Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kita Putus



Sementara itu di kampus, Miko masih mengitari kampus demi mencari Alena dan Rena.


"Kalian lihat Rena dan Alena gak?" tanya Miko pada Nena dan Nella.


"Rena udah pulang dijemput suaminya. Kalau Alena gak tau deh," sahut Nena.


Miko menghela nafasnya.


"Memangnya ada apa?" tanya Nella.


"Gak ada. Cuma mau ngobrol aja," sahut Miko. "Ya udah aku duluan ya," pamitnya.


Miko menyusuri koridor kampus seorang diri. Hari sudah beranjak siang. Tapi, ia masih malas untuk menginjakkan kakinya untuk pulang.


"Kak?" sebuah suara lembut memanggilnya dari arah belakang.


Lelaki dengan kemeja maroon itu pun memutar tubuhnya. "Hira?" sahutnya


Hira tampak tersenyum sambil membawa buket bunga lalu melangkah mendekati dirinya, menyerahkan bunga itu. "Selamat ya?" ucapnya.


Miko terkekeh geli menerima bunga dari kekasihnya itu. "Makasih ya."


Hira mengangguk menatap kekasihnya itu dengan senyum getirnya. "Maaf ya aku gak bisa kasih apa-apa. Aku kan belum kerja," ucapnya.


"Gak perlu kasih apa-apa kok," sahut Miko menatap gadis cantik dengan dress coklat di depannya itu. "Ini udah cukup," sambungnya kemudian.


Hira menatap bangku kosong yang di bawah pohon Cemara tak jauh darinya. "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Hira menatap Miko penuh harap.


Miko tertawa kecil. "Tentu saja. Kamu ini gimana sih, biasanya juga bicara aja ngapain minta ijin dulu."


"Karena ini penting. Bahkan mungkin sangat penting," kekeh Hira.


Miko menghentikan tawa kecilnya, menatap Hira penuh selidik. Sesaat ia merasakan sesuatu yang tak enak. Gurat wajah Hira itu beda.


"Baiklah. Kita bisa ngobrol di cafe seperti biasanya kan," tawar Miko.


Hira menggeleng. "Tidak perlu kak. Aku tidak punya banyak waktu. Kita ngobrol di bangku sana aja," tunjuk Hira pada bangku kosong tadi.


Keduanya berjalan beriringan menuju bangku kosong, kemudian mendudukan dirinya di sana. Hira menunduk meremas pakaiannya, saat Miko menatapnya dengan pandangan penuh tanya.


"Ada apa Hira? Ayo katakan. Apakah aku mempunyai kesalahan?" tanya Miko hati-hati. Lelaki itu masih menggenggam sebuket bunga yang di beri kekasihnya tadi. Namun, yang ditanya tetap bergeming dengan pandangan menunduk.


"Zahira?" panggil Miko lagi.


Hira menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian mengangkat wajahnya menatap kekasih di depannya. "Kak, aku mau kita putus!"


Deg!


Sebuah kata yang cukup mengejutkan untuk Miko, genggaman bunga di tangannya bahkan ikut terlepas.


"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Miko. Lelaki itu beralih menggenggam tangan Hira.


Hira menggeleng seiring dengan matanya yang mulai berembun. "Kakak tidak salah apa-apa. Aku cuma mau putus saja!" sahutnya sambil menarik tangannya dari genggaman Miko.


"Itu bukan alasan. Aku tau kau begitu mencintaiku Hira. Tak akan semudah itu kau meminta putus dariku?"


"Tapi kakak tidak mencintaiku?" tukas Hira.


Miko menggeleng. "Kau salah. Aku sudah mulai membuka hati untukmu. Katakan jika ini kau hanya bercanda?"


Hira menggeleng, menepi tangan Miko yang hendak kembali menggenggamnya. "Aku tidak bisa, Kak. Kesabaranku sudah habis, kau tidak pernah mencintaiku!"


"Hira kenapa kau seperti ini?"


Hira meremas tangannya. "Kejarlah cintamu, Kak. Dan aku akan mulai kehidupan yang baru."


"Apa maksudmu?" tanya Miko sedikit marah.


"Kakak mencintai Kak Alena kan. Aku melepasmu, Kak. Pergilah kejar dia!"


"Kamu gila!" sahut Miko marah.


"Aku akan meninggalkan negara ini," ucap Zahira kemudian.


Hira meremas tangannya, kembali menatap Miko dengan mata berkaca-kaca. "Aku akan mulai hidup baru dengan suamiku kak," lirihnya kemudian.


"Suami?" ulang Miko tak percaya.


Hira mengangguk. "Sebenarnya Papa udah jodohin aku dari kecil. Aku sempat menolak perjodohan ini, tapi kemarin Papa ku sempat anfal, aku sudah tidak punya pilihan lain. Aku tidak mau kehilangan Papaku. Jadi, aku mengambil keputusan untuk menerimanya. Bulan depan kami akan menikah."


Miko masih tak percaya mendengarnya. "Kamu bercanda kan?"


Hira menggeleng dengan kuat. "Aku serius mau kita putus. Terima kasih untuk semuanya kak," kata Hira sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Kalau begitu biar aku yang menikahi kamu Zahira? Biar aku yang bicara pada Papamu?"


Ucapan Miko membuat langkah Hira terhenti. "Tidak. Keputusanku sudah bulat. Setelah ini anggaplah kita tidak saling mengenal, jika suatu hari kita bertemu berpura-puralah kita hanya orang asing," ucapnya sambil terus melangkah pergi, tanpa berniat untuk menengok ke belakang.


"Zahira??!!!" Miko berteriak memanggil namanya. Berharap gadis itu akan kembali menolehnya. Namun, harapannya sia-sia saat Hira justru terus melangkah menjauh kemudian masuk ke mobil.


Miko berlari berusaha mengejarnya. Namun, terlambat saat dengan cepat mobil Hira sudah melesat pergi


****


Seorang perempuan cantik dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya tersenyum ketika menatap bangunan megah yang terlihat di sepanjang jalan. Mobil taksi yang dikemudikan sang sopir, berhenti tepat di depan rumah bercat cream.


Turun dari taksi, perempuan itu menekan bel pintu berkali-kali.


"Duh, Rena tidak di rumah apa ya? Padahal menurut perhitunganku, harusnya harusnya dia sudah di rumah, hari ini kan dia selesai sidang. Apa sedang menghabiskan waktu sama Alby ya," gumamnya.


Disaat ia berniat untuk melangkah pergi. Bi Surti datang membukakan pintu.


"Nyonya Miranda?" sapanya.


"Sore Bi. Renanya ada?" tanya Miranda balik.


"Gak ada siapa-siapa di rumah Nyonya. Semua di rumah sakit, kan Bu Rena masuk rumah sakit."


"Apa?! Rena masuk rumah sakit?" pekiknya, Bi Surti hanya mengangguk.


"Rumah sakit mana Bi?"


"Anggara."


Setelah itu Miranda kembali mencari taksi, ia lebih memilih langsung bertemu Rena di rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, Miranda tiba di rumah sakit. Setelah bertanya pada resepsionis, ia langsung menuju ruang perawatan Rena.


"Mama?" panggil Misel begitu Miranda membuka pintu, membuat semua penghuni ruangan itu menoleh. Misel langsung berlari memeluknya, Miranda membalasnya.


Melihat ruangan itu yang sedang ramai, Miranda jadi merasa tidak enak karena tiba-tiba masuk begitu saja.


"Maaf, saya ganggu," cicit Miranda.


"Tidak apa-apa kami sudah mau pulang," sahut Dinda. Karena saat itu ia memang tengah menjenguk Rena bersama suamimya. Rava dan Dinda segera berpamitan untuk pulang.


Soraya dan Galih pun melakukan hal yang sama. Hingga tersisa Rena, Alby, Misel dan Miranda di sana.


"Mama ayo masuk. Aku kangen Mama tau. Mama gak pernah ada kabar. Aku punya kabar bahagia. Aku mau punya adik," cerocos Misel menggiring perempuan itu masuk.


Alby menatapnya tak suka. Namun, Rena menenangkannya.


"Mbak Miranda kapan pulang?" tanya Rena membuka suara.


"Aku baru sampai, tadinya mau ke rumah kamu langsung. Tapi kata pembantu kamu, lagi pada di rumah sakit. Ya udah aku kesini aja!"


"Sebenarnya gak perlu juga sih. Gak penting!" celetuk Alby dan langsung mendapatkan cubitan dari Rena.


Miranda langsung tersenyum getir mendengarnya. "Aku tau kok, memang tidak penting kehadiran aku. Aku juga minta maaf telah mengingkari janji, karena harusnya aku tidak perlu kembali."


"Mbak pulang sama siapa?" tanya Rena berusaha mengalihkan pembicaraan.


Deg!