Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Jadi Menantu Saya



Setelah pulang kuliah Alena bukannya pulang justru main ke rumah Rena. Bermain-main dengan Kanza kelinci kesayangan Misel. Hingga sore hari ia pun merasa bosan dan mengajak Rena dan Misel untuk pergi ke Mall. Misel tentu sangat senang, ia ingin bermain ice Keating seperti biasanya.


"Kamu Le, bukannya pulang malah kluyuran sampai malam gini. Papamu nanti nyari loh Le?" ujar Rena saat keduanya telah tiba di mall.


"Biarin lah Re. Ini tuh aku lagi mode protes sama Papa biar batalin perjodohan itu. Ngenes banget hidup aku kayaknya. Skripsi belum kelar masa udah dijodohkan, dan setelah wisuda masa aku langsung disuruh nikah," keluh Alena.


"Nikah itu enak kok Le. Kan ada teman berbagi suka dan duka."


"Kalau sama orang yang kita sukai, lah kalau gak gimana. Aku aja gak kenal. Papa itu aneh banget, hanya karena dia bilang anak temannya masih single katanya cocok buat aku," ujar Alena mengingat ucapan papanya yang begitu menjodohkan dirinya dengan anak temannya. Saat Alena menolak, papanya justru mengingatkan dirinya tentang ucapannya bahwa setelah lulus kuliah Alena tak ingin bekerja justru ingin berdiam di rumah, katanya menikah dan menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang cocok untuknya. Padahal bukan itu maksudnya, Alena kan ingin jadi pengangguran sejati. Makan tidur tanpa tugas apapun. Tau begitu harusnya ia bilang saja jika ia mau bekerja.


"Udah terima aja. Aku yakin pilihan orang tua itu tidak salah," ujar Rena.


Alena menghela nafasnya. "Lagi galau gini. Aku butuh ice cream Re."


"Ya udah sana beli. Aku temanin Misel dulu ya," ujar Rena yang di balas anggukan kepala oleh Alena.


Alena memilih berlalu ke lantai dasar, karena supermarket tempatnya di sana. Selain untuk mencari ice cream ia rasa ia pun membutuhkan cemilan, supaya galaunya gak berat-berat amat. Ia akan mengenyahkan pikiran tentang perjodohan itu, biarlah nanti ia pikirkan jalan pikirannya.


Alena langsung menuju rak-rak tempat cemilan ringan, tak lupa ia membawa keranjang. Saat ia tengah memasukan cemilan dimulai dari aneka kacang, keripik dan lain-lain. Terdengar suara bentakan seorang yang begitu mengganggu. Alena menoleh dan mendapati seorang pegawai cleaning service tengah dimarahi seorang perempuan dewasa dengan rambut pirang. Tampaknya sang cleaning service itu tak sengaja menumpahkan air bekas mengepel lantai ke pakaiannya.


"Maaf Nona," kata Cleaning service itu sambil menunduk takut.


"Apa maksudmu? Apa kau tidak punya mata?" bentak perempuan itu dengan lantang, bahkan membuat banyaknya penghuni supermarket itu menoleh dan berkerumun.


"Maaf! Aku akan menggantinya," ujar sang cleaning service.


Perempuan itu tersenyum sinis dan mengejek. "Mengganti? Gaun ini adalah gaun terbaik pemberian kekasihku. Dan kau telah mengotorinya dengan air menjijikan seperti ini. Gaun ini gaun unlimited hanya ada satu pasang di dunia ini. Dengan pekerjaanmu yang seperti ini, kau pikir kau mampu menggantinya. Bahkan lima belas tahun kau bekerja pun tak akan sanggup kau membelinya," ucapnya merendahkan.


"Sudahlah, Er. Dia pun tak sengaja!" seru temannya berusaha menyadarkan, karena kini ia menjadi tontonan banyak orang.


"Biarkan saja. Aku akan memberikan pelajaran padanya. Kalau perlu sampai dipecat dari pekerjaannya."


"Jangan ku mohon. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini!" Pintanya mengiba.


"Kau pikir aku peduli. Aku akan-" perempuan itu mengangkat tangannya bersiap untuk melayangkan tamparan, tapi sesaat kemudian ia merasa tangannya hanya cukup menggantung di udara.


Perempuan itu menoleh. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan saya!" bentaknya.


"Alena. Namaku Alena Mega Frananda. Putri dari Roby Chandra, pemilik Mall ini!" Alena menghempaskan tangan perempuan ini. Tak peduli akan keterkejutan perempuan itu. "Aku tidak suka ada hama datang ke mall ini. Apalagi sukanya menindas untuk kesalahan orang kecil," imbuh Alena.


"Panggilkan keamanan, dan giring perempuan ini keluar!" ujar Alena kemudian. Ia sangat tidak menyukai orang yang sombong. Security datang langsung menggiring perempuan itu, meski perempuan itu menatap dirinya dengan tajam ia tak peduli.


AMF Pasific adalah nama Mall yang saat itu tengah Alena kunjungi. Nama itu diambil dari nama Alena, karena Roby sangat menyayangi putrinya. Karena ia memang hanya memiliki anak tunggal yaitu Alena.


"Terima kasih Nona?" ucap perempuan cleaning service itu pada Alena, yang di balas anggukan dan semangat.


Pengunjung pun kembali pada aktivitasnya. Tak jauh dari tempat Alena berada seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik, menatap Alena dengan pancaran kagum.


"Gara-gara si hama. Acara belanjaku jadi tertunda kan," keluh Alena. Perempuan itu kembali mengambil belanjaannya yang tertinggal, tak lupa mengambil beberapa ice cream. Setelahnya Alena berlalu membawanya ke kasir, untuk membayarnya.


"Oke sebentar!" Alena membuka tas miliknya berusaha mencari dompetnya. Namun, hasilnya nihil. Sementara antrian di belakangnya cukup panjang. Alena memikirkan alternatif lain, yaitu mencari ponsel untuk menghubungi Rena. Tapi, sialnya hp nya juga ketinggalan di mobilnya. Alena merasa sial banget. Apa ini balasan karena ia baru saja menjadi orang yang sok jagoan ya? Juga berusaha menghindari Papanya.


"Duh mbak saya-"


"Gabungkan saja dengan belanjaan saya," timpal perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik. Alena menoleh menatap heran, karena ia sama sekali tak mengenal perempuan itu.


"Maaf Bu, saya-"


"Saya suka sama sifat kamu yang tadi. Jarang ada perempuan yang mau membela. Di saat semua orang sibuk menonton kamu justru menjadi penolong. Anggap saja ini sebagai rasa suka saya terhadap kamu. Gak apa-apa ya di terima. Bukan maksud saya merendahkan lho, karena kamu pemilik mall ini," ucap perempuan itu lembut.


Alena tersenyum canggung. Namun, pada akhirnya ia pun mengangguk. Pegawai kasir pun melanjutkan aktivitas menghitung belanjaan. Alena menerima kantong kresek cemilannya dengan canggung. "Makasih ya Tante, nanti kalau ketemu lagi. Mudah-mudahan saya bisa mengganti uangnya," ucap Alena.


"Ehh gak boleh gitu. Saya ikhlas, kalau kamu mau ganti, saya mau sih kamu menggantinya dengan hal yang lain."


"Apa Tante?"


"Jadi menantu saya misalnya," tawarnya kemudian.


Alena melongo, apalagi ini. Ia tengah kabur dari rumah karena perjodohan, dan kini bertemu ibu-ibu juga ingin menjadikan menantu. Emang semenarik itu dirinya. Perempuan itu kembali memasukkan belanjaannya ke troly. Alena membantunya.


"Duh makasih. Ini juga putra saya, kebangetan ngantar belanja bukannya ikut masuk malah milih nunggu di mobil. Gak sopan orang tua suruh dorong-dorong troly begini. Kamu mau kan Alena bantu Tante anterin sampai ke mobil?"


"Iya Tante!" Meski sedikit terpaksa Alena pun menurut. Padahal jika di pikir kan bisa saja menggunakan pegawai supermarket laki-laki. Karena baru saling mengenal Alena pun tak enak hati jika menyarankan seperti itu. Tidak apalah, anggap saja sebagai balas jasa tadi.


Sampai di loby perempuan itu celingak-celinguk mencari keberadaan putranya. Tak lama terlihat seorang laki-laki menghampirinya.


"Udah borongnya ma?" tanyanya.


Alena merasa tak asing dengan orang itu, ia pun menoleh. "Pak Dokter?"


"Alena?"


"Kalian saling mengenal?" tanya perempuan itu yang tak lain Elena, mamanya Ryan.


Keduanya mengangguk. "Dia temannya Rena ma."


"Ohh tak pikir kekasih kamu. Soalnya waktu itu kan mama lihat kamu-"


"Ma, ayo kita pulang." Ryan langsung buru-buru memotong ucapan mamanya. Jangan sampai Mamanya itu membuka kartunya.


"Anak kurang ajar main seret aja," decak Elena karena Ryan buru-buru menyeretnya masuk ke mobil. Alena hanya menatapnya heran.


"Makasih ya Alena," ucap Dokter Ryan.


Alena mengangguk, dan berlalu masuk ke mobil.


"Tadi Tante Elena mau ngomong apa ya?" gumam Alena heran. "Ngapain di pikirkan, yang penting aku dapat makanan gratis!" ujar Alena kemudian.