
Rena menatap gemas bayi dalam gendongannya. Pakaiannya berwarna pink, dengan bando yang senada, menatap kesan gemas dan imut dalam diri bayi itu.
“Gemas banget Mbak. Bawa pulang boleh gak sih,” ujar Rena seraya mengecupi pipi gembul bayi itu.
“Ngapain? Kamu kan juga mau punya sendiri.” Milea mencebik melihat tingkah sahabat serta istri dari atasannya itu. Keduanya saat ini berada di bangku rumah sakit. Milea habis membawa anaknya untuk melakukan imunisasi. Niatnya mau langsung pulang, tapi karena bertemu Rena jadilah ia berhenti dan mengobrol.
“Namanya siapa mbak?” tanya Rena seraya mencolek-colek bayi itu.
“Shanum. Kok kamu bisa lupa sih.”
“Nama panjangnya lho mbak? Namanya orang lupa kan gak ada obatnya,” sanggah Rena.
“Queen Shanum Malika.”
“Widih kecap,” celetuk Rena kemudian membuat Milea melongo.
“Kok kecap sih Re?” tukas Milea tak terima.
Rena terkekeh. “Habis nama anakmu mbak, mengingatkanku pada salah satu iklan produk kecap yang terkenal. Kedelai hitam yang saya besarkan seperti anak sendiri.”
Milea mencebik, Rena ternyata sama saja seperti Alby suka mengubah nama seseorang. “Gara-gara Mas Ardan ini, kan udah aku bilang gak usah pakai Malika, dia ngeyel katanya bagus. Biar selalu ingat dengan nama produk perusahaannya.”
Rena jadi tertawa, ia tak cukup heran kalau Milea aja kalah dari Ardan. Karena lelaki itu memiliki sifat yang cukup keras, beda dengan Alby yang takluk dengan Rena, apalagi kalau sudah di kasih once again, seperti semalam, eh. Rena jadi merona sendiri mengingat betapa liarnya ia semalam saya melayani sang suami di atas ranjang. Padahal semula ia menolak mentah-mentah, namun saat permainan itu berlangsung hasratnya justru membuncah tinggi, ingin lagi dan lagi. Apakah itu salah itu efek hormon kehamilan. Kalau seperti itu jadinya bagaimana Alby tidak merasa senang coba.
“Re, aku pulang dulu ya. Mau ke kantor Mas Ardan,” ujar Milea. Rena mengulurkan Baby Shanum ke Milea.
“Bulan depan aku udah masuk kerja lagi Re,” imbuh Milea seraya tertawa kecil.
Rena mengangguk. “Iya. Kan beberapa bulan lagi, gantian Bang Alby yang akan sibuk.”
“Lho yang lahiran kan kamu Re, masa Alby yang cuti.”
“Biar jadi suami teladan,” jawab Rena tergelak lucu. Milea ikut tertawa sebelum kemudian berpamitan untuk pergi.
Rena mengusap perutnya yang membuncit. “Sehat-sehat ya nak. Kita berjuang bersama ya,” ujarnya seolah berbicara pada anak dalam kandungannya. Setelahnya, Rena beranjak dari tempat duduknya, di tengah jalan Rena berpapasan dengan Dokter Ryan yang tampak berbinar bahagia.
“Lagi bahagia ini kayaknya,” ejek Rena.
Dokter Ryan tertawa hingga memperlihatkan gigi putihnya “Iya dong Re. Aku kan mau jadi Papi,” sahut Ryan.
“Alena hamil?”
“Iya. Makanya aku baru masuk kerja, tadi kan anterin dia priksa dulu."
Rena menggaruk tengkuknya, padahal kalau priksa kan bisa ijin sebentar, meski di jam kerja. “Aku ikut senang mendengarnya. Jadinya, kan nanti anak kita seumuran.”
Ryan mengangguk. “Tapi sifat dia kok ngeselin banget ya Re. Berbanding terbalik dari biasanya pokoknya. Aku salah terus di matanya.”
Rena tertawa, lalu berkata, “itu hal biasa untuk orang hamil.”
“Aku tahu. Hanya saja dia mah benar-benar, ihh aku gemes. Aku tadi habis nganterin dia beli poster jongkok, buat di pajang di kamar katanya.”
“Jongkok?” ulang Rena bingung.
“Itulah boyband Korea emm–”
“Oh Jungkook,” sahut Rena tertawa, ternyata dokter Ryan tak jauh beda dengan suaminya yang kerap salah sebut nama artis itu.
“Iya itulah. Susah banget di ucap, lagian aku kesal masa dia bilang mau natap poster itu lama-lama biar anaknya tampak mirip pria itu,” celetuk Dokter Ryan wajahnya bertekuk kesal.
Rena tertawa dan menyarankan agar dirinya harus sabar.
Miranda berkali-kali menguap selama bekerja di butiknya. Rasanya ia sangat ngantuk. Semua ini karena melayani sang suami semalem. Entah berapa kali Miko melakukannya, seingatnya ia baru bisa tertidur dengan nyenyak menjelang pagi hari. Bahkan ia hampir kesiangan mengantarkan Misel ke sekolah.
Waktu masih menunjukkan pukul satu siang. Namun, rasa kantuknya sama sekali tak dapat ia tahan. Pada akhirnya Miranda memilih memejamkan kedua matanya sejenak di sana. Kepalanya ia tidurkan di atas meja.
“Sayang?”
Miranda samar-samar mendengar seseorang memanggilnya, disusul dengan usapan lembut di pipinya.
“Bangun yuk. Kita pulang.”
Miranda langsung membuka kedua matanya, dan terkejut mendapati wajah suaminya begitu dekat dengan jaraknya.
“Kok ada di sini?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. Ia menegapkan tubuhnya bersandar ke kursi.
“Lihat dong sayang jam berapa? Aku tuh udah di sini dari sejam yang lalu nunggu kamu bangun, tapi kayaknya nyenyak banget.”
Miranda mengambil ponselnya, terkejut mendapati waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia tidak menyangka bisa tidur selama itu, padahal yang ia rasa tadi ia baru memejamkan kedua matanya. Bagaimana bisa waktu bergulir dengan cepat.
“Eva juga udah pulang, butik udah aku suruh tutup. Niatnya tadi mau gendong kamu aja, tapi kasihan juga pasti terusik,” ujar Miko.
Miranda tersenyum malu. “Iya. Aku merasa ngantuk banget sayang. Kaya capek banget gitu. Badannya juga pegal-pegal.”
“Wahh pasti karena semalem ya? Duh kasihan istriku. Nanti sampai rumah aku pijitin deh,” ujar Miko.
“Beneran?"
“Iya sayang. Tapi, setelah itu gantian kamu harus kasih aku hadiah.”
“Apaan? Baju ya, nanti tunggu aku desain buat kamu,” balas Miranda.
Miko menggeleng cepat. “Bukan. Aki gak butuh baju.”
“Lho, terus apaan?”
“Mantap-mantap sayang."
Miranda melongo mendengarnya, ia menelan ludahnya secara susah. Membayangkan betapa ganasnya sang suami nanti saat di ranjang, seperti semalam. Bahkan lelaki itu tidak akan terhenti jika belum memastikan keadaan Miranda yang kelelahan. Apakah begitu menikah dengan pria yang berusia lebih muda darinya.
“Tapi sayang, badan aku kan–”
“Kalau sering mantap-mantap malah gak pegal sayang. Karena sudah terbiasa, ini semua yang kamu rasakan karena kamu belum biasa,” kata Miko seolah lebih pengalaman dari urusan mantap-mantap di banding Miranda. Padahal melakukannya saja baru satu kali. Tapi gaya bicaranya udah seperti mantan Cassanova.
“Ayo kita pulang sayang. Yanti sudah menunggu di depan,” ajak Miko.
Miranda mengangguk, mengambil tas miliknya dan berlalu keluar. Miko senantiasa menggiring istrinya, bahkan yang mengunci butik juga dirinya.
“Lupa sayang, nanti jam delapan mau ajak kamu ke pesta. Itu ada undangan dari rekan bisnis aku. Cuma acara jamuan bisnis sih,” kata Miko setelah keduanya masuk ke dalam mobil.
“Ya udah nanti kita datang.”
“Iya, jadi mantap-mantapnya pending dulu ya. Nanti aja pulang dari pesta kita lembur,” ucap Miko membuat Miranda melongo.
“Ya elah Pak Bos gak kira-kira ada jomblo di sini ngomongnya gak jaga perasaan,” celetuk Yanto.
“Biarin, makanya kamu nikahlah Yanti.”
“Nanti tunggu Neng Clara dewasa,” godanya.
“Yanto!!!!”