Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Bertemu Mantan



“Jadwalku setelah ini apa, Yanti?” tanya Miko pada sang asisten.


Yanto mencebik kesal. Namun, segera membuka iPadnya, mengecek kembali jadwal atasannya.


“Setelah jam makan siang ini, anda harus menghadiri meeting dengan Pak Yusuf di cafe Kejora,” terang Yanto.


Miko menghentikan gerakan pulpennya yang tengah menandatangani berkas, menoleh ke arah asistennya dengan tatapan yang tak terbaca. “Pak Yusuf?” ulang Miko seolah ia tadi salah mendengar.


Yanto mengangguk. “Iya Tuan. Kerjasama ini sebenarnya sudah di ambil oleh Pak Irawan. Tapi berhubung Tuan besar sedang ada urusan di Malang, anda diminta untuk mengambil alih sementara.”


Miko hanya diam dengan pikiran kalut, bahkan ia mengetuk-etuk jarinya di atas meja.


Menutup iPadnya kembali, Yanto menatap atasannya dengan raut wajah bingung. “Apa ada masalah Tuan?” tanya Yanto yang tak sengaja menangkap raut wajah Miko yang terlihat gelisah.


“Tidak ada, pergilah. Nanti setelah jam makan siang kita berangkat,” usirnya. Yanto pun mengangguk keluar dari ruangan atasannya itu.


Usai kepergian Yanto. Miko menghela nafasnya. “Benar tidak sih itu Ayah dari–” Ia tak lagi melanjutkan ucapannya, mengenyahkan segala isi pikirannya. Hingga getaran benda pipih di atas mejanya berhasil mengalihkan pandangannya. Mengambil dan membuka pesan yang terdapat di aplikasi berwarna hijau. Ia tersenyum manakala mendapatkan pesan manis dari istrinya. Usai mengetuk sesuatu di sana, lalu mengirimkannya. Ia menutup kembali ponselnya, kemudian pandangannya teralihkan pada bekal makanan yang ia bawa dari rumah. Ia membawanya ke arah meja yang terdapat di sisi sofa panjang di ruangannya.


Miko hampir tidak pernah membeli makanan di luar, karena sang istri kerap sekali membawakan bekal untuknya.


“Enaknya ya punya istri. Ada yang masakin, baju rapi terus, pulang ada yang nyambut. Terus kalau lagi pengen mesra-mesraan juga gampang tinggal cap cus. Nikmat banget pokoknya, kenapa gak dari dulu aja ya aku nikah,” gumamnya seraya menyiapkan makanan yang ia bawa. Usai semua makanan itu tersaji dengan rapi.


Sebelum, menikmatinya ia menghirup aroma makanan itu. “Enaknya... Iya lah. Masaknya kan pake cinta.”


🦋🦋🦋


Mobil yang dikemudikan Yanto tiba di depan cafe Kejora. Usai memarkirkan mobilnya di parkiran VIP, keduanya lantas turun dari sana, tak lupa membawa kepentingan berkas untuk meeting.


Seorang pelayan menyambut kedatangan keduanya. Miko bertanya perihal meja yang di pesan kliennya.


“Pak Yusuf dan putrinya sudah menunggu kedatangan anda. Mari saya antar anda ke mejanya,” ujar pelayan itu.


Mengangguk kecil, Miko dan Yanto pun menurut saja kala sang pelayan mengiringnya menuju meja paling belakang, sebuah meja berbentuk persegi panjang. Seorang lelaki bertubuh tinggi, dengan rambut di sisir ke belakang rapi, mengenakan jas formal terlihat duduk dengan santai. Miko terkejut melihatnya. Bukan penampilan Pak Yusuf yang membuat langkahnya terhenti dan terkejut, melainkan perempuan yang berada di sisinya.


Perempuan cantik dengan gaun berwarna gold itu pun itu tengah berbicara dengan Pak Yusuf, postur tubuhnya dari samping pun, bisa membuat Miko paham siapa perempuan itu. Ya, Miko masih mengenalinya.


“Pak Boss!” teguran Yanto membuat Miko tersentak dan secepat itu tubuhnya kembali bereaksi. Hal itu juga membuat Pak Yusuf pun menoleh ke arah keduanya, begitu juga dengan perempuan yang di sisinya.


Wajahnya langsung memaku begitu melihat Miko. Perubahan jelas Miko rasakan, suasana hatinya mendadak buruk. Namun, demi terjalinnya kerjasama yang baik. Secepat itu ia berusaha memulihkan sikapnya, bersikap seolah semua baik-baik saja.


Usai menyalami Pak Yusuf, Miko pun menoleh ke arah perempuan itu. “Apa kabar Zahira?” sapanya.


Zahira tersenyum kaku, membalas uluran tangan Miko. “Baik.”


“Sebenarnya kami–”


“Teman!” sela Miko kemudian memotong ucapan mantan kekasihnya itu dengan cepat. Hal itu membuat Hira terlonjak menatap Miko tak percaya. Namun, secepat kilat Miko memalingkan mukanya ke arah lain.


“Oh begitu. Ya sudah silakan kalian berdua duduk.” Pak Yusuf mempersilahkan keduanya duduk. Miko duduk persisi di sisi kanan Pak Yusuf membuatnya menghadap langsung ke arah Hira. Yanto merasa Dejavu bingung akan perubahan sikap atasannya, ia berfikir ada sesuatu. “Kalian mau pesan apa dulu?” tawar lelaki setengah baya itu.


Miko menggelengkan kepalanya. “Cukup air mineral saja.”


“Lho nak Miko kenapa hanya air mineral, kita bisa bersantai menikmati makanan lebih dulu,” ujar Pak Miko.


Miko menggelengkan kepalanya. “Kebetulan saya baru makan tadi,” sahutnya. Ia tidak ingin berlama-lama di sana. Apalagi kala melihat tatapan mantan kekasihnya itu terus menelisik ke arahnya, membuatnya merasa tak nyaman.


Pak Yusuf segera memanggil pelayan untuk memesan minuman. Tak lama pelayan datang membawa air mineral. Setelah meneguknya sedikit. Miko langsung membuka obrolan seputar bisnis.


Diam-diam Hira menatap kagum ke arah lelaki itu. Seorang lelaki yang pernah ia tinggalkan, kini sudah terlihat berbeda. Menurutnya Miko terlihat lebih dewasa, berwibawa, tampak berkharisma. Bolehkah ia mengatakan menyesal telah meninggalkannya dulu?


“Aku sangat terkesan dengan visi misi perusahaan Papamu. Untuk itulah aku berniat menjalin kerjasama. Aku pikir tadi yang akan datang Pak Irawan,” ujar Pak Yusuf.


“Kebetulan Papa lagi ada di Malang,” jawab Miko.


Pak Yusuf pun mengangguk paham, karena sedikit tahu kesibukan Irawan. Lantas Yanto pun memberikan berkas-berkas kerjasama itu. Keduanya saling mencocokan. Hingga tanda tangan di atas materai pun mereka lakukan.


“Ini putri saya. Kedepannya mungkin proyek kerja sama ini akan lebih banyak ditangani oleh dia,” kata Pak Yusuf merujuk pada Hira.


Miko mengangguk paham, meski terdengar kurang nyaman karena akan lebih sering bertemu Hira. Tapi, setidaknya ia harus berusaha bersikap profesional.


“Baik. Mungkin nanti kalau ada yang ingin ditanyakan masalah kerjasama ini. Nona Zahira bisa lebih dulu mengubungi Yanto, asisten saya. Karena kedepannya mungkin saya akan lebih sibuk,” balas Miko. Sebenarnya, perkataannya itu lebih kepada bentuk penolakan, perasaannya tak akan nyaman. Bagaimanapun ia harus menjaga perasaan istrinya. Untuk itulah jika memang kerjasama ini akan memakan banyak waktu, lebih baik ia serahkan pada asistennya.


“Oh iya tidak masalah,” balas Pak Yusuf lalu menoleh ke arah putrinya. “Iya kan sayang?” lanjutnya.


“Oh.. i–iya Pa,” jawabnya gugup.


“Saya hanya ingin menjaga perasaan pasangan masing-masing. Bukankah Nona Zahira sudah menikah? Saya tidak ingin pasangan anda salah paham,” ujar Miko membuat Hira cukup terkejut.


“Suami?” ujar Pak Yusuf heran. Hira menelan ludahnya gugup.


“Iya. Bukankah putri anda ini sudah menikah?” tanya Miko santai.


Pak Yusuf menggeleng. “Mana mungkin. Putri saya ini masih single, dia belum berkeluarga. Bahkan saat ini masih melanjutkan kuliahnya,” sangkalnya.