Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Ingin Menangis



Sampai di rumah Miko terkejut mendapati Papa dan Mamanya berada di sana, menemani Miranda yang masih duduk di sofa.


“Lho Mama dan Papa kok di sini?” tanyanya heran. Tangannya meletakkan kantong kresek yang berisi belut.


Irawan mengerutkan keningnya. “Dari mana kamu kok lumpur semua?” tanyanya begitu melihat putranya terdapat banyak lumpurnya.


“Iya ih, bau!” celetuk Miranda mengibaskan tangannya. Miko melongo jelas-jelas tadi dia yang minta mencari belut.


“Kan habis dari sawah, cari belut sayang. Gimana sih? Ya bau lumpur lah.”


Irawan menganggukan kepalanya, Miranda tersenyum mendapatkan suaminya mendapatkan apa yang ia inginkan.


“Mau di apain ini sayang?” tanya Miko.


“Ya dimasak masa di makan mentah.”


“Ya udah aku ke belakang, bangunkan Bibi aja ya. Soalnya aku mau mandi, lihat ni lumpur semua. Tadi gak sengaja jatuh di sawah.”


“Gak usah bangunkan Bibi. Sini biar Mama aja yang masak belutnya.” Amira menengadahkan tangannya, meminta kantong kresek yang berisi belut pada putranya.


“Tapi Ma....”


“Udah malam, kasihan Bibi kalau dibangunkan. Lagian ini kebetulan tadi Papa pulangnya udah malam, terus gak sengaja Mama lihat Miranda lagi di depan. Akhirnya Mama tanya, katanya dia nunggu kamu. Untuk itulah jadinya Mama kemari.” Amira menjawab seraya menerima kantong kresek itu. Miko hanya mengangguk pasrah. Lagian ada benarnya juga kasihan kalau membangunkan asisten rumah tangganya.


“Emang Mama bisa masaknya?” tanya Irawan.


“Bisalah. Lagian buat calon cucu apa sih yang gak diusahakan.”


Irawan mengangguk seraya terkekeh geli menatap istrinya. “Mama masih terlalu muda ya untuk di panggil nenek?” tanyanya seraya tergelak. Mengingat usia istrinya itu memang hampir tak jauh dari Miranda.


“Iya ni, Mama kan masih cantik. Masa panggilnya nenek,” timpal Miranda. Sementara Miko sudah berlalu ke kamar membersihkan diri.


“Ya udah nanti panggilnya Enin aja. Kebetulan Mama kan orang Sunda, nanti kapan-kapan pulang ke Bandung ya Pa.” Amira berkata seraya berlalu ke dapur.


Irawan menghela nafasnya. Memang sudah beberapa bulan ia tidak pulang ke Bandung. Amira pasti rindu dengan ayah ibunya. Mungkin kapan-kapan ia akan kesana.


“Aku baru tahu kalau Mama orang Bandung,” kata Miranda pelan, yang hanya di jawab oleh senyuman Irawan.


“Papa bantu Mama dulu ya.” Irawan beranjak menyusul istrinya di dapur.


🦋🦋


Setelah mandi Miko turun ke bawah menemui istrinya.


“Belum matang ya belutnya sayang?” tanyanya.


“Belum.”


Miko menggerakkan kepalanya, melongok ke arah jalan menuju dapur. Tidak ada tanda-tanda mamanya akan keluar dari sana. Akhirnya, ia pun memilih menengoknya.


“Aduh Pa. Kamu ini bukan bantuin aku, malah mengacaukan segalanya. Udahlah kamu duduk aja di sana, ke ruang tamu temanin Miranda,” omel Amira.


“Ini lho dibantuin suami bukannya makasih malah ngomel-ngomel kamu Ma. Papa kan juga pengen berpartisipasi membuat makanan untuk cucu, masa gak boleh sih,” keluh Irawan.


Amira tak peduli mengambil alih segala kerjaan sang suami. “Lha kalau bantuinnya benar mah gak apa-apa. Ini apa bawangnya putihnya malah jadi loncat-loncat kemana-mana. Buat dapur kotor aja ini mah.”


“Apa sih ini. Udah pada tua malah ribut aja. Ingat udah mau punya cucu, damai Napa. Lagian kalau satu gak keliatan aja galaunya kaya seabad gak jumpa,” cibir Miko.


Irawan hanya melengos, malas menanggapi ucapan putranya yang pasti tidak akan ada habisnya. Amira melanjutkan masaknya. “Udahlah itu Mik, itu Papamu bawa keluar aja. Gangguin Mama masak aja,” usirnya.


“Halah pake ngusir-ngusir. Kalau di rumah aja ngusel terus,” gerutu Irawan lalu beranjak keluar dari dapur. Miko menggaruk-garuk kepalanya, melihat kelakuan orang tuanya, seketika membuat ia teringat perkataan Miranda. Hal itu kembali membuat ia sadar jika tingkahnya yang sedikit tengil berasal dari Papanya.


“Gak ma. Ini mau keluar kok, tadi kirain udah matang, makanya aku kemari.”


“Nanti kalau udah matang, Mama antar. Kamu keluar saja.”


“Iya ma.” Miko beranjak pergi.


🦋🦋


Beberapa menit kemudian, Amira kembali dengan membawa belut goreng yang tadi ia masak, memberikannya pada Miranda.


Perempuan itu menelan ludahnya melihat belut goreng di atas piring di depannya. Ia menatap ke arah kedua mertuanya, serta suaminya yang tampak tersenyum. Tiba-tiba keinginan makan belut sejak tadi itu lenyap, berganti hal yang lain. Miranda merasa aneh, dia kali ia mengandung tak pernah ia merasakan hal ngidam aneh seperti ini.


“Kamu yang makan ya sayang?” pintanya.


“Hah?” Miko melongo, menatap belut goreng di depannya, ia menelan ludahnya. Rasanya ingin menjerit, berlari demi menghindari memakan salah satu binatang itu. Bayangan binatang hitam mulut yang menggeliat dalam tali pancingnya tadi terlintas.


“Kok jadi aku? Bukannya tadi kamu yang pengen?” seru Miko pelan.


Miko meletakkan piringnya kembali, lalu mengusap perutnya. “Gak tahu. Dede bayi maunya Papanya yang makan,” serunya dengan wajah sendu.


“Gak mau ya sayang?” tanya Miranda lagi.


“Mau kok. Apa sih yang gak buat istri dan anak,” sahutnya bersikap biasa.


“Makasih ya. Kamu emang suami yang baik, pengertian.”


Miko mengangguk, sementara Miranda kembali meraih piring berisi belut itu, memberikannya pada sang suami. Miko menatap ke arah kedua orangtuanya, yang tampak tengah menahan tawanya, kala melihat expresi wajahnya saat memakan belut goreng itu.


Miko meringis, ingin menangis bukan karena haru melainkan karena rasa geli saat binatang itu telah berhasil masuk ke dalam mulutnya. Bayangan binatang itu yang menggeliat kembali terlintas. Ia berusaha untuk mengunyahnya, meski perutnya merasa mual. Maklum, seumur hidupnya baru kali ini lelaki itu memakan belut, dan itu ia lakukan demi anak istrinya.


Sungguh, rasanya Miko ingin muntah. Namun, melihat senyum istrinya, ia ikut tersenyum. Tidak sia-sia pengorbanan malam ini menganggu dokter Ryan, lalu pergi ke sawah, mencari belut selama berjam-jam. Karena hasilnya tetap membuatnya bahagia. Apa yang bisa membuat istrinya bahagia, tentu akan Miko usahakan.


“Enak ya sayang?” tanya Miranda.


“Hemm... Iya sayang.” Miko hanya menjawab dengan singkat, menahan diri untuk tak muntah saat itu juga. Ia hanya tidak ingin melihat istrinya sedih.


Beberapa saat kemudian, Amira dan Irawan pamit pulang. Miranda dan Miko pun kembali ke kamar untuk melanjutkan istirahatnya.


Tiga puluh menit kemudian.


Miko merasakan tubuhnya bergejolak, rasa mual seketika menyergap. Dengan segera ia berlari ke kamar mandi, memuntahkan segala isi di dalamnya, terutama binatang menggelikan yang ia makan tadi.


Miranda yang mendengar suara orang muntah, pun membuka matanya.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komentarnya.


Mampir juga di novelku yang on going ya judulnya ”Sebatas Istri Bayaran"