
Minggu pagi biasanya Rena akan menghabiskan waktunya untuk joging bersama Milea, Ardhan, Davis dan Nadila. Tapi, kali ini tidak. Rena justru harus masuk kerja pagi. Demi menggantikan waktu libur yang beberapa kali kerap ia ambil.
Alby yang memang libur bekerja, memilih mengantarkan istrinya bekerja. Niatnya sekalian ia ingin bertemu dengan Galih, papanya. Alby memutuskan untuk berdamai.
Sambil menggandeng Misel, keduanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan Galih. Rena bilang masih ada waktu tiga puluh menit, jadi ia memutuskan untuk menemani sang suami lebih dulu.
"Ayah, kita mau ketemu siapa? Siapa yang sakit?" tanya Misel seraya menoleh ke arah Alby dan bergantian ke Rena.
"Kita tengok Kakek sayang," sahut Rena mengusap kepala Misel.
"Kakek siapa? Grandpa Rava sehat kan, semalem Misel baru ngobrol dengannya di telpon," jelas Misel yang mengingat pembicaraannya dengan Rava semalem meski hanya di telpon.
"Kakek Galih, sayang." Rena kembali menjawab. Karena Alby justru terdiam sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Langkahnya terhenti ketika telah tiba di depan ruang perawatan VIP, tempat di mana Galih di rawat.
"Abang gugup ya?" tanya Rena pada sang suami.
Alby menoleh dan tersenyum tipis pada istrinya. "Tidak sayang."
Alby menghela nafasnya, sambil mendorong pintu ruangan itu dengan pelan. Begitu terbuka ketiganya langsung masuk. Tapi, anehnya di ruangan itu tidak ada siapapun.
"Mungkin Papa lagi di kamar mandi bang," ujar Rena yang mendengar percikan air yang berasal dari kamar mandi. Alby mengangguk dan membenarkan hal itu. Misel langsung mendudukan dirinya di sofa panjang yang terdapat di ruangan itu.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Galih keluar dengan langkah tertatih pelan, tangannya kanannya memegang tabung infus. Ia mengangkat wajahnya dan terkejut mendapati putranya kini berada di ruangannya.
"Alby?" ucapnya lirih. Wajahnya nampak bahagia namun berubah sendu, kala melihat tatapan putranya dengan datar, membuat ia kembali mengingat kesalahannya.
Dengan langkah tertatih, ia mencoba melangkah mendekati Alby. Karena tergesa-gesa lelaki itu hampir terjatuh. Rena langsung berlari mendekat, menopang tubuh Galih. "Hati-hati, Pa. Pelan-pelan saja, Bang Alby tidak akan lari kok Pa," ujar Rena lembut.
"Kamu-"
"Aku Rena, Pa. Istrinya Bang Alby," kata Rena menjawab kebingungan Galih.
Lelaki itu tersenyum tipis mengangguk. Rena berniat memapah Galih ke ranjang, tapi lelaki itu menolak dan meminta untuk didekatkan pada Alby.
"Bang?" panggil Rena. Sedikit geram karena suaminya itu hanya terdiam mematung, tanpa berniat untuk melangkah mendekati Papanya, padahal dari rumah lelaki itu sudah berniat untuk berdamai. Mungkinkah saat melihat wajah Papanya, ia menjadi berubah pikiran? Rena harap tidak. Ia tidak ingin suaminya itu terus menyimpan kebencian.
Alby memalingkan wajahnya ke arah lain, hal itu membuat Galih menjadi sedih. Tapi lelaki itu tetap tersenyum tipis, hingga tiba di hadapan Alby. "Maafkan Papa, nak?" ucap Galih lirih. Namun, Alby sama sekali tak bergeming.
"Pa kita ngobrolnya Papa sambil tiduran di ranjang aja ya," bujuk Rena karena ia tidak tega, lelaki itu terus menahan nyeri pada pinggangnya. Namun, Galih menggeleng, karena ia takut tidak akan ada kesempatan lagi dilain kali.
"Tidak Re. Papa mau minta maaf dulu sama Alby," tolak Galih halus.
Rena menghela nafasnya, menatap ke arah suaminya. Lewat matanya ia memberi kode, perempuan itu menganggukkan kepalanya.
"Pa, Bang Alby itu sudah memaafkan Papa. Makanya kami datang kemari," ujar Rena.
"Tapi Papa belum mendengarnya," kilah Galih.
Rena memijat kepalanya, apa yang harus ia lakukan. Padahal sebentar lagi ia pun harus kembali masuk bekerja. "Bang?"
Keterdiaman Alby membuat Galih merasa sedih, lelaki itu meminta Rena untuk melepaskan pegangannya, kemudian ia berniat untuk bersujud di kakinya.
"Apa yang Papa lakukan?" Akhirnya Alby membuka suaranya, sambil menahan tubuh Galih yang hampir membungkuk di depannya.
Alby menggeleng. "Kembali ke ranjang. Aku bukan Tuhan yang harus kau sembah," pungkasnya.
"Tapi-"
"Kita bisa bicara sambil duduk kan," tukas Alby memotong ucapan Galih dengan cepat.
Mendengar hal itu Rena tersenyum, Alby menuntun Galih ke ranjang. Perempuan itu memilih mendekati Misel karena ingin memberikan ruang bagi sang suami dengan Papa mertuanya.
Alby membantu mengembalikan kantong infus Papanya ke tempat semula, juga membantu lelaki itu naik ke atas ranjang.
"By? Maafkan Papa?"
"Aku sudah memaafkan Papa," sahut Alby yang kini duduk di kursi tepat di sisi Papanya.
"Benarkah?" tanya Galih dengan wajah berbinar. "Segampang itu kamu memaafkan Papa nak?" lanjutnya kemudian.
"Karena aku merasa tidak akan ada gunanya jika terus membencimu. Semua sudah berlalu. Ibu juga juga sudah menceritakan segalanya. Sudah cukup untukku menenangkan diri. Aku tidak ingin menyimpan kebencian apapun padamu," tutur Alby.
Galih menarik sudut bibirnya, matanya nampak berkaca-kaca. Tidak menyangka akan mendapatkan perkataan yang tulus dari putranya yang beberapa tahun telah ia tinggalkan. "Terimakasih nak! Papa bahagia sekali mendengarnya." Lelaki itu meremas tangan Alby.
Alby mengangguk, dan berdiri kemudian beralih memeluk Papanya. Sebuah pelukan yang selama ini tak pernah ia dapatkan. Meski dengan susah payah karena salah satu tangannya tertancap jarum infus, Galih mencoba membalas pelukan Alby. Rena tersenyum haru melihatnya.
"Ayah menangis?" tanya Misel tiba-tiba yang sudah berdiri di sisi Alby, entah kapan anak itu beranjak dari tempat duduknya, membuat sang ayah mengurai dekapannya.
Galih menoleh ke arah Misel dengan tatapan bingung. Alby segera beranjak menggandeng Misel. "Kenalkan ini Kakek Galih sayang. Kakeknya Misel juga selain Grandpa Rava ya sayang," ujar Alby.
Misel mengulurkan tangannya, menyalami Galih dengan takzim.
"Putrimu dengan Rena?" tanya Galih.
Alby menggeleng. "Bukan. Tapi dengan Miranda."
Galih terkesiap, ia bahkan melewati banyak hal tentang putranya. "Rena itu ibu sambungnya Misel. Aku belum lama menikah dengannya Pa."
"Lalu Miranda?"
"Aku bercerai dengannya tidak lama setelah Misel lahir, Pa. Sudahlah kenapa jadi bahas dia sih," ujar Alby.
Galih mengangguk. Kemudian keduanya kembali mengobrol ke hal-hal yang lain. Galih bahkan menceritakan kembali bagaimana kehidupannya setelah dia berpisah dari Soraya dan Alby.
"Kapan Papa akan melakukan operasi?" tanya Alby.
"Dokter baru mengatakan, sudah ada pendonor tadi tadi pagi."
Alby mengangguk. "Ya, Papa harus sembuh dan kembali lagi dengan ibu."
"By?" Galih terkesiap mendengarnya. Tak menyangka jika putranya justru memberikan dukungan padanya.
"Karena aku tau ibu masih mencintai mu, Pa. Cintanya padamu tak pernah mati sampai detik ini juga. Aku berkali-kali memintanya untuk melupakanmu. Meski ibu selalu mengatakan iya, tapi aku dia bohong. Bahkan diam-diam ia masih menyelipkan fotomu. Aku juga tau diam-diam dia kerap sekali memandanginya. Aku membencimu kala itu, karena meski tiada di sampingnya kau kerap sekali membuat Ibu menangis. Aku tidak menyukai ibu menangis Pa. Hingga beberapa bulan terakhir ini, aku merasakan yang berbeda dengan ibu. Dia tampak lebih semangat dan bahagia. Dan lagi-lagi itu karena dirimu. Semula aku juga merasa marah. Tapi, berkat Rena aku bisa mengontrol diri. Hingga aku sadar kebahagiaan ibu juga ada padamu. Terlepas dari kesalahanmu di masa lalu, aku tidak peduli, asalkan aku bisa melihat ibu bahagia. Aku ikhlas," kata Alby membuat Galih terdiam. Ia merasa bahagia sekaligus sedih mendengarnya.
Hingga detik berikutnya pintu kamar terbuka.
"Oh kalian ternyata sedang di sini!"
Alby menoleh ke sumber suara, tak menyangka jika ibunya pun datang kesana.