Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kau Itu Ibu Yang Buruk



Misel yang saat itu tengah menunggu jemputan Rena tiba-tiba merasa gelisah.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Sonya, selaku guru Misel, perempuan yang kerap sekali membantu Misel menunggu jemputan.


Misel menggeleng. "Kenapa Bunda lama ya Miss?"


Sonya tersenyum seakan tengah memikirkan jawaban untuknya. "Mungkin masih di jalan nak. Tenanglah, Miss akan menemanimu!" jawabnya menenangkan.


Tiba-tiba sebuah mobil BMW masuk ke dalam pelataran sekolah Misel. Seorang perempuan berambut pirang turun dari mobil, menghampiri keduanya.


"Hallo, Misel?" sapanya membuat gadis kecil itu terkejut, pasalnya perempuan itu adalah orang yang sama, yang tempo hari membuatnya ketakutan.


Misel langsung memeluk Miss Sonya serta meremas tangannya, membuat Miss Sonya paham jika anak didiknya itu merasa takut akan kehadiran perempuan asing di depannya kini.


"Maaf anda siapa ya? Jika tidak ada kepentingan mohon untuk segera pergi, karena anak didik saya merasa ketakutan," ujar Miss Sonya, membuat perempuan di depannya merasa geram.


"Namaku Miranda Lavanya, seorang model papan atas, sekaligus ibu kandung dari anak yang saat ini ada dalam dekapan anda Miss," sahut Miranda dengan senyum sinisnya. Mendengar nama perempuan itu disebut, tentu saja Miss Sonya pun sedikit terkejut, ia memang tahu tentang biodata nama model terkenal itu, hanya saja ia tidak tau jika perempuan itu adalah ibunya Misel.


"Jadi, berikan anak itu padaku. Karena aku ibunya, dan aku sudah menjemputnya." Miranda kembali bersuara dan hendak menarik Misel.


"Tidak! Ibuku hanya Bunda Rena. Aku tidak memiliki ibu yang lain, dan aku tidak mau ikut bersama anda," teriak Misel wajahnya nampak takut. Wajahnya semakin ia sembunyikan dalam-dalam pada tubuh Miss Sonya.


"Anda mendengar sendiri kan?" ujar Miss Sonya. "Jadi, saya minta lebih baik anda pergi," usirnya kemudian.


Miranda menggeram kesal, rasa marah kini memuncak, niatnya baik-baik kini justru terbersit menjadi ide yang buruk. Dengan kedua tangan yang terkepal erat, perempuan itu melangkah semakin mendekat, dan hendak menarik Misel secara paksa.


Srettt!!! Brugh!!


"Jangan coba-coba mendekati putriku!!"


Suara Rena tiba-tiba menggema, ketika ia telah berhasil menarik tangan Miranda, kemudian mendorong tubuhnya hingga membuat pantatnya berhasil mencium jalanan.


Miranda meringis ketika merasakan hantaman yang cukup keras, ketika Rena mendorongnya tadi. "Sial! Sakit sekali, apa Alby menikahi mantan preman," decaknya.


Setelah dengan susah payah mencoba bangun, akhirnya Miranda berhasil berdiri, menatap ke arah Rena. Perempuan itu sedikit terkejut, karena merasa familiar dengan wajah Rena. "Kamu kan-"


Rena menyeringai. "Kenapa? Kau mengenalku?" tanyanya seraya melipatkan kedua tangannya di dada. "Oh ya, perlu aku ingatkan. Kita pernah bertemu di toilet restoran," imbuhnya kemudian.


"Aku Rena Nugraha, istri dari Alby Dharmawan dan juga ibu dari Misel," terang Rena.


Miranda mengepalkan kedua tangannya. "Dia putriku bukan putrimu. Jadi, jangan mengaku-ngaku. Aku ibunya, aku yang mengandung dan melahirkannya," teriaknya tak terima.


"Omong kosong, aku kembali tentu saja untuk putriku. Aku berniat untuk menebus kembali kesalahanku!" dustanya.


Rena tertawa kecil, ia bukan perempuan yang mudah dibohongi. "Sandiwara mu kurang bagus Nona. Sayang sekali aku bukan perempuan yang mudah terperdaya. Pergilah sebelum aku meminta pengawal putriku untuk menyeretmu, dengan cara yang tidak terhormat. Lalu, aku bisa membuat sebuah video, hingga beritamu akan tersebar di mana-mana!" Ujar Rena seraya mengibaskan kedua matanya mengusir perempuan itu, Rena berbalik ke arah Misel yang tengah ketakutan.


Sayangnya Miranda tidak mendengarkan perintah Rena, ia justru merasa geram, merasa jika Rena telah merendahkan nya. Dengan tangan yang mengepal erat, Miranda melangkahkan kakinya mendekati Rena, perempuan itu berniat untuk menarik rambut Rena.


"Jangan berani menyentuh majikan kami, Nona!" seorang lelaki bertubuh tinggi, tegap mencegah aksi Miranda dengan cara menepis tangan perempuan itu. Membuat Rena kembali menoleh.


Miranda menggeram. "Majikanku telah menegur anda dengan baik-baik. Jika bukan permintaannya, sudah sejak tadi anda saya seret," ujar Teguh kembali, badannya yang gelap, serta banyak tato di tubuhnya seketika membuat Miranda bergidik ngeri. Pengawal yang memang telah disediakan oleh Alby itu memang sejak tadi berdiri tak jauh dari Misel, saat melihat kedatangan Miranda ia berniat untuk segera memberi pelajaran, sayangnya sebelum ia melakukan hal itu, Rena lebih dulu mencegahnya, dengan mengatakan dia sendiri yang akan memberi pelajaran.


Miranda kembali menatap ke arah Rena dengan tajam, lalu beralih ke arah Misel dengan wajah melas. Sungguh perempuan yang pandai berakting. "Ayo sayang ikut Mama yuk. Ini mama nak, ibu yang telah melahirkanmu."


Misel menggeleng, meringsek memeluk Rena. "Bukan! Aku tidak mau ikut denganmu. Kau itu orang jahat!" teriaknya.


"Inikah didikan mu Nona Rena. Kau mencuci otak putriku dengan buruk, hingga ia tidak bisa menerima kehadiran ibu kandungnya. Kau menguasai dirinya, padahal aku jauh lebih berhak tentang dirinya dibandingkan denganmu!" sergah Miranda.


Rena menatap ke arah Miranda dengan tatapan yang tak kalah tajamnya. "Ternyata benar kata suamiku. Kau memang ibu yang buruk. Harusnya sebelum berkata seperti itu padaku, kau berkaca pada dirimu sendiri? Apa kesalahanmu sehingga putrimu sendiri tidak mau mengakui dirimu. Bukankah seharusnya kau sadar Nona, ini adalah buah karma yang tengah kau petik lima tahun yang lalu, kau juga tidak menginginkan kehadiran Misel kan. Jadi, apa yang Misel lakukan juga sama seperti dirimu saat itu."


"Kau-"


"Cukup, pergilah Nona. Sebelum saya melakukan tindakan kekerasan!" ancam Teguh seraya menyeret Miranda dengan paksa, lalu membuka pintu mobil perempuan itu dan memasukan.


"Lihat saja Rena. Ini bukan akhir dari segalanya, aku pasti akan kembali membawa Misel!" ancam Miranda sebelum melajukan mobilnya.


"Bunda, Misel takut. Misel tidak mau bertemu dengan perempuan itu lagi!" Gadis kecil itu terisak di dalam dekapan Rena.


Rena mengusap punggung Misel dengan lembut. Miss Sonya masih terdiam seakan syok dengan kejadian barusan.


"Dia bohong kan Bunda. Dia bukan ibuku, aku tadi mau mempunyai ibu seperti dirinya. Dia jahat, ibuku hanya Bunda. Aku tidak yang lain," kekeh Misel.


Rena mengangguk, mengurai dekapannya, lalu membingkai wajah Misel. "Iya sayang. Misel itu anak Bunda sama Ayah. Tenanglah semua akan baik-baik saja. Sekarang ayo kita pulang."


Rena menggendong Misel, setelah sebelumnya berpamitan pada Miss Sonya sekaligus mengucapkan terimakasih.


Melihat Rena yang kesusahan membuka mobilnya, Teguh dengan sikap membantunya. "Terimakasih Teguh. Kau tau sekali aku butuh bantuan," ucap Rena.


"Sama-sama Nyonya. Itu sudah tugas saya."


Rena tersenyum mengangguk dan berlalu. Ia membawa Misel pulang, karena setelah ini ia harus segera kembali ke rumah sakit. Masih ada satu jadwal untuk menemani dokter Ryan operasi, setelah itu baru ia bisa pulang. Rena pikir Misel akan aman di rumah, karena di rumah banyak orang. Dan semoga Miranda tidak mengetahui letak rumah Alby. Bukankah Alby mengatakan rumah itu dibeli murni setelah ia bisa mendirikan perusahaan, artinya rumah itu bukan rumahnya saat bersama Miranda.