
Hari berlalu kehamilan Rena yang sudah menginjak delapan bulan, membuat Soraya dan Dinda begitu bahagia, untuk menyiapkan berbagai perlengkapan bayi. Saat ini Soraya, Dinda dan Rena tengah berada di suatu pusat perbelanjaan, untuk membeli perlengkapan bayi. Padahal Rena sudah mengatakan agar nanti yang beli suaminya saja, tapi keduanya kekeh untuk belanja. Akhirnya Rena nurut saja, ia juga tidak ada kuasa untuk menolak.
“Re, cucu mommy laki-laki apa perempuan?” tanya Dinda ketika tengah berada di depan pakaian bayi.
“Gak tahu Mom. Aku kan sengaja sama Abang buat rahasiain.”
Dinda menghela nafasnya, ia jadi bingung pilih pakaiannya karena jenis kelamin cucunya bahkan belum ia tahu. “Mommy jadi bingung dong pilih warna apa ya?”
“Warna yang netral aja Jeng. Jadi, bisa dipakai laki-laki atau perempuan,” saran Soraya yang tiba-tiba menghampiri besannya itu.
“Benar juga ya, Jeng. Ya udahlah saya pilih warna biru,” ucap Dinda.
Rena memilih duduk membiarkan ibu dan mertuanya itu belanja. Sebenarnya dalam urusan belanja, ia sendiri memang kurang menyukai, ia lebih suka belanja makanan. Nah untuk itu ia paling cocok sama Alena yang doyan makan. Tapi, karena sahabatnya itu lagi hamil muda, suaminya sedikit melarang untuk bepergian jauh tanpa pengawasan. Kalau dipikir-pikir Ryan posesif juga, tapi Rena tak heran lantaran sifat Alena yang memang suka pecicilan, wajar Ryan bersikap seperti itu.
Rena beranjak dari tempat duduknya, karena ia merasa bosan. Kedua matanya menyapu ke arah sekitar. Tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang berada di dalam restoran depan toko perlengkapan bayi yang saat ini ia kunjungi persis. Lelaki itu tampak tertawa bersama satu orang laki-laki dan satu orang perempuan cantik.
“Kok kaya Abang sih? Salah lihat gak ya?” gumam Rena memilih beranjak.
“Sayang kamu mau kemana?” tanya Soraya melihat menantunya beranjak. Rena yang mau membuka pintu pun mengurungkan niatnya.
“Emm Rena kaya lihat Bang Alby di depan, Bu. Jadi Rena pengen–”
Soraya mengikuti arah pandang menantunya, dan benar saja di depan memang sedang ada putranya yang tampak mengobrol, mungkin dengan rekan bisnisnya. “Oh ya udah sana. Nanti belanjanya biar ibu sama Mommy yang atur, kamu samperin aja suami kamu,” ujar Soraya.
“Baik bu.” Rena beranjak keluar dari toko. Dan entah kenapa ia memang sedang kangen sama suaminya. Dengan senyum riang ia masuk ke restoran menghampiri meja suaminya.
“Abang?” panggilnya.
Sontak Alby langsung menghentikan obrolannya, dan menoleh ke arahnya begitupun dengan rekan bisnisnya.
“Sayang, kamu di sini? Ngapain?” cecarnya setengah terkejut akan kehadiran istrinya. Rena cemberut seolah kehadirannya tak diinginkan oleh suaminya.
“Gak suka ya. Ya udahlah aku pulang aja,” cetus Rena berbalik. Alby langsung bergerak menghentikan istrinya.
“Ehh bukan begitu. Abang tadi hanya terkejut, sini duduk ngobrol sama Tuan Nanda dan Nyonya Yuna.”
Rena yang baru mendudukkan dirinya di sisi suamimya, mengangkat wajahnya menatap ke arah depan.
“Hai Re?” sapa Nanda.
“Eh!” Rena terkejut, namun detik berikutnya ia tersenyum menyapa Nanda dan Yuna.
“Abang kok kenal mereka?” tanya Rena pada suaminya.
“Lho kamu lupa, mereka kan juga rekan bisnis Abang juga,” jawab Alby. “Kamu sih jarang ikut Abang bertemu rekan bisnis jadi gak tahu deh. Tuh kaya Nyonya Yuna ikut kemana Nanda pergi,” sambung Alby.
“Emang mereka–”
“Kok kamu gak undang aku sih? Tega benget, begitu bilang sahabat,” seloroh Rena tak terima.
“Sorry Re. Acaranya kan juga di kampung istri, jauh kamu juga kan kata suamimu lagi repot. Aku gak maulah resiko bawa kamu lagi bunting takut meletus di jalanan.” Nanda menjelaskan.
Rena hanya mencibir mendengarnya. “Gini aja deh nanti. Aku kan lagi proses produksi ni ya. Besok kalau misalkan udah jadi, anak kita jodohin aja gimana?” tawar Nanda kemudian.
“Ogah! Anakmu gak jauh dari kamu, pasti playboy. Udah gitu pintar merayu dan banyak modusnya. Iyakan Yun?” tanya Rena pada Yuna.
Perempuan itu tersenyum dan mengangguk, membuat Nanda merasa sebal karena istrinya justru membenarkannya. “Gak hanya itu Kak Rena. Tapi, Mas Nanda ini juga suka menindas.”
“Tapi mudah-mudahan aja nanti anakmu jangan kaya dia kelakuannya. Kaya kamu aja Yun, lemah lembut, baik lagi, pintar,” puji Rena pada Yuna. Nanda hanya mencibir tak terima. Tak lama kemudian keduanya berpamitan karena harus kembali ke kantor.
“Kamu kesini sama siapa sayang?” tanya Alby.
“Ibu dan Mommy, tuh mereka ada di depan lagi belanja.” Rena menunjuk toko perlengkapan bayi di depan restoran itu. “Aku bosan cuma duduk aja. Karena gak sengaja lihat Abang di sini, ya udah aku kesini.”
Alby tersenyum menatap istrinya yang terlihat semakin cantik di kehamilannya. “Mau makan apa sayang?” tawar Alby seraya menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinganya.
Rena mengambil buku menu di depannya, membaca dan menimang apa yang ingin ia makan. Namun, kemudian dia berdecak, meletakkan kembali buku menu itu.
“Kenapa? Gak ada yang suka, atau kita cari restoran lain?” tawar Alby sebenarnya ia sendiri di kantor sedang banyak pekerjaan, tapi demi membuat istrinya senang mana mungkin ia rela menunda pekerjaannya, ia pikir semua bisa di kerjakan di rumah nanti.
“Pengen Sempol ayam di pinggir jalan aku bang,” jawab Rena seraya meneguk ludahnya.
“Ya udah ayo sayang kita cari.” Alby menggiring istrinya keluar dari restoran. Sebelum melajukan mobilnya, ia menelpon Milea untuk menunda meeting di kantornya, karena saat ini ia harus menemani istrinya lebih dulu. Beruntunglah meeting bisa di tunda karena memang hanya mengadakan meeting untuk para staf, meningkatkan cara program promosi.
****
Miranda tiba di loby perusahaan suaminya. Ia diantarkan oleh resepsionis ke ruangan Miko. Ia datang karena suaminya mengatakan bosan di kantor banyak kerjaan, dan ia diminta datang untuk menemani dan membantunya. Sebagai istri yang penurut ia pun datang memenuhi panggilan suaminya, karena kalau tidak dituruti Miko pasti akan merajuk bak anak kecil sepanjang hari manyun. Mungkin begitulah resiko mempunyai suami berondong. Jadi, Miranda seperti punya momongan baru.
“Silakan Bu,” ujar Raya begitu tiba di depan ruangan Miko.
“Makasih ya, Raya.”
“Sama-sama Bu. Kalau begitu saya izin kembali,” pamit Raya.
Miranda menghela nafasnya, kemudian mengetuk pintu. Meski itu adalah ruangan suaminya, tapi ia tahu tidak seharusnya ia langsung membuka pintu, ditakutkan saat ini sang suami tengah menerima tamu.
“Masuk!” sahut Miko.
Ceklek!
“Hallo sayang.” Miko melambaikan tangannya.