Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Tiramisu



Seperti biasa jika menjelang tidur. Rena akan membacakan buku cerita lebih dulu untuk Misel. Biasanya lima belas menit kemudian anak itu akan terlelap. Namun, kali ini seperti ada yang tengah anak itu pikirkan. Sudah hampir satu jam Rena menunggu anak itu terlelap. Namun, Misel tak kunjung menutup kedua matanya. Menghela nafasnya, Rena menutup buku ceritanya, lalu meletakkannya di atas nakas. Rena mendudukkan tubuhnya di ranjang dengan posisi bersandar, kemudian tangannya mengusap wajah anak itu.


"Kenapa sayang? Tumben sih susah kayaknya pejamkan mata? Cerita sama Bunda kalau ada yang Misel pikirkan," ujar Rena lembut.


"Aku kepikiran Mama, Bunda." Misel mengangkat wajahnya menatap Rena sesaat dengan tatapan sendu.


"Mau telpon Mama dulu?" tawarnya. Namun, anak itu justru menggeleng membuat Rena merasa heran.


"Tadi itu, pulang dari kebun binatang Mama sempat berdebat sama Paman Miko. Sekilas aku melihat Mama hampir menangis," terang Misel membuat usapan tangan Rena terhenti.


"Berdebat karena apa sayang?" tanya Miranda cemas, ia khawatir niatnya untuk mendekatkan keduanya tadi justru berujung masalah.


"Misel gak tau. Paman Miko cuma bilang menyukai Mama, tapi Mama justru marah-marah, sampai gak mau diobati lukanya. Padahal lutut Mama saat itu berdarah karena terjatuh," tutur Misel.


Rena menutup mulutnya, tak percaya secepat itu Miko mengutarakan perasaannya. "Memangnya kenapa kalau Paman suka Mama. Bukannya tidak masalah ya Bunda? Kok Mama harus marah sih. Kan sama saja kaya aku menyukai Kanza gitu kan," celoteh Misel kemudian. Ia menganggap ungkapan rasa suka Miko pada Mamanya itu, sama seperti ia menyukai suatu barang termasuk kelinci kesayangannya.


Rena menyentak nafasnya. "Itu urusan orang dewasa sayang. Sudah malam tidurlah, jangan dipikirkan. Mama baik-baik saja, oke. Kalau Misel masih kangen besok setelah pulang sekolah minta sopir untuk antar ke butik Mama ya sayang," ujar lembut.


"Iya Bunda."


Setelahnya, anak itu perlahan mulai terlelap. Usai memastikan Misel tidur. Rena beranjak kembali ke kamarnya. Ia melihat sang suami masih sibuk dengan kerjaannya. Rena melewatinya menuju lemari, mencari pakaiannya. Setelah menemukannya ia pun mengganti pakaiannya.


Alby hanya menghela nafasnya, melihat kelakuan istrinya. Yang ganti pakaian tepat di depannya seperti itu.


"Kenapa sih bang, melihat aku begitu amat. Gak ikhlas ya, bajunya aku pakai!" cibir Rena kesal. Karena memang tujuan Rena membuka lemari ya mengganti pakaiannya dengan pakaian sang suami.


"Bukan sayang," sanggah Alby.


"Terus?"


"Kamu itu buat Abang gak konsen kalau pakai pakaian seperti itu. Bawaannya pengen nerkam kamu gitu. Pakai celana panjang juga dong sayang," ucap Alby. Pasalnya hampir tiap malam ia merasa tersiksa menahan diri kala melihat paha mulus istrinya.


"Gak mau lah gerah. Enak juga begini." Rena menolak keinginan sang suami kemudian merangkak naik ke atas ranjang.


****


Selesai membersihkan diri Alena mengambil ponsel miliknya, membawanya ke ranjang. Notif sebuah pesan dari terlihat.


Pak Dokter 📩


[Sudah tidur belum, sayang?]


Alena tersenyum membaca pesan dari calon suaminya.


"Jadi, gini rasanya punya pasangan toh. Ada yang merhatiin, senangnya," ujar Alena. Ia menggerakkan kakinya, kadang menutup wajahnya, merasa malu. Apalagi saat mengingat acara kencan tadi. Alena memegang bibirnya, wajahnya langsung merona. Untuk ketiga kalinya ia kembali merasakan manisnya pangutan bibir calon suaminya itu. Dokter Ryan tadi hanya mengajaknya makan di sebuah danau, tapi menurutnya terkesan romantis, kaya di drakor-drakor yang suka ia tonton. Ia tidak menyangka lelaki itu bisa semanis itu padanya.


Drt....drt...


Ponsel miliknya bergetar, terlihat ada panggilan masuk dari Dokter Ryan. Sesaat Alena jadi sadar, jika tadi dirinya hanya membaca pesan lelaki itu tanpa membalasnya. Pantas saja lelaki jadi beralih menelponnya. Alena buru-buru menetralkan perasaannya, sebelum kemudian ia menjawab panggilan telpon itu.


"Hallo!" sapa Alena.


"Belum tidur? Kok chat aku cuma dibaca doang, tidak dibalas?" tanya Dokter Ryan.


"Iya! Aku kan habis mandi, terus ganti baju. Jadi, belum sempat balas. Memangnya ada apa?" sahut Alena kemudian bertanya balik.


"Tidak ada apa-apa. Cuma mau bilang besok jangan lupa ke butik ya sama Mama. Kamu coba gaun pengantinnya, nanti kalau kurang cocok kan masih ada waktu lagi, buat Mbak Miranda memperbaikinya," ujar Dokter Ryan karena ia memang menggunakan jasa Miranda dalam membuatkan gaun pernikahannya.


"Iya. Iya! Terus Pak Dokter ikut gak?" tanya Alena.


Alena menghela nafasnya, nampaknya ia sedikit kecewa, pasalnya ia sudah membayangkan mencoba gaun pengantin ditemani calon suaminya. Kemudian dipuji cantik, atau saat ia keluar dari ruang ganti, Dokter Ryan akan terpesona pada kecantikannya. Tapi, semua bayangannya itu harus ia buang jauh-jauh saat mendengar mendengar alasan lelaki itu.


"Alena?" panggil Dokter Ryan membuat Alena tersentak dari lamunannya.


"Eh iya, iya..."


"Kamu marah ya?" tanya Dokter Ryan.


"Ti-tidak kok. Mana mungkin aku marah, kan ini udah jadi konsekuensinya aku mau menjadi istrinya Pak Dokter," sahut Alena cepat, meskipun dalam hati ia merasa kecewa.


"Aku tidak bisa mengambil cuti untuk waktu sekarang sayang. Aku mau ambil cuti nanti pas kita menikah. Meskipun rumah sakit itu milik keluargaku sendiri, aku tidak bisa keluar masuk kerja seenaknya. Kamu ngerti kan sayang?" tutur Dokter Ryan lembut, berharap calon istrinya itu mau memahami dirinya.


"Tentu saja. Aku ini kan pengertian mana mungkin aku marah," sangkal Alena bibirnya mengerucut ke depan. "Tapi aku hanya kesal saja mendengarnya," sambungnya kemudian lirih.


Dokter Ryan tertawa di balik telponnya, calon istrinya itu memang terlewat jujur, awalnya bilang tidak apa-apa, ujung-ujungnya tetap saja kesal. "Ya oke. Aku usahain datang nanti ya," ucapnya menenangkan.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Dokter Ryan kemudian.


"Tiduran. Pak Dokter sendiri?"


"Di atas balkon, sambil melihat bintang-bintang. Coba deh kamu keluar lihat, langitnya tampak indah."


"Males ah. Aku udah pewe. Pak Dokter pasti lagi mikirin aku juga ya," tebak Alena.


"Kok tahu?"


"Iya dong, kita kan sehati. Aku juga tiramisu," sahut Alena sambil cekikikan sendiri.


"Tiramisu itu kue yang manis itu kan?" tebak Dokter Ryan serius.


"Bukan dong," kilah Alena.


"Terus apa?"


"Tiada hari tanpa miss you!" jelas Alena kemudian.


Dokter Ryan tampak tertawa di ujung sana, bisa-bisanya calon istrinya itu gombalin dirinya.


"Pengalaman suka gombalin cowok ini pasti!" tebak Dokter Ryan.


"Ih mana ada. Anda cowok pertama yang aku gombalin lho, Pak." Alena membela diri. "Memangnya Pak Dokter gak bisa gombal. Lurus aja hidupnya!" ejeknya Alena.


"Kata siapa? Aku juga bisa!"


"Coba aku mau dengar dong Pak Dokter," pinta Alena semangat.


"Kamu tau bedanya kulkas dan kamu gak?"


Alena menghela nafasnya sebelum kemudian menjawab, "ya tentu saja kulkas barang elektronik sedangkan aku manusia. Ih Pak Dokter ini ngaco, mainnya kurang jauh, gitu aja gak tau."


"Salah!" tukas Dokter Ryan.


"Terus?"


"Kalau kulkas itu dingin, tapi kalau kamu tuh ngangenin!" ucap Dokter Ryan kemudian.


"Aduh meleleh adek, mas!" jawab Alena sambil terkikik sendiri. Bahkan ia sampai menutup wajahnya menggunakan bantal, bisa-bisanya ia baper.