Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Finally



Meski semula Rena telah meyakinkan dirinya untuk bersikap agresif pada sang suami, menebalkan rasa malunya. Tetap saja berada di atas ranjang, dengan sprei berwarna putih, dalam keadaan polos, di bawah kungkungan sang suami membuat dirinya merasa tak karuan, mengingat ini adalah pengalaman pertama baginya.


Apalagi ketika dengan gerakan cepat Alby justru membuat dirinya sendiri dalam keadaan polos, tepat di hadapan Rena.


Rena merasa malu, tetapi ia pun tersenyum kala melihat Alby benar-benar terlihat gagah malam ini. Otot-otot yang sempurna dan juga bagian..... Ah sudahlah. Alby pasti tau betapa dirinya juga menginginkannya malam ini. Ketika tatapan berkabut gairah memancar dari indra penglihatannya.


"Masih mau nahan, bang?" goda Rena nakal. Hal itu membuat Alby menggeram kesal.


Tanpa menunggu lama, Alby menundukkan tubuh dan me lu mat bibir Rena dengan ciu man yang lebih dalam namun terkesan lembut, hingga tubuhnya kini melingkupi tubuh mungil Rena.


Rena terengah, nafasnya memburu, kepalanya bertolak kesamping manakala Alby kini justru men cum Bu dirinya dengan lidah dan bibirnya dimulai dari kuping, leher dan berlama-lama di atas da da nya. Meninggalkan jejak kemerahan di sana.


Rasa asing sempat di rasakan oleh Rena. Perasaan hangat ketika tubuh polos keduanya saling berdekatan. Membuat suara merdu tercipta memanas di ruangan itu. Ciu man Alby turun ke perut Rena, namun tetap saja kedua tangan Alby tetap aktif meremas kedua squisy milik istrinya, dan hal itu akan ia pastikan menjadi favorit baginya. Rena bergetar ketika Alby telah sampai di pusat tubuhnya. Sejenak ia merasa tak sanggup menjabarkan rasa ini.


Kakinya menekuk mencoba menahan rasa geli bercampur nikmat untuk pertama kalinya. Alby menggoda di bawah sana.


Ah, ia tak pernah menduga jika dosen galak bin menjengkelkan itu ternyata bisa senakal ini. Opss, Rena lupa jika sebelum menikah dengan dirinya Alby pernah menikahi perempuan lain, lelaki itu tentu mempunyai pengalaman yang lebih banyak darinya. Sial! Mengapa Rena merasa masuk dalam jeratannya sendiri.


"Bang... Minggir dulu.. aku mau.."


Rena merengek berusaha mendorong tubuh sang suami. Namun sang suami justru semakin gencar menyerangnya, dengan memegangi pa ha Rena. Hal itu membuat Rena tak tahan, kemudian ia merasa meledak dalam siksaan suaminya.


Nafas Rena memburu, dan Alby pun mengangkat wajahnya bangga. Rena merasa malu setengah mati, bolehkah ia berlari lalu bersembunyi sejenak. Alby justru mengusap bibirnya dengan gerakan sen su al.


Rena terperangah, kenapa ia baru menyadari suaminya bisa se hot ini? Eh.


Rena kira ia akan di beri waktu untuk istirahat sejenak, namun ternyata tidak. Ia terkesiap ketika sang suami kembali bermain-main dengan jarinya di bawah sana. Gerakan lembut namun membuat Rena terasa menyiksa.


"Sakitkah?" tanya Alby lembut.


Rena terdiam, tentu saja ia merasa sakit. Mengingat ini adalah pengalaman yang pertama baginya. Tapi ia sendiri merasa bingung harus menjawab apa, ia merasa pusing dan malas berfikir ketika di dalam otaknya justru hanya terbayang kenikmatan yang baru Alby ciptakan. Anehnya Rena justru menginginkan hal yang lebih.


Rena kembali terkejut ketika ia merasakan sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya ia rasakan telah merasuki dirinya di bawah sana.


"Sakitkah?" Alby kembali berbisik dengan parau ketika ia belum berhasil memiliki Rena dengan sepenuhnya. Namun melihat wajah Rena yang meringis membuat Alby tidak tega, ia pun menghentikan gerakannya.


Rena menggelengkan kepalanya, lalu memegang kedua lengan berotot Alby. Kedua mata itu saling bersitatap.


"Ambil milikmu bang," gumamnya pelan.


Kemudian Rena menjerit tertahan dan tak terasa air matanya mengalir mana kala Alby tanpa aba-aba mendorong miliknya hingga berhasil menebus sesuatu penghalang hanya dalam satu kali hentakan.


Alby mengatur nafasnya, membiarkan sang istri merasa nyaman lebih dulu. Ia tersenyum bangga, manakala ia yakin dan bahwa ia adalah yang pertama bagi Rena. Suatu kebanggaan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.


Alby mengangkat wajahnya hingga berhadapan dengan istrinya. Ia memberi kecupan di kelopak mata sang istri yang terpejam. Kemudian ia kembali memangut bibir istrinya dengan lembut, hal itu membuat hasrat Rena kembali naik.


Rena membuka kelopak matanya, ia melihat Alby sama berantakan seperti dirinya. Lelaki itu menatap dirinya penuh dengan damba, dengan nafas yang tak beraturan. Bagi Rena Alby tetap terlihat menggoda.


Rena kembali terksiap, saat Alby menarik miliknya untuk kemudian ia tekankan lagi. Perempuan itu berusaha menyingkir, karena rasa ini terlalu perih dari sebelumnya. Namun gerakannya terhenti, saat Alby berusaha membujuknya dengan lembut. Sambil mengusap wajahnya.


"It's ok, Babe. Trust me."


Meski ini bukanlah yang pertama bagi Alby. Layaknya lelaki pada umumnya, ia juga ingin melampiaskan hasratnya dengan caranya. Gerakan kasar namun penuh kepuasan, namun mampu memberi kenikmatan yang tak akan pernah membuat keduanya terlupakan. Di mana ia ingin menguasai Rena sepenuhnya, dengan permainan panasnya, hingga membuat Rena menyerah dan meminta ampun. Tapi Alby tetaplah lelaki normal, naluri liarnya harus tetap ia tahan, demi tidak menyakiti istrinya.


Ini pengalaman pertama bagi Rena, ia harus memberi kesan yang lembut dan indah. Tak bisa ia menyakitinya. Kini Alby bergerak secara lambat, dan menarik tubuhnya, menghentakkan kembali secara pelan. Namun meski begitu Rena tetap meringis sakit.


Alby memandu istrinya agar melingkarkan kakinya di pinggangnya. Rena hanya berpasrah menurut, karena posisi ini membuat dirinya jauh lebih rileks. Alby kembali bergerak kali ini lebih intens dan sering. Membuat Rena tak mampu berkata-kata, sesaat Alby terus memacu gerakannya, hingga tak sadar Rena berhasil menancapkan kuku-kuku panjangnya di punggung polos sang suami.


Alby merasakan punggungnya perih, tapi rasa nikmat telah mengalahkan segalanya, ia tak peduli. Saat ini yang ia cari adalah kepuasan, hingga akhirnya ia merasa dirinya meledak dalam diri Rena dan jatuh limbung di atas tubuh istrinya.


Begitu dahsyatnya pengalaman ini membuat Alby gak bisa berkata-kata. Kenikmatan yang luar biasa mampu membuat Alby sesak nafas. Seolah ia hanyut dalam gelombang gairah yang tak kunjung usai, meski permainan itu telah selesai sejak tadi.


Alby mengangkat wajahnya, dan menatap wajah istrinya yang cantik, yang dapat menjaga dirinya lalu mempersembahkan harta yang paling berharga hanya untuk suaminya. Satu hal yang perlu ia ingat bahwa Rena belum pernah sama sekali menjalin hubungan dengan lelaki manapun, jadi ia pastikan ciu man pertama pun dirinya yang ambil. Jadi, bolehlah saat ini Alby katakan. Jika ia sangat beruntung memiliki Rena?


Meski baru pengalaman pertama, Rena telah mampu memberikan sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan. Alby akui ini merupakan suatu kejutan yang sangat paling ia sukai.


"Terima kasih." Alby berbisik seraya menelusupkan wajahnya ke dalam leher Rena.