Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Pohon Jambu Buat Sial



"Mang Tarno ada tangga gak?” tanya Ryan begitu tiba di kebun belakang.


“Ada den. Mau buat apa?” sahut Pak Tarno selaku pengelola kebun itu bertanya balik. Pasalnya ia merasa heran anak majikannya itu jam segitu ke belakang kebun.


Ryan yang tengah memandang ketinggian pohon jambu air itu kembali menoleh. “Buat ambil jambu. Itu si istri pengen rujak.”


“Oalah, kalau gitu biar Bapak aja yang ambilin,” tawar Pak Tarno.


“Jangan!” suara lantang terdengar. Alena tiba-tiba datang dengan nafas yang memburu. “Jangan Pak. Aku tuh maunya Masry yang ambil. Udah bapak istirahat aja,” imbuh Alena.


“Ya udah kalau gitu saya ambilin tangganya ya.” Pak Tarno berniat beranjak dari sana, setelah diangguki oleh Ryan. Namun, suara Alena mengurungkan niatnya.


“Gak usah pake tangga Pak,” ujar Alena membuat Ryan dan Pak Tarno melongo.


“Sayang,” seru Ryan dengan wajah melas.


“Ayo dong Masry manjat. Aku mau tuh mau lihat Masry manjat. Ini aku udah ambil ponsel mau buat foto,” kata Alena menunjukkan ponsel di tangannya.


“Sayang. Kok gitu sih, Mas udah mandi lho. Nanti ada semut gimana? Mas juga belum makan tega banget sih, masa Mas harus nguras tenaga buat manjat kaya monyet mencuri pisang. Permintaanmu kok makin gak masuk akal.” Ryan mengeluh heran kenapa istrinya itu di saat hamil keinginannya semakin aneh saja. Tidak cukupkah membuatnya tidur di sofa. Kali ini malam-malam minta diminta manjat di pohon.


Wajah Alena langsung berubah, yang tadi terlihat berbinar bahagia kini berubah menjadi kecewa. “Ya udah kalau Masry gak mau deh,” kata Alena lirih.


Ryan tertegun mendengar jawaban istrinya, yang kini tidak lagi merengek. Harusnya ia senang, tapi sudut hatinya terasa bersalah ketika melihat raut wajah istrinya yang menggelap kecewa. Ia dengan cepat memegang tangan Alena, ketika perempuan itu hendak berlalu masuk.


“Sayang?” tegur Ryan pelan.


Alena berusaha melepaskan tangan suaminya. “Aku tidak apa-apa kok Masry. A–aku, aku akan masuk saja. Aku janji tidak akan meminta Masry melakukan hal yang aneh-aneh lagi,” pungkas Alena lirih bahkan ia tak sadar air matanya sudah merembes membasahi pipinya, dan dengan cepat ia mengusapnya menggunakan salah satu tangannya.


Ryan tertegun mendengar istrinya itu mulai terisak, sebersit rasa menyesal hinggap dalam dirinya. Kenapa ia tidak bisa mengontrol ucapannya. Bukankah wajar jika istrinya meminta hal yang aneh, mengingat ia tengah hamil anaknya.


Ia segera menarik istrinya, kemudian memposisikan menghadap dirinya. Ia terkejut melihat istrinya menangis.


“Sayang, maafin Mas ya. Mas gak bermaksud untuk menyakiti kamu. Jangan sedih, jangan nangis... Mas akan melakukan apapun. Sekarang mas akan manjat demi kamu.”


Alena menggeleng. “Gak perlu. Aku gak mau jadi beban Masry.”


”Bagaimana kau katakan ini beban, jika aku melakukan semua ini demi anak dan istriku.” Ryan mengecup kening istrinya dengan lembut, kemudian mengurai jaraknya. “Tunggu sebentar. Mas akan manjat, kamu tunggu di bawah.”


“Masry serius?”


“Iya sayang.”


“Gak keberatan? Kalau keberatan aku gak ap–”


“Tidak sayang. Lihat ini Mas mau manjat, kamu bisa ambil fotonya dari bawah ya.” Ryan mulai memanjat dengan hati-hati, hingga ia berhasil sampai ke atas.


Alena tampak senang, melihatnya ia mengambil foto juga menunjuk buah yang ingin ia petik. Melihat istrinya bahagia tentu Ryan juga merasa senang.


“Ayo Masry yang itu lagi, aku mau yang besar.” Alena menunjuk buah jambu di atas sana.


“Aaaa... Ulat!” teriak Ryan hingga tak dapat menahan keseimbangannya.


Tratap... Bugh!


“Masry!!” teriak Alena mendapat suamimya jatuh dari atas pohon.


****


Alena terus menangis di sisi suamimya yang masih terbaring pingsan di atas ranjang.


“Sudahlah sayang. Ryan tidak apa-apa, tadi kamu sudah dengar sendiri kan apa kata dokter,” ujar Elena menenangkan menantunya. Karena sejak tadi Alena terus menyalahkan dirinya, yang begitu memaksa suaminya manjat, padahal Ryan sudah mengatakan jika ia lelah dan baru pulang kerja, belum makan. Alena menyalahkan dirinya karena ia menjadi istri yang tidak pengertian, justru bersikap kekanak-kanakan.


Bi Jum datang dengan membawa rujak bebek yang sempat Alena inginkan. Tadinya ia ingin Ryan yang membuatkannya, karena Ryan jatuh akhirnya Bi Jum yang mengambil alih tugasnya, semua atas perintah Alena tentunya.


“Ini rujak buahnya, Nyonya."


Elena menerima piring yang berisi rujak itu. Kemudian mengulurkan pada menantunya. “Ini sayang. Tadi katanya mau rujak buah. Meskipun bukan Ryan yang buat, tapi ini tidak kalah enak kok buatan Bi Jum.”


Alena menggeleng, mendorong piring itu. “Aku gak mau ma. Karena rujak itu suamiku jadi jatuh,” isak Alena. Menjatuhkan kepalanya di sisi suaminya dalam keadaan menangis.


“Pokoknya sekarang aku membenci pohon jambu itu. Karena dia Masry jatuh,” sambung Alena.


Elena terperangah, Ryan jatuh pasti karena kena ulat. Perempuan itu ingat, putranya itu paling geli sama ulat, kenapa jadi menyalahkan pohon jambu.


“Mama aku mau pohon jambu itu ditebang,” pintanya lagi. Elena semakin tidak mengerti, ia meletakkan piring buah itu di atas nakas.


“Iya sayang. Nanti Mama suruh Pak Tarno tebang aja ya,” sahut Elena pasrah.


Alena mengangguk, kembali mengangkat wajahnya menatap suaminya. “Ma, kok Masry gak bangun-bangun sih.”


“Nanti juga bangun sayang.”


Alena kembali sedih. Elena berpamitan untuk keluar.


Sepeninggal ibu mertuanya, Alena kembali menangis. Ia sedih hingga merasakan matanya terasa berat karena lelah. Perempuan itu memilih beranjak naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya di sisi suamimya.


Ia memeluk Ryan dengan erat. “Masry bangun ya. Janji deh gak akan minta aneh-aneh lagi. Asal Masry bangun, kalau gak bangun-bangun gimana? Masa Masry tega buat aku jadi janda!” ucap Alena asal.


Ryan yang saat itu memang sudah sadar sejak tadi, langsung melototkan kedua matanya. “Bilang apa tadi?”


Alena terkejut, rasa kantuk yang tadi sudah datang menyergap langsung lenyap. “Lho Masry udah bangun?”


Ryan gelagapan karena sudah terlanjur membuka kedua matanya. “Mas baru sadar kok sayang. Aduh punggungku sakit,” serunya meringis. Ia sengaja berkata demikian agar pembicaraan tadi teralihkan.


Mendengarnya, Alena langsung panik. “Masry maaf ya. Gara-gara aku jadi begini. Janji deh gak akan begitu lagi. Aku gak mau Masry sakit,” ujar Alena.


“Sayang, mas gak apa-apa tadi itu ada ulat makanya mas bisa jatuh,” jelas Ryan. Tadinya ia ingin berbohong menikmati kepedulian istrinya, tapi melihat Alena hampir menangis ia menjadi tidak tega.