
Perdebatan terus terjadi, hingga membuat Alena kalap dan lupa jika dirinya saat itu tengah mengandung.
“Sudahlah, Erni. Kenapa kau lagi-lagi mencari masalah.” Seorang perempuan seusianya datang menghampirinya, mungkin itu adalah sahabatnya.
“Lepas!” Erni menepis tangan sahabatnya itu. “Biarkan aku memberi pelajaran pada perempuan sombong ini. Saat ini di sini dia tidak punya kuasa, tidak akan bisa ia mengusirku dari sini,” sambungnya. Alena paham maksud perempuan itu karena saat ini memang Alena memang tengah berada di mall lain.
Rena dan Miranda yang mendengar perdebatan pun segera menoleh, matanya terbelalak melihat sahabatnya tengah ribut dengan salah satu pengunjung. Bahkan pengunjung yang lain pun jadi ikut memperhatikan. Dan anehnya di antara mereka dan pemilik toko tidak ada yang berani memisahkan mereka.
Melihat perempuan itu hendak mendorong tubuh Alena. Rena dengan cepat berlari menghalangi, dan tiba-tiba...
Brugh!
“Aww....” Rena meringis jatuh ketika di dorong oleh Erni. Hingga tubuhnya membentur rak tas.
“Ren?!” pekik Alena terkejut mendapati sahabatnya terjatuh demi melindungi dirinya. Begitupun dengan perempuan itu yang tampak kaget, aksinya justru mencelakai orang lain.
Miranda langsung berlari menghampiri Rena, yang meringis kesakitan. Alena di sisa kepanikannya mendekat ke arah Erni.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi perempuan itu. “Jika sesuatu terjadi pada sahabatku, atau anaknya dalam kandungan. Tidak akan ku ampuni dirimu. Akan ku pastikan kau mendekam di penjara,” ancam Alena membuat wajah Erni memucat. Perempuan itu langsung berlari keluar terbirit-birit.
“Abang... Sakit...!!!” teriak Rena meringis seiring dengan lelehan hangat dari pusat intinya mengalir ke pangkal pahanya.
“Darah!” pekik Miranda.
Sama halnya dengan Miranda. Alena pun langsung panik berteriak untuk meminta seseorang memanggilkan ambulance. Wajah Rena tampak sudah memucat sering dengan remasan kuat yang ia lakukan di perutnya. “Abang?” panggilnya lirih setelah kemudian ia tak sadarkan diri.
🦋
Sejak memimpin rapat pagi itu. Alby merasa begitu gelisah tak dapat berkonsentrasi, pikirannya terus tertuju pada istrinya. Entah kenapa ada rasa khawatir dan segera ingin bertemu. Alby berpikir setelah rapat itu selesai ia akan segera menemui Rena. Mungkin saja anaknya juga merindukan dirinya.
Rasa gelisah semakin meningkat, keringat dingin tampak mengalir di keningnya. Entah Kenapa ia berkeringat padahal ruangan itu ber-AC. Alby berkali-kali mengusapnya, ia menghentikan jalan rapatnya sesaat.
Ponsel miliknya yang berada di atas meja berdering. Nama Miranda terpampang di layar sebagai penelpon. Menghentikan rapatnya sesaat, Alby mengambil ponsel dan mengangkatnya. Jantungnya berdegup kencang, entah kenapa ada sebuah firasat buruk, rasa takut itu hinggap.
“Hallo?”
“Al, ke rumah sakit. Rena pingsan dan pendarahan.”
“Apa?!!” pekik Alby. Tanpa di sangka ia langsung menjatuhkan ponselnya, dan berlari keluar. Hal itu membuat para karyawan bingung, Milea segera mengambil alih, dan membubarkan rapat itu.
Alby mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak perduli apa yang akan terjadi. Saat ini yang ia rasakan adalah rasa takut kehilangan. Sungguh ia tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada istrinya. Pagi tadi Rena hanya meminta ijin padanya, untuk melakukan me time bersama Miranda dan Alena. Alby sempat tidak mengijinkannya, ia hanya khawatir karena kondisi kandungan Rena yang semakin besar. Namun, Rena terus membujuk membuat Alby tak berdaya selain memberi ijin. Ia juga berpikir mungkin Rena butuh hiburan, mengingat akhir-akhir ini jadwal kerja Alby yang sangat padat.
Bagaimana bisa istrinya pendarahan. Dokter mengatakan hari perkiraan lahiran istrinya masih dua Mingguan lagi. Apa yang terjadi? Istrinya terjatuh kah? Tidak! Alby tahu Rena tipe perempuan yang hati-hati. Tidak mungkin ia sampai ceroboh membahayakan diri dan anaknya.
Alby berkali-kali menekan klakson mobilnya ketika melihat jalanan sedikit macet. Tak peduli ketika banyaknya orang yang mengumpat dirinya karena berkendara begitu kencang.
Tiba di rumah sakit, Alby langsung berlari ke ruang UGD, badannya terlihat gemetar namun ia harus kuat demi istrinya.
“Alby?” seru Miranda begitu melihat mantan suaminya itu datang dengan keadaan kacau. Alena yang duduk di kursi dalam keadaan mata yang sembab pun menoleh.
Lidah Alby rasanya tercekat sekedar untuk bertanya apa yang terjadi pun rasanya ia sudah tidak mampu.
“Al... Rena...”
Pintu ruang UGD terbuka, seorang dokter keluar dari sana.
“Keluarga Dokter Rena?” panggilnya.
“Sa–saya suaminya.”
Dokter menghela nafasnya sebelum menjelaskan. “Istri anda mengalami pendarahan yang cukup hebat. Mengingat kondisinya yang cukup lemah, hingga tak sadarkan diri. Kami harus melakukan tindakan operasi Caesar untuk mengeluarkan bayinya.”
🦋
Alby berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Terlihat lampu ruang operasi masih menyala, selama itu pula operasinya masih berlangsung. Sesekali lelaki itu akan mengusap sudut matanya, saat air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa separuh jiwanya pun ikut pergi.
“Ini semua karena aku. Seandainya tadi aku tidak meladeni perempuan itu, Rena pasti tidak akan celaka,” isak Alena. Miranda menepuk pundak perempuan itu, ia tahu Alena merasa sangat bersalah atas keadaan Rena saat ini.
“Perempuan siapa yang kamu maksud?” sergah Alby tatapan matanya terlihat tajam. Namun, menyiratkan sebuah luka dan kesedihan secara bersamaan.
“Tadi itu aku ribut sama perempuan pas di toko tas. Dia berkali-kali mau mendorong tubuhku. Tapi, entah bagaimana tiba-tiba Rena menghalanginya hingga membuat... Rena...”
“Jadi, kamu yang menyebabkan istriku celaka?!” teriak Alby menggelegar. Soraya mengusap pundak putranya meminta untuk tenang.
“Sabar nak. Sabar... Semua bisa dibicarakan baik-baik.”
Alby melepaskan tangan ibunya. “Bukan saatnya bicara baik-baik, Bu. Tidak ada alasan aku untuk bicara baik-baik. Sementara keadaan istriku di dalam bahkan aku tidak tahu keadaannya,” ucapnya lirih. Bayangan menemani sang istri melahirkan kini kandas, karena dokter sama sekali tak mengijinkan Alby ikut masuk.
“Jika sesuatu terjadi pada istri dan anakku. Tidak akan ku maafkan dirinya seumur hidupku, Bu.”
“By....” Soraya menggeleng lemah. Menepuk-nepuk putranya yang terlihat begitu lemah, matanya terus menatap ke arah ruang operasi berharap akan segera mendapatkan kabar baik. Sungguh, ia tahu Alby tipikal lelaki yang keras. Hanya saja berkat Rena perlahan sifatnya pun melunak. Dan ia tidak ingin putranya membenci sahabat istrinya itu.
“Tenanglah sayang. Rena dan anakmu pasti baik-baik saja.” Soraya terus menenangkan. “Ibu akan telpon Daddy dan Mommynya Rena,” ucapnya seraya mengambil ponselnya.
“Kamu kuat sayang.... Abang mohon.”
“Sayang?"
Miko dan Ryan sedikit berlari menghampiri istrinya. Alena segera menghambur memeluk suaminya. “Aku jahat Masry... Aku udah buat Rena celaka.”
Miko mendekati istrinya, tampak Miranda berkali-kali mengusap air matanya.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Aku... Aku...” Miranda memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Ia sendiri masih merasa syok.