
Alby dan Rena menatap haru ke arah monitor di mana di sana terlihat bayi dalam kandungan istrinya. Tubuh mungil itu mampu menggetarkan hati Alby, rasanya ia ingin menangis haru. Seperti jadwal yang Rena katakan, jika hari ini keduanya akan melakukan cek kandungan. Ya dan di sinilah keduanya kini keduanya berada, di dalam ruangan seorang dokter kandungan.
Alby dan Rena merasa lega setelah mendengar bahwa semua baik-baik saja. Setelah selesai keduanya lantas keluar dari ruangan dokter kandungan itu.
“Abang mau ke kantor hari ini?” tanya Rena begitu keduanya keluar dari ruangan dokter kandungan.
“Ya sayang, tapi nanti dulu. Abang kok lapar,” sahut Alby seraya mengusap perutnya yang terasa keroncongan. Karena tadi ia buru-buru ke rumah sakit saat mengingat ada janji dengan istrinya, hingga ia belum sempat makan siang.
“Ya udah Abang makan dulu,” saran Rena.
“Hemm... Tapi, temanin ya.”
“Loh–”
“Kamu masih ada waktu istirahat kan sayang?” tanya Alby.
Rena mengangkat pergelangan tangannya melihat arlojinya, kemudian mengangguk. “Dua puluh menit lagi.”
“Ya udah ayo gas. Di kantin rumah sakit aja, gak usah jauh-jauh. Aku gak mau kamu kelelahan,” kata Alby seraya menggiring istrinya dengan pelan dan hati-hati.
Begitu tiba di sana Alby langsung memesan makanan. Di rumah sakit tentu saja hanya ada makanan sehat yang tersedia.
“Abang, bulan depan nanti kita belanja keperluan bayi kita ya,” ujar Rena di sela-sela menemani sang suami makan.
“Hemm... Ya, gimana maunya kamu aja sayang.”
“Kira-kira anak kita laki-laki apa perempuan ya bang?” tanya Rena sambil menangkup kedua pipinya.
Lelaki berkacamata bening, di depannya itu tersenyum. “Kamu maunya apa?” tanyanya balik.
“Abang dulu dong. Kalau Rena mah apa saja bang, yang penting dia sehat.”
Alby mengangguk mendengar penuturan istrinya, “ya sama. Abang juga harapannya begitu.”
“Amin... Tapi, aku kan juga maunya Abang itu nebak jenis kelamin anak kita,” ujar Rena.
“Emmm.... Laki-laki,” tebak Alby setelah berpikir sesaat.
“Kenapa bisa laki-laki?”
“Karena kamu makin cantik,” jawabnya asal.
“Bohong!” tukas Rena dengan bibir manyun. “Menurut mitos yang beredar kalau mengandung anak laki-laki, wajahnya itu kusam dan jelek, kadang malah ada yang jerawatan. Abang kan tahu aku sekarang gak suka dandan. Ini Abang pasti lagi bohong,” sambungnya dengan wajah bertekuk kesal.
Alby menghela nafasnya, meredam rasa kesalnya. Padahal ia kan menjawab sesuai apa yang ia rasakan, kenapa malah jadi masalah. “Kata siapa sayang?”
“Itu ibu-ibu komplek Bang. Aku kan sekarang tiap pagi ke tukang sayur buat belanja. Kata ibu-ibu nebak gitu bang,” tutur Rena.
Alby berdecak, “besok lagi gak usah ke tukang sayur.”
“Lho kenapa? Aku suka kok berbaur sama ibu-ibu komplek. Lagian ya bang, daripada kita ke supermarket yang jelas-jelas pemiliknya adalah orang kaya, mending kita bantu beli dagangan orang kecil, kaya tukang sayur itu.”
Alby memijat kepalanya, bukan masalah membantu tetangga. Masalahnya ia kurang suka karena setiap istrinya pergi ke tukang sayur, ad saja tingkahnya. Nah contohnya ini, mempercayai mitos. “Abang tahu sayang. Hanya saja Abang pusing kamu jadi percaya mitos yang baru kamu katakan tadi. Terus jadinya nuduh Abang gitu.”
Rena terkekeh. “Bercanda bang. Masa gitu aja ngambek. Aku juga tahu itu mitos. Aku percaya kok kalau aku emang cantik,” sahutnya seraya mengibaskan rambutnya, kemudian mengedipkan salah satu matanya menggoda sang suami. Alby melongo melihat tingkah istrinya.
“Pulang aja yuk?” ajak Alby.
“Ngapain?”
“Kita ulang adegan once again. Abang jadi pengen nengok Dede bayi,” sahutnya.
****
“Sayang?” panggilnya membuat Alena menoleh.
“Lho kok balik lagi? Ngapain?” cecar Alena.
Ryan berdecak, kalau memang tebakannya itu benar istrinya itu hamil, benar-benar anak yang di kandungnya itu, harus ekstra mengusap dada. Baru di dalam perut aja udah menguasai ibunya banget.
“Ini. Mas dari apotik beli ini.” Ryan memberikan kantong kresek yang berisi beberapa jenis alat tes kehamilan pada Alena.
“Apa ini Masry?”
“Testpack.” Ryan menjawab santai seraya mengambil minuman di atas nakas, kemudian meneguknya sedikit. “Aduh racun apa ini yang Mama buatin,” sambungnya kala merasakan minuman yang sama sekali tidak enak, dan itu adalah buatan Mamanya.
Alena tertawa melihatnya. “Rasakan!”
Ryan jadi melongo melihat istrinya begitu bahagia. “Udah sana dipakai ke kamar mandi. Mas tungguin sebelum kembali ke rumah sakit,” titahnya.
“Buat apa Masry?” keluh Alena.
“Tes kehamilan sayang. Buat mastiin aja tebakan Mas. Nanti kalau memang benar, besok baru Mas bawa kamu ke rumah sakit.”
Alena mengerutkan keningnya. “Hamil?”
“Tingkah kamu yang aneh bin ajaib ini, bisa jadi salah satu penyebabnya,” ujar Ryan lelaki itu memilih duduk di atas kursi rias istrinya, karena kalau berdekatan bisa jadi ia akan kenapa timpukan bantal. “Bukan hanya itu sayang. Coba deh kamu ingat-ingat terakhir kamu datang bulan. Kayaknya kok kamu udah telat,” sambungnya.
“Ihh tahu banget sih jadwal aku datang bulan. Aku aja gak ingat,” decak Alena seraya beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, dengan membawa kantong kresek yang di beli sang suami.
Ryan tersenyum. “Tahu lah. Karena aku tahu kamu itu pelupa.”
Beberapa saat kemudian, Ryan masih mondar-mandir di depan pintu kamar mandi menunggu istrinya keluar dari sana. Pasalnya sudah setengah jam yang lalu istrinya itu berada di dalam tak kunjung keluar.
“Sayang, kok lama banget. Mas cemas ini, kamu gak apa-apa kan. Apa mual lagi? Mas dobrak ya pintunya?" teriak Ryan.
“Sebentar Masry, satu lagi.”
Ryan mengerutkan keningnya bingung, apanya yang satu lagi. Perasaan dari tadi istrinya menyebutkan kata tiga lagi, dua lagi, dan sekarang satu lagi.
Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka Alena keluar dengan wajah yang penuh dengan keringat.
“Sayang, kamu kok sampai keringat begitu? Kamu tahu kan cara makainya?” cecar Ryan khawatir. Namun, perempuan yang mengenakan daster rumahan berwarna kuning itu hanya tersenyum.
“Ini buat Masry.” Alena memberikan dua puluh testpack pada suaminya, kemudian beranjak ke ranjang.
Ryan melongo menatap testpack di tangannya. “Sayang ini kamu pakai semua?”
“Iyalah. Biar gak disuruh balik lagi. Soalnya aku kan lemes. Masry malah maksa-maksa,” omel Alena.
Ryan meringis merasakan kepolosan istrinya, mengambil salah satu testpack di tangannya. “Kamu tahu hasilnya?”
“Enggak. Aku cuma baca cara makenya doang, udah.”
Ryan tersenyum menatap dua garis merah yang ditujukan oleh alat tes kehamilan itu. Kemudian ia dengan cepat berlari lalu memeluk istrinya. “Kamu hamil sayang. Makasih ya, mas senang banget," ucap Ryan menghujami sang istri dengan kecupan. Sementara Alena hanya terbengong.
“Kamu kok diam aja sih?" protes Ryan.
“Aku beneran hamil?”
“Iya.”
“Kalau gitu aku boleh minta hadirin BTS dong.”
“Apa??!!”