Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Penjara



Brakkk!!!


Alby dan Ardan berhasil mendobrak pintu kamar Miranda.


"Misel?" ucap Alby melihat kedua tangan Misel diikat, dan mulutnya ditutup. Anak itu tertunduk di lantai, berusaha bergerak melepaskan ikatannya dan bersuara. Alby menatap putrinya miris, hatinya pun merasa pedih. Lelaki itu melangkah mendekati Misel.


"Tenanglah sayang. Ayah akan menyelamatkanmu," ujar Alby. Namun, gerakan Alby kalah cepat dengan Miranda, yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Misel, seraya mengarahkan pistolnya tepat di atas kepalanya.


"Miranda, perempuan jahanam lepaskan putriku!" teriak Alby.


Miranda tersenyum sinis. Wajahnya menyeringai marah, tatapannya mengarah pada Alby, Ardan beserta polisi yang berdiri di belakangnya, nampak mereka pun membawa senapan tajam yang mengarah pada dirinya. Miranda merasa nasibnya diujung tanduk.


"Tidak! Turunkan senjata kalian. Atau aku akan menembak putri tercintamu ini. Mengantarkan pada jurang neraka," ancam Miranda.


"Kau, benar-benar iblis. Dia putrimu, ibu macam apa dirimu." Alby menunjuk Miranda marah. Lalu menoleh pada polisi yang ia bawa, untuk memberi perintah menurunkan senjatanya.


"Aku tidak peduli. Karena sejak dulu aku memang tidak menginginkannya," sergah Miranda.


Misel semakin menunduk takut, seluruh tubuhnya gemetar. Pun jika ia selamat, ia merasa batinnya terguncang, psikisnya mungkin akan merasa trauma.


"Jika kau tidak menginginkannya untuk apa kau kembali, sialan!" Alby mengumpat marah.


Miranda menyeringai. "Kau yakin tidak tau tujuanku, Al." Perempuan itu beralih menatap ke arah Ardan. "Temanmu itu pasti sudah memberi tahu tujuanku kan!" sambungnya tertawa jahat.


"Kau benar-benar kejam Miranda. Sejak dulu sampai kau sekarang kau tak bisa berubah. Kau tak pantas di sebut Manusia, kau itu hanya iblis yang berwujud manusia." Alby terus mengajak Miranda bicara tak perduli meski perkataannya terus menimbulkan emosi. Saat ini yang ia perlukan hanya mengulur waktu dan membuat perempuan itu lengah. Agar dirinya ataupun Ardan bisa bergerak menyelamatkan Misel.


"Ya kau benar. Aku memang jahat, aku ini manusia jahat Al. Tapi, semua ku lakukan demi kebahagiaanku," sahut Miranda.


"Tapi tidak harus kau mengorbankan Misel kan? Di mana otakmu? Ku pikir kau lahir tanpa otak."


Miranda tertawa, seperti seorang yang hampir depresi. "Dia juga putriku kan. Bukankah sudah seharusnya aku bisa membawanya. Aku hanya meminta dirinya untuk menjadi pendonor bagi Agatha, apa itu salah?"


"Salah??? Itu salah. Dia masih terlalu dini untuk merasakan sakitnya serangkaian tes. Apalagi sampai harus masuk ke ruang operasi. Kau gila?"


"Aku memang gila? Jadi, biarkan orang gila ini melakukan apa kehendaknya!"


Alby menggeleng. "Tidak akan!"


"Aku sudah memintanya baik-baik Al. Dan kau tetap tidak mengijinkannya. Jadi, biarkan saja aku melakukan tindakan kejahatan. Kau bilang dia juga putriku kan. Aku ibunya, aku yang mengandung dan melahirkannya. Jadi, bukankah tidak ada salahnya, jika kini aku menuntut balas budi. Anggap saja apa yang akan ia lakukan nanti untuk membalas jasa ku saat mengandung dan melahirkannya ke dunia!" teriak Miranda.


Misel menggeleng, rasanya ia ingin berteriak menangis dengan kencang, mendengarkan segala ucapan Miranda. Hatinya teramat syok. Saat ini yang ia rasakan adalah sangat membenci perempuan itu.


"Sialan!" Alby mengepalkan kedua tangannya hendak maju.


"Berani kau mendekat. Nyawa putri tercintamu ini melayang!" ancamnya yang membuat Alby kembali melangkah mundur. Miranda nampak hendak menarik pelatuk pistolnya di sisi kepala Misel.


"Minggir, biarkan aku membawanya pergi. Jika kau tidak ingin melihat aku menghabisi putrimu saat ini juga," perintah Miranda.


Alby dan Ardan memilih menuruti perintah perempuan itu. Miranda bergerak dengan cepat mengambil tas miliknya, lalu menggendong paksa tubuh Misel, sementara salah satu tangannya tetap meletakkan pistol di atas kepala anak.


"Minggir aku mau lewat!" serunya. Miranda berjalan dengan langkah mundur, memastikan keadaannya aman. Miranda mulai berjalan dengan langkah maju seperti biasanya.


Dorrr!!!


Dugh!


Pluk!


Miranda jatuh meringis saat kakinya kini justru tertembak, membuat dirinya dan Misel terjatuh. Bahkan pistolnya miliknya pun entah kemana.


"Emmm...."


"Melawan perempuan seperti dirimu harus menggunakan otak yang licik!" ujar Ardan yang saat ini berdiri di hadapan Miranda. Perempuan itu marah, ia mencoba menjangkau pistol miliknya. Sayangnya, Alby langsung menendangnya.


"Ayah," lirih Misel memeluk ayahnya dengan erat. Alby merasa tubuh putrinya gemetar hebat, saat ini Misel pasti merasa sangat takut.


Lalu tatapan Miranda beralih ke arah Misel yang masih terjatuh tak jauh darinya, satu-satunya cara ia hendak mengambil Misel. Sayangnya, Alby pun bergerak cepat menggendong Misel. Lalu membuka plester di mulut Misel, dan juta ikatan di tangannya.


"Berikan dia padaku!" teriak Miranda.


"Tidak akan!"


Miranda berusaha untuk berdiri, polisi bergerak cepat meringkusnya. Namun, perempuan itu terus memberontak, hingga membuat kedua polisi itu kalah. Miranda kembali berlari mengambil pistol miliknya.


"Jika itu maumu. Maka lebih kalian mati!" ujar Miranda mengarahkan pistolnya pada Miranda dan Alby. Karena ia tau setelah inipun dirinya akan berada di penjara.


Dugh!


Dorrr!!!


Bunyi sebuah tembakan menggema di ruangan itu, di susul suara tubuh yang jatuh ke lantai. Ardan menyeringai melihat tubuh Miranda terjatuh di lantai, dan tembakannya meleset ke sembarang arah. Dan dengan gerakan cepat ia meringkus tubuh Miranda. Polisi segera mengeluarkan borgolnya untuk memborgol tangan Miranda.


"Ikut kami ke polisi!"


"Apa hak anda, lepaskan. Saya itu hanya membawa putri saya kenapa harus di tangkap!"


"Tapi anda telah melakukan percobaan pembunuhan!" seru Polisi itu.


"Nikmati kebahagiaanmu di penjara Miranda!" ujar Ardan senang. Lelaki itu tersenyum puas. Melihat Miranda di giring keluar oleh polisi.


Misel masih mendekap erat ayahnya. Ardan berlalu masuk ke dalam kamar Miranda tadi, untuk mengambil tas milik Misel. Setelahnya ketiga berlalu pergi.


Sampai di loby, mereka melihat mobil polisi yang membawa Miranda sudah berlalu pergi.


"Ayah, Misel takut," ujar Misel lirih.


Albu merasa tersayat mendengar ucapan putrinya. "Tenanglah. Kau sudah aman. Ada ayah, kita pulang. Bunda sudah menunggu di rumah."


"Iya ayah!"


Alby membawa Misel masuk ke dalam mobilnya. Bahkan sampai di dalam mobil pun, Misel masih enggan melepaskan pelukan sang ayah. Anak itu masih terus menangis sesekali merengek takut.


"Ayah?"


"Ya sayang?" Alby mengecup kening putrinya. Ardan yang menyetir di depan tampak menatap keduanya dengan rasa kasihan, kala melihat keadaan Misel yang pastinya psikisnya pun ikut terguncang. Ia berjanji akan membuat Miranda mendapatkan balasan yang stimpal.


"Ayah?" lirih Misel.


"Iya sayang, ada apa?"


"Misel takut!" Anak itu terlihat menarik nafasnya dalam-dalam. "Dada Misel sesak ayah," imbuhnya kemudian.


"Kita ke rumah sakit ya sayang?"


"Ayah, Misel...." Belum sempat Misel melanjutkan ucapannya, anak itu sudah tak sadarkan diri, membuat Alby panik.


"Ar, cepat ke rumah sakit. Misel pingsan," perintah Alby.


"Buruan Ar!!"