
Sampainya di bengkel Miranda segera meminta montir untuk membenarkan motornya, ia juga mengatakan akan mengambilnya besok.
Di saat itu Miko datang menghampiri dirinya. Miranda dengan cepat. menghindar, tepat saat Miko hendak membuka pintu mobilnya, perempuan itu memanggil taksi.
Sret!!
Miko dengan cepat menarik tangan perempuan itu.
"Katakan ada apa? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Miko dengan perasaan marah dan bingung menjadi satu.
Miranda segera menyentak tangannya, hingga genggaman tangan Miko terlepas. "Bukankah sudah jelas yang ku katakan. Selama ini kita tidak ada hubungan apa-apa. Jadi, menjauhlah dari kehidupanku, jangan menggangguku lagi!" tegas Miranda seraya membuka pintu taksi yang sudah berhenti tepat di depannya.
Miko menatap kepergian taksi yang ditumpangi Miranda dengan perasaan kacau.
"Apa ini?" keluhnya seraya mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. "Kau pikir seenak itu memainkan perasaanku," sambungnya seraya kembali ke mobilnya. Lelaki itu memutuskan untuk mengejar taksi Miranda.
"Mobil yang belakang mengikuti kita terus ya mbak," ucap sang sopir.
Miranda menatapnya dari balik spion, ia melihat mobil Miko terus mengikuti dirinya.
"Jalan saja, Pak. Tidak usah pedulikan, kalau bisa lebih cepat lagi," titahnya sang sopir hanya mengangguk menambah laju mobilnya.
Miranda sesekali akan menatap mobil Miko yang terus mengikuti dirinya. Tatapan terlihat sendu. "Kenapa kau keras kepala sekali," lirihnya hingga tak sadar lelehan air yang hangat mengalir dari pelupuk matanya.
"Mbak itu ada tisu, barangkali anda membutuhkannya," tawar sopir.
Miranda mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
Setelah taksi berhenti tepat di depan rumahnya, ia membayar argo dan buru-buru turun dari sana.
"Sayang?"
Miranda memijat kepalanya kala melihat Miko pun kini sudah berada di dapan rumahnya. Namun, ia berusaha untuk tidak peduli perempuan itu tetap melangkahkan kakinya masuk, mengambil kunci rumahnya, biasanya semua terasa mudah. Tapi kali ini entah kenapa terasa susah terbuka.
"Biar aku bantu ya?" ujar Miko.
"Tidak perlu!" sergah Miranda menepis tangan Miko yang hendak mengambil alih kuncinya.
Miko melonggarkan dasi di lehernya, menatap Miranda dengan perasan tak menentu. "Sebenarnya kamu ini kenapa? Aku hanya pergi tiga hari dan kau sudah berubah?"
"Tidak ada apa-apa. Bukankah memang sebelumnya kita tidak ada apa-apa. Ku pikir tidak ada yang aneh, pergilah dari rumahku , aku mau istirahat. Dan aku minta kamu jangan pernah kembali!" ucap Miranda yang telah berhasil membuka pintu rumahnya.
"Semudah itu kau berkata? Apa kau tidak lihat kesungguhan aku selama ini!" kekeh Miko tak percaya.
Miranda menatap lelaki itu dengan mata memerah. "Memangnya kau pikir, kau itu siapa? Kau itu hanya anak kemarin sore, lalu kau bermimpi untuk bersanding dengan perempuan seperti diriku. Kau tau jelas kau bukan seleraku!" tukas Miranda seraya membuka pintu rumahnya.
Jleb!
Kata-kata Miranda berhasil menusuk hati Miko. Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya, dengan kedua mata memerah.
"Anak kemarin sore kau bilang?" kata Miko seraya melangkah mendekati Miranda.
Perempuan itu menelan ludahnya takut kala melihat tatapan mata Miko yang terlihat mengancam.
"Mik?" Miranda membuka pintunya, dan hendak menutupnya, ia merasa harus menghindar kemarahan lelaki itu.
Namun, usahanya sia-sia kala dengan cepat Miko mendorong pintunya hingga terbuka dengan lebar.
"Pulanglah!" usir Miranda.
"Kau bilang apa tadi? Anak kemarin sore kau bilang?" sergah Miko marah.
Miranda menggeleng takut. "Mik kau-"
Lelaki itu melepaskan dasi yang semula mengikat lehernya, membuat kedua mata Miranda membulat dengan sempurna.
"Lihat apa yang anak kemarin sore bisa lakukan padamu!" ancam Miko mulai membuka kancing kemejanya, seraya terus mengikis jaraknya. Miranda merasa takut, dan hendak berlari ke kamar. Miko yang baru berhasil melepaskan dua kancing pakaiannya, segera menarik tangan Miranda. Kemudian menghempaskan nya ke sofa.
"Miko kau mau apa?" pekik Miranda berusaha beranjak dari sana. Namun, secepat itu Miko menahannya, dan menindih tubuhnya, membuat Miranda sama sekali tidak bergerak.
"Miko jangan.... Apa yang mau kau lakukan padaku!"
"Melakukan tantangan mu. Agar kau tidak bisa meremehkan ku, bahwa aku hanyalah anak kecil yang bisa kau permainkan. Kau mau bukti kan? Biar ku buktikan apa yang anak kemarin sore ini bisa lakukan padamu!" sahut Miko dengan sorot mata tajam.
Miranda menggelengkan kepalanya. "Jangan Mik. Ini salah kau-"
"Aku tidak peduli. Sekalipun ini salah, jika memang hanya cara ini yang bisa ku tempuh untuk memilikimu, akan aku lakukan!"
"Kau gila!!"
"Aku memang gila. Dan kau yang membuatnya seperti ini," pungkas Miko, membuat Miranda kembali tertegun.
"Mik, ku mohon jangan. Pulanglah, lupakan aku."
Miko menggeram marah, kemudian membungkukkan badannya, sementara kedua tangannya mencengkram kedua tangan Miranda yang sejak tadi terus berusaha memberontak.
Miranda menggelengkan kepalanya, kala Miko terus memaksakan diri untuk mencium bibirnya. Kemudian ciumannya turun menuju leher putih perempuan itu, meninggalkan jejak kemerahan, Miranda terus memberontak menangis. Sungguh baru kali ini ia merasa sehina ini sebagai seorang perempuan, sekalipun dulu ia adalah perempuan yang jahat, tidak pernah ia menjajakan tubuhnya dengan sembarangan lelaki, tanpa ikatan yang sah. Lalu, saat ini haruskah ia berdiam pasrah di bawah kungkungan Miko. Tidak! Ia harus melakukan sesuatu, jika sampai ini terjadi. Hubungan keduanya akan semakin runyam, ia juga tidak ingin menganggung malu sebagai cap seorang janda yang murahan, cukup sekali ia dicap seorang perempuan mantan napi akibat kejahatannya pada putrinya sendiri.
"Jika kau sampai melakukannya, aku akan sangat membencimu Mik. Seumur hidupku tidak akan ada kata maaf untukmu," ancam Miranda yang berhasil menghentikan Miko. Lelaki itu menatap wajah Miranda yang berurai air mata dan keringat.
"Maaf," lirihnya seraya menyatukan kening keduanya. "Tapi aku benar tidak bisa kehilangan kamu," sambungnya. Lelaki itu segera beranjak dari atas tubuh Miranda, kemudian meluruhkan tubuhnya di lantai, kemudian menekuk kedua lututnya. Badannya nampak gemetar.
Miranda mengubah posisinya menjadi duduk, membenarkan pakaiannya yang masih acak-acakan. Kemudian menatap Miko yang masih tertunduk dengan lemah. Nampaknya lelaki pun menangis, perlahan rasa iba pun hinggap. Miranda mengulurkan tangannya hendak memegang punggung lelaki itu, ingin merengkuhnya, menjadikannya tempat bersandar seperti apa yang selama ini Miko lakukan untuknya.
"Tolong, menjauhlah dari putra saya!"
Sekelebat kata-kata itu kembali terlintas, membuat ia kembali menarik tangannya. Miranda mencoba mengatur nafasnya.
"Pulanglah Mik. Ku mohon setelah ini jangan pernah kembali lagi!" pinta Miranda memohon.
Miko menoleh ke arah perempuan itu. "Apa alasannya?"
"Mik-"
"Katakan?!!" desak Miko seraya beranjak dari tempatnya.
"Karena aku tidak mencintaimu!" kilah Miranda.
"Bohong! Aku tidak melihat pancaran cintamu untuk Pak Alby!"
"Bukan Alby," sanggahnya.
"Siapa?"
"Damian! Iya aku masih mencintainya. Pergilah, karena kehadiranmu sama sekali tidak aku butuhkan!" usir Miranda.