Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Hamil Lagi



Hari berlalu. Seperti rutinitas biasanya Rena akan membuat sarapan untuk keluarga kecilnya, dengan dibantu asisten rumah tangganya.


“Sayang, dasi aku di mana ya!” teriak Alby dari lantai atas depan kamarnya.


Rena berdecak, mendengar teriakkan suaminya. Alby sama sekali tidak berubah, semakin tua justru semakin manja dengan istrinya.


“Bi dengar tidak. Suami ku teriak-teriak udah kaya di hutan,” tanya Rena pada asisten rumah tangganya itu.


“Dengar Bu.”


Rena mematikan kompornya. “Tolong nanti dihidangkan ya, Bi. Aku mau lihat bayi besarku dulu.”


Rena berlalu ke kamarnya, terlihat sang suami justru tengah mengganggu putranya tidur.


“Abang!! Jangan diganggu lagi tidur,” teriak Rena kesal.


“Cuma mau cium sayang.”


“Kamu tuh ya, Bang. Gak berubah-ubah, dari pada ganggu Alka begitu lebih baik waktunya kamu gunakan buat cari dasimu,” omel Rena.


“Udah sayang. Gak ketemu, kan Abang mau pakai yang warna navy.”


“Kan tadi udah aku siapin beserta bajunya.”


“Ya gak tahu, orang nyatanya gak ada.”


Rena menghela nafasnya. Sekarang hari-harinya terasa lebih berwarna, seperti rumah tangga pada umumnya. Ia menjadi seorang ibu, istri yang setiap pagi mengomeli suaminya. Beruntunglah ia mempunyai stok kesabaran yang tinggi.


“Ini ada!” Rena mengambil dasi suaminya yang ternyata terjatuh di bawah ranjang.


“Lho kok di situ? Kok tadi Abang gak lihat?” tanya Alby heran.


“Bukan gak lihat, pasti Abang gak nyari,” tukas Rena.


“Beneran sayang udah Abang cari. Kayaknya barang-barang Abang tuh emang mau ketemunya kalau sama kamu doang. Soalnya udah klop sayang.”


“Alasan!” cibir Rena.


“Beneran sayang. Kaya burung Abang terus ketemu sarang punya kamu itu kan pas banget, cocok terus buat kamu–”


“Diam!” decak Rena seraya mencubit pinggang suaminya, lalu memberikan dasinya. “Ini!”


Bukannya menerima dasinya, lelaki itu justru memajukan tubuhnya.


“Kok malah maju. Ini loh bang,” cetus Rena.


“Pasangin sekalian dong sayang,” sahut Alby.


Rena menyentak nafasnya, lalu mulai memasang dasi suaminya. “Abang tuh udah tua masih aja manja.”


“Manja sama istri itu tidak masalah sayang.”


“Kayaknya Abang suka banget kalau aku ngomel-ngomel!”


“Ya habis kamu ngomel aja tetap cantik sayang. Bibir kamu tuh buat Abang bergairah, kan jadi kebayang aaaa.... Sayang, aku kecekik!"


Teriak Alby saat tiba-tiba istrinya itu menarik dasinya dengan kencang. “Maaf bang... Maaf... Aku sengaja!” cicit Rena tertawa kecil seraya membenarkan ikatan dasinya.


Alby jadi melongo, mendengar ucapan istrinya yang bilang sengaja. “Kamu mau bunuh Abang ya, Re. Biar bisa cari berondong baru,” celetuk Alby.


Rena tertawa geli melihat raut wajah cemburu suaminya. “Aku kesal Abang tuh mesum banget. Setiap pagi yang diomongin urusan ranjang.”


“Maaf sayang.”


Rena mengangguk. “Tumben sih baru jam segini udah mau berangkat?” tanya Rena menepuk dada suaminya setelah selesai memasang dasinya.


“Iya sayang, soalnya emang meeting sama investornya pagi. Gak apa-apa ya nanti aku gak antar kamu berangkat kerja?”


“Iya gak apa-apa, Bang. Aku bisa membawa mobil sendiri.”


Alby mengusap rambut istrinya, lalu mencium pipi istrinya, lalu ke bibirnya. Hanya kecupan, kali ini penuh dengan sayang dan kelembutan, tidak ada nafsu hanya cinta di dalamnya.


“Beruntungnya Abang memilik istri seperti kamu sayang. Misel tidak salah memilih kamu menjadi ibu sambungnya. Abang benar-benar bersyukur sayang.”


Rena tersenyum, entah sudah ke berapa kali sang suami selalu berkata demikian. “Kalau gitu kasih aku hadiah dong?” pintanya.


Alby terkekeh, tumben sekali istrinya itu minta hadiah. “Oke! Kamu minta apa sayang?”


“Pengen liburan, Bang.”


“Bulan madu?” tanya Alby yang langsung mendapatkan tabokan dari Rena.


“Ih Alka masih bayi, bang.”


Alby tertawa geli, padahal ia hanya bercanda. “Mau liburan ke mana sayang?” tanyanya seraya menyelipkan rambut istrinya.


“Gak usah jauh-jauh, Bang. Ke Bandung aja. Tapi pengennya rame-rame.”.


“Ya sama Mbak Miranda sekeluarga, dan Alena sekeluarga juga.”


“Hemm gimana sayang. Si Miranda kan belum ada 40 hari?"


“Bukan sekarang juga, Bang. Tapi nanti-nanti, dua bulan lagi mungkin!”


Alby mengangguk. “Ya udah kamu atur aja. Abang nurut.” lelaki itu mengambil tas miliknya. “Abang berangkat dulu ya sayang,” pamitnya mengecup kening istrinya.


“Bekalnya ada di atas meja. Aku gak turun ya bang. Mau mandi.”


Karena berangkat pagi, Alby tidak sempat sarapan, jadi Rena menyiapkan bekal.


“Iya sayang.”


🦋🦋


Jam makan siang telah tiba. Rena memutuskan untuk keluar dari ruang prakteknya. Karena perutnya sudah meronta lapar. Ia harus segera makan lalu memompa ASI-nya.


Biasanya saat jam makan siang, Alby akan datang untuk mengajaknya makan bersama. Tapi, hari ini sang suami tidak bisa datang. Karena tadi tiba-tiba lelaki itu mengatakan akan berkunjung ke pabrik teh yang di Bogor, juga kemungkinan sang suami akan pulang pada malam hari.


Rena menyusuri lorong rumah sakit seorang diri. Karena ia berniat akan makan di warung nasi Padang depan rumah sakit Anggara. Tiba-tiba ia ingin sekali makan nasi Padang memakai ikan kakap, dengan daun singkong juga sambal hijaunya. Membayangkan itu membuat rasa lapar di perut Rena meronta-ronta. Biasanya kalau ada suaminya, Alby akan melarang dia makan yang pedas-pedas. Tapi karena sedang tidak bersama Alby, ia pikir saat ini ia bebas makan apapun.


Langkah Rena terhenti begitu melihat perempuan yang tak asing keluar dari ruangan Dokter Eli.


“Alena?” panggilnya. Saat menyadari sahabatnya lah yang baru saja keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan.


“Rena?” Alena melangkah mendekati sahabatnya itu.


“Kamu ngapain dari dalam?” tanya Rena.


Alena meringis mengusap perutnya yang rata. Pandangan Rena mengikuti pergerakan tangan Alena.


“Kamu hamil lagi?” tebaknya asal. Namun, tak ia duga Alena mengangguk, membuat Rena terkejut, tapi merasa senang karena kehamilan itu juga merupakan sebuah anugerah.


“Wihh gercep banget kamu sama Dokter Ryan ya,” goda Rena.


Alena mengerucutkan bibirnya ke depan. “Bukan gercep lagi. Tapi emang doyan,” jawabnya seraya tergelak.


“Udah berapa Minggu?” tanya Rena mengusap perut rata sahabatnya itu.


“Enam Minggu, Re.”


Rena tersenyum senang. “Kayaknya Tuhan jabah banget ucapan kamu waktu di rumah Mbak Miranda itu ya, Le.”


“Sebenarnya kasihan juga sama Rey aku. Dia kan harusnya masih full ASI. Tapi gimana ya.. udah terlanjur. Ini aku kebobolan Re. Sering lupa gak minum pil kontrasepsi. Masry juga suka gak ngingetin. Soalnya aku paham sih kesibukan dia gimana.”


Rena terkekeh, untuk soal lupa melupa ia pun sudah sangat paham dengan sahabatnya itu. “Terus Rey sekarang di mana?” tanya Rena karena ia hanya melihat Alena datang sendiri.


“Sama Mama Ayu di rumah!”


Rena mengangguk. “Kirain di ajak. Aku niatnya mau ajak kamu makan siang bareng.”


“Ayuk Re.”


“Tapi anakmu–”


“Aku udah telpon Mama, Rey gak rewel kok. Sebentar saja deh. Aku kangen makan berdua sama kamu Rey,” desak Alena.


Akhirnya keduanya pun berlalu keluar dari rumah sakit, untuk makan siang bersama.


“Kirain kamu mau makan sama suami kamu, Le!” kata Rena setelah tiba di warung nasi padan depan rumah sakit itu.


“Gak Re. Masry lagi sibuk banget. Dia gak akan sempat keluar. Tadi juga udah bawa bekal dari rumah sih.”


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa di like ya.


Yuk mampir di karya baruku, “Sebatas Istri Bayaran.”


aku tunggu jejaknya di sana yaa.


terima kasih.