Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Aku Bukan Pelakor



Miranda menatap sebuah paper bag di atas meja riasnya. Ia menghela nafas pelan. Ia membuka dan mengeluarkan isinya, ternyata berisi tiga stelan pakaian bayi dengan merek ternama.


Ia kembali mengingat kejadian di cafe kejora tadi siang bersama Hira dan Miko.


“Miko?” panggil Hira.


Hal itu membuat Miko dan Miranda menghentikan langkahnya, keduanya berbalik menatap ke arah Hira.


Perempuan dengan dress berwarna maroon itu tersenyum pada pasangan suami istri itu, hal itu membuat Miko dan Miranda merasa aneh. “Ada apa? Bukankah pembahasan kerja sama kita sudah selesai, aku akan pergi menemani istriku. Kau tidak dengar ia ingin makan apa tadi,” seru Miko.


Hira mengangguk. “Aku tahu. Aku hanya meminta waktu kalian sebentar saja,” pintanya.


Miko mendengus sebal. Sementara Miranda tersenyum tipis. “Ada apa Hira”


“Aku hanya ingin memberi selamat atas pernikahan kalian, dan kebahagiaan karena sebentar lagi kalian akan mempunyai seorang anak.” Hira mengulurkan tangannya. Miranda dan Miko mengerutkan keningnya, menatap perempuan itu dengan bingung, seakan tengah mencurigai sesuatu.”


Hira tersenyum masam, menyembunyikan rasa pedih di hatinya. “Tenanglah. Aku tulus mengatakan hal ini. Aku turut senang, Miko. Karena kamu sudah menemukan kebahagiaanku. Dan soal ucapanku tadi...” Hira menatap ke arah Miranda.


“Aku minta maaf,” sambungnya membuat pasangan itu terperangah. Hira tersenyum tipis. “Aku memang menyesal karena dulu telah meninggalkan, Miko. Tetapi, bukan berarti aku berniat untuk kembali merebut dia dari pasangannya. Percayalah aku tulus. Tidak ada niatan dari hatiku untuk menjadi seorang pelakor.”


Meski masih merasa ragu, Miranda pun membalas jabatan tangan Hira. Membuat Hira merasa senang. “Terima kasih, Mbak.”


“Oh ya Miko. Aku juga mau mengatakan kalau kerja sama ini, nanti akan di ambil alih oleh asisten Papaku.”


“Kenapa?” tanya Miranda terkejut.


Hira terkekeh pelan. “Sebenarnya aku kurang mengerti soal bisnis, mbak. Otakku terlalu pusing memikirkannya. Untuk itu semalam aku sudah membicarakannya dengan Papa. Tapi, sebelum itu aku juga memang meminta untuk berpamitan dengan Miko.”


“Tidak mengerti bisnis? Bukankah kamu sedang kuliah–”


“Aku mengambil firma hukum.”


”Wow calon pengacara,” sahut Miranda takjub.


“Aku benar-benar minta maaf soal yang tadi ya mbak. Sungguh aku, hanya berniat mengetes perasaan mbak ke Miko. Ya meskipun aku akui sempat merasa kesal. Tapi semua kembali lagi ke takdir. Kami memang tidak berjodoh. Tapi saya senang karena dia mendapatkan perempuan yang tepat. ”


“Lupakan, Hira. Semua orang pernah pernah berbuat salah. Aku juga sebenarnya–”


“Sudah jangan diteruskan. Aku sudah tahu tentang mbak,” sela Hira.


“Kamu tahu?” tanya Miranda terkejut.


Hira mengangguk. “Tapi seperti apa yang mbak bilang. Semua orang berhak berubah. Jadi, jangan lanjutkan ucapanmu mbak, jika itu hanya akan membuka luka lama. Karena aku tahu berada di posisimu saat itu pun tidak akan mudah.”


Miranda terenyuh mendengarnya. Melepaskan tautan tangan Miranda. Hira mengambil paper bag di atas meja, mengulurkannya pada Miranda. “Ini aku punya sesuatu buat mbak. Semoga lancar persalinannya ya.”


“Makasih Hira.”


“Di situ ada kartu nama ku. Jika mbak butuh konsultasi seputar hukum, bisa hubungi aku.”


“Sialan! Kamu doain rumah tanggaku bermasalah ya,” tukas Miko kesal.


Hira hanya tertawa. “Aku bercanda. Astaga, kenapa kau seserius itu. Sudahlah aku pamit.”


Kini Miranda menghela nafasnya, sambil tersenyum mengusap permukaan lembut pakai bayi itu.


Miranda menoleh lalu memperlihatkan pakaian bayi itu. “Coba lihat baik-baik.”


Miko mengikuti perintah istrinya.


“Cakep kan, lucu lagi,” sambung Miranda.


Miko mendengus sebal. “Biasa aja. Aku juga bisa kok beli seratus pakaian bayi seperti itu. Tanpa perlu sumbangan.”


Miranda terkekeh, entah kenapa suaminya itu begitu sewot kalau udah ngomongin hal yang bersangkutan dengan Hira. “Aku tahu untuk itu. Tapi ada satu hal yang tidak aku tahu tentang kamu.”


”Apa?” tanya Miko pada istrinya.


“Kamu itu kalau udah ngomongin soal Hira kok sewot banget. Itu karena memang kamu gak suka, apa karena masih ada rasa?” tanya Miranda penuh selidik.


Miko mendengus kesal. “Ngaco.”


“Aku hanya malas saja. Lagian aku heran kamu kok gampang banget gitu luluh cuma di kasih begituan,” sambungnya seraya mendudukan dirinya di pinggir ranjang.


Miranda meletakkan pakaian bayi itu ke dalam paper bag lagi. Kemudian melangkah mendekati suaminya. “Karena aku sudah tidak memiliki hati yang dengki. Aku benar-benar ingin membuang sifatku yang buruk di masa lalu. Kamu tahu, di pandang buruk oleh orang itu rasanya menyedihkan.”


Miranda mengambil tangan suaminya, meletakkan di perut buncitnya. “Apalagi sekarang aku lagi hamil. Aku gak mau nanam hati yang jelek. Karena aku ingin anak-anak kita, tumbuh menjadi orang yang berhati lembut seperti...”


“Siapa sayang?” desak Miko.


“Akulah,” celetuk Miranda kemudian. Seraya merangkak naik ke atas ranjang. Perempuan itu membaringkan dirinya di sana. Seraya mengusap-usap pinggangnya yang terasa pegal.


Miko hanya tersenyum simpul, lalu menyusul istrinya. “Coba rubah posisinya menjadi miring,” titah Miko.


“Mau ngapain?”


“Mau pijitin pinggang kamu sayang. Kayaknya hari ini kamu kebanyakan aktivitas deh, makanya rasanya pegal-pegal kan,” ujar Miko yang mulai memijat pinggang istrinya setelah Miranda merubah posisinya menjadi miring.


“Tadi, lumayan juga customernya sayang. Kayaknya aku perlu nambah karyawan deh,” kata Miranda.


“Iya itu lebih baik. Yang penting pokoknya kamu gak boleh kelelahan.”


Miko terus melakukan pijatan lembut di pinggang istrinya. “Besok hari kematian ibuku. Kamu mau gak ikut ke makam?” tanya Miko.


Miranda langsung berbalik. “Tentu saja.”


.


.


.


.


.


Sebenarnya, bagusnya Hira jadi pelakor aja ya. Tapi, aku udah gak mau buat konflik lagi di novel ini. Karena beberapa Part ke depan akan aku tamatin.