
Alby melajukan mobilnya menuju rumah sakit Anggara. Sesekali ia akan menatap cemas ke arah istrinya, yang terbaring di pangkuan Alena. Tadi saat Rena jatuh pingsan kebetulan Alena berada di dekatnya. Melihat sahabatnya itu pingsan, Alena pun terkejut hingga memintanya untuk ke rumah sakit.
"Gimana Le? Bangun gak?" tanya Alby cemas.
Alena yang tengah mengusapkan minyak angin pada indra penciuman Rena pun menggeleng lemah. Ini adalah yang pertama ia melihat Rena pingsan, sebagai seorang sahabat ia pun takut terjadi sesuatu dengan Rena. Rena adalah sahabat terbaiknya, di saat orang-orang mengejeknya anak manja, hanya Rena yang mau berteman dengannya. Alena merasa sangat takut terjadi sesuatu dengan Rena. Tadinya ia berniat untuk memberi Rena ucapan selamat, sekaligus berbagi pengalaman saat sidang skripsi tadi. Tak menyangka ia akan mendapat kejutan seperti ini.
Sementara, Alby merasa sangat kesal pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya isterinya sampai pingsan. Semua pasti karena ulahnya semalam yang membuat Rena kelelahan. Ia merutuki dirinya yang terlalu berambisi kala menyentuh isterinya.
"Maafin Abang ya Re," ucap Alby lirih bahkan kedua matanya pun berkaca-kaca. Sungguh ia pun merasa sangat takut, pasalnya baru kali ini Rena bisa pingsan, sampai tak sadar-sadar.
Ketika tiba di rumah sakit Rena langsung dilarikan ke UGD guna menjalani pemeriksaan. Pias wajah Alby dan Alena sangat cemas. Keduanya langsung diminta untuk menunggu di ruang tunggu. Tidak ada pikiran apapun yang Alby pikirkan saat ini, selain keadaan istrinya, yang ia harapkan akan baik-baik saja.
Dokter Ryan yang baru saja selesai melakukan operasi, dan saat ini berada di toilet. Mendengar kasak-kusuk sebagian karyawan rumah sakit itu yang menyinggung soal Rena.
"Rena pingsan?" gumamnya sambil mencuci tangannya. Rasanya ia merasa hampir tak percaya.
Dokter Ryan berniat untuk menjemput Alena setelah ini. Tapi, mendengar Rena yang pingsan ia merasa penasaran. Lelaki itu pun berlalu menuju ruang UGD, demi memastikan kebenaran yang ia dengar.
Langkahnya melambat saat ia melihat perempuan yang ia sayangi tengah terduduk lemah di kursi dengan kondisi sangat berantakan, sesekali akan terisak.
"Alena?" panggilnya membuat perempuan itu mengangkat wajahnya.
Alena mengusap air matanya.
"Kamu-"
Dokter Ryan tak lagi melanjutkan ucapannya, saat dengan cepat Alena justru berlari menghambur memeluk dirinya dengan erat, kemudian terisak.
"Pak Dokter... Rena. Masa Rena tiba-tiba pingsan, aku takut. Aku... Aku khawatir," ucapnya dengan nafas tersengal-sengal. Nampaknya, perempuan itu sudah menangis sejak tadi.
Dokter Ryan membalas dekapan Alena, mengusap punggungnya perempuan itu dengan lembut. Kemudian, mengurai dekapannya. Lelaki itu membingkai wajah Alena, lalu mengusap air matanya.
"Hei, tenanglah. Tidak akan terjadi apapun pada Rena. Dokter akan melakukan yang terbaik," ujar Dokter Ryan menenangkan.
Namun, Alena belum juga tenang. Tangisnya justru semakin keras, bak anak kecil yang kehilangan permennya. "Percayalah Alena sayang. Rena itu perempuan yang kuat, ia bisa pingsan pasti karena kelelahan aja," lanjut Dokter Ryan menenangkan, meski terasa sia-sia karena Alena terus saja menangis. Nampaknya, Alena hanya akan berhenti menangis setelah Dokter keluar dan mengatakan kondisi Rena.
Akhirnya, Dokter Ryan memilih menggiring Alena untuk kembali duduk. Membiarkan perempuan itu bersandar pada tubuhnya, hingga kadang jas miliknya pun menjadi berguna untuk mengusap air mata maupun ingus Alena.
"Maaf ya Pak Dokter, habisnya aku sedih banget. Jas Pak Dokter jadi kotor deh," seru Alena lirih.
Dokter Ryan hanya mengangguk. Mau marah? Buat apa. Hanya sebuah jas, biarkan saja deh, yang penting perempuan itu mau diam aja.
"Aku tadinya berniat menjemputmu di kampus. Mau kasih selamat sekaligus mau minta jawaban soal-"
"Jangan sekarang lah Pak Dokter. Otak aku terkuras gak bisa mikir, eh sekarang air mataku juga terkuras. Kasihanilah aku Pak Dokter," balas Alena.
Dokter Ryan mengangguk. "Iya. Mau seribu tahun pun akan aku tunggu kok."
"Eh serius?" Alena mengusap air matanya menatap Dokter Ryan tak percaya.
Lelaki itu mengangguk. "Iya. Tapi masalahnya yakin kita bisa hidup seribu tahun?"
Alena mengangguk, benar juga ya. "Ih malah ngelawak Pak Dokter ini." Cubit Alena gemas. Tapi akhirnya, ia pun jadi bisa tersenyum.
"Memangnya aku anak kecil!" celetuk Alena.
Dokter Ryan hanya terkekeh, mencubit pipi Alena dengan gemas. "Kaya Crystal kamu itu," ucapnya yang menyamakan Alena seperti sang ponakan.
Alena menepis tangan Dokter Ryan kesal.
"Jangan cemberut, tuh Dokter udah keluar!" tunjuk Dokter Ryan pada pintu ruang UGD yang terbuka.
Keduanya langsung mendekati pintu di mana di sana Alby sejak tadi sudah menunggunya.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan dari kondisi Dokter Rena, Tuan. Semua ini karena ia terlalu lelah, apalagi kondisinya saat ini tengah hamil muda," jelas Dokter yang membuat Alby terkejut.
Hamil? Ia tak salah dengarkan.
"Jika diperkirakan usia kandungan Dokter Rena mungkin sudah memasuki Minggu ke enam. Namun, untuk lebih jelasnya anda bisa melakukan tindakan USG. Setelah kondisi Dokter Rena pulih. Anda bisa menjenguk istri anda setelah kami pindahkan ia ke ruang perawatan," lanjut Dokter itu sebelum kemudian pamit pergi.
Alby masih terdiam haru, bahkan ia sampai tak bisa berkata-kata. Rasanya ia ingin membuka pintu berlari lalu memeluk istrinya dan mengucapkan terima kasih.
"Selamat ya Pak Alby. Saya turut bahagia mendengarnya. Semoga ibu dan bayinya selalu sehat," ucap Dokter Ryan.
"Terim kasih," sahut Alby.
"Ternyata kamu pingsan karena mau ada dedek baru, Re. Syukurlah aku lega sekali mendengarnya," kata Alena.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, Rena langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Ketiganya mengikutinya dari belakang.
Setelah para perawat selesai memasang alat, mereka pun berpamitan pergi. Begitupun dengan Dokter Ryan yang mengajak Alena untuk keluar dari ruangan itu. Karena ia pikir Alby butuh waktu untuk bersama istrinya.
Lima belas menit kemudian, Rena mengerjapkan kedua matanya.
"Em eghh...," Leguh Rena.
Ketika ia membuka matanya hal yang pertama ia lihat adalah wajah suaminya, lelaki itu tampak tersenyum manis.
"Abang?" panggil Rena, pandangannya menyapu isi ruangan itu, yang semuanya serba putih. Sesaat ia sadar kalau itu bukan di kamarnya.
"Kok aku bisa di sini sih bang?" tanya Rena sambil melirik pergelangan tangannya yang ternyata terdapat jarum infus di sana. Perempuan itu berusaha untuk merubah posisinya menjadi duduk.
"Jangan bergerak dulu sayang. Kamu kan baru sadar," ujar Alby sambil membantu istrinya untuk bersandar.
Rena menatap suaminya heran, mendengar ucapan suaminya ia paham bahwa tadi mungkin ia habis pingsan.
Alby duduk di sisi ranjang Rena, kemudian menggenggam tangan istrinya, lalu menuntunnya ke perut Rena yang masih datar.
"Kamu tau sayang. Abang bahagia banget, akhirnya penantian kita tercapai sayang. Di sini Alby junior sedang tumbuh," kata Alby haru.
"Maksudnya?" tanya Rena.
Alby mengangguk. "Iya sayang. Kamu sedang hamil."
Rena terharu mendengarnya, Alby langsung memeluk istrinya dengan lembut. "Makasih ya sayang."