Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Teh Botol Buat Mabuk



Film terus berputar. Alena sudah kehilangan fokus karena tak sengaja kerap melihat adegan mesra di depannya. Meski ia sudah mencoba ikhlas, namun tetap saja terasa kesal melihatnya. Miko dan Zahira memang hanya sebatas suap-suapan makanan, tidak ada adegan lain.


Dokter Ryan menoleh ke arah Alena, lalu menggelengkan kepalanya.


"Cemburu?" tanya Dokter Ryan meskipun dalam hati ia juga merasa kesal.


Alena menggeleng. "No way. Alena itu dilarang patah hati," sahutnya sambil memakan pop corn. Karena memakan terlalu cepat ia hampir tersedak. Dokter Ryan langsung sigap membukakan botol minuman. Dan Alena menerima dan meneguknya, karena terlalu buru-buru meminum membuat air minum yang ia minum sebagian bercelomotan di bibirnya.


"Aduh kebiasaan gak bawa tisu aku," keluh Alena kala membuka tas nya tak menemukan sapu tangan ataupun tisu untuk membersihkan bibirnya.


"Kenapa?" tanya Dokter Ryan lirih.


"Ini lho Pak Dokter. Mau bersihin bibir tapi kok lupa gak bawa tisu."


Dokter Ryan meraba sakunya, ia pun tidak menemukan apapun di sana, kecuali kunci mobil miliknya. Sesuatu ide terbesit dalam otaknya, ia tersenyum.


"Bisa kok dibersihin, gak harus pake tisu atau sapu tangan," ujarnya.


"Hah? Terus pake apa? Baju," sahut Alena.


Dokter Ryan menggeleng, lalu menggeser tubuhnya mendekat, tak lupa ia juga memberi kode pada Alena untuk merapatkan tubuhnya. Perempuan itu menatap lelaki di depannya dengan penasaran, apakah akan menggunakan bajunya lelaki itu atau apa?


Dokter Ryan menoleh ke arah sekitar, memastikan bahwa seluruh penghuni bioskop itu tengah fokus menonton. Setelah memastikan keadaan aman, ia pun kembali menatap wajah Alena. Perempuan itu masih terdiam dengan bingung. Namun, detik berikutnya ia terbelalak ketika dengan cepat lelaki itu mengecup bibirnya, tak lupa menyapu sisa air minum di sekitar bibir perempuan itu.


Alena merasa terkejut, otaknya tak dapat berfikir jernih. Nafasnya tampak sulit diatur, dan tanpa ia duga seluruh sarafnya pun perlahan melemas. Membuat ia mencengkram erat kemeja lelaki itu.


Miko tak sengaja menoleh ke arah belakang, dan terkejut mendapati adegan di belakangnya, wajahnya nampak memerah. Dokter Ryan yang sekilas melihatnya pun menyunggingkan senyum kemenangannya.


Beberapa saat kemudian Dokter Ryan melepaskan ciumannya, kemudian mengangkat tangannya demi mengusap bibir ranum Alena.


"Sudah bersih, dan bibirmu terasa manis, buat aku merasa ketagihan," ucapnya.


Eh?


Alena masih terdiam, nafasnya masih nampak tersengal. Jantungnya bahkan masih berdetak dua kali lebih kencang dari saat pertama Dokter Ryan memeluknya. Ia merasa tubuhnya terasa lemas.


"Pak Dokter apa teh botol bisa buat kita mabuk?" tanya Alena polos seraya memijat kepalanya.


"Tentu saja tidak. Ada apa?"


"Kenapa saya merasa pusing, dan lemas. Jantungku kaya mau keluar dari tempatnya," sahutnya polos.


Dokter Ryan tergelak langsung menyandarkan punggungnya. Sejak kapan teh botol buat mabuk, apakah Alena sebenarnya tidak paham apa yang dia rasakan. Meski Dokter Ryan belum pernah pacaran sebelumnya, tapi ia tau jantung berdebar seperti itu biasanya dirasakan oleh pasangan yang jatuh cinta. Lelaki itu tersenyum... Tapi apakah yakin? Jika Alena berdebar karena dirinya, atau justru karena lelaki di depannya.


Alena kembali menyandarkan punggungnya di kursi, sesekali tangannya akan memegang bibirnya. Mengingat adegan tadi wajahnya merona, beruntung keadaan bioskop gelap.


****


Soraya dan Alby duduk di depan ruang operasi dengan perasaan cemas. Ia menunggu Dokter Ryan dan Rena keluar dari sana. Saat ini di dalam ruangan itu, Galih tengah melakukan operasi. Seperti biasa Rena hanya diminta untuk mendampingi Dokter Ryan. Jika biasanya Rena akan merasa tenang. Namun, kali ini terselip rasa takut, karena untuk kali ini menangani pasien yang justru keluarganya sendiri.


"Re, kalau kau merasa takut dan cemas. Kau bisa keluar saja, aku bisa ada para suster yang mendampingi," titah Dokter Ryan sebelumnya. Bagaimanapun ia tau menangani pasien orang terdekatnya itu tidak mudah.


Dokter Ryan baru tau jika orang yang akan ia operasi ternyata merupakan mertua dari temannya itu.


"Ya dok. Badan ku gemetar, aku keluar aja ya Dok."


Dokter Ryan mengangguk, sementara Rena berlalu keluar ruangan operasi.


"Bang?"


"Kenapa?" tanya Alby menggiring istrinya untuk duduk.


"Tidak apa-apa bang. Aku hanya tidak melakukan apapun di dalam, jadi aku diminta keluar saja oleh Dokter Ryan."


Alby menghela nafasnya. "Ku pikir kamu sakit. Wajahmu pucat."


"Aku hanya lupa memakai make-up jadi pucat," kilah Rena.


Alby hanya terdiam menatap istrinya dengan dalam. Menurutnya meski tanpa make-up Rena tetap cantik.


Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka, dan Dokter Ryan keluar.


"Dokter?"


Dokter Ryan tersenyum tipis. "Semua baik-baik saja, Bu. Operasinya berjalan dengan lancar. Kalian bisa menjenguknya nanti setelah kami pindahkan ia kembali ke ruang perawatan," jelasnya.


Alby, Soraya, dan Rena menghela nafas lega. "Terimakasih Dokter."


Dokter Ryan mengangguk dan berlalu pergi menuju ruangannya.


"Setelah Papa bisa di perbolehkan pulang, ibu bisa menikah lagi dengan Papa," ucap Alby. Rena tersenyum mendengarnya, ia pun setuju.


"By?"


"Ini yang terbaik. Kalian bisa menghabiskan waktu masa tua kalian berdua. Ibu tidak akan kesepian lagi di rumah," ujar Alby.


"Makasih ya," ucap Soraya.


"Ya ibu akan menghabiskan waktu tua ibu bersama Papamu. Dan juga cucu-cucu ibu."


Wajah Rena langsung menggelap begitu mendengar perkataan Soraya. Tampaknya perempuan itu pun keceplosan mengatakan keinginannya. "Maafin Rena Bu," ucapnya lirih kepalanya menunduk.


"Kenapa minta maaf sayang?" tanya Soraya mendekati menantunya.


Rena mengangkat wajahnya. "Rena belum bisa memberikan ibu cucu, karena Rena belum juga hamil sampai sekarang. Padahal-"


Ssst!


"Tidak usah minta maaf. Anak itu adalah suatu titipan, jika memang saat belum dikasih, kita masih menunggu. Jangan terlalu dipikirkan, fokuskan pada kuliahmu. Sekarang sedang proses skrip kan?"


"Iya Bu."


Alby mengusap punggung istrinya.


Sementara itu Dokter Ryan baru sampai di ruangannya. Ia mengerutkan keningnya begitu mendapati kotak makan berbentuk kepala sapi itu berada di atas mejanya.


"Punya siapa ini?" ucapnya penasaran. Saat ia hendak membukanya, ponsel miliknya bergetar menandakan notifikasi pesan masuk.


[Dari subuh sampai jam delapan aku berkutat di dapur demi membuatkan Pak Dokter sarapan loh, sampai-sampai aku hampir telat masuk ke kampus. Karena aku buru-buru aku menitipkan kotak makan itu pada security. Di makan ya Pak Dokter. Kalau rasanya tidak enak... Emm Pak Dokter punya foto aku kan. Foto kita waktu di taman. Nah Pak Dokter pandangi saja fotoku, di jamin langsung menjadi berselera lihat masakan aku]


Dokter Ryan tersenyum membaca pesan Alena. "Anak ini ternyata bisa goda juga," katanya sambil meletakkan kembali ponselnya.