
Warning!
Mengandung adegan dewasa, sedikit panas namun tidak sampai gosong. 😂
****
Miranda membalas sapaan suaminya dengan senyum, lalu meletakkan tas miliknya di kursi depan meja suaminya. Ia mengedarkan pandangannya, memperhatikan tiap inci ruang kerja suaminya itu. Karena memang ia baru pertama kali menginjakkan kaki di kantor suaminya itu.
Miko kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu memeluknya dari belakang dan memberikan ciuman di rambut panjang istrinya, ia menghirup aroma dari rambut lembut itu.
“Liatin apa sayang?” bisik Miko.
“Kamar kecil!”
Miko berpikir sesaat. Namun, tak menyudahi kegiatannya.
“Kamar mandi?” tebak Miko.
“Bukan sayang.”
“Hemm... Lalu apa sayang?”
“Ituloh kamar pribadi rahasia yang biasa ada di ruangan CEO.”
Miko langsung tertawa mendengarnya. “Kamu ini kok lucu. Aku di sini kerja sayang bukan mau tidur. Kalau mau tidur mending pulang. Jangan berfikir yang tidak-tidak!”
Mendengarnya membuat hati Miranda menghangat, entah kenapa ada rasa lega yang menghampiri dirinya. Layaknya tenggorokan yang kering kemudian terasa segar kala disiram es. Entah kenapa tadi saat berada di butik ia bisa kepikiran hal-hal seperti itu. Mungkin ia berpikir karena sang suami masih muda, ia merasa sedikit takut jika Miko akan bermain gila di luar sana. Padahal jika melihat betapa sayangnya lelaki itu padanya tidak mungkin lelaki itu akan berkhianat.
Miko mulai menciumi leher istrinya. Setelah sebelumnya ia sibakkan rambut Miranda kesamping, memudahkan ia untuk menjangkau leher jenjang istrinya.
“Sayang, kenapa sih harus pake kalung. Harusnya pas tahu mau kesini tuh dilepas sih. Aku lepas ya!”
Miranda berdecak kala mendengar rengekan suaminya yang manja seperti itu. Telah bersama dengan lelaki itu selama tiga bulan tentu paham kemana arah kemauan lelaki itu. Bahkan ia pun mulai merasakan tangan sang suami yang mulai merambat ke atas, dan dengan cepat Miranda menepisnya.
“Ih kebiasaan banget. Kamu lupa ya sayang tujuan aku diminta datang kesini. Katanya suruh bantu kerja. Ayo aku bantu,” ujar Miranda seraya melepaskan rengkuhan sang suami, kemudian ia duduk di kursi kebesaran lelaki itu. Kemudian tangannya mulai membuka laptop di depannya itu.
“Emang kamu kira aku suruh kamu datang itu ngapain?” tanya Miko santai bukannya membantu istrinya, ia justru melangkah duduk di sofa yang menghadap ke istrinya.
“Aku tuh sengaja nyuruh kamu datang cuma buat nemenin aku. Biar aku gak bosan. Udahlah sayang kamu mah gak perlu bantu apa-apa, cukup tiduran sambil pose yang seksi di depanku. Itu udah membantu banget kok.”
Miranda menghela nafasnya, ia harus ingat untuk menyentok kesabaran yang tinggi, menghadapi sifat suami berondongnya yang begitu mesum. Otaknya gak jauh-jauh dari bercinta. Bahkan lelaki itu kini tengah bersandar pada punggung sofa seraya menatap genit ke arah istrinya.
Miranda berusaha untuk tak peduli, ia berpura-pura untuk membaca apa yang ada di depannya. Namun, tetap saja ia tidak bisa fokus kala sang suami terus menggoda membuatnya salah tingkah dan merona malu.
Miko menatap notif pesan di ponselnya, kemudian membukanya. Sebuah pesan di grup persahabatan antara Rena, Alena, dan dirinya beserta pasangannya masing-masing. Miko berdecak kala melihat kedua sahabatnya itu tampak mengirimkan foto USG. Miko tahu niat mereka untuk pamer.
“Kesel, ni lihat dua temanku pamer foto USG. Mereka kira aku tuh bakalan kalah sama mereka. Gak kan sayang?”
“Biarin aja sayang. Namanya anak kan rejeki, kita tidak tahu kapan akan datang.”
“Aku tahu sayang. Tapi, semua itu juga perlu doa dan usaha. Udahlah sini sayang.” Miko menepuk sofa sisinya.
Miranda berdecak. “Ini kantor sayang.”
“Tahu, yang bilang ini rumah siapa,” jawab Miko santai.
Miranda memijat kepalanya, merasa pening mengahadapi tingkah suaminya. Padahal ia ingat bagaimana sang suami itu merayu dirinya untuk datang ke kantornya, dengan alasan meminta ditemani diskusi karena tidak ada Yanto. Namun, sampai di sana bukannya bekerja ia harus dihadapkan dengan kemesuman sang suami.
Miko tersenyum menggoda. Ia tahu istrinya itu malu-malu tapi mau. Anehnya, Miranda mematikan laptop di depannya kemudian berjalan menuju suaminya. Miko mengira istrinya itu akan duduk di sisinya, namun tak ia sangka jika Miranda lebih memilih duduk di pangkuannya. Lelaki itu nampak terkejut, tapi ia sama sekali tidak keberatan. Karena memakai rok span di bawah lutut, ia menarik ujung roknya agar memudahkan untuk duduk, hingga paha mulusnya kini terpampang dengan jelas. Hal itu tentu tak disia-siakan Miko untuk mulai melabuhkan tangannya di sana.
Miranda mulai menggerakkan tangannya mengelus rahang suaminya. Miko memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan istrinya. Ia pun membalas dengan mengelus pa ha sang istri yang membuat Miranda meng ge linjang geli dan akibatnya ia pun bergerak-gerak di atas milik Miko yang memang sejak tadi sudah dalam mode on.
Detik berikutnya Miranda membeliakan matanya kala menyadari sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
“Aduh gini banget rasanya nikah sama berondong mesum,” candanya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari suaminya. Dan sedetik kemudian ke merasakan tubuhnya melayang. Kemudian ia dibaringkan ke sofa dengan Miko yang berada di atasnya.
“Oh ya? Dan ini salah satu resiko menikah dengan berondong mesum.”
Miranda terkejut kedua matanya membeliak, kala melihat sang suami mulai melucuti kancing kemejanya.
“Jangan sayang... Ini–” Ia mencoba menahan serangan suaminya. Namun, Miko tak peduli, ia justru langsung membuka blazer yang di kenakan istrinya, juga membuka kancing kemejanya.
“Jangan.” Miranda men de sah manakala sang suami kini me re mas da Danya yang terbungkus bra.
“Jangan apa sayang?” goda Miko seraya menatap wajah istrinya yang sudah memerah termakan gairah.
“Jangan berhenti sayang.”
Miko menyeringai, kemudian dengan cepat ia membuka kain penyangga gunung kembar di depannya itu, lalu membuangnya secara asal. Setelahnya ia langsung me mi Lin titik ujung merah muda itu, secara cepat.
“Begini sayang?” godanya lagi. Hal itu membuat Miranda membusungkan da danya. Membuat hasrat sang suami meinggi, Miko langsung cepat merundukkan kepalanya, dan melahap habis titik merah muda itu. Miranda terengah, namun ia meremas rambut sang suami yang kini tengah bermain-main di da Danya.
Tangan Miko mulai bergerak menyusuri pinggang ramping istrinya, dan menuju pusat bagian inti Miranda. Ia dengan lihai menyampirkan pakaian dalam istrinya ke samping. Kemudian ia mulai memainkan jarinya di bawah sana. Membuat Miranda meleguh. Miko tersenyum, mengangkat wajahnya demi melihat wajah istrinya yang kini telah termakan gairah.
Miranda hendak menyentuh pundak suaminya, karena ia butuh sandaran. Namun, Miko justru memegang tangannya dan di satukan di kepalanya. Sedangkan tangan satunya masih betah bermain di bawah sana.
“Sayang, tolong....”
“Apa sayang?” goda Miko.