Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Menjenguk



Miranda sedari tadi sudah mendesak suaminya untuk segera membawanya pulang. Namun, Miko masih kekeh menunggu dokter tiba. Ia ingin sekali lagi memastikan keadaan istrinya.


“Ayo pulanglah sayang. Aku dah bosen di sini, gak boleh ngapa-ngapain suruh tiduran terus,” ujar Miranda mengeluh. Terbiasa melakukan aktivitas di butiknya membuat ia tak betah jika diminta tidur terus.


“Nanti tunggu dokter dulu.” Miko menoleh ke arah istrinya, wajahnya terlihat sedikit pucat. “Kalaupun di rumah juga kamu belom boleh beraktivitas macam-macam. Kamu harus bedrest. Mulai besok biar aku suruh asisten rumah tangga saja yang masak. Terus butikmu juga lebih baik menambah karyawan. Aku gak mau kamu kelelahan pokoknya,” sambung Miko.


“Ayolah sayang. Kalau semua dikerjakan karyawan aku suruh ngapain?" kata Miranda mencebik.


“Tiduran, layanin aku doang.”


Miranda melotot mendengarnya. “Hei kau tidak dengar perkataan dokter tadi. Trimester pertama kamu harus puasa,” pungkasnya.


Miko tersenyum masam, batinnya memberontak tak terima diminta puasa. Sedangkan si Joni mudah baperan, tapi demi istri dan anaknya ia harus bisa.


“Iya, aku hanya bercanda kok.”


“Ayolah kita pulang sayang. Aku sudah sehat, aku juga harus mengerjakan beberapa desain gaun pernikahan pelanggan,” desak Miranda.


“Sebentar lagi sayang. Jam delapan pasti dokternya tiba.” Miko mengecek arloji di tangannya di man waktu masih menunjukkan pukul 07.45 wib.


“Tapi sayang, aku tuh ingin segera mandi. Kamu kan tahu dari kemarin aku belum mandi. Lengket banget... Belum lagi kemarin kita habis....”


“Oh ya kita kemarin habis mantap-mantap ya. Kamu belum mandi, pantesan ada yang bau asem itu apa?” ejek Miko.


Miranda berdecak melemparkan bantal pada suaminya, membuat Miko terbahak. “Gak mandi juga tetap menggairahkan kok,” pujinya sambil meletakkan kembali bantal yang tadi Miranda lempar.


Miranda melengos, laki-laki lain biasanya muji tidak mandipun tetap terlihat cantik apa wangi, tapi suaminya justru memuji tetap menggairahkan, memang benar yang dipikirkan suaminya itu hanya bercinta.


Miranda ingin kembali berbaring. Namun, tiba-tiba pintu terbuka ia mengurungkan niatnya tatkala melihat teman-temannya datang.


“Mama?” seru Misel berlari ke arah Miranda.


“Hai sayang,” sahut Miranda seraya mengusap pelan rambut putrinya.


“Mama sakit?” tanyanya polos.


“Sedikit.”


“Ku dengar aku akan punya adik lagi. Apakah adik bayi nakal buat Mama sakit?” tanya Misel polos.


“Oh tidak sayang. Adik bayi itu anak yang pintar kaya Misel, mana mungkin nakal.”


Rena tersenyum menyaksikan interaksi keduanya.


“Nie aku bawain buah jambu. Orang kalau hamil kan bawaannya pengen yang segar-segar. Ini itu diambil dari pohonnya langsung.” Alena mengulurkan satu kresek buah jambu.


“Banyak amat, Le. Kamu habis panen?” tanya Miko heran. Alena mengangguk.


“Iya. Itu pohon jambu belakang rumah udah di tebang. Aku yang minta, soalnya dia udah buat suamiku jatuh dari pohon semalem,” jelas Alena membuat semua penghuni ruangan itu melongo. Hanya Ryan yang menghela nafasnya.


“Kok bisa jatuh?”


Ryan pun menceritakan kejadian sebenarnya.


“Nah makanya itu aku minta aja pohonnya di tebang. Karena kalau udah begitu kan bawa sial berarti,” cetus Alena merasa percaya diri. Perempuan itu melangkah mendekati Miranda.


“Selamat ya Mbak. Akhirnya kita bisa hamil barengan, nanti anak-anak kita seumuran ya,” kata Alena.


“Iya anak aku yang paling tua,” timpal Rena.


“Nanti kalau anak kita beda jenis kelamin, kita besanan ya Re,” seru Miko.


“Sama aku lah. Kamu kan udah punya ada Misel. Masih ada ikatan saudara. Jadi intinya bagi ke aku dulu lah,” kata Alena tak terima.


“Aku lah!”


“Aku Es Kiko!”


“Dasar Lele!”


“Re, mending kamu periksa aku dulu deh. Aku nunggu dokter gak datang-datang, udah bosan di rumah sakit ni.”


“Oh iya. Aku kan emang mau periksa kamu mbak.” Rena meminta Miranda berbaring mengecek kondisinya.


“Stop!" Teriak Alby yang sedari tadi hany diam. Namun pada akhirnya ia merasa pusing mendengarkan perdebatan kedua sahabat istrinya itu.


“Aku gak akan besanan sama siapapun di sini. Gak akan jodohin anakku. Paham, aku cuma ingin anakku lahir dengan selamat,” pungkas Alby selanjutnya.


Miko dan Alena saling menatap tajam. Gak tahu kenapa kalau sudah berhadapan dengan suaminya Rena itu keduanya langsung kicep.


“Abang ih, teriak-teriak ini rumah sakit tahu,” tegur Rena.


“Iya itu teman-temanmu. Kalau gak digituin debat mulu, pusing dengerinnya.”


Rena hanya terkikik geli. Ia sudah tidak kaget karena Alena dan Miko itu sudah seperti musuh. Namun, kalau salah satunya tidak kelihatan pasti akan akan saling mencari.


“Biarin aja yang penting mereka itu senang,” ujar Rena. Sifat Rena yang lemah lembut seperti itulah yang membuat Alby suka.


“Semua sudah membaik kok Mbak, sudah boleh pulang,” lanjut Rena pada Miranda.


“Tuhkan, ayo pulang sayang.” Miranda kembali mendesak suaminya.


“Iya sayang.”


“Ayah, Bunda aku boleh ikut Mama sama Papa kan?” tanya Misel.


“Boleh sayang. Tapi, janji jangan nakal dan buat Mama lelah ya. Ingat Mama masih sakit,” pesan Rena pada putrinya.


“Iya Bunda. Misel janji.”


“Jangan khawatir Re. Ada aku kok, aku belum masuk kerja, sampai kondisi istriku benar-benar sehat,” ujar Miko.


“Iya Mik. Aku hanya takut saja, Misel membuat ulah apa yang membuat mbak Miranda kelelahan,” ujar Rena cemas.


“Sayang, aku ke kantor dulu ya. Ada rapat hari ini.” Alby mendekati Rena, mengecup kening dan pipinya. Rena tersenyum melambaikan tangannya ketika sang suami hendak berlalu dari hadapannya.


“Mbak Miranda kan udah mau pulang. Kamu Mas anterin pulang dulu yuk,” ujar Ryan.


Alena menggeleng. “Aku tuh bosan di rumah Masry.”


“Terus mau gimana?”


“Nunggu Masry kerja aja gimana? Nanti jam makan siang baru Masry antar aku pulang,” tawar Alena.


“Terus kamu di sini mau ngapain?” tanya Ryan heran.


“Mau nongkrong doang di cafe depan,” sahut Alena meringis. Karena ia memang bosan di rumah tidak ngapa-ngapain. Elena melarang dirinya melakukan aktivitas apapun.


“Sama siapa sayang?”


“Sena. Dia udah nunggu di sana Masry."


“Ya udah ayo mas antar,” ujar Ryan sebelum kemudian mereka berpamitan untuk pergi dari sana.


Ryan mengantarkan istrinya ke cafe depan, di mana di sana ternyata Sena sudah menunggu.


“Titip kakakmu ya, Na? Awas jangan biarkan dia bergerak pecicilan, ingat ponakan kamu di dalamnya,” pesan Ryan.


“Iya kakak ipar. Tenang aja, kak Alena kalau sama aku mah kalem,” sahutnya.


Setelah itu Ryan langsung kembali ke rumah sakit, karena harus melakukan operasi.


.


.


Maaf baru update sinyal troble dari malam.