
Malu-malu kucing itu biasanya adalah gambaran seorang pengantin baru, tapi hal itu tak berlaku bagi Rena. Selain karena masa pengantin baru itu sudah lewat, Rena memang tipikal perempuan ceplas ceplos, yang membuat sang suami berkali-kali harus mengusap dadanya.
Anggap saja ini adalah ujian untuk Alby memiliki seorang istri yang luar biasa ketika berbicara. Tapi, mengingat kejadian panas semalam mendadak membuat Rena menjadi tak berani menatap wajah Alby secara langsung. Setelah mandi, Rena merasa otaknya kembali dapat berfikir jernih, ia tidak menyangka jika semalam ia bisa bersikap seliar itu. Sejenak Rena mengingat kata-kata lembut berbentuk sebuah rayuan agar Rena tak merasakan sakit.
"Gak capek emangnya?"
Rena menoleh saat Alby menggenggam tangannya, sementara salah satu tangannya tetap fokus memegang kemudi. Saat ini keduanya dalam perjalanan menuju kediaman Nugraha.
Rena menggeleng seraya tersenyum pada suaminya. "Tidak, malah udah gak sabar ketemu keluarga. Jarang sekali kami semua berkumpul."
Alby menanggapinya dengan senyum, Rena melepaskan genggaman tangannya, meminta sang suami untuk fokus mengemudi.
"Abang cutinya lama?" tanya Rena kemudian.
"Tidak. Besok juga sudah mulai ke kampus, dan ke perusahaan."
"Sama dong. Aku juga besok udah mulai masuk kuliah, kayaknya siangnya juga aku harus ke rumah sakit deh. Dokter Ryan bilang pasien di rumah sakit sedang membludak, karena kasusnya virus yang berbahaya itu bang," ujar Rena.
Alby menghela nafasnya, mendengar nama lelaki lain disebut entah kenapa ia merasa jengkel. "Kamu kan sedang kuliah. Kenapa gak difokusin kuliah aja dulu, baru nanti setelah lulus kamu bisa kembali bekerja."
Rena terdiam, memikirkan ucapan Alby. "Abang keberatan ya?" Justru pertanyaan itu yang lolos darinya. Wajahnya nampak sendu ketika menatap sang suami.
"Oh tidak kok. Lupakan saja ucapan Abang tadi." Alby mengusap rambut istrinya dengan lembut. "Kita sudah sampai," imbuhnya kemudian setelah mobilnya kini telah tiba di depan.
****
"Cantik banget sih putri Mommy. Hari ini kok auranya beda ya, kaya ada cerah-cerahnya gitu. Padahal langit sedang mendung," goda Mommy Dinda saat Rena baru saja tiba di rumahnya, lalu bergelung manja dalam pelukan sang ibu. Seperti seorang anak kecil yang baru bertemu ibu kandungnya, setelah beberapa saat yang lalu keduanya saling berjauhan.
"Ngapain nempel sama istri Daddy. Sono nempelin suamimu saja," usir Daddy Rava pada putrinya.
"Gak mau. Ingat ya Dad, istri Daddy itu juga Mommy-ku. Dan aku sedang merindukannya." Rena terus mendekap Dinda dengan erat. Membiarkan sang suami yang saat ini tengah duduk di sofa dengan keluarga lainnya hanya menggelengkan kepalanya, kala melihat kemanjaan istrinya.
"Terserah kamu lah." Rava berlalu dan memilih bergabung pada keluarga lainnya. Mereka juga saling bertukar obrolan.
Tidak lama kemudian pintu rumah kembali terbuka, Davis dan Nadila baru saja tiba. Semua keluarga menyambut dengan hangat, memintanya untuk bergabung.
Rena terdiam menatap aura wajah keduanya, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang tak beres, tidak ada pancaran kebahagiaan pada raut wajah kakak kandungnya, Davis tersenyum tetapi seakan senyum itu untuk menutupi sesuatu, sementara Nadila sejak tadi hanya terdiam, terasa enggan untuk membuka mulutnya bergabung obrolan. Tapi, ia berusaha mengenyahkan pikirannya itu. Mungkin saja itu efek kelelahan.
Hua....Hua....
Suara tangisan membuyarkan lamunan Rena. Terlihat Misel berlari ke arahnya sambil mengusap air matanya. Membuat pandangan semua orang yang di sana menoleh.
"Sayang..." Rena berusaha menenangkan putrinya. "Ada apa?"
"Bunda huhuhu.. Raksasa nakal," adunya sambil menangis. Belum sempat Rena membuka suara, terlihat seorang anak laki-laki berambut pirang yang usianya tak jauh dari Misel kira-kira sekitar sembilan tahun, berlari ke arahnya lalu mencibir pelan.
"Dasar engsel anak kecil suka ngadu!"
"Hua Hua Bunda.. tuh kan Raksasa nakal." Misel semakin meraung.
"Raksa ini ada apa? Mami kan sudah bilang jangan suka jahilin teman. Apalagi jahilin Misel, ingat dia itu saudara kamu. Anggaplah dia adik kamu," tegur Vinda pada putranya angkatnya. Dulu, Vinda sangat menginginkan anak laki-laki namun sayangnya takdir membuat dirinya tak bisa kembali mengandung setelah melahirkan Varen. Akhirnya empat tahun yang lalu ia dan suami memilih mengadopsi seorang anak kecil.
"No mami. Aku tidak jahil. Aku marah dengannya karena dia salah," bela Raksa. Wajah putihnya kini berubah merah karena menahan rasa kesal.
"Tadi aku sedang buang air kecil di kamar mandi. Engsel eh maksudku Misel tiba-tiba masuk. Tentu saja aku menjerit dan memarahinya. Bukankah Mami selalu bilang itu tidak sopan." Raksa membela diri. Membuat semua yang berada di sana paham permasalahannya.
Misel menunduk setelah tangisnya terhenti. Rena membawanya duduk, sebelum kemudian ia memberi pengertian.
"Misel dengarkan Bunda, nak. Kalau di kamar mandi sedang ada orang itu tidak boleh masuk sembarangan. Apalagi Misel dan Raksa itu kan beda. Misel perempuan dan dia laki-laki, tentu keduanya tak boleh barada dalam satu kamar mandi. Oke Misel mengerti kan?" terang Rena lembut.
Misel mengerutkan keningnya. "Oh begitu ya Bunda."
"Ya sayang!"
Mendengar jawaban Misel membuat semua orang yang berada di sana merasa lega, tapi hanya untuk beberapa saat.
"Tapi aku pernah lihat ayah masuk ke dalam kamar mandi saat Bunda sedang di dalam kamar mandi. Bunda tidak marah," balas Misel polos.
Mendengar hal itu membuat Alby yang saat itu tengah meminum tersedak.
Uhuk uhuk uhuk
Kini semua orang mengarahkan pandangannya ke arahnya, mereka semua terdiam. Rena merona, kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di mana apa yang di katakan Misel memang benar, tapi saat itu tidak terjadi apapun di dalam kamar mandi. Baik Rena maupun Alby hanya sama-sama kebelet buang air kecil, tapi ia tak menyangka jika putrinya mengetahui hal itu. Ini akan menjadi PR baginya, untuk tak berbuat sesuatu hal yang memicu perbuatan negatif pada Misel.
"Ohh jadi itu ajaran Ayah dan Bundanya," ucap Dinda.
Mendadak Rena merasa kehabisan kata-kata, rasanya ia ingin menyembunyikan wajahnya saat ini juga. Dinda yang menyadari perubahan wajah putrinya pun paham.
"Yuk Misel ikut grandma mengangkat kue di dapur," ajaknya kemudian.
"Hemm Daddy juga mau mengecek berkas sebentar." Rava berlalu pergi.
"Nad, kita ke atas yuk. Istirahat," Davis pun mengajak istrinya untuk pergi.
"Raksa, ayo kita ke kamar telpon Kakak Varen," ajak Vinda pada putranya.
Hendrik masih di sana pun ikut beranjak, sambil menatap ke arah Alby dan Rena secara bergantian. "Mau ke belakang ah ngerokok."
Kini tinggalah Rena dan Alby di sana. "Lho kok pada bubar sih?" keluhnya.
Alby justru menggeser tubuhnya mendekati istrinya. "Ya udah Ayuk kita ikut bubar, ke kamar yuk once again," rayu Alby.
Rena melipat tangannya di dada, kemudian menoleh ke arah suaminya dengan tatapan tajam. "Sono once again sama guling. Aku ngambek sama Abang."
"Lho?"
"Abang udah buat aku malu tadi."
"Apa salahnya Abang sih?" Alby memutar tubuhnya menatap istrinya.
"Ngapain sih waktu itu pakai masuk ke dalam kamar mandi. Udah tau di kamar sedang ada Misel. Kan jadi gini, kamu ngotori pikiran Misel bang. Dan juga buat aku malu," sungut Rena.
"Waktu itu Abang kan gak tau kamu di dalam, karena posisi juga Abang masih ngantuk. Dan lagian kita gak ngapa-ngapain, Abang udah terlanjur kebelet. Ngapain sih masih dibahas aja."