Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Keributan di Rumah Sakit



Hari ini adalah jadwal Alena melakukan pemeriksaan kandungan. Ia datang ke rumah sakit dengan diantar oleh sopir Mama Elena. Sebelumnya, ia sudah janjian dengan sang suami akan bertemu di rumah sakit.


Ryan memang mengatakan tak bisa menjemput istrinya. Lantaran harus melakukan operasi siang itu. Hari ini Alena berencana untuk melakukan USG. Ia ingin mengetahui jenis kelamin buah hatinya. Selain karena memudahkan ia nanti membeli barang keperluan bayi. Semua juga agar ia bisa lebih mudah menyiapkan nama untuk sang buah hati.


“Suster Santi. Apa kamu tahu di mana suamiku? Kenapa ia tidak ada di ruangannya?” tanya Alena heran.


“Dokter Ryan tengah melakukan operasi nona. Tapi, dia berpesan pada saya. Jika anda datang. Ia meminta anda untuk langsung ke dokter kandungan saja, melakukan pemeriksaan. Karena jadwal operasi kali ini mungkin memakan waktu lebih lama,” terang Suster Santi.


Alena menghela nafas kecewa. Namun, ia pun tidak boleh egois. Mengingat pekerjaan suaminya yang seorang dokter, ia memang harus bersiap menerima segala resiko kesibukan lelaki itu.


”Saya permisi, Nona.” Suster Santi berlalu pergi, setelah sebelumnya mendapatkan anggukan kepala oleh Alena.


“Ya udahlah, aku ke dokter Eli aja sendiri. Nanti, Masry dikasih tahu aja hasilnya.”


Alena melangkah pergi, menuju ruangan dokter Eli. Kedatangannya memang sudah ditunggu oleh rekan kerja suaminya itu.


“Hallo, Nyonya Anggara apa kabar?” sapa Dokter Eli. Di belakangnya ada suster yang mendampingi.


“Baik, Bu Dokter.”


Keduanya saling berjabat tangan juga cipika-cipiki pipi.


“Sebenarnya pengen periksa sama Masry. Tapi, dia–”


“Iya, Le. Suamimu sedang sibuk hari ini memang tepat ada jadwal operasi, kemungkinan memakan waktu. Jadi, tidak masalah kita langsung melakukan pemeriksaaan ya. Soalnya, habis ini aku harus buka praktek lagi. Kebetulan jam ini sudah aku kosongin, sengaja karena suamimu sudah meminta kemarin,” terang Dokter Eli.


“Iya Bu Dokter!”


“Ya udah kamu langsung berbaring ya,” titah Dokter Eli.


Alena mengangguk, lantas mulai naik ke atas brankar dan berbaring. Ia pun mulai menyingkap pakaian atasnya. Kebetulan Alena saat itu memakai pakaian khusus ibu hamil.


“Biar saya saja ” Dokter Eli mencegah ketika suster mau memberikan gel di perut Alena. Untuk rekan kerjanya, ia akan melakukan yang terbaik. Apalagi ini untuk Alena yang notabennya adalah seorang menantu dari pemilik rumah sakit ia bekerja.


Alena merasakan perutnya begitu dingin saat Dokter Eli mengusapkan gel pada perutnya. Dinginnya gel itu membuat Alena merasa geli. Tak lama Dokter Eli meminta Alena untuk melihat ke monitor, sementara dokter Eli mengusap-usap perutnya dengan alat yang bernama transducer.


Alena merasa terharu melihat bagaimana buah hatinya tumbuh di dalam perutnya. Seandainya ada suaminya pasti lelaki itu pun akan merasa sangat bahagia. Sayang sekali jadwal sang suami padat. Tidak masalah setelah ini ia harus menemui sang suami, tidak masalah menunggu karena ia juga ingin suaminya mendengar kebahagiaan ini.


“Dia sangat sehat, jantungnya normal, berat badannya normal, dan ketubannya bening. Saya kira kamu bisa melahirkan secara normal,” terang Dokter Eli.


“Apakah sakit?”


Dokter Eli tersenyum tipis. “Tidak ada yang tidak sakit dalam hal proses melahirkan. Caesar maupun normal juga sama-sama butuh perjuangan. Namun, semua akan terbayar dengan lunas saat anak kita lahir. Tangisannya akan membuat kamu lupa akan rasa sakit yang kamu rasakan.”


Alena tersenyum, tak sabar menanti buah kelahiran buah hati mereka. Mungkin kalau anaknya sudah lahir, ia tidak akan berkali-kali merasakan jenuh, karena ia bisa bermain dengan si kecil.


Perbincangan itu terus berlangsung. Kehamilan Alena yang sudah di trimester kedua ini. Dokter Eli juga meminta Alena untuk tetap menjaga kesehatan, minum susu ibu hamil, makan makanan yang sehat, minum vitamin, dan tidur dengan teratur. Dokter Eli juga menanyakan apakah mau tahu jenis kelamin anaknya atau tidak? Alena mengangguk. Perempuan itu memutuskan untuk mengetahui lebih dulu jenis kelaminnya. Tidak maslaah laki-laki atau perempuan, ia akan menerimanya.


🦋🦋


Alena menyusuri koridor rumah sakit dengan wajah berseri-seri. Sebelah tangannya menggenggam foto USG calon buah hatinya. Bahkan berkali-kali ia mencium foto itu. Kakinya terus melangkah ke ruang operasi, karena sebelumnya ia sudah kembali ke ruangan suaminya. Namun, ternyata sang suami belum juga ada di sana. Padahal menurut suster lainnya, harusnya waktu operasi telah usai.


“Dasar dokter tak berguna. Kenapa kau membunuh putraku!”


“Katanya dokter sudah ahli, tapi kenapa kau membuat putraku merenggut nyawa!”


“Akan ku tuntut rumah sakit ini. Karena dokternya sama sekali tidak becus!”


“Biar gelar Dokter mu juga dicabut! Agar kau bisa merasakan sehancur apa hatiku!”


“Putraku, kenapa kamu tinggalin ibu, nak!”


Seorang ibu-ibu itu terus meraung, memaki Dokter Ryan yang hanya bergeming dengan kedua mata memerah. Alena menduga jika sang suami pun ikut menangis. Sementara, lelaki setengah baya, yang ia duga merupakan suami dari ibu itu, terus menahan tangan istrinya, mencoba menenangkannya.


“Bu, sudahlah ini itu sudah takdir yang maha kuasa. Dokter itu bukan Tuhan yang bisa menjamin kesembuhan,” ujar lelaki setengah baya itu menenangkan.


“Tidak, Pak. Putra kita harusnya masih ada. Ibu tidak terima! Lepas Pak! Lepas... Akan ku beri pelajaran pada dokternya!” Ibu itu terus memberontak ingin mendekati dokter Ryan, dengan wajah kacau, matanya memerah, antara rasa sedih juga rasa marah.


Alena tidak bisa membiarkan semua itu terjadi. Memasukkan foto USG sang buah hati ke dalam tasnya, kemudian perempuan melangkah mendekati suaminya.


“Ada apa ini?” tanya Alena tiba-tiba.


“Sayang?” Ryan mendekati istrinya. “Pergi ke mobil ya. Nanti, Mas nyusul,” sambungnya seakan tidak ingin istrinya melihat kekacauan itu.


Namun, Alena menggelengkan kepalanya menolak. Matanya menatap ke arah ibu-ibu yang terus memaki sang suami. Tahukah apa yang Alena rasakan? Mendengar hinaan ibu itu, hatinya juga berdenyut sakit. Mana bisa ia diam saja, melihat sang suami di maki-maki hanya diam saja.


“Jadi, ini istrinya?!” tanyanya setengah teriak.


“Bu, ini di rumah sakit. Jangan buat kekacauan, sudah kita terima takdir saja,” ucap sang lelaki yang tampak begitu sabar. Sementara, sang perempuan berwajah sangar.


“Iya. Saya istrinya.”


“Sayang?” Dokter Ryan menggelengkan kepalanya.


.


.


.


.


.


.


Guys jangan lupa mampir di novel baru aku ya “Sebatas Istri Bayaran,” update setiap hari 1-3 bab chapter.


Thank you semua^^


Sayang kalian semua^^