklusif bang,” protes Rena balik. “Laki-laki emang gitu. Kalau udah di luar emang gak mikirin anak,” sambungnya.


Alby hanya diam mendengarkan Omelan istrinya yang beranjak meninggalkan kamar hotel itu. Ia mengikuti langkah istrinya dari belakang. Harusnya setelah adegan percintaan tadi, hubungan keduanya menjadi harmonis. Tapi, sudahlah diam lebih baik.


Kini, Alby melajukan mobilnya meninggalkan area hotel.


“Kenapa sayang?” tanya Alby.


“Lapar bang. Padahal tadi kan udah malam ya. Ini sih Abang buat aku kelelahan, jadinya tenagaku habis.”


Alby terkekeh, mendengar ucapan juga melihat bibir istrinya yang mengerucut ke depan. Ia tak protes memang apa yang istrinya katakan itu benar, entah sampai berapa kali tadi keduanya bercinta. Ia hanya menyudahi begitu melihat Rena sudah kelelahan.


“Habis kamu candu sih.” Alby mengulurkan tangannya mengusap rambut istrinya. “Mau makan apa sayang?” tanyanya lembut.


“Pengen burger mekdi, Bang. Nanti mampir ya bang. Aku tunggu di mobil aja, Abang yang beli.”


Alby mengangguk, begitu melihat restoran cepat saji itu. Ia segera membelokkan mobilnya ke sana. Sementara ia turun dari mobil masuk menuju restoran, Rena tetap berada di dalam mobil.


Setengah jam kemudian, Alby kembali dengan membawa pesanan istrinya.


“Kok lama sih bang?” tanya Rena heran.


“Ngantri sayang.”


Rena mengangguk paham, menerima burger dari tangan sang suami. “Makasih ya, Bang."


🦋🦋


Tiba di rumah Alby dan Rena langsung masuk ke dalam.


“Kalian sudah pulang?” tanya Dinda.


Rena menjadi salah tingkah, ia kira Mommy nya sudah tidur. “Iya Mom,” sahutnya sambil mengalami tangan Dinda dengan takzim. Dinda membalasnya dengan mengusap rambut putrinya. Begitupun dengan Alby yang melakukan hal sama.


“Mommy kok belum tidur?” tanya Rena kemudian.


“Iya. Tadi habis gendong Alka. Kebetulan dia kebangun minta susu. Sekarang udah tidur lagi kok. Cuma Mommy ngerasa haus. Makanya mau ke dapur,” terang Dinda.


“Tuh kan, Bang. Aku bilang apa. Alka nangis.”


“Cuma sebentar kok sayang, gak lama. Anak bayi kan begitu kalau lapar apa haus.”


“Makasih ya Mom. Udah jagain Alka dan Misel.”


“Iya Mommy senang kok. Malah terhibur kalau banyak anak kecil gitu.” Ada gurat wajah sendu dari perempuan setengah baya itu. Seperti ada sesuatu yang tengah mengusik pikirannya. “Semoga nanti kakak kamu juga ya, Re. Bisa segera punya anak. Soalnya Mommy itu pengen lihat anak-anak Mommy bahagia," sambungnya penuh harap.


“Amin!” Rena mengusap lengan Dinda, saat ia melihat gurat khawatir di wajah perempuan itu saat tengah membicarakan rumah tangga anak pertamanya. Dan ia pun tahu, jika tujuan Dinda ke rumahnya selain untuk bertemu cucu-cucunya, itu juga untuk menghibur diri. “Udah Mommy istirahat jangan banyak pikiran. Rumah tangga kakak itu baik-baik saja. Percayalah, mereka bahagia, Mom.”


“Iya. Mommy ke dapur dulu ya, mau ambil minum. Oh ya Alka Mommy tidurkan di kamar Misel.”


“Perlu Rena temani?” tawar Rena.


“Gak usah sayang. Kamu istirahat saja.”


Rena mengangguk dan berlalu ke kamar. Karena sang suami pun sudah masuk ke dalam kamar.


Setelah mencuci tangan dan wajahnya, juga mengganti pakaiannya. Rena berlalu ke kamar Misel untuk memindahkan putranya. Terlihat Alby pun sudah terlelap. Rena mengira tadi di hotel sang suami justru sama sekali belum tidur.


Setelah menidurkan Alka di ranjang bayi. Rena pun juga menyusul sang suami untuk tidur.