Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Susu Untuk Ayah



Misel berlari masuk ke dalam rumah, begitu sampai di ruang tamu ia melihat Rena, dan Alena yang tengah bermain bersama Alka. Setelah mengalami keduanya dengan takzim, ia ingin mencolek pipi adiknya, karena merasa gemas. Tapi, Rena meminta putrinya itu untuk mengganti pakaian dan mencuci tangan dan kakinya lebih dulu. Miranda hanya tersenyum simpul, mendudukkan dirinya di sebelah Rena.


Nany Ratri datang, bermaksud membantunya.


“Nany, aku mau ke dapur dulu mau menyimpan susu di kulkas,” ucapnya.


“Susu? Tumben di bawa pulang, biasanya gak tuh,” tanya Rena heran.


“Iya, soalnya susu ini nanti buat Ayah. Misel udah janji mau belikan Ayah susu, asal Ayah gak buat Bunda marah-marah lagi.”


“Tapi perasaan Ayah itu gak suka susu.” Rena masih merasa heran.


“Kata Ayah. Dia sekarang suka susu semenjak ada dedek Alka, soalnya dia harus menemani Bunda bergadang kalau malam. Tadi pagi Bunda kan marah-marah sama Ayah. Terus bunda juga teriak awas gak aku kasih.”


Rena melongo menutup mulutnya.


“Aku tanya Ayah, maksud perkataan Bunda. Kata Ayah gak akan di kasih susu. Ya udah Misel tawarin aja susu kotak, jadinya Misel ini beli buat Ayah.” Misel menghampiri Rena, memegang lembut tangannya. “Bunda jangan marah-marah lagi, kasihan dedek Alka. Tenang saja Misel beli susunya banyak, ada lima. Kalau nanti Ayah kurang besok Misel belikan lagi. Di kantin sekolah masih banyak.”


“Ya udah sana di simpan dulu,” titahnya.


Setelah kepergian Misel, tawa Alena dan Miranda meledak bersamaan. Keduanya bahkan tak peduli wajah Rena yang sudah memerah, karena malu dan kesal dengan suaminya secara bersamaan.


“Jadi Re, sekarang kamu bukan hanya menyusui Alka. Tapi juga Ayahnya juga,” ejek Alena tertawa geli.


Rena hanya berdecak, wajahnya memerah, bibirnya mengerucut ke depan.


“Alby ternyata gak mau kalah sama anaknya,” timpal Miranda yang tak kalah tertawa geli.


“Aduh perutku sampai kram ini,” keluh Alena.


“Sekarang kalian pada ngetawain aku. Tapi, lihat saja entar kalau anak kalian udah pada lahir. Aku jamin suami kalian pasti jauh lebih mesum dari suamiku," kecam Rena. Membuat Alena dan Miranda langsung terdiam, meneguknya ludahnya dengan kasar.


Masing-masing kembali mengingat sifat suaminya. Sebenarnya tidak perlu menunggu sampai lahiran pun, suami mereka juga aslinya sama, sama-sama mesum.


“Jangan gitu lah, Re. Aku lagi kesel ini,” celetuk Miranda wajahnya terlihat masam.


“Kenapa mbak?”


“Si Miko ketemu mantannya tadi,” keluh Miranda.


“Hira?” tebak Alena.


Miranda mengangguk. “Iya. Mereka terlibat kerja sama. Aku pikir juga mereka pasti akan sering bertemu.”


“Mbak percaya kan sama Miko? Dia itu meskipun tengil dan kadang aneh, dia paling menjaga perasaan pasangannya kok mbak,” ujar Alena. Karena ia tahu benar bagaimana dulu, keseringan Miko lebih mengutamakan Hira dibandingkan dengan dirinya. “Lagian mbak gak usah cemburu gitu? Kan Hira juga udah nikah,” sambungnya.


“Kata siapa? Dia masih single kok,” sahut Miranda.


Rena dan Alena tampak terkejut. “Tapi....”


“Itu juga kata Miko. Bukan aku yang ngada-ngada. Gak tahu juga maksudnya apa? Cuma aku kok khawatir kalau Miko...”


“Gak mbak!” sela Rena. “Aku tahu Miko itu sangat mencintaimu. Jangan khawatir, sahabatku itu tidak akan mungkin kembali pada Hira.”


“Kamu kan tahu, Re. Usia Miko lebih muda, dia itu sedang pada puncaknya.. anu itu lah. Sedangkan aku sekarang lagi hamil, gak cantik, kulitnya kusam. Aku tiba-tiba merasa insecure. Padahal tadi di depannya, aku bilang aku baik-baik saja. Tapi kalau di pikir nyesek juga.” Miranda menutup wajahnya merasa malu karena ternyata ia pun merasa cemburu. Mengingat lagi betapa cantik dan beningnya Zahira tadi.


“Gak usah khawatir mbak. Percaya deh Miko gak akan macam-macam.” Alena menenangkannya. “Dapetin kamu aja, dia sampai membenturkan diri ke ton pembatas jalan. Mana mungkin dia mau nyia-nyiakan kamu begitu aja mbak.”


“Tenang saja mbak. Kalau sampai dia lakuin itu. Aku akan seret dia ke Dokter Pram, biar lontongnya di sunat lagi,” ancam Rena.


Alena dan Miranda melotot ke arah sahabatnya itu. Tak ia duga Rena yang selama ini terlihat kalem, setelah melahirkan bisa menjadi seram juga.


🦋


Alby tiba di rumah pukul tujuh, dengan membawa satu box pizza pesanan istrinya.


Namun, istrinya tak menyahut barangkali lagi di kamar. Justru Misel yang berlari ke arahnya.


“Ayah bawa pizza,” pekik Misel senang. Alby meletakkan pizza itu di atas meja, tepat di ruang tengah, di mana tempat itu biasanya digunakan untuk bersantai. Terlihat jenis mainan pun berserakan di lantai yang terlapisi dengan karpet berwarna hijau.


Tak lama kemudian terlihat Rena pun menghampirinya. Menyalami suaminya dengan takzim. “Kok baru pulang sih? Aku kan mintanya jam lima udah di rumah,” protes Rena.


“Kerjaan banyak sayang. Ini aja udah Abang cepetin. Ya maaf gak tepatin janji, tapi kan yang penting Abang gak lupa pesanan kamu tuh,” tunjuk Alby pada satu box pizza di atas meja.


Kemudian, Alby mencondongkan tubuhnya. Namun, Rena spontan menahannya.


“Abang mau ngapain?” tukas Rena melotot.


“Cium kamu sayang.”


“Gak ada cium-cium. Abang belum mandi.”


Alby kembali menarik tubuhnya. “Lagi ada Misel. Abang gak malu apa nyosor mulu. Nanti dia jadi ngomong-ngomong aneh-aneh.”


“Aneh-aneh apa sih?” decak Alby seraya melonggarkan dasinya.


“Tadi pagi! Apa itu bilang susu segala. Minum tuh susu di dalam kulkas. Awas aja gak di abisin,”ancam Rena.


“Susu kulkas?”


“Iya Ayah. Aku udah belikan Ayah susu cap indomilek lima. Ada kulkas, Misel ambilkan ya.”


🦋🦋


Alby menatap lima kotak susu cap indomilek di depannya dengan tatapan geli. Sementara Rena menahan tawanya, kala melihat reaksi sang suami. Perempuan itu berpura-pura tidak peduli, dengan cara menimang Alka yang memang saat itu sudah terbangun. Terlihat Alka pun haus, Rena segera membawanya ke ranjang, lalu memberinya ASI.


“Sayang, ini susunya bisa ditukar gak?” tanya Alby memutar tubuhnya menatap istrinya.


“Kenapa? Udah kadaluarsa emang?”


Alby menggeleng. “Bukan. Maksud Abang tukar sama susu murni kamu.”


“Abang?!!!” teriak Rena melengking, hingga membuat Alka terkejut dan menangis.


“Cup cup sayang. Itu Ayahmu memang nakal ya,” ucap Rena menenangkan Alka.


“Kok aku. kan yang teriak kamu. Dia nangis juga kan karena kamu teriak,” bantah Alby.


“Aku bisa teriak karena Abang itu mancing duluan.”


“Yahh sayang...”


“Diam. Berani nyolot lagi, gak aku kasih,” ancam Rena membuat Alby sontak mengurungkan niatnya untuk membuka mulutnya. Dan beranjak duduk di sisi istrinya.


“Jangan gitulah sayang,” protesnya.


“Abang tuh sekarang punya anak lagi, sifatnya itu malah ngeselin.”


“Bercanda sayang. Masa gitu aja kamu marah,” tuturnya.


Rena mendengus sebal. Alby menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya. “Berapa hari lagi sayang?”


“Apanya?”


“Buka puasanya.”


”Tiga bulan lagi.”


“Apa?!!!"