Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kamu Jahat



Alby keluar dari kantornya dengan perasaan panik dan kalut. Ia terkejut mendengar penjelasan Ardan tentang tujuan Miranda kembali, yaitu ingin membuat Misel menjadi pendonor bagi anaknya yang berada di luar negeri. Ya Tuhan! Ibu macam apa, Miranda itu. Alby tak habis pikir dengan jalan pikirannya.


Benar, sekali jahat tetaplah jahat, itulah Miranda. Belum cukup rasa terkejutnya dengan info yang Ardan dapatkan. Ia kembali terkejut, ketika menerima telpon dari Rena yang mengatakan putrinya diculik.


"Sialan! Awas kau Miranda. Kali ini tidak akan ada ampun bagimu," ancam Alby marah.


"Duh maaf ya By. Si Teguh kemana pula, aku suruh jagain Misel kok malah bisa lalai gitu sih," dengus Ardan.


Saat ini Ardan tengah menyetir mobil milik Alby, ia tak mungkin membiarkan temannya itu menyetir seorang diri. Ia harus mencari Misel.


Sementara Rena yang saat itu tengah dalam perjalanan, tiba-tiba menepuk pundak Dokter Ryan.


"Berhentilah dokter. Sepertinya itu mobil yang mengantarkan jemput Misel. Tapi... Di mana Pak Tono?" ucap Rena heran.


Dokter Ryan pun menepikan mobilnya dan berhenti. Rena segera keluar menghampiri mobil Pak Tono. Ia melihat lelaki itu tengah merintih kesakitan di atas aspal.


"Pak?" Rena menghampirinya dengan wajah panik.


"Maaf Nyonya. Non Misel diculik oleh gerombolan preman, saya tidak bisa melindunginya. Mereka sangat banyak," ucapnya dengan meringis sakit.


Rena merasa seluruh tubuhnya melemas. Dokter Ryan langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk memanggil ambulance, karena ia tau Pak Tono harus segera mendapatkan perawatan.


Tidak lama kemudian, mobil Alby pun tiba. Lelaki itu segera keluar dan menghampiri istrinya yang tengah menangis.


"Bang. Misel bang, dia diculik," seru Rena.


Alby merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya. "Tenanglah. Misel pasti akan kembali pada kita. Percaya sama Abang."


"Apakah yang nyulik Misel itu-"


"Ya benar. Miranda pelakunya."


Tidak lama kemudian mobil ambulance tiba. Pak Tono segera di bawa ke rumah sakit.


"Pulanglah Re. Biar Abang yang urus," perintahnya karena ia tau istrinya pasti sangat syok dan khawatir.


Rena menggeleng. "Gak bang. Aku mau juga mau ikut cari Misel. Aku khawatir."


"Abang ngerti kamu khawatir. Tapi, akan lebih mudah bagi Abang jika kamu di rumah saja. Please... Abang janji pasti pulang dan bawa Misel, sayang."


"Bang?" Rena menggeleng.


Alby melepaskan rengkuhannya, lalu menoleh ke arah Dokter Ryan. "Pak Dokter, bisa minta tolong. Tolong antarkan istri saya ke rumah?" Untuk kali ini ia harus membuang keegoisannya. Ia sangat membutuhkan bantuan, tak mungkin ia membawa Rena mencari Misel.


"Baik Pak Alby!"


Alby segera menggiring istrinya, masuk ke dalam mobil.


"Bang, hati-hati ya. Janji harus pulang sama Misel dengan selamat."


"Iya sayang!"


****


"Cepat Ar. Aku takut Miranda bergerak cepat membawa Misel pergi," desak Alby.


"Sabar by. Ini macet, kita juga harus mikirin keselamatan kita by."


"Aku hanya peduli keselamatan Misel, Ar!" Ujar Alby.


Ardan berdecak dalam hati. 'Tau aku. Tapi aku juga belum ingin mati by. Ya kali anakku lahir nanti tanpa ayah.'


"Kau yakin alamatnya By?" tanya Ardan saat membelokkan mobilnya ke arah alamat yang Alby katakan.


Alby mengangguk. "Yakin! Aku memang sengaja memasang Gps di kalung yang Misel kenakan. GPS itu menunjukan tempatnya di sana."


Ardan kembali menambah laju kecepatannya, ia hanya berdoa semoga semua baik-baik saja. Ia bisa pulang dengan selamat.


Sementara itu Misel yang berada dalam apartemen Miranda terus berteriak dan menangis.


"Aku mau pulang?"


"Ya kamu akan pulang tapi bersama Mama nak," ujar Miranda seraya merapikan barang-barangnya. Ia pikir ia harus segera check out dari negara ini. Sebelum Alby kembali mengetahui dan mengambil Misel.


"Tidak mau! Aku tidak mau ikut denganmu. Kamu jahat!" teriak Misel ia berlari berusaha memukuli Miranda menggunakan tangan mungilnya.


Miranda segera menahan tangannya erat. "Aku ini ibumu."


Misel menggeleng, dengan air mata berderai. "Tidak. Aku tidak mau punya mama yang jahat. Kamu jahat, kamu tidak menginginkan aku. Aku tidak mau. Aku mau pulang ke rumah Ayah dan Bunda!" Bagi seorang anak kecil seperti Misel terlampau dini untuk mengetahui permasalahan orang tuanya. Tapi, ia berkali-kali ia mendengar pembicaraan ayah dan Bundanya, kala menghadapi Miranda. Segala hal tentangnya ia tangkap dan rekam baik-baik. Misel juga merasa sedih dan sakit, kala mengetahui kehadirannya pun tak diinginkan. Ia marah pada Miranda, sangat marah bahkan mungkin lebih dari kata benci.


"Misel!!!!" Miranda berteriak marah, membuat Misel terkejut. Tak berselang lama Miranda berlalu membuka laci dan mengambil lakban hitam beserta gunting. Misel beringsut takut, Miranda mendekat.


"Aku akan menutup mulutmu. Agar kau berhenti berteriak!" ujar Miranda. Misel meronta. Kemudian Miranda pun mengambil tali untuk mengikat tangan anaknya itu, agar gak bisa melepaskan diri.


"Rasakan! Begitulah kalau jadi anak yang tidak menurut!" sergah Miranda. Perempuan itu menatap Misel dengan sinis, kemudian tangannya terangkat untuk memegang dagu Misel lalu kembali berkata. "Kau tau, sejak dulu aku memang membencimu. Dan kini saat kembali bertemu, sifatmu yang begitu angkuh seperti ayahmu membuatku semakin membencimu. Kalau bukan aku membutuhkan dirimu, tak mungkin mau menemui mu."


Misel menangis. Jauh dari dalam hatinya ia pun merasa terluka, ia merasa syok. Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang begitu kejam seperti Miranda. Bolehkah ia menyesal telah terlahir dari seorang ibu seperti Miranda?


Alby dan Ardan tiba di depan gedung apartemen Miranda. Keduanya langsung bergerak turun dan masuk. Di belakangnya tampak diikuti beberapa anggota polisi. Alby mengikuti petunjuk GPS yang masih menyala dalam diri Misel.


"Lantai 9 no 15," ujar Alby ketika berada dalam lift.


Begitu pintu lift terbuka, Alby langsung buru-buru menuju di mana Miranda dan Misel berada. Sampai di depan pintu, Alby bingung pasalnya pintu itu menggunakan sandi.


Miranda yang saat itu tengah menatap Misel, terkejut ketika terdengar bunyi bell pintu. "Kayaknya itu pesanan makanku datang deh," ujar Miranda karena sebelumnya ia memang tengah memesan makanan. Perempuan itu pun berlalu keluar dari kamar, membiarkan Misel dalam kondisi mengenaskan.


Tanpa mengecek dan curiga siapa yang datang. Miranda langsung membuka pintu, detik berikutnya matanya terbelalak ketika melihat siapa yang datang. Miranda hendak kembali menutup pintunya, tapi secepat kilat Alby menendangnya pintunya, membuat Miranda terkejut langsung berlari masuk ke dalam kamar, dan menguncinya dari dalam.


Alby dan Ardan mengikuti langkah Miranda. Ia berkali-kali mengetuk pintu kamar itu dengan keras.


"Miranda keluar kau? Kembalikan putriku?" teriak Alby.


"Tidak akan!" jawab Miranda.


Miranda yang berada di dalam merasa ketakutan, pasalnya ia melihat Alby dan Ardan pun membawa polisi. Perempuan itu berlalu menuju mejanya, lalu menarik laci dan mengacak-acak isinya. Kemudian ia tersenyum mana kala menemukan pistol di dalam sana.