Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Seperti Pencuri



Melihat posisi tidur istrinya, Alby merasa kasihan lantaran ia meyakini posisi itu sangat tak nyaman, jika dibiarkan akan membuat leher Rena pegal pada esok hari. Ia memilih menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu beranjak memindahkan tubuh istrinya ke ranjang. Lelaki itu membaringkan tubuh Rena dengan sangat pelan, ia tak ingin kejadian yang sama terulang lagi seperti saat di rumah sakit. Setelahnya, Alby tak lupa menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.


Sejenak, Alby menghentikan gerakannya lalu menatap dalam wajah istrinya yang terlihat begitu damai saat tertidur. Alby menggerakkan tangannya mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"Eugh!" leguh Rena seraya menarik tangannya, mengeluarkannya dari dalam selimut. Alby seketika terlonjak lalu berniat menarik tangannya, tetapi gerakannya terlambat saat kini tangannya justru digenggam oleh istrinya.


"Menyebalkan!" gumam Rena dalam tidurnya. Alby terdiam menikmati kehangatan tangannya yang berada dalam genggaman istrinya.


"Kamu benar-benar lelaki yang sangat menyebalkan!" gumam Rena lagi. Kalimat terakhir ia ucapkan dengan sangat lirih.


"Kok aku jadi merasa tersinggung ya? Sebenarnya, dia itu sedang memimpikan siapa?" tanya Alby. Meski ia tau Rena tak akan menjawab, tetapi rasa penasarannya mendorongnya untuk menanyakan hal itu. Sejenak Alby merasa konyol dengan dirinya.


"Dasar dosen killer menyebalkan, seenaknya jidatnya aja mencium bibirku!" Rena kembali berucap dengan lirih, membuat Alby terkejut, menyadari bahwa dirinya yang di maksud. Alby bahkan sampai melupakan pekerjaannya yang masih belum terselesaikan.


Alby masih terdiam di sisi istrinya, mengamati wajah cantik Rena. Sepenuhnya sadar, bahwa ia telah mulai bisa menerima Rena dalam hidupnya. Pandangan Alby turun pada jari-jemari Rena yang terlihat putih dan polos. Seketika, Alby baru menyadari tidak ada cincin pernikahan yang tersemat di sana. Kenapa ia baru sadar, jika menikahi perempuan itu tanpa memberikan barang apa-apa. Mungkin setelah ini, Alby harus membelikan Rena perhiasan, minimal sebuah cincin harus tersemat di sana.


Senyum tipis tampak menghiasi wajah Alby, saat membayangkan hal itu. Lalu, Alby menggerakkan salah satu tangannya yang tengah di genggam Rena, perlahan ia melepaskan genggaman tangannya. Kemudian, ia menggunakan salah satu tangannya untuk kembali mengusap kening istrinya.


Alby mencondongkan wajahnya, dan perlahan mendarat kecupan singkat di sana dengan lembut. Usai itu, lelaki itu masih mempertahankan posisinya, di mana wajah keduanya saling berdekatan, hingga Alby dapat mencium aroma nafas hangat Rena dalam tidurnya. Matanya tak lepas memandang wajah cantik istrinya.


Glek!


Pandangan Alby menurun dan berhenti tepat di bibir ranum istrinya. Lelaki itu terdiam sejenak, sebelum kemudian ia kembali menggerakkan kepalanya, berniat untuk mencium istrinya. Ia pikir tidak ada salahnya mencium istrinya tanpa sepengetahuannya. Hitung-hitung mencicipi sedikit.


Cup!


Alby berhasil mendaratkan kecupan singkat di sana. Hanya kecupan itu tak lantas membuat dirinya puas, Alby merasakan tubuhnya merespon dengan cepat. Ia menginginkan sesuatu yang lebih, setidaknya sebuah ciuman yang disertai sebuah lu ma tan. Alby pikir tidak ada salahnya ia melakukan hal itu.


Di saat itu, Alby berniat melakukan rencananya, lelaki itu kembali mencondongkan tubuhnya. Akan tetapi, tiba-tiba Rena membuka kedua matanya, membuat Alby terpaku. Tapi, hanya sesaat setelahnya Rena kembali menutup kedua matanya, seraya mengubah posisinya tidurnya menjadi miring.


Padahal jarak keduanya begitu sangat dekat, hampir tak ada penghalang. Bibir mereka pun nyaris kembali bersentuhan, Alby hampir kembali berhasil menikmati bibir ranum istrinya. Tapi, sialnya ia kembali gagal. Kini Alby mendesah kecewa, ketika nalurinya tak juga dapat tersalurkan. Ia kembali merasakan penasaran. Rasa penasaran yang tak terbalaskan, dalam hati ia berucap suatu saat ia akan menikmati lebih dari yang ini. Saat ini ia hanya ingin membuat Rena merasa nyaman lebih dulu ketika bersamanya, mengingat alasan pernikahan itu sebelumnya terjadi.


Alby segera kembali menenggakkan tubuhnya. Nafasnya masih memburu, sejenak ia merasakan seperti seorang pencuri.


"Ehem..!!" Alby berdehem seorang diri demi menetralkan perasaan canggung yang ia rasa.


Perlahan Alby kembali menoleh kepalanya ke arah istrinya, memastikan bahwa perempuan itu sudah benar-benar terlelap.


"Jangan sampai kamu mengetahui perbuatanku ini. Bisa ngomel panjang kali lebar anak ini," ucap Alby sambil terkikik geli, kala kembali membayangkan bibir istrinya yang terus mengoceh tanpa henti.


Alby melirik jam di atas nakas, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ia merasa lelah, sudah waktunya untuk istirahat. Ia membereskan pekerjaannya, tak lupa mematikan dan menutup laptopnya.


Alby berjalan ke arah sisi ranjang, lalu merangkak naik ke atas. Membaringkan tubuhnya di sana, tak lupa menarik sebagian selimut yang setengahnya untuk menutupi tubuh Rena. Alby memiringkan tubuhnya, menatap wajah istrinya yang terlihat damai. Ia tersenyum entah apa yang ia rasa, yang jelas Alby merasa bahagia. Sudut hatinya terasa menghangat.


"Kayaknya mulai malam ini, kamu harus tidur di sisiku terus deh."


Alby menguap, rasa kantuk kian hinggap. Rasanya sudah lama ia tidak merasakan ngantuk secepat ini. Sebelumnya, Alby kerap mengalahkan insomnia berlebihan, bahkan tak jarang ia hany tidur beberapa jam. Kini matanya terasa berat, tak lama ia merasakan pandangannya memudar, seiring dengan kedua matanya yang terpejam, menyusul istrinya ke alam mimpi.


****


Mentari sudah menampakkan sinarnya, cahayanya perlahan masuk melalu celah jendela kaca yang sebagian tak tertutup gorden. Cahaya berhasil mengusik Alby. Lelaki itu perlahan membuka kedua matanya.


Ia meringis kala merasakan sebelah tangannya terasa kram. Beberapa saat ia merasa sedikit terkejut, mendapati Rena kini berada dalam dekapannya, sebelum ia menyadari bahwa semalam dirinyalah yang membawa Rena tidur di sana. Bahkan perempuan itu memeluk dirinya dengan erat, salah satu tangannya berada tepat di dadanya. Hal itu membuat aliran darah Alby berdesir.


Glek!


Alby menelan ludahnya secara kasar, mengamati tiap inci wajah istrinya. Ia mengangkat sebelah tangannya, untuk menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya. Alby tersenyum tipis, ia mulai mencondongkan wajahnya, berniat mengulang kembali adegan semalam.


Tapi, tiba-tiba ia merasakan tubuh Rena bergerak. Hal itu membuat Alby mengurungkan niatnya, dan kembali berpura-pura untuk terpejam.


"Eugh!" Rena meleguh seiring dengan dekapannya yang memudar, dan membuka kedua matanya. Perempuan itu langsung membeliakkan kedua matanya, terkejut mendapati wajah suaminya kini tepat berada di depannya.


"Ya ampun, aku tidur di mana!" pekiknya secara spontan.


Ia meringis kala menyadari dirinya dengan lancang telah memeluk suaminya. Lalu, Rena menatap wajah suaminya, perlahan mengangkat tangannya untuk mengusap wajah suaminya. Di mulai dari hidung turun ke bibir, lalu beralih ke pipi.


'Tampan,' gumam Rena. Sesaat Rena merasa kagum terhadap ketampanan suaminya. Tapi, detik berikutnya Rena segera menyadarkan diri, jika ia harus segera kembali sebelum lelaki itu membuka matanya.


Rena mengubah posisinya menjadi duduk dengan pelan, ia juga menyingkap selimutnya. Di saat ia hendak menjuntaikan kakinya ke lantai.


Srett!


Rena membeliakkan kedua matanya, saat merasakan lengannya di tarik dengan kuat.


"Abang!!!!"