
Rena memekik tertahan, saat kini tubuhnya kembali terjatuh di atas ranjang, akibat tarikan kuat yang Alby lakukan. Belum sempat Rena bangun, lelaki itu dengan sigap mengunci tubuh istrinya dengan kedua tangannya, juga kakinya seakan tak membiarkan perempuan itu untuk pergi.
"Bang?" Rena membulatkan kedua matanya, kala menyadari tatapan suaminya yang terlihat begitu mendamba. Pandangan keduanya saling beradu seiring terdengar bunyi detakan jantung yang begitu kencang hingga memekik ke rongga telinga yang begitu dalam. Rasa panas kini menjalar ke seluruh rongga dadanya, seketika tubuhnya seraya mendidih. Alby tersenyum tipis menatapnya dengan lembut.
Rena merasa gugup tak berani membalas tatapan sang suami. Ia menelan ludahnya dengan gugup, ketika mendengar detakan jantung suaminya. Hembusan nafas yang hangat menyapu wajahnya. Kini suasana kamar itu teras hening namun mendebarkan, tak ada percakapan keduanya larut dalam diam. Alby tersenyum tipis menatapnya dengan lembut.
Rena memberanikan diri mengangkat wajahnya, hingga pandangannya bertemu dengan lelaki di depannya, membuat semburat rona merah muncul di pipinya. Rena merasakannya kedua mata Alby memerah seperti menahan sesuatu, nafasnya tampak memburu, serta penampilannya yang acak-acakan. Bahkan kancing piyama lelaki itu di bagian paling atas telah terbuka, entah sejak kapan.
Rena merasa gugup, ini jauh lebih mendebarkan dibandingkan saat dirinya menunggu hasil ujian. Segera Rena menundukkan wajahnya, lalu ingin membuka mulutnya.
Deg! Deg! Deg!
Tapi sialnya Rena justru merasakan debaran jantung yang sangat kencang, seperti ingin meledak, hingga membuat dirinya merasa gugup tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Dan perlahan rasa panas menjalar ke seluruh sarafnya, Rena merasa tubuhnya terpaku di tempat tak dapat bergerak. Semua itu akibat kedua tangan Alby yang masih menguncinya.
"Lihat Abang, Ren!" pinta Alby dengan suara parau.
Rena enggan menuruti perintah suaminya, tapi dengan cepat Alby justru menggerakkan tangannya, menarik dagu istrinya menghadapnya.
Kini wajah keduanya kembali saling berhadapan, seperti tak ada jarak. Bahkan saling menempel hingga hidung keduanya nyaris bersentuhan.
"Em A-abang bi-biarkan aku ke-keluar," pinta Rena dengan terbata-bata, ia merasa tak dapat bergerak lantaran sang suami mengunci tubuhnya dengan sangat erat.
"Kau boleh keluar nanti setelah urusanmu selesai denganku. Sekarang ada hal yang wajib yang harus kau lakukan!" jawab Alby.
Rena terperangah mendengarnya, saat ia hendak membuka mulutnya, berniat menanyakan maksud dari ucapan suaminya. Alby dengan cepat menyambar bibir perempuan itu, dengan gerakan pelan lalu sedikit kasar, ia terus memangut bibir perempuan itu. Membuat kedua mata Rena terbelalak, seiring dengan bunyinya detakan jantung yang menggema. Alby terus memainkan bibirnya dengan lihai, me lu mat, membelit tak peduli sekalipun perempuan dalam dekapannya terus meronta untuk dilepaskan.
Tampaknya ia pun harus mencabut ucapannya semalam, yang akan melakukan hal yang lebih pada Rena suatu saat ini, karena kini ia harus membuat istrinya lebih nyaman. Tapi ternyata, Alby merasa tak dapat menahannya lagi, bolehkah ia memintanya sekarang.
Otaknya berfikir untuk berhenti, tapi nyatanya tubuhnya justru merespon sangat baik. Nalurinya sebagai seorang lelaki terus menuntut ke arah yang lebih.
Rena merasa hampir kehabisan nafas, kini ia mencengkram erat piyama Alby, hingga membuat beberapa kancingnya terbuka dengan sendirinya. Ia merasa tubuhnya melemas, seluruh otot sarafnya menghilang. Tak banyak yang dapat ia lakukan, selain terdiam pasrah, membiarkan suaminya memegang kendali atasnya. Bahkan Alby tak sekalipun membiarkan dirinya mengambil pasokan oksigen.
"Abang?" disisa kekuatannya, Rena mencoba menahan tubuh suaminya, meminta untuk di lepaskan. Melihat gairah yang tengah menyala dalam dirinya Alby, Rena tau apa yang lelaki itu inginkan. Tapi, bolehkan Rena meminta jangan sekarang.
Jujur, Rena belum siap. Masih ada yang harus ia pikirkan, salah satu tentang kehamilan. Rena sama sekali belum menginginkan hal itu. Banyak hal yang masih ingin ia kejar. Tapi, melihat hasrat suaminya yang membara, pantaskah ia memberontak.
"Emm, apa?" tanya balik Alby dengan suara serak.
"Abang mau ngapain?" rasanya Rena ingin mengatakan jangan sekarang, tapi ia merasa tidak tega.
"Meminta hak ku!"
"Tapi Bang kita kan-"
"Apalagi? Abang sudah serius kok sama kamu, gak main-main, Ren. Percaya deh Abang pasti akan setia, berusaha membuat kamu bahagia," terang Alby sambil mendaratkan kecupan ringan di pipi perempuan itu.
Alby tersenyum tipis kala mendengar suara de sahan Rena, itu artinya istrinya merepon sentuhan dirinya.
"Bang ih, aku emhhh-"
Alby dengan cepat kembali membungkam bibir istrinya, tak lagi ia biarkan perempuan itu mengeluarkan sebuah kata penolakan. Memangut dan melu matnya secara lembut.
Rena merasakan aliran darahnya berdesir, kala menyadari sang suami kini telah bersiap mendominasi seluruh tubuhny. Alby dengan sigap langsung mengungkung tubuh istrinya. Dan sialnya, tubuh Rena justru merespon sangat baik. Perlahan, Alby membuka piyama tidur bagian atasnya. Memperlihatkan otot-otot sispek di hadapan istrinya, membuat Rena kembali menelan ludahnya. Lalu, Alby kembali mencondongkan tubuhnya, memangut lembut bibir Rena. Sementara salah satu tangannya, ia gunakan untuk membuka kancing piyama istrinya.
Brakkk!!!!
"Ayah, Bunda kalian sedang apa?"
Bughh!!
Di tengah aktivitas keduanya, pintu kamar justru terbuka dengan kasar, hingga muncul sosok putrinya seperti bangun tidur. Rena langsung mendorong tubu suaminya, hingga terjatuh dari ranjang.
"Sial!" umpat Alby.
Rena segera mengubah posisinya menjadi duduk, merapikan pakaiannya dan menjuntaikan kakinya ke lantai. Perempuan itu menghampiri Misel, yang masih terdiam di ambang pintu, kadang pula masih menguap. Rena membawa Misel ke dalam.
Sementara, Alby masih meringis di bawah sana, mengusap bagian tubuhnya yang sakit akibat terjatuh, karena dorongan kuat yang istrinya lakukan. Seandainya bukan putrinya yang datang, Alby pasti akan marah, karena membuat hasratnya tak dapat tersalurkan.
"Lho, Ayah sedang apa? Kok tidak pakai baju?" tanya Misel dengan polosnya saat melihat ayahnya kini sudah kembali berdiri dengan raut wajah masam, menatap ke arah Rena dengan jengkel.
"Mau mandi," jawab Alby singkat seraya berlalu masuk ke kamar mandi. Karena Alby harus segera menidurkan sesuatu yang bangun di bawah sana.
'Sialan! Aku jadi bersolo karier lagi'
Rena menatap kepergian suaminya, ia meras kasihan melihat raut wajah suaminya yang seperti menahan kecewa. Tapi, Rena bisa apa? Apakah harus mengusir Misel. Itu bukan hal yang tepat. Ia bisa menikah dengan Alby karena ia menyayangi Misel.
"Bunda, Ayah kenapa sih? Kok begitu. Bunda lagi marah sama ayah ya?" tanya Misel polos.
"Enggak kok sayang, Ayah cuma capek aja tadi habis mijitin Bunda," kilah Rena berdusta.
Misel mengangguk, "oh jadi. Ayah tadi berada di atas Bunda tuh sedang mijitin Bunda ya, aku pikir tadi lagi nyekik Bunda."
Rena tergelak mendengarnya, melihat ucapan dan wajah polos putri sambungnya, rasanya ia ingin tertawa.
"Tunggu-" Misel menatap ke arah leher Rena.
"Ayah pasti lupa potong kuku, masa leher Bunda jadi merah-merah begitu!" tambahnya kemudian.