Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Diusir



"Kau pikir hanya dirimu yang merasa kehilangan Agatha. Aku juga, aku sedih. Agatha itu juga putriku, aku yang mengandung dan melahirkannya," ucap Miranda menepuk dadanya.


"Tapi kau ibu tak berguna. Kau tak bisa melakukan apapun demi kesembuhan putrimu!"


"Apapun? Kau bilang aku tidak bisa. Bukankah sudah ku katakan aku sudah berusaha bahkan nyaris mencelakai putriku sendiri, hal yang membuatku menyesal karena aku telah melakukan hal bodoh demi menuruti perintahmu untuk membawa Misel. Justru mengantarkan aku ke penjara. Kau papanya, kau pun turut andil di dalamnya. Kenapa hanya aku yang disalahkan? Hanya karena aku tidak bisa membawa Misel kemari, kau menuduhku pembunuh. Misel juga putriku. Aku tidak mungkin mengorbankan dia demi Agatha, demi keegoisan ku. Sudah cukup lima tahun aku membuatnya menderita tanpa kasih sayangku," ujar Miranda menatap Damian dengan wajah sendu.


Lelaki tegap itu tetap diam dengan pandangan marah. Kedua tangannya mengepal erat. "Kalau begitu sekarang keberadaanmu di sini memang sudah tidak berguna?"


Miranda terkesiap. "Apa maksudmu?"


Damian tersenyum sinis. "Mulai hari ini kau bukan lagi istriku. Aku menceraikanmu Miranda!"


Deg!


Hati Miranda mencelos, seakan seluruh saraf dalam tubuhnya ikut melemas, mendengar kalimat talak yang Damian ucapkan padanya. Ia berharap ini hanya bagian dari mimpinya. Ia baru saja kehilangan putrinya, bagaimana mungkin tiba-tiba ia pun harus kehilangan suaminya.


Miranda menggeleng. "Tidak, tidak mungkin. Kau tidak mungkin melakukan itu kan?" tanya Miranda mendesak Damian, seraya menggoyangkan lengan suaminya.


"Kenapa tidak mungkin?" sentak Damian sinis.


"Kau bilang kau mencintaiku jadi tidak mungkin kau menceraikan aku kan?" sahut Miranda tak percaya.


"Itu dulu, saat aku merasa kau segalanya. Kau cantik, seorang model, dan juga kau telah berhasil memberi keturunan untukku. Tapi sekarang, kau bukan apa-apa bagiku. Bahkan jadi model pun kau sudah tidak bisa, karena namamu telah tercoreng menjadi seorang napi. Aku tidak ingin nama besarku pun buruk. Jadi, untuk apa aku mempertahankan dirimu lagi!"


Miranda tertunduk lemah dengan air mata berderai. Memang sejak saat ia keluar dari penjara namanya menjadi negatif. Ia sudah tau bahwa karirnya akan meredup, tapi tak ia duga suaminya yang selama ini mendukungnya justru berniat menjauhinya setelah kematian Agatha.


"Bukankah kita masih bisa punya anak lagi?" ujar Miranda mencoba mengiba.


"Sayangnya itu sudah tidak ada dalam kamus ku. Karena memang aku sudah tidak menginginkanmu. Perempuan di luar sana masih banyak yang lebih baik darimu."


Miranda tertunduk, secepat itu semuanya berubah. Damian menepuk kedua tangannya memanggil dua orang pelayan.


"Pelayan bereskan pakaian Nyonya Miranda, jangan sampai ada yang tertinggal. Karena secepatnya dia harus segera meninggalkan rumah ini," titahnya kemudian.


Kedua pelayan pun membungkuk menuruti perintah sang majikan. Damian berlalu tanpa menoleh ke arah Miranda yang masih tampak syok.


Sesaat kemudian perempuan itu tersadar dari lamunannya, ia berlari mengejar Damian. "Jangan seperti ini, ku mohon. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, tanpa harus ada kata cerai," pinta Miranda memohon dengan tangis yang berderai. "Aku sudah tidak punya siapapun Damian... Dan kau tau itu?"


"Itu bukan urusanku. Kau mempunyai anak bukan, kalau begitu kembali saja padanya," sergah Damian tanpa memutar tubuhnya.


Miranda tertunduk di bawah kaki Damian, ia menggelengkan kepalanya. Setelah apa yang ia lakukan pada putrinya, masih pantaskah ia kembali.


"Pergilah dengan cara yang baik, sebelum aku melakukan tindakan yang kasar padamu Miranda. Kau bisa menunggu surat perceraian kita," tambah Damian seraya kembali melangkahkan kakinya menuju ke atas tangga, tanpa berniat menoleh.


"Nyonya barang-barang Anda semua sudah siap." Kedua pelayan datang menghampiri dirinya dengan dua koper besar di tangannya. Miranda menoleh dengan miris, ia merasa hidupnya sudah hancur, perlahan orang-orang yang ia sayangi meninggalkan dirinya.


Lantas ia pun mencoba berdiri, memandang arah tangga kemana perginya sang suami. Ia tersenyum pedih, lalu mengusap kedua sudut matanya yang basah. "Baiklah jika ini keputusanmu. Aku akan ikhlas menerimanya," gumam Miranda seraya berlalu mengambil gagang koper yang di bawa pelayan itu.


"Biar kami bantu membawanya ke mobil anda nyonya," tawar sang pelayan.


"Aku bisa melakukannya sendiri, pergilah. Karena aku bukan majikan kalian lagi," tolak Miranda. Perempuan itu menyeret dua kopernya keluar dari rumah mewah Damian yang selama beberapa tahun ini menjadi tempat singgahnya.


"Mama... Mama...."


"Misel bangun nak ini Bunda." Rena berusaha membangunkan putrinya yang sedari tadi tampak mengigau menyebutkan Mamanya. Tapi, anak terus memejamkan matanya dengan gerakan yang gelisah.


Ia bahkan merasakan suhu tubuh Misel yang tampak menghangat, seiring dengan keringat dingin yang membanjiri keningnya. "Sayang, bangun nak ini Bunda. Kau bermimpi buruk?"


Perlahan kedua mata Misel terbuka, seiring dengan nafas yang tidak teratur. Anak itu langsung bangun menghambur memeluk Rena. "Bunda?" lirihnya seiring dengan tangisnya yang berderai.


"Ya sayang. Kau bermimpi buruk?" tanya Rena.


Misel mengangguk lemah. "Mama...."


Rena mengurai dekapannya, kemudian mengambil obat penurun panas yang berbentuk sirup. "Minum obatnya dulu ya sayang. Biar cepat turun panasnya, nanti Misel bisa cerita ke Bunda setelah tenang," ujar Rena lembut.


Misel menurut meminum obat yang Rena beri. Setelahnya Rena segera menggeser tubuhnya, mengusap-usap punggung putrinya, ia merasa cemas lantaran tengah malam Nany menggedor-gedor pintu kamarnya mengatakan jika Misel mengigau dan tak dapat dibangunkan, lebih cemasnya lagi saat ia merasakan suhu tubuh Misel yang tiba-tiba panas.


"Kamu bermimpi apa sayang? Cerita sama Bunda?" tanya Rena lembut.


Misel menggeleng lemah wajahnya masih terlihat pucat.


"Ceritakan pada kami sayang," timpal Alby lembut yang sejak tadi memang berada di sisi putranya.


Misel melihat ke arah kedua orangtuanya. "Aku hanya melihat Mama menangis Ayah, Bunda. Tapi aku tidak kenapa. Mama tidak mendengar saat aku memanggil," terangnya.


Alby menghela nafasnya. Ada rasa sebal yang ia rasa, lagi-lagi berurusan dengan Miranda. "Mungkin Mamamu sedang sedih saja sayang," ujar Alby memenangkan.


Misel menoleh ke arah Ayahnya. "Tapi bolehkah Misel mendengar suara Mama, Ayah?" pintanya.


"Hah?"


"Turuti saja Bang? Ambilkan ponselku biar aku saja yang menelpon," seru Rena, karena ia tau suaminya pasti tidak akan mau menelpon mantan istrinya duluan.


"Baiklah, kalau bukan karena Misel aku tidak akan mau." Alby beranjak dari ranjang keluar menuju kamarnya untuk mengambil ponsel istrinya. Beberapa saat kemudian ia kembali, dan menyerahkan ponsel Rena.


Rena mencoba menghubungi nomor Miranda. Tapi, nomornya sama sekali tidak tersambung.


"Mungkin Mama sedang sibuk sayang. Kan adik lagi sakit. Kita coba lagi nanti siang ya. Sekarang Misel tidur di luar masih gelap sayang," tutur Rena.


Misel mengangguk. "Ya Bunda. Tapi temanin ya Bunda," pintanya.


"Ya ayah sama Bunda temanin ya." Rena dan Alby pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Beruntung ranjang Misel saat ini sudah di ganti dengan ukuran besar.


.


.


slow update ya guys, anakku masih rewel๐Ÿ™๐Ÿ˜”