Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Diculik



Dua hari ini Rena dan Alby merasa lega karena setelah perdebatan di rumah itu Miranda tak pernah kembali datang, dan juga tak pernah mengusik Misel di sekolah. Rena dan Alby pikir, mungkinkah perempuan itu sudah kembali ke luar negeri. Meski begitu Alby harus tetap waspada, bisa saja diamnya Miranda kali ini tengah merencanakan sesuatu.


Seperti rencana sebelumnya, Alby pun sudah meminta bantuan Ardan untuk menyelidiki tentang kedatangan Miranda sesungguhnya. Sayangnya, Alby belum mendapatkan informasi apapun. Yang membuat Alby merasa curiga lantaran perempuannya itu datang bukan hanya untuk bertemu Misel, melainkan untuk membawanya pergi. Alby tetap curiga, dan merasa ada sesuatu di balik itu.


***


["Bos. Mobil jemputan putri anda sudah bergerak keluar dari sekolahannya. Tampaknya saat ini juga tidak ada pengawal yang mengikutinya."]


["Tangkap dia. Dan jangan lupa bawa putriku ke hadapanku. Karena aku harus segera membawanya pergi dari negara ini."]


["Baik boss!]


["Ingat lakukan dengan benar. Karena aku tidak ingin putriku terluka. Cari tempat yang sepi, baru kau menangkapnya."]


["Beres bos!"]


Miranda mengakhiri pembicaraan di telponnya. Tinggal menunggu orang suruhannya untuk membawa Misel ke hadapannya. Perempuan itu tersenyum penuh kemenangan.


"Rena, Alby. Kalian pikir, kalian itu sudah aman. Aku sengaja beberapa hari tidak mengusik kalian, karena dengan demikian aku tengah mencari celah untuk membuat kalian lengah. Lihat saja kejutan untukmu Alby. Misel sebentar lagi akan berada di tanganku. Agatha akan sembuh, dan aku masih bisa hidup enak, bergelimang harta. Sementara kalian akan meratapi nasib, karena kehilangan putri tercinta kalian." Miranda tertawa senang, membayangkan kehidupan yang akan ia jalani, jika semua berjalan sesuai dengan rencananya. "Ahh tunggu! Bukankah dia juga putriku. Tapi... Aku tidak pernah menginginkannya. Bagiku dia hanyalah kesialan!" imbuh Miranda tertawa jahat.


Pak Tono selaku sopir yang membawa Misel untuk pulang terkejut, begitu mendapati mobilnya dihadang oleh gerombolan pria bertubuh besar dan tinggi.


"Pak, ini kenapa?" tanya Misel takut. Ia yang duduk di bagian kursi belakang merasa saat matanya melihat ke arah luar, di mana mobilnya telah di kepung oleh gerombolan preman.


"Non.. non tenang. Biar bapak yang keluar," ujar Pak Tono. Meski ia pun merasa takut, namun ia harus tetap melindungi anak majikannya tersebut.


Misel menggeleng. "Jangan pak, ini bahaya. Hubungi Ayah saja," ucapnya dengan tubuh gemetar.


Pak Tono pun mengambil ponsel miliknya, dan mencari nomor ponsel majikannya. Namun, saat panggilan itu belum berhasil terhubung, orang-orang yang menghadangnya tadi sudah mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.


"Buka!!"


"Keluar kau. Atau mobil ini ku hancurkan!!" Mereka terus bersuara dengan nada ancaman. Misel semakin takut, ia mulai menangis.


"Bunda... Misel takut," katanya lirih meringkuk di kursi belakang.


Pak Tono tak juga kunjung berhasil menghubungi majikannya, kemudian ia beralih menghubungi Rena.


"Hallo, Pak?" Suara Rena di balik sana terdengar.


Tapi belum sempat Pak Tono menjawab panggilannya, pintu mobil sudah di buka dengan paksa. Kemudian satu orang bertubuh kekar menarik tubuh Pak Tono, hingga membuatnya ponsel lelaki itu terjatuh entah kemana.


"Kalian mau apa?" seru Pak Tono yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari orang-orang itu.


"Kami tidak ada urusannya denganmu. Minggir atau kamu akan habis," ancam mereka.


Ketika melihat orang itu hendak membuka pintu mobil bagian belakang, Pak Tono seketika mengerti bahwa Misel dalam bahaya. Ia pun kembali maju berniat menghalangi mereka.


"Jangan bawa anak majikan saya!" teriaknya.


Tapi, orang-orang itu dengan sigap menghempaskan tubuh pak Tono, hingga membuatnya berhasil mencium jalanan yang beraspal.


Misel semakin beringsut takut. Ia berteriak. "Bunda....Ayah.. Tolong Misel. Huhuhu..." Anak itu berteriak sambil menangis.


Brakk!!!


Pintu terbuka dengan kasar. Lelaki berbadan kekar dan tinggi itu menyeringai. "Jangan menangis cantik. Kamu hanya perlu menurut saja. Om jamin kamu tidak akan kenapa-kenapa," ucapnya. Karena ia ingat permintaan Miranda untuk membawa tanpa menyakiti tubuhnya.


"Tidak mau! Pergi... Aku tidak mau!" Misel berteriak semakin beringsut menjauh. Namun, sayangnya usahanya pun sia-sia kala pintu mobil sebelahnya pun berhasil dibuka dengan paksa oleh teman orang itu, dan langsung membekap tubuh Misel. Anak itu terus meronta berteriak minta tolong.


"Bunda....Ayah tolong!!"


Pak Tono yang saat itu dalam keadaan lemah, mencoba bangun dan hendak menyelematkan Misel. "Jangan anak majikan saya!"


"Berisik!!" Salah satu dari mereka kembali mendorong tubuh Pak Tono, lalu menendangnya.


Misel terus meronta-ronta, memukul tubuh orang yang menggendongnya. Karena merasa geram Misel tak mau diam, salah satu dari mereka pun mengeluarkan obat bius, lalu membekap mulut Misel, membuat Misel beberapa detik kemudian tak sadarkah diri.


"Jalan!" titahnya setelah berada dalam mobil. Mereka menuju apartemen milik Miranda.


****


Rena yang saat itu baru selesai mengecek pasien, tiba-tiba menerima telpon dari Pak Tono. Dan entah kenapa firasatnya tak enak.


"Hallo, Pak?" sahutnya.


Namun, belum sempat Pak Tono menjawab ia mendengar sebuah pintu didobrak, di susul dengan bunyi-bunyi dentuman keras.


"Bunda.. Ayah tolong Misel!!"


Rena terkejut mana kala mendengar putrinya minta tolong.


"Misel kamu dengar Bunda nak." Rena berusaha bersuara. Namun, sayangnya tak ada jawaban apapun. Hanya terdengar suara jeritan.


Mendadak tubuh Rena gemetar takut terjadi sesuatu dengan putrinya, ia segera melepaskan jas dokternya. Dan mengambil kunci mobilnya. Dengan wajah panik, ia pun keluar dari ruangannya.


"Aku harus mencari Misel! Ya Tuhan, apa yang terjadi," ujar Rena panik.


Keluar dari ruangannya, perempuan itu berlari.


"Re? Rena kamu mau kemana?" tanya Dokter Ryan melihat sahabatnya itu terburu-buru dengan wajah panik.


"Aku mau pergi, cari putriku!" sahut Rena bingung.


"Re, ada apa?"


Rena menggeleng panik. Matanya berkaca-kaca. "Misel-"


"Tenang dulu. Kamu ceritakan padaku, barangkali aku bisa bantu," pinta Dokter Ryan.


Rena kembali menggeleng. "Tidak bisa aku harus segera pergi. Misel membutuhkan bantuan ku. Kayaknya dia diculik."


"Aku akan bantu kami Re. Kebetulan waktuku sudah kosong. Tapi, kamu harus hubungi suamimu dulu. Jangan bertindak gegabah Re."


"Aku harus segera pergi," kekeh Rena kalut.


"Oke. Berikan kunci mobilmu. Biarkan aku yang menyetir. Sementara kamu hubungi suamimu," pinta Dokter Ryan. Melihat keadaan Rena tak mungkin ia membiarkan perempuan itu menyetir dalam kondisi seperti itu. Biarlah nanti Alby marah padanya, yang terpenting saat ini ia berniat tulis membantu.


Mobil melaju menuju sekolah Misel. Karena ia yakin kejadiannya tak jauh dari sana, ia harus menemukan petunjuk. Sementara, Rena pun berusaha menghubungi nomor suaminya.


****


Alby yang saat itu baru selesai rapat pun berlalu masuk ke ruangannya. Baru saja ia mendudukkan dirinya di kursi.


Pintu ruangannya kembali terbuka. Ardan datang dengan raut wajah yang panik.


"Gawat by! Ini gawat!"


"Ada apa?"


"Misel dalam bahaya!" seru Ardan.