
Tok! Tok!
“Alena, Ryan. Kenapa belum bangun nak. Ayo makan malam!”
Ketukan pintu membuat serta suara Mama Elena, membuat Alena mau tak mau membuka matanya. Ia melirik ke arah suaminya, yang masih betah menempel pada dirinya layaknya seorang bayi. Kulit keduanya saling bergesekan karena saat ini keduanya masih dalam keadaan polos hanya tertutup selimut tebal saja. Bukannya bangun, Ryan justru semakin mengeratkan pelukannya, dan bahkan semakin mencerukkan kepalanya di dada istrinya.
“Masry, ayo bangun.” Alena mencoba membangunkan suaminya. Mencoba melepaskan tangan Ryan dari pinggangnya.
“Jangan banyak gerak, sayang. Nanti yang di bawah bangun,” ujar Ryan dengan suara serak khas bangun tidur.
“Sudah malam, Masry. Waktunya makan malam, Mama Elena udah manggil. Lepasin tangannya, aku mau mandi,” sahut Alena.
Ryan menatap wajah istrinya, pelan ia tersenyum tipis.
“Kenapa malah senyum-senyum sih! Gak jelas!” sambung Alena mencebik kesal. Ia hendak melepaskan tangan suaminya dari pinggangnya. Namun, tetap tidak bisa.
“Mas suka gaya kamu tadi.” Ryan kembali mengingat bagaimana tadi istrinya begitu agresif. Ia sungguh tidak menyangka jika Alena bisa seperti itu. Mungkinkah karena pengaruh hormon kehamilan, kalau memang iya. Dia harus terima kasih dengan anaknya. “Nanti malam lagi ya?” sambungnya.
“Gak! Gak boleh sering-sering.” Alena mencoba mendorong tubuh suaminya. “Ini minggir lah, nanti anaknya kegencet,” sambungnya.
Ryan pun terpaksa melepaskan istrinya, kemudian Alana beranjak dari tempat tidurnya.
“Mau ke mana, sayang?” tanya Ryan.
“Mandi lah Masry. Aku tuh lapar, emangnya tiduran terus bisa buat kenyang,” cibir Alena.
Ryan menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Suara gemericik air menyadarkan ia. Senyum tepis tercetak di bibirnya. Ia pun segera beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi.
“Masry!” pekik Alena yang saat itu tengah mengguyur tubuhnya di bawah shower, dalam keadaan polos. “Ngapain? Nanti gantian aja,” tambah Alena.
“Mau mandi juga. Aku kan udah gerah banget lapar juga. Kita mandi berdua ya,” ujar Ryan yang saat ini sudah berada di depan istrinya.
Alena mendengus sebal, karena ia tahu tidak mungkin sang suami hanya mau mandi saja. Sebelum, Ryan bereaksi akan lebih baik ia segera keluar dari sana. “Ya udah Masry lanjutin. Aku udahan.”
Namun, Ryan segera menarik menarik tangan istrinya, hingga membuatnya kembali membentur dada bidang lelaki itu. Ryan memutar tubuh istrinya.
“Masry, ih.”
Tanpa di duga Ryan kembali mencium bibir istrinya di bawah guyuran shower, membuat Alena merasa kelabakan. Percayalah ciuman di bawah shower dengan air mengalir itu sama sekali tidak enak. Tidak ada kenikmatan sama sekali yang Alena rasa. Ia justru merasa sesak dan susah bernafas. Maka, perempuan itu segera mendorong tubuh suaminya.
“Jangan-jangan aneh ya Masry,” omel Alena.
Ryan terkekeh kecil. “Gak aneh kok sayang. Cuma mau ciuman doang. Pengen tahu sensasi ciuman di bawah shower dengan air mengalir.”
“Engap. Aku bisa mati kehabisan nafas dan masuk angin,” omel Alena seraya beranjak mengambil handuk untuk membalut tubuhnya, kemudian keluar dari kamar mandi.
“Jangan lama-lama, aku udah lapar Masry.”
“Iya sayang. Sebentar doang kok,” sahut Ryan.
🦋🦋
Hari ini mood Alby benar-benar buruk. Rasanya tidak ada semangat sama sekali. Pikirannya kacau, namun entah apa yang ia pikirkan. Hingga pukul empat sore lelaki itu sudah tiba di rumah.
“Lho udah pulang, By?”
Alby yang saat itu baru masuk ke rumah, menoleh mendapati ibu mertuanya tengah berada di sana menimang Alka.
“Iya Mom.” Ia segera beranjak menghampiri Dinda, lalu menyalaminya dengan takzim.
“Mommy udah dari tadi di sini?” tanya Alby kemudian.
“Iya udah dari jam satu. Bosan di rumah soalnya kan Daddy lagi di luar kota. Malam ini Mommy nginap di sini boleh kan By,” kata Dinda.
Dinda tersenyum tipis. “Kamu kok udah pulang jam segini?”
“Iya ni Mom, pusing.”
“Gak enak badan atau sedang ada masalah?”
Alby menggeleng. “Entahlah.” Setelah itu Alby pun pamit menuju kamarnya. Dinda mengamati kepergian menantunya itu dengan penuh selidik, kemudian ia tersenyum tipis mana kala merasa ada sesuatu yang memang harus ia lakukan.
Beberapa saat kemudian, Rena tengah berada di dapur. Ia hendak membuatkan teh hangat untuk suaminya. Kemudian, Dinda menghampirinya.
“Kenapa Mom?” tanya Rena.
“Kamu lagi ngapain?” tanya Dinda balik.
“Buat teh hangat buat Bang Alby katanya pusing.”
Dinda mengangguk, lalu menatap putrinya yang tampak cantik seperti biasanya. “Kamu udah sehat kan, Re?”
Rena menoleh heran ke arah Mommynya. “Aku kan selalu sehat, Mom.”
“Maksudnya jahitan bekas operasi kelahiran Alka, gimana?”
”Udah kok. Baik-baik aja, udah kering.”
Dinda tersenyum tipis. “Kalau begitu setelah ini. Kamu ajak suamimu keluar rumah ya.”
“Ngapain?”
“Ya kamu ajak makan di luar terus ke hotel. Gak usah nginap, tapi cukuplah untuk me time kalian berdua.”
Rena mengerutkan keningnya tak mengerti. “Mommy ngerti apa yang kamu pikirkan. Tenang saja, Alka dan Misel akan aman bersama Mommy. Persediaan ASI di kulkas juga masih ada kan. Jangan hanya cuma mikirin anak-anakmu, tapi suamimu juga harus dipikirkan. Mommy tahu setelah melahirkan Alka, kamu pasti jarang punya waktu berdua dengan suamimu. Makanya suamimu terlihat uring-uringan.”
Rena terdiam berpikir sesaat, mengingat kembali sifat suaminya akhir-akhir ini, yang kurang semangat. Terakhir kali mereka berduaan saat di kamar mandi saat itu. Tapi, itupun gagal karena Alka keburu menangis. Ia pikir tidak akan ada salahnya jika menuruti saran Mommynya.
“Baik Mom. Aku ke atas dulu ya antar teh buat Abang.”
“Iya sayang.”
Rena membuka pintu kamarnya dengan pelan. Membawa secangkir teh buatannya di atas meja. Sementara, Alby tengah mengganti pakaiannya. Diam-diam Rena mengamati aktivitas suaminya.
“Kenapa sayang?” tanya Alby setelah selesai mengganti pakaiannya.
“Oh tidak! Ini aku buatin teh buat abang.”
“Makasih ya.” Alby beranjak mengambil secangkir teh buat istrinya, duduk di sofa lalu menyesapnya sedikit. Setelahnya ia kembali meletakan cangkir itu ke tempat semula. Lalu, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Alby mengerutkan keningnya melihat istrinya sejak tadi menatap ke arahnya. Padahal biasanya setelah memberikan teh, Rena akan berlalu mengurus Alka.
“Ada yang ingin kamu sampaikan sayang?” tanya Alby lagi.
Rena meneguk ludahnya. “Bang, kita makan di luar yuk,” ajaknya.
“Tumben? Emang Misel pengen makan apa?”
“Kok Misel sih. Aku lah pengen makan berdua sama Abang,” rajuk Rena.
Alby terkekeh, karena memang tidak biasanya istrinya itu minta makan di luar. “Habis makan berdua kita ke hotel,” sambungnya. Seketika membuat Alby jadi mengerti tujuan istrinya.
”Benar sayang?” tanya Alby.
“Iya bang. Tapi aku mau siap-siap dulu. Pompa Asi juga buat Alka.” Rena berlalu untuk bersiap-siap.
“Okelah.” Alby langsung bersemangat mengambil ponselnya menghubungi hotel, ia memesan kamar juga reservasi makan malam romantis.