Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Istri Saya Sibuk



Rena menatap sebuah botol obat di tangannya. Sebuah pil kontrasepsi yang baru ia beli di apotik tadi. Ya, perempuan itu memutuskan untuk mengkonsumsi pil pencegah kehamilan itu, semua untuk menjaga agar dirinya tidak hamil. Rena terdiam tengah menimbang apakah suaminya akan kecewa bila ia melakukan hal itu tanpa sepengetahuannya, atau baiknya Rena berkata jujur saja padanya.


Bukan Rena tidak ingin mengandung anak dari Alby, hanya saja ia belum siap untuk saat ini. Rena harus menyelesaikan pendidikannya di tahun ini. Ia tidak ingin kehamilannya menghambat semua itu. Terdengar egois memang. Perempuan dengan jas dokter itu menghela nafasnya, memikirkan hal ini membuat ia merasa pusing. Meski ia mulai merasa nyaman bersama suaminya.


Ceklek!


"Ren-"


Rena terkejut ketika pintu ruangan terbuka, Dokter Ryan muncul di ambang pintu, hingga membuat ia spontan menjatuhkan botol obat itu. Botol itu menggelinding berhenti tepat di depan kaki Dokter Ryan.


Lelaki tampan dengan kemeja biru laut itu membungkuk mengambil botol obat yang semula di pegang Rena.


"D-dokter?" panggil Rena seraya bangkit dari kursinya, menghampiri dokter Ryan.


"Inikan pil-"


"Oh ya, ini punya Mommy-ku!" pungkas Rena dengan cepat memotong ucapan lelaki itu, seraya merebut botol pil itu dari Dokter Ryan.


"Tante Dinda?" ujar Dokter Ryan menatap Rena dengan aneh. Tapi perempuan itu hanya mengangguk. "Usia Tante Dinda kan, udah gak memungkinkan untuk bisa hamil lagi Ren. Jadi, untuk apa mengkonsumsi pil itu. Ibumu juga dulu seorang dokter, hal seperti ini pasti paham kan," imbuhnya kemudian. Lelaki itu merasa aneh, melihat mimik wajah Rena yang terlihat gugup.


"Memangnya kenapa? Mommy-ku hanya mengatakan untuk aku membelikannya, ada anak temannya yang menitip," kilah Rena.


Dokter Ryan mengangguk, "oh begitu. Aku pikir kamu yang sendiri yang mengkonsumsi."


Mendengar itu Rena merasa terkejut, tapi detik berikutnya ia berusaha menguasai diri. "Em, Dokter Ryan ada apa kemari? Apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya Rena segera mengalihkan pembicaraan.


Dokter Ryan tersenyum tipis, "tidak ada. Inikan jam istirahat, mumpung pasien juga lagi sepi. Bagaimana kalau kita makan siang bareng."


"Tapi dokter saya-"


"Ayolah Ren. Ada Suster Santi juga kok, gak hanya aku dan kamu. Kita udah lama kan gak ngobrol dan makan bareng," desak Dokter Ryan. Pasalnya ia sangat hafal, sejak dulu Rena tidak pernah mau diajak makan berdua, untuk itu Dokter Ryan selalu melibatkan suster Santi di dalamnya.


"Em baiklah. Sebentar saya ambil ponsel dulu!" Rena berlalu mengambil ponsel tak lupa melepaskan jas dokternya.


****


"Kita meeting di mana Milea?" tanya Alby dalam perjalanan, setelah hari ini ia selesai mengisi kelas di kampus. Lelaki itu buru-buru mengurus kerjaannya.


"Cafe Pelangi," jawab Milea.


Alby mengerutkan keningnya ia nampak tidak asing dengan tempat itu, kalau tidak salah itu cafe dekat rumah sakit di mana istrinya bekerja. Mungkin nanti setelah meeting ia bisa menghampiri istrinya di sana, atau mengajaknya makan siang. Itupun jika Rena belum makan.


"Kenapa?" tanya Milea aneh melihat respon Alby yang hanya terdiam.


"Tidak ada!"


"Mukamu tuh gak bisa bohong ya By. Sejak kedatanganmu ke kantor, aku merasa ada sesuatu yang tak beres denganmu, seperti seseorang yang tengah menahan sesuatu," ejek Milea, perempuan itu memang tidak canggung meledek atasannya yang tak lain adalah teman masa kecilnya itu. "Kamu kaya Mas Ardan kalau lagi gak aku kasih jatah, wajahnya kusut, jelek, terus bawaannya uring-uringan," imbuhnya kemudian. Perempuan itu bahkan tak canggung menceritakan sifat suaminya.


"Sialan!" umpat Alby kesal. Mendengar ejekan Milea, justru kembali mengingatkan ia pada kejadian tadi pagi. Di mana hasratnya sudah sampai di ubun-ubun tiba-tiba putrinya masuk ke dalam kamarnya, menggagalkan aktivitas panasnya, hingga membuatnya harus bersolo karir di kamar membuat tangannya nyaris kram, karena miliknya tak kunjung bisa tidur, saat bayangan tubuh Rena bergelayut manja dalam otaknya.


Milea justru tertawa dengan kencang, saat dugaannya tak meleset sama sekali. Meski lelaki itu tak menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, perempuan itu pun sudah paham.


"Rena pintar banget ya, buat suaminya sefrustasi ini!" Milea terus terkekeh mengejek Alby.


Kini mobil yang di kemudian pria itu berbelok memasuki area cafe pelangi. Usai memarkirkan mobilnya keduanya pun turun, masih dengan Milea yang menahan tawanya.


Sementara Rena tengah menikmati makan siangnya bersama Dokter Ryan dan Suster Santi. Dokter Ryan terus memberikan perhatian pada Rena, sejujurnya hal itu membuat perempuan itu merasa risih, ini terlalu berlebihan baginya.


Suster Santi tersenyum menatap keduanya. "Kalian berdua cocok loh? Kayaknya kalian berjodoh deh," celetuknya.


Uhuk! Uhuk!


Rena tersedak mendengar penuturan Suster Santi. Sementara Dokter Ryan langsung sigap mengulurkan minuman pada Rena, yang langsung di teguk habis olehnya.


"Maaf, Ren!" lirih Suster Santi menyesal.


Dokter Ryan justru tersenyum mendengar penuturan Suster Santi. Ia merasa senang ada yang mengatakan hal seperti itu, memang sejak dulu ia sudah menaruh hati pada Rena. Hanya saja, ia yang tau Rena tak suka berpacaran. Belum lagi ia pun tahu bahwa Rena masih menjalani pendidikan mengejar gelar S2 nya. Dokter Ryan pikir ia akan mengungkapkan perasaannya suatu saat nanti, tapi bisakah ia menunggu selama itu. Rena itu cantik, pintar, pasti banyak lelaki yang menginginkannya. Ia takut kalah start.


"Aku ke toilet dulu ya, perutku sakit!" Suster Santi berlalu dari sana, tanpa menunggu persetujuan keduanya.


Sementara itu, Alby yang baru selesai meeting dengan rekan bisnisnya kini pun bermaksud mengajak istrinya makan siang. Ia mengambil ponsel untuk menghubunginya, terhubung namun tak di jawab.


"Kayaknya lagi sibuk. Lagi ada pasien kali ya, jangan-jangan ia belum sempat makan lagi, aku samperin aja kali ya." Alby beranjak berniat menghampiri Rena ke rumah sakit.


"Lho mau ke mana?" tanya Milea.


"Ke tempat Rena mau ngajak makan siang, dia gak bisa di hubungi," ujar Alby.


"Ngapain? Itu istrimu di sana sedang makan siang." Milea menunjuk meja di ujung dekat jendela, Alby mengikuti petunjuk Milea. "Tinggal samperin aja By kalau mau makan bareng. Aku juga tadinya mau makan siang bareng mas Ardan, ehh dia sibuk lagi," tambahnya.


Alby mengepalkan kedua tangannya melihat istrinya tengah makan bersama rekan kerjanya. "Gak usah cemburu gitu. Samperin aja baik-baik. Itu pasti teman kerjanya, kaya aku dan kamu gini. Aku gak mau ya kamu ribut-ribut, datang-datang menonjok pria itu. Kamu harus ingat By. Pernikahan mu itu bersifat rahasia," kata Milea mengingatkan pasalnya ia paham bahwa sahabatnya sekaligus atasannya itu tengah cemburu melihat kebersamaan Rena dengan seorang pria.


Dengan perasaan dongkol, Alby berjalan ke meja Rena dan dokter Ryan. Saat itu dokter Ryan hendak membersihkan sisa makanan di sudut bibir Rena. Sementara Rena tetap asik melanjutkan makannya.


Brukk!


"Maaf-maaf!"


Alby berpura-pura menabrak kursi lelaki itu, hingga membuat tisu yang di genggam jatuh. Dokter Ryan dan Rena menoleh.


"Pak Alby?" seru Dokter Ryan ramah pasalnya ia ingat lelaki itu adalah ayah dari pasien yang pernah ia tangani.


"Abang?" lirih Rena.


Alby menatap tajam ke arah Rena, membuat perempuan itu bergidik ngeri, ia paham pasti suaminya salah sangka melihatnya kini.


"Iya! Maaf ya dokter. Saya tadi gak sengaja," kilah Alby padahal dalam hati ia ingin melakukan hal yang lebih, menonjok mukanya misalnya, lancang sekali lelaki itu hendak menyentuh wajah istrinya, meskipun menggunakan tisu ia tidak terima.


Meskipun merasa kesal tapi ia bisa apa, "iya tidak apa-apa kok pak. Lagian teman saya bisa membersihkan nodanya sendiri, tadi saya bermaksud membersihkan sisa makanan di bibirnya."


Rena terkejut, jadi karena hal itu suaminya berpura-pura menabrakan dirinya. Rena segeralah mengambil tisu membersihkan bibirnya sendiri. Sementara Alby beralih menatap Rena dengan kesal.


"Pak Alby sedang ap-"


"Saya ikut gabung ya dokter. Sebenarnya saya sedang menunggu istri saya, tapi sepertinya ia sangat sibuk, sampai telpon saya pun tidak di angkat. Padahal saya sangat ingin sekali makan siang bersamanya," ujar Alby langsung mengambil menempati salah satu kursi di sana, sementara tatapannya mengarah pada Rena dengan raut wajah kesal. Rena merasa tersindir mendengarnya.


"Oh iya, Pak. Tidak apa-apa kok," jawab Dokter Ryan, meski dalam hati ia merasa keberatan pasalnya kehadiran lelaki itu begitu menganggu pikirnya.