
Seharian ini Miranda menjaga Miko, hingga membiarkan butiknya hanya di jaga oleh Eva.
“Besok aku ke butik ya,” ujar Miranda. Saat ini hari sudah beranjak malam, tidak ada siapapun di sana kecuali pasangan pengantin baru itu.
“Iya sayang!” sahut Miko mengangguk, saat ini ia tak perlu khawatir perempuan itu akan kabur karena Miranda sudah menjadi istrinya.
“Ya sudah kamu tidur gih. Biar aku tidur di sofa ya,” ujar Miranda berniat beranjak dari tempatnya. Namun, Miko mencegahnya seraya menepuk ranjangnya.
“Kenapa?”
“Tidur di sini aja, berdua!” pintanya.
“Sempit. Nanti kena luka kamu, aku tidur di sofa aja–"
“Bukannya yang sempit-sempit itu justru yang enak?”
“Miko?!” seloroh Miranda mencebik kesal.
“Apa sih sayang? Maksud aku kan kalau tempat tidurnya sedikit sempit seperti ini tidur berdua kan enak, rasanya hangat gitu loh. Kamu ini pasti mikirnya kejauhan,” seru Miko sambil tertawa geli menikmati raut kesal istrinya. “Ternyata istriku mesum juga ya. Udah gak sabar buat mantap-mantap ya, sabarlah sayang tunggu aku benar-benar sehat. Karena aku mau buat momen yang tidak akan terlupakan. Mantap-mantap bukan sembarang mantap-mantap ini,” sambungnya yang semakin menjadi menggoda istrinya.
Miranda berdecak. “Tahu ah, aku dah ngantuk. Besok pagi mau kerja,” ujarnya.
“Tidur di sini sayang, please. Cuma pengen meluk doang aku tuh.” Miko memohon.
Miranda menghela nafasnya tidak tega, hingga akhirnya pun menurut, beralih ke sisi ranjang yang lain, kemudian merebahkan tubuhnya di sisi suaminya. Hal itu membuat Miko tak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung mengubah posisinya menjadi miring, lalu memeluk Miranda dengan salah satu tangannya. Perempuan itu merasa sangat gugup, jantungnya berdetak lebih kencang. Apalagi kala ia dapat menghirup aroma nafas hangat sang suami.
“Mik, kamu tuh jangan gini deh. Udah tidur aja, jangan banyak gerak nanti jarumnya lepas lagi, aku kan gak bisa benerin,” ujar Miranda.
“Biarin. Kalau lepas ya nanti aku lepas aja sekalian,” sahut Miko seraya terus meringsek memeluk istrinya. Miranda menghela nafasnya, mencoba mengatur detak jantungnya.
“Harusnya mah ini malam pertama kita ya. Gara-gara aku sakit jadi ditunda deh mantap-mantapnya.”
Miranda mulai memejamkan kedua matanya, berpura-pura tak mendengar ucapan Miko.
“Sayang, nanti kita–” Miko tak lagi melanjutkan ucapannya, saat pandangannya tertuju pada kedua mata istrinya yang sudah terlelap. Ia tersenyum lalu bergumam pelan, “cantik banget sih biniku, ya ampun. Perempuan manapun juga kalah deh sama dia.” Lelaki itu tak hentinya memuji istrinya. Pada kenyataannya memang iya, Miranda itu memang aslinya cantik, tubuhnya ideal, wajahnya putih mulus, hidungnya mancung, bibirnya tipis, kedua bola matanya bulat, rambutnya hitam dan kecantikannya itu menurun pada Misel. Jadi, sekalipun perbedaan usia keduanya terpaut jauh, orang pun tidak akan mengetahui sebenarnya.
Miko kembali tersenyum membayangkan kelak akan mempunyai anak bersama Miranda. Kalau sudah begini ia harus semangat untuk segera sembuh. Karena sibuk memikirkan masa depan, membuat Miko akhirnya lama-lama mengantuk, dan tak sadar ia mulai memejamkan kedua matanya, menyusul istrinya.
****
Rena menggeliat dalam tidurnya, kemudian menatap sekeliling kamarnya, ia baru sadar jika sejak tadi ia tertidur di kamar Misel. Anak itu sejak tadi merengek ingin datang ke rumah sakit, perkara Rena mengatakan bahwa ia mempunyai Papa baru. Karena hari sudah malam mana mungkin Rena membawa putrinya ke rumah sakit, alhasil ia berusaha membujuk Misel jika besok baru ia akan mengantarkannya. Rena harus membacakan buku dongeng Misel, sampailah ia ketiduran. Tapi, ini aneh biasanya suamimya itu akan mengecek dirinya, kalaupun ia tertidur di sana, Alby biasanya akan sigap menggendong dan membawanya ke kamar. Namun, kali ini tidak. Mungkin lelaki itu teramat lelah, hingga sama sekali tidak sadar kalau istrinya tidak tidur di sisinya.
Rena beranjak keluar, menuju kamarnya. Ia berniat untuk kembali tidur, namun sampainya di kamar rasa kantuknya justru lenyap, kala bayangan makanan berkuah kini terlintas dalam otaknya. Tak sadar bahkan ia sampai menelan ludahnya.
Mengusap perutnya, Rena menatap suaminya yang tidur begitu lelap. Rasanya ia tidak tega untuk membangunkannya, tapi kalau tidak dibangunkan ia sendiri tidak akan bisa tidur sampai keinginannya terpenuhi.
“Abang, bangun bang.” Rena mengguncang tubuh suaminya.
“Hemm... Iya sayang. Ada apa?” jawab Alby dengan kedua mata yang masih terpejam.
“Aku ingin seblak, tapi Abang yang masakin,” ujar Rena.
“Besok ya sayang. Abang ngantuk banget,” sahut Alby.
“Aku maunya sekarang. Kalau Abang gak mau ya udah selama aku hamil, Abang gak boleh tidur seranjang sama aku,” ancam Rena, dan sontak Alby langsung duduk.
Lelaki itu langsung beringsut turun dari ranjang, keluar dari kamar menuju dapur tidak lama membawa ponselnya. Rena mengikutinya dari belakang.
Selama Alby berkutat di dapur Rena menunggunya di meja, sambil melihat sang suami yang tengah meracik bumbu. Rena menangkup kedua pipinya, sambil tersenyum menatap wajah sang suami dengan takjub.
“Ganteng banget suami aku kalau pake celemek gitu,” goda Rena. Alby hanya mendengus menatap celemek bergambar hello Kitty yang tengah ia gunakan.
“Asal kamu senang aja deh sayang,” sahut Alby seraya mengaduk-aduk telor. Setelah semuanya bumbu dan bahan siap, Alby mulai menyalakan kompor kemudian meletakkan wajan di atasnya. Kemudian ia mulai memasukkan satu persatu bumbu dan bahannya.
Hacim! Rena bersin-bersin karena menghirup aroma bumbu.
“Ini mah yang masak orangnya galak soalnya di hidung pedas banget,” celetuk Rena asal.
“Kapan sih Abang galak sama kamu, gak pernah ya sayang,” sahut Alby.
Rena hanya terkekeh, beranjak dari kursinya dengan pelan mendekati sang suami, kemudian ia memeluknya dari belakang.
“Kenapa ini? Belum matang loh, tunggu di kursi aja ya kaya tadi,” ujar Alby.
“Mau begini Abang. Biar romantis kaya di drama-drama itu,” seru Rena sambil tertawa kecil.
Alby hanya menghela nafasnya, membiarkan sang istri melakukan apa yang disukai. Jadi, ketika Alby berjalan mondar-mandir mengambil bahan, Rena pun mengikutinya dari belakang.
Lima belas menit kemudian, seblak sudah jadi.
“Dah matang sayang, tunggu di meja biar Abang pindahkan ke mangkok,” titah Alby.
Rena menurut apa kata sang suami, sementara ia kembali ke kursi, Alby menghidangkan seblaknya ke mangkok, kemudian membawanya ke depan istrinya.
Kepulan asap di atas seblaknya membuat Rena menalan ludahnya, nampaknya ia ingin buru-buru menyantapnya.
“Panas, tunggu dulu,” ujar Alby mengingatkan.
Rena mengangguk, mengambil satu sendok kuahnya, meniup-niupnya pelan, kemudian mulai memasukkannya ke dalam mulut.
“Gimana sayang?” tanya Alby pemasaran pasalnya ia hanya memasak secara asal.
“Enak!”
“Masa sih?” tanya Alby tak percaya.
“Beneran, kalau Abang gak percaya coba aja,” seru Rena.
Alby pun mengambil alih sendok istrinya, kemudian mencicipinya, ia mengerut keningnya kala merasakan rasa yang aneh.
“Wek!" Lelaki itu beranjak ke wastafel memuntahkan apa yang barus saja ia makan.
“Gak enak. Rasanya aneh, kok jadi rasa jahe sih!” sambungnya setelah mencuci wajahnya.
Rena terbahak-bahak, dan melanjutkan makanannya, karena baginya apapun yang sudah di masak sang suami itu enak. “Orang enak gini. Ya udah buat aku aja.”
“Buang aja sayang, rasanya gak enak gitu!" Ujar Alby begitu kembali menghampiri istrinya.
”Gak mau. Ini itu enak Abang,” kekeh Rena.