Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Kaleng Atau Murni



“Tentu saja karena kau bukan ibuku!”


Amira terkejut mendengar ucapan Miko yang terdengar kencang. Mulutnya bahkan sampai terbuka secelah, ada rasa sakit yang terselip dalam hatinya. Namun, melihat kondisi Miko yang tengah tak berdaya baik dari fisik maupun psikis, perempuan itu berusaha untuk tetap sabar.


“Miko?”


“Kau bukan ibu kandungku. Jadi, mana mungkin kau tahu apa yang aku rasakan,” ucap Miko pilu. Raut wajahnya tampak menggelap, kala rasa sedih melebur jadi satu.


“Aku memang bukan ibu kandungmu. Bahkan sampai kapanpun aku tidak akan bisa menggantikan posisi ibumu di hatimu.” Amira berucap seraya menggelengkan kepalanya, kedua matanya nampak berkaca-kaca. “Ikatan darah antara kamu dan ibumu tidak akan bisa terputus, sekalipun ibumu memang sudah tiada Miko. Tidak akan bisa,” sambungnya.


Miko mengangkat wajahnya, menatap ke arah Amira.


”Tapi, aku adalah perempuan yang dinikahi Papamu, untuk menjadi ibu sambungmu. Bukan berarti aku harus mengganti posisi ibumu. Aku tidak berpikir untuk hal itu, kau menganggapku ada itu sudah lebih dari cukup.”


Miko masih terdiam.


“Apa kau berpikir jika kehadiranku telah merebut kasih sayang Papamu?” tanya Amira kemudian. Selama ini ia tidak pernah bertanya demikian karena menganggap Miko hanya belum mampu menerima kehadirannya.


“Bisa jadi! Bukankah kau lihat Papaku terlihat egois!” pungkasnya.


Amira menghela nafasnya lalu menggeleng. “Kau salah. Papamu bahkan jauh lebih menyayangimu dibandingkan aku. Dia akan melakukan apa saja demi dirimu.”


“Demi aku? Termasuk meminta kekasihku untuk menjauhiku, begitu maksudnya?”


Amira menghela nafasnya. ”Itulah kesalahannya. Papamu hanya ingin kau bahagia, namun ternyata caranya salah. Percayalah dia hanya butuh waktu. Aku akan mencoba membujuknya. Kau hanya perlu bersabar. Dibandingkan aku, kau bahkan lebih tahu sifat asli Papamu. Dia memang keras tapi hatinya mudah melunak, aku yakin itu. Percayalah tidak ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya bahagia. Yang aku tahu, mungkin ayahmu hanya belum kehilanganmu. Kau tahu Miko, dia begitu terkejut mendengar kau mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit, bahkan kau sampai di operasi. Dia menangis di sepanjang jalan, menunggu dirimu dengan cemas. Bahkan dia belum makan apapun sampai detik ini,” jelas Amira lembut.


Miko melengos berpura-pura tak mendengar. Amira menghela nafasnya, berpikir bahwa Miko mungkin butuh waktu.


“Mama akan keluar dulu menghampiri Papamu. Kamu istirahat lagi saja. Mama akan bantu bicara dengan Papamu ya,” pamit Amira seraya menepuk pundak putra sambungnya dengan ragu, karena khawatir Miko akan kembali menepisnya.


“Terima kasih, Ma.”


Ucapan Miko menghentikan langkah langkah Amira yang hendak membuka handle pintu. Ia langsung menoleh tersenyum ke arah putra sambungnya, dengan haru.


“Maaf, kalau aku baru bisa memanggilmu Mama. Aku sadar kamu perempuan yang baik, Papa tidak salah memilihmu untuk menjadi istrinya,” sambung Miko kemudian.


Dengan rasa bahagia yang membuncah, Amira kembali memutar tubuhnya, menghampiri Miko. ”Aku tak salah dengarkan? Kau memanggilku Mama?”


Miko mengangguk. “Iya ma!”


“Boleh Mama memelukmu,” pintanya penuh harap.


Miko mengangguk, dan tanpa membuang waktu Amira segera memeluk putra sambungnya itu. “Terim kasih. Mama bahagia sekali.”


Beberapa saat kemudian ia mengurai dekapannya, kemudian membingkai wajah Miko dengan tulus. “Jangan sedih, kamu tetap harus semangat. Mama akan bantu bantu dan dukung kamu. Yakinlah sebuah usaha itu tidak akan pernah mengkhianati hasil,” kata Amira memberi semangat pada Miko.


Lelaki itu mengangguk. “Iya. Terimakasih ma.”


“Ya sudah kamu istirahat. Mama akan keluar mencari Papamu.”


Setelah Miko kembali berbaring, Amira berlalu keluar dari sana dengan perasaan senang.


”Semua kondisinya baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujar Rena yang tengah memeriksa kondisi Miko.


“Tapi hatiku gak baik-baik saja, Re. Kalau kamu bisa periksa, coba deh periksa pasti terluka sangat dalam,” ujar Miko dengan wajah sedihnya.


Bukannya ikut sedih, Rena justru ingin tertawa mendengarnya. “Lebay!” cibirnya.


“Dihh gak percaya. Tanya saja aja sama Mama, iyakan Ma,” ucap Miko minta persetujuan sama Amira.


Perempuan cantik itu hanya mengangguk, mengiyakan apa yang diucapkan oleh putra sambungnya itu.


“Gini deh Mik.” Rena menarik kursi untuk mendudukkan dirinya di sana, setelah sebelumnya ia meminta suster yang ikut dengannya untuk keluar lebih dulu, karena Rena masih ingin mengobrol dengan sahabatnya itu. Tepat di saat Rena hendak melanjutkan ucapannya pintu ruangan terbuka.


“Siang semua,” sapa Alena dengan suara yang melengking, membuat ketiga orang yang berada di sana menoleh, lalu mendapati Alena datang bersama sang suami yang masih mengenakan jas dokter.


“Siang juga, Le.”


Alena melangkah masuk menyalami Amira dengan takjim. Melihat Miko tengah banyak teman, Amira berpamitan untuk keluar.


“Ni aku bawain satu pack susu kotak, biar kamu cepat pulih Mik.” Alena meletakkan satu pack susu kotak yang baru saja ia beli di indo April sebelah rumah sakit.


Miko berdecak. “Memangnya aku anak kecil, suruh minum susu.”


“Ehh jangan salah. Susu itu baik untuk pemulihan, kata Masry kan gitu. Gak hanya anak kecil yang bagus minum susu,” ujar Alena tak mau kalah.


“Gak susu kotak juga, Le.”


“Terus susu apa? Kaleng gitu? Apa susu murni?” cecar Alena sambil tertawa. “Nikah dulu lah baru kau bisa rasain susu dari sumbernya langsung, kaya Masry!” sambungnya tanpa filter. Miko dan Rena bahkan sampai melongo, sementara Ryan sudah menatap istrinya dengan kesal.


“Alena?!” tegur Ryan.


Alena meringis dengan wajah tak enak. “Maaf Masry kelepasan,” cicitnya.


Ryan memijat kepalanya, sifat Alena yang blak-blakan seperti itu memang teramat susah untuk ia ubah. Masalahnya Ryan kurang suka jika Alena membahas urusan begituan di hadapan orang lain.


“Omelin aja Pak. Emang itu istrimu kalau ngomong tanpa filter, mentang-mentang udah rasain dunia mantap-mantap,” ejek Miko.


Alena memanyunkan bibirnya, menatap sang suami dengan wajah imut dan melas. Kalau istrinya sudah memasang mode begitu, Ryan jadi tidak tega memarahinya, ia justru menjadi merasa gemas dan ingin kembali lagi menariknya ke kamar. Segera lelaki itu menepis pikiran mesumnya, kemudian mengusap kepala istrinya.


“Jangan dibiasakan,” ucapnya pelan. Alena hanya mengangguk. “Ya udah Mas balik kerja dulu ya!” pamitnya kemudian.


”Iya Masry!”


“Kamu juga cepat pulih ya Miko,” ujar Dokter Ryan sebelum berlalu dari sana.


Sepeninggal sang suami, Alena langsung berlalu menghampiri Miko. “Widih gila, kamu ternyata masih hidup. Punya nyawa ganda ya?” cibir Alena.


“Sialan!” umpat Miko kesal, Alena justru terbahak-bahak. “Bahagia di atas rasa sakit teman itu, berarti kamu teman gak ada ahlak, Le. Perlu dimusiumkan,” sambungnya kemudian.


Plak! Alena tak sengaja mendaratkan pukulan di lengan Miko, yang masih terbalut perban, membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.