Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Rencana



Seusai kepergian Miranda dari ruangannya. Alby menyentak nafasnya berkali-kali, kemudian meraih benda pipih di atas mejanya. Alby mencari kontak Ardan lalu menghubunginya.


"Hallo?"


"Berikan dua orangmu, perintahkan mereka untuk menjaga putriku dari kejauhan. Jangan biarkan siapapun mendekatinya!" titah Alby.


"By. Ada apa? Kenapa kau bisa sepanik dan semarah itu?" cecar Ardan.


Alby meremas rambutnya. "Miranda kembali, sialan. Dia berniat untuk mengusik Misel, itu tidak akan aku biarkan."


"Apa??!" Ardan nampak tersentak mendengarnya. "Oke aku akan kirimkan beberapa orang untuk mengawasi putrimu. Tenanglah, tidak akan terjadi apapun pada keponakanku itu," tambahnya. Setelahnya Alby mematikan panggilan itu.


Sementara itu Miranda yang keluar dari ruangan Alby merasa sangat kesal. Karena ia tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. "Aku sudah memintanya secara baik-baik, Al. Jadi jangan salahkan aku jika aku menggunakan cara yang tidak kamu duga," dengus Miranda. Wajahnya yang putih kini tampak memerah karena menahan amarah, ia merasa tak terima karena kehadirannya ditolak mentah-mentah oleh mantan suaminya. Bahkan untuk sekedar didekati pun Alby tak menginginkannya, apalagi sampai menyentuhnya. Seakan-akan dirinya adalah sebuah berlian yang tak boleh tersentuh. Yahh, meskipun ia sadar di usia Alby yang semakin matang, lelaki itu memang terlihat semakin tampan, apalagi kini Alby telah menjadi orang yang sukses. Perempuan manapun pasti akan tergoda kala melihat wajah tampannya, sempat terbesit rasa menyesal telah meninggalkan lelaki itu dan putrinya dikala masih susah. Tapi mulutnya yang pedas membuat Miranda merasa kesal. Bukan Alby lah tujuan utamanya ia kembali, ia hanya ingin putrinya.


Melihat Miranda terus bergumam sepanjang jalan keluar, para karyawan Alby pun banyak berbisik-bisik. Tapi perempuan itu memilih untuk tidak perduli.


Drt... Drt...


Ponsel dalam tasnya berdering, Miranda segera membuka tas miliknya, mengambil ponsel dan menjawab panggilan itu.


"Bagaimana?!" tanya lelaki itu to the point.


"Sabar bo doh, kau pikir segampang itu aku membawa putriku," sergah Miranda kesal pada lelaki yang jauh di sana.


"Sialan, kau mengatakan aku bodoh Miranda. Yang bodoh itu kau, membawa putri kandungmu saja tidak becus. Kalau dengan cara baik-baik pun tidak bisa, kau bisa menculiknya," desak Damian. Lelaki yang saat ini berstatus sebagai suaminya.


Miranda menggeleng, "aku masih berusaha. Setidaknya aku ingin Misel datang padaku bukan karena ketakutan. Aku tidak ingin terlihat jahat dimatanya!"


"Terserah kau. Pokoknya yang ku inginkan adalah kau harus membawa putrimu, karena Agatha harus segera mendapatkan penanganan, dan kau tau benar apa yang harus kau lakukan Miranda!" ucapnya sebelum mematikan panggilan secara sepihak.


Enam bulan setelah perpisahannya dengan Alby, Miranda kembali menikah dengan Damian seorang pengusaha yang bergerak di bidang entertainment. Semula hidupnya terlihat baik-baik saja, bahagia, karena Damian begitu memanjakan Miranda, apalagi ketika mengetahui Miranda hamil. Kehadiran Agatha melengkapi kebahagiaan mereka. Berbeda dengan Misel yang hidup tanpa kasih sayang sang ibu, Agatha justru berlimpah kasih sayang darinya, tentu saja karena keduanya berasal dari dua ayah yang berbeda. Hidup dengan Damian ia mendapatkan limpahan harta, sementara sama Alby ia harus mencoba berhemat, bahkan kadang kekurangan. Tapi, kebahagian Miranda tak berselang lama, enam bulan yang lalu tiba-tiba Agatha jatuh sakit, dokter memvonis bahwa anak itu terserang penyakit leukimia, harus segera operasi dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang. Sialnya, Damian yang memiliki riwayat darah tinggi tak dapat mendonorkan sumsum tulang belakangnya.


Berbulan-bulan ia mencoba mencari pendonor yang cocok untuk Agatha namun hasilnya nihil. Penyakit Agatha yang semakin parah kerap membuat Damian marah pada Miranda, lelaki itu mengatakan bahwa ia tak becus sebagai seorang ibu. Bagaimana bisa putrinya sampai terserang penyakit yang mematikan, ia limpahkan semua pada Miranda.


Pertengkaran demi pertengkaran pun kerap terjadi. Hubungan yang semula harmonis itu menjadi panas, bahkan Damian sampai mengancam akan menceraikan Miranda, jika Agatha tak bisa sembuh. Tentu saja Miranda tidak akan mau diceraikan, ia yang sudah terlanjur menikmati kemewahan dari Damian, tak mungkin bisa hidup miskin lagi. Hal itu membuat Miranda terpikirkan Misel - putri kandungnya dengan Alby. Ia bertekad akan membawa Misel sebagai pendonor untuk Agatha. Luar biasa jahatnya bukan dirinya? Tapi ia tak peduli, baginya kebahagiaannya adalah yang utama, meski ia harus mengorbankan orang lain, termasuk putrinya.


Sampai detik ini ia masih berusaha mendekati Misel, sayangnya anak itu sama sifatnya seperti sang ayah, yang tak sembarang untuk cepat akrab dengan orang asing. Seperti kemarin ia yang mencoba mendekati anak itu saat di sekolah dengan dalih memberikan coklat dan permen, anak itu justru menolak, dengan alasan sang Bunda tak mengijinkan. Sial sekali! Miranda marah, perempuan mana lagi yang bisa mencuci otak putrinya dengan cara seperti itu, membuatnya sulit mengambil hati putrinya.


Tapi, bukan Miranda namanya jika menyerah begitu saja. Ia akan tetap kekeh dengan pendiriannya, mencoba mencari segala cara.


Rena keluar dari rumah sakit dengan buru-buru. Hingga ia hampir menabrak Dokter Ryan yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Re mau kemana?" tanya Dokter Ryan heran melihat wajah sahabatnya itu terlihat panik.


"Jemput Misel." Rena menjawab dengan sedikit berlari karena ia memang terburu-buru, khawatir pada putrinya. Apalagi ia baru saja menerima telpon dari sang suami, yang menceritakan segala kejadian di kantornya tentang kedatang Miranda. Tentu saja Rena merasa panik, ia takut bila kini perempuan itu menyakiti Misel.


Dokter Ryan menatap kepergian Rena dengan bingung. "Kenapa dengannya?"


"Jaga pandangan anda Dokter, ingat Dokter Rena itu sudah punya suami. Anda tak berniat untuk menjadi pebinor kan?" tanya Suster Santi yang tiba-tiba datang dan berdiri di sisinya.


Dokter Ryan menggelengkan kepalanya. "Perempuan di dunia ini masih banyak. Pantang bagi saya merusak rumah tangga orang lain."


Suster Santi menghela nafasnya sedih. "Tapi saya sedih. Sebenarnya saya begitu mengidolakan kalian untuk bersama, karena kalian itu begitu cocok. Tapi ternyata.... Ah sudahlah."


Berita pernikahan Rena memang sudah tersebar, seluruh pegawai rumah sakit pun sudah mengetahui. Meski banyak yang merasa sedih lantaran perempuan yang ramah dan baik itu ternyata telah memiliki seorang suami, tak terkecuali dokter Ryan tentunya.


"Saya belum pernah bertemu dengan suaminya lagi. Padahal saya ingin meminta maaf perihal ucapan pedas saya waktu itu," ujar Suster Santi yang mengingat ucapan pedasnya pada Alby. Meski Rena sudah mengatakan tidak menjadi masalah, tetap saja ia masih merasa perlu mendengar kata maaf dari suaminya Rena itu.