Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Cemburu



Waktu terus berputar semakin cepat. Enam bulan sudah Rena dan Alby menjalani biduk rumah tangga dengan jalan damai dan tenang. Hubungan keduanya semakin harmonis.


Satu bulan ini Rena mulai menjalani masa koasnya di rumah sakit tempat semula ia bekerja. Hal ini membuat Rena harus terus berdekatan dengan Dokter Ryan. Kadang disela-sela waktunya Alby pun menyempatkan untuk mengajak istrinya makan siang bersama. Lelaki itu kerap merasa cemburu saat mendapati Rena bersama dengan lelaki lain --- Dokter Ryan. Rasanya mulutnya ingin terbuka lalu memberi peringatan untuk tak terlalu dekat dengan Rena. Tapi, sisi lain Alby masih mencoba menahannya, ia khawatir Rena akan marah jika tiba-tiba membuka rahasia pernikahannya secara blak-blakan.


Huek! Huek!!


Rena memuntahkan cairan yang berada dalam perutnya, saat ini ia tengah berada di dalam toilet. Perempuan itu merasa perutnya seperti di aduk-aduk. Hari ini ia mengikuti kegiatan Dokter Ryan masuk ke dalam ruang operasi, melihat salah satu pasien di operasi melakukan transplantasi ginjal, hingga membuatnya melihat darah mengucur begitu deras, membuat Rena terasa begitu mual. Mungkin sebelumnya ia pun kerap menangani pasien yang berdarah, tapi hanya hal yang ringan-ringan saja.


Rena mengambil tisu lalu membersihkan bibirnya. "Jika setiap hari aku harus seperti ini. Sepertinya akan lebih baik aku tetap menjadi dokter umum. Hah, rasanya ingin menyerah!" keluhnya.


Setelah selesai Rena keluar dari toilet, berjalan melalui lorong rumah sakit. Hari kian merangkak menjelang waktu makan siang, Rena pikir ia butuh minuman yang hangat demi meredakan rasa mualnya. Ini bukan hanya perkara di rumah sakit, tapi kemungkinan ia juga masuk angin. Gimana tidak masuk angin. Pasalnya tiap malam ia kerap dibuat bergadang oleh sang suami.


"Rena?"


Langkah Rena terhenti ketika mendengar namanya di panggil. Perempuan itu berbalik dan mendapati Dokter Ryan tengah berjalan menuju ke arahnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Dokter Ryan ketika telah berada di sisi Rena, pasalnya ia tau setelah selesai operasi tadi Rena buru-buru ijin ke kamar mandi seraya menutup mulutnya.


"Iya Dokter!"


"Ayo!" Tanpa segan lelaki itu menarik tangan Rena.


"Dokter ini tangan ku," ujar Rena yang tampak risih berusaha melepaskan tautan tangannya.


"Sebentar saja. Aku hanya ingin menggandeng tanganmu sampai ke cafe depan. Aku khawatir kamu terjatuh wajahmu terlihat pucat Rena." Dokter Ryan pun menjelaskan maksudnya.


"Untuk apa ke cafe depan. Aku harus kembali ke ruangan." Rena menolak dengan halus.


Dokter Ryan menggeleng tak mengindahkan ucapan Rena. "Tidak. Kau harus ikut aku makan. Pasien memang penting Re, tapi kesehatan kamu juga lebih penting. Kalau kamunya sakit bagaimana bisa konsentrasi meriksa pasien. Ini kamu mual karena operasi tadi kan, jadi karena itu aku harus bertanggung jawab. Makanya aku mau traktir kamu makan."


Lelaki itu terus menyeret Rena masuk ke dalam cafe. "Ku dengar di sini ada menu baru, kita cobain ya," imbuhnya kemudian seraya menarik kursi lalu meminta Rena untuk duduk di sana.


Rena menghela nafas pelan, ingin menolak tapi ia sendiri memang merasa lapar. Sebenarnya siang ini ia ingin menyempatkan makan siang dengan sang suami. Tapi, ponselnya tertinggal di ruangannya, membuat ia tak bisa menghubungi Alby.


Dokter Ryan memanggil seorang pelayan lalu memesan makanan. Seraya menunggu lelaki itu terus mengajak Rena mengobrol ringan. Dan tak segan lelaki itu mencuri-curi pandang ke arah Rena. Tak di pungkiri Rena memang cantik, maka tak salah jika ia memang menyukainya. Sudah lama ia memendam perasaan ini, kira-kira jika ia mengungkapkannya apakah ia akan di terima.


"Re?"


"Hemm, ya Dok?" sahut Rena balik.


Di saat ia hendak membuka mulutnya, pelayan yang membawa makanannya tiba, membuat ia kembali mengurungkan niatnya. Memilih menikmati makanannya itu.


Sementara itu, Alby yang baru selesai meeting dengan salah satu rekan bisnisnya di sebuah restoran hotel, memilih untuk tidak makan dan langsung berlalu. Siang ini niatnya ia ingin mengajak istrinya makan siang, Alby mencoba menghubungi ponsel Rena. Meski terhubung tapi tak kunjung di jawab. Alby pikir mungkin Rena akan masih sibuk, jadi ia berinisiatif untuk menghampirinya di rumah sakit. Tidak masalah meski nanti harus menunggu, yang jelas ia hanya tidak ingin sampai istrinya itu tidak makan, mengingat beberapa jadwalnya yang begitu padat.


Alby membelokkan mobilnya masuk ke dalam rumah sakit, begitu tiba di sana ia langsung memarkirkan mobilnya. Lalu turun masuk ke dalam loby. Ia menyusuri koridor rumah sakit, berniat untuk mendatangi ruangan istrinya. Tapi, sampai di sana terlihat sepi. Lalu Alby bertanya pada salah satu suster yang lewat.


"Suster?"


"Ya Pak?"


"Saya ingin bertanya, di mana Dokter Rena ya?" tanya Alby.


Kening suster itu mengernyit, pasalnya lelaki itu terlihat sehat, masa ia hendak memeriksakan diri. Atau lelaki ini merupakan salah satu fans Dokter Rena. Mengingat memang hal itu kerap sekali terjadi. Banyak lelaki yang berpura-pura sakit hanya demi menarik perhatian Rena.


"Suster?"


Panggilan Alby membuat lamunan Suster Santi buyar.


"Oh iya! Memangnya Bapak ada keperluan apa ya dengan Dokter Rena? Apakah Bapak mau berobat?" tanyanya balik.


Alby mendengus jengkel rasanya, padahal hanya ingin tau tentang tentang istrinya.


"Ini kan waktu jam istirahat, jadi saya tidak harus ada perlu kan untuk menemui istri saya," pungkas Alby yang pada akhirnya mengatakan status dirinya bagi Rena. Tapi bukannya percaya suster Santi itu malah terkekeh.


"Bapak ini ngada-ngada. Orang Dokter Rena itu jomblo, kalaupun nanti nikah ya gak mungkin sama bapak. Dokter Rena itu calonnya Dokter Ryan. Banyak kok orang yang seperti bapak, ngaku-ngaku suami atau pacarnya."


Alby menggeram mendengarnya. "Sudahlah saya mau lanjut kerja. Lagian sekarang Dokter Rena sedang makan siang dengan Dokter Ryan," tambahnya sebelum berlalu pergi.


Alby mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras mendengar ucapan Suster Santi. Seketika rasa cemburu pun melingkupi hatinya. Lelaki itu berniat untuk menyusul istrinya ke cafe. Tapi belum sempat ia beranjak ia melihat Rena yang tengah berjalan ke arahnya di sisi Dokter Ryan. Kemudian tak lama, Dokter Ryan pun berbelok ke arah lain, setelah sebelumnya mengusap kepala Rena spontan, yang tak dapat membuat Rena menghindar.


Rena terkejut mendapati sang suami telah berada di ruangannya, berdiri dengan melipat tangannya di dada, dengan pandangan tajam.


"Abang?" Rena tersenyum menyalami suaminya dengan lazim. Meski merasa kesal bercampur dongkol, Alby tetap mengulurkan tangannya.


"Abang udah dari tadi di sini? Aku habis makan siang bang."


Rena menelan ludahnya melihat tatapan Alby yang begitu tajam.