
Soraya mengerutkan keningnya ketika membaca proposal pengajuan kerja sama dari salah satu perusahaan yang tak asing baginya. Ia yakin semua ada kaitannya dengan masa lalunya.
"Apa sih maunya Mas Galih?" decak Soraya. Jika sampai berkas itu berada di tangan Alby tentulah putranya itu pasti akan mencak-mencak, jika mengetahui ayah kandungnya kini kembali mengusiknya.
Soraya memanggil asistennya. "Tolak kerja sama dari perusahaan ini?" titah Soraya seraya ketika sang asisten telah tiba di depannya.
"Ibu yakin?"
"Hemm, kenapa?"
"Tapi perusahaan itu berniat menanamkan saham yang besar untuk perusahaan kita. Saya pikir ini sangat bagus, apalagi untuk menunjang pabrik yang kemarin sempat bermasalah," terang Nayla menyarankan.
Soraya memijat kepalanya, "baiklah. Akan aku pikirkan lagi. Kamu boleh keluar Nay!"
"Baik Bu!"
Usai kepergian Nayla. Soraya menghela nafasnya, kemudian menatap ponselnya yang nampak bergetar sesaat.
[Bagaimana pengajuan kerja sama perusahaan kita? Kau menerimanya kan, Soraya?]
Bunyi pesan dalam ponselnya membuat Soraya kesal.
[Temui aku di Cafe Gemilang.]
Tulis Soraya untuk membalas pesan.
[Oke! Meluncur.]
Soraya hanya membacanya. Mengambil tas miliknya kemudian ia beranjak dari keluar dari ruangannya.
"Ibu?" panggil Alby yang tiba-tiba berada di sisinya, menatap dirinya dengan pandangan penuh selidik.
"Alby," sahut Soraya berusaha bersikap biasa.
"Ibu mau kemana?" tanya Alby.
"Keluar bentar nak. Ini teman ibu ngajak makan siang bareng."
Alby mengangguk. "Perasaan belum masuk jam makan siang."
"Soalnya dia buru-buru mau balik ke luar negeri. Makanya suruh ibu cepat datang," kilah Soraya.
"Ya udah ibu pergi dulu by!" Soraya beranjak pergi, meninggalkan Alby yang masih dalam kebingungannya. Lelaki itu merasa aneh dengan sikap ibunya akhir-akhir ini, seperti tengah menutupi sesuatu darinya. Alby berniat untuk beranjak mengikuti ibunya, tapi panggilan Milea mengurungkan niatnya.
Soraya menghela nafasnya ketika sudah tiba di Cafe. Ia langsung masuk dan menuju meja yang ternyata Galih sudah menunggunya di sana. Lelaki itu tampak tersenyum melambaikan tangan ke arahnya.
"Kamu mau pesan apa?" tawar Galih.
"To the point aja. Apa tujuan kamu sebenarnya?" balas Soraya.
Galih menghela nafasnya. "Hanya menjalin kerjasama memangnya tidak boleh!"
Soraya tertawa mengejek. "Tidak! Kau pikir aku tidak tau niatmu. Kau berniat menawarkan kerja sama hanya untuk mendekati putraku kan?" tudingnya. Bahkan jika selama dua bulan ini Galih sering mematai-matai dirinya pun ia tahu.
Galih tersenyum masam, mendengar kelihaian mantan istrinya yang pandai menebak apa tujuannya. "Iya!"
"Kau-"
"Dan juga mendekatimu kembali!" lanjut Galih memotong ucapan Soraya dengan cepat.
Soraya menggelengkan kepalanya, tak mengerti jalan pikiran mantan suaminya itu. "Kau pikir aku ini apa? Kau berniat memungut kembali sampah yang sudah kau buang?"
Galih mengangkat wajahnya, menatap Soraya dalam-dalam. Tak peduli akan tatapan benci mantan istrinya itu. "Aku tidak pernah membuang dirimu dan putraku, Soraya. Tapi kau justru yang pergi meninggalkanku, lalu tiba-tiba datanglah surat gugatan perceraian," pungkas Galih.
"Itu bukan keinginanku. Percayalah aku melakukannya demi melindungi dirimu dan putra kita. Papa mengancam ku, akan melenyapkan kalian. Aku tak punya pilihan lain saat itu."
Soraya terdiam mengingat kembali betapa jahatnya mantan mertuanya itu. "Aku tidak menerima alasan apapun. Yang aku inginkan saat ini adalah kau pergi menjauh dari kehidupan kami. Dan aku menolak penawaran kerja sama kita."
"Beri aku kesempatan untuk menjelaskan segalanya?" pinta Galih.
Soraya menggeleng. "Tidak ada apapun lagi yang perlu kita bicarakan. Bahagialah dengan perempuan pilihanmu."
****
Rena tengah berada di dalam ruangannya setelah selesai berkeliling mengecek pasien. Ponsel di atas mejanya bergetar adanya sebuah notifikasi pesan masuk. Perempuan itu langsung beralih mengambilnya, dan membuka pesan itu.
[Miranda dipukuli oleh teman-temannya di dalam sel, sayang. Sekarang polisi tengah membawanya ke rumah sakit]
Rena terkejut membaca pesan dari suaminya. Ia tak menyangka Tuhan membalas perbuatan perempuan itu dengan cara yang menyedihkan.
[Bagaimana bisa? ]
[Ya sayang, aku baru mendapatkan kabar dari kantor polisi. Ternyata selama ini Miranda kerap mendapatkan kekerasan dalam penjara. Hanya saja untuk kali ini yang lebih parah. Ia sampai babak belur dan pingsan.]
[Rumah sakit mana bang?] Entahlah mendadak ia juga merasa ingin tahu. Bagaimanapun Miranda tetaplah ibu kandung Misel.
[Anggara]
[Berarti rumah sakit ini ya?]
[Iya sayang. Kamu hati-hati ya, barangkali ia lepas terus berniat jahat padamu.]
Rena menghela nafasnya, membaca chat terakhir suaminya. Ia terdiam memikirkan serangakaian chat yang ia baca dari Alby tadi.
Rena memilih keluar dari ruangannya. Kakinya melangkah menuju ruang perawatan, yang di depannya tampak ada dua pilihan polisi yang berjaga, yang membuat Rena bisa tau itu ruangan Miranda.
"Silahkan Dok!" ucap Polisi. Setelah Rena meminta ijin pada polisi untuk masuk.
Rena masuk, di dalam ruangan itu Miranda berbaring tak berdaya. Semua kesombongan nyaris tak terlihat, bahkan lenyap begitu saja. Apalagi kecantikannya wajahnya, kini telah tertutup dengan perban yang menempel di sana. Bahkan tubuhnya terlihat lebih kurus dari yang terakhir ia lihat dua bulan yang lalu.
"Selamat siang, Mbak Miranda." Rena menyapa.
Miranda menoleh, dan melihat Rena tengah melangkah kaki ke arahnya.
"Untuk apa kau datang? Mau menertawakan keadaanku?" ujar Miranda. Ia pikir Rena datang karena merasa senang mendengar keadaan dirinya yang sangat menggemaskan.
"Aku hanya berniat untuk menjenguk. Dan tau keadaan mu. Syukurlah kalau kau masih terlihat sehat," ujar Rena.
Miranda menoleh ke arah Rena. "Kau bilang apa? Menjengukku?"
Rena mengangguk yakin.
"Kau tidak salah? Aku ini manusia jahat. Aku iblis jahat yang berwujud manusia. Dan seharusnya aku itu sudah mati tak perlu berada di sini!" imbuh Miranda.
Rena menarik nafasnya, sebelum kemudian menjawab ucapan Miranda. "Ya kau memang jahat? Kau iblis yang berwujud manusia. Mana ada seorang ibu yang tega mengorbankan anaknya. Kau lebih kejam dari binatang. Bahkan binatang pun tau cara memberi kasih sayang terhadap anaknya, dan kau? Lima tahun setelah kepergian mu setelah kau menorehkan luka pada putrimu. Dan kau kembali dengan cara yang tak terduga. Kau jahat Miranda? Kau berniat membawa putrimu, untuk kau korbankan." Rena memalingkan mukanya, saat merasakan sesuatu yang hangat keluar dari pelupuk matanya. Entah apa pun yang berhubungan dengan penderitaan Misel, Rena pun bisa merasakan sakitnya.
Miranda masih terdiam, dengan pemikirannya sendiri.
"Tapi apapun yang telah terjadi kau tetaplah ibu kandung Misel. Kau yang mengandung dan melahirkannya. Aku hanya orang asing yang kebetulan datang, menjadi ibu sambung baginya!"
"Ibu?" jawab Miranda lalu detik berikutnya ia pun justru tertawa kala mendengar Rena kembali mengingatkan dirinya statusnya bagi Misel. Bahkan selama ini ia tak pernah menganggap Misel itu putrinya, ia berniat jahat padanya, nyaris melenyapkannya. Bagaimana perempuan itu bisa tiba-tiba hadir mencoba menasehati dirinya.
"Mbak Miranda. Misel tetaplah darah dagingmu. Tidak ada harapan baik yang aku harapkan saat ini. Selain hubungan yang baik antara kau dan Misel. Sadarlah mbak, Misel pun juga membutuhkan dirimu," sahut Rena, ia menepuk tangan Miranda lalu berniat berbalik berniat meninggalkan perempuan itu.
"Rena?"