
Satu bulan kemudian.
Hari terus berlalu kandungan Rena semakin besar, memasuki bulan ke tujuh. Di trimester kedua Alby merasa lega pasalnya istrinya sudah jarang membangunkan dirinya pada malam hari demi membuatkan makanan. Hanya saja saat tidur masih sama harus memeluk suaminya. Rena masih beraktivitas seperti biasanya, bekerja di rumah sakit terkadang juga menjemput putrinya. Namun, tak jarang Miranda kadang mengambil alih menjemput Misel.
Ngomongin soal Miranda, perempuan yang saat ini menyandang status sebagai seorang istri sah Miko itu terlihat bahagia, hidupnya jauh lebih berwarna. Setelah menikah keduanya kini tinggal di kompleks perumahan Irawan, tepatnya rumah yang keduanya tempati berada di sebelah rumah Irawan. Lelaki setengah baya itu memang tidak ingin jauh dari putranya, maka sebagai hadiah pernikahan ia memberikan kado sebuah rumah yang ia beli tepat di samping rumahnya. Keadaan Miko kini sudah membaik, ia pun sudah kembali menjalani rutinitas di perusahaan.
“Ngelamunin apa hayo?” ujar Miko seraya memeluk Miranda dari belakang, perempuan itu tengah menatap ke arah langit yang memancarkan ribuan bintang yang terlihat indah.
“Gak apa-apa. Aku cuma lagi bahagia aja, akhirnya aku menemukan orang yang tepat. Seorang pria yang begitu begitu sayang sama aku,” ujar Miranda dengan wajah berbinar bahagia, mengingat bagaimana sayangnya lelaki itu padanya.
“Hemm... Jadi, udah ngerasa bahagia dan lengkap ni?” tanya Miko seraya meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
“Heem!”
“Tapi aku belum ngerasa lengkap,” kata Miko dengan wajah berpura-pura sedih.
“Kenapa?” Miranda bertanya seraya memutar tubuhnya menghadap sang suami.
“Tentu saja karena aku belum menanam saham,” jawab Miko berdecak karena istrinya itu kurang peka dengan kode yang ia beri. Padahal kata orang janda itu lebih berpengalaman.
“Emang uang kamu kurang banyak ya sayang, kok harus tanam saham lagi.”
Miko semakin kesal mendengar jawaban istrinya yang mengira pembicaraan soal bisnis. “Mentang-mentang udah jadi desainer ternama, tahunya saham duit doang,” cibir Miko.
Miranda tergelak mendengarnya. Kenapa jadi bawa-bawa desainer padahal ia tidak tahu apa-apa.
“Kok jadi emmhhh–" Miranda tak lagi melanjutkan ucapannya saat dengan cepat Miko justru langsung membungkam bibirnya, kedua mata perempuan itu terbelalak akibat gerakan ciuman yang secara tiba-tiba sang suami lakukan. Bahkan tubuhnya hampir terhuyung ke belakang, namun gerakan cepat Miko langsung merengkuh pinggang rampingnya dari belakang dengan lengan kirinya, sementara satu tangannya yang sebelah kanan bergerak menyusuri area perut istrinya.
“Ternyata masih ramping ya,” ujar Miko di sela-sela pangutan bibirnya, hal itu membuat Miranda yang semula menutup kedua matanya menjadi terbuka dengan rona wajah yang bersemu. “Ini loh yang ku maksud tanam saham,” sambungnya seraya mengusap perut istrinya yang masih rata. Miko jadi berpikir jika Miranda pasti merawat tubuhnya dengan baik selama ini.
“Emm...”
“Kita lanjutkan di kamar!” pinta Miko seraya menggiring istrinya masuk ke dalam, tak lupa menutup pintu balkon.
“Ngapain?”
“Mantap-mantapnya,” sahut Miko menggoda bahkan tak tanggung-tanggung lelaki sudah melepaskan piyama bagian atasnya.
“Tapi–"
“Ayolah sayang, dari kemarin udah ketunda terus ini. Udah aku sakit harus melakukan perawatan, ehh pas aku udah sembuh kamu malah datang bulan, belum lagi kesibukan kita berdua. Mumpung malam ini senggang hayo kita gas,” kata Miko mencibir kesal.
Perempuan yang mengenakan mini dress malam itu hanya tertawa melihat sang suami memasang wajah melasnya.
“Ayo dong sayang, aku udah siap ini. Ayo gas... Kamu yang pimpin kan kamu yang pengalaman. Ajarin aku sampai pro,” sambung Miko.
“Kata siapa?”
“Kata orang janda itu lebih pengalaman,” ujarnya seraya menaikkan kedua alisnya menggoda. Miranda menghela nafasnya dan justru berbalik naik ke atas ranjang. Miko menggaruk tengkuknya berpikir apakah ia ada salah berucap. Kemudian ia memilih naik ke atas ranjang mendekati istrinya.
“Kenapa?” tanya Miko cemas.
“Hei kenapa malah jadi bahas kesana-sana sih. Kamu adalah perempuan pilihanku, dan aku tidak mungkin menyesal," ujar Miko seraya menangkup wajah cantik istrinya, Miranda hanya mengangguk. “Jangan pasang wajah sedih atau melow, kita kan mau senang-senang. Kalau kamu sedih aku berasa mau perkosa kamu jadinya,” sambungnya seraya mengecup kening istrinya, kemudian menyatukan kedua hidung mancungnya.
“Bolehkan dilanjut?” pintanya.
Miranda tersenyum mengangguk. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Miko segera membungkam bibir istrinya, hingga akhirnya kecupan yang semula halus dan lembut, kini menjadi lebih menuntut, kala lidah keduanya saling membelit dan me lu mat. Sementara kedua tangan Miko tak tinggal diam mulai melepaskan satu persatu pakaian istrinya. Melepaskan pangutan bibirnya, kemudian lidahnya mulai menari di ceruk leher sang istri, meninggalkan jejak kemerahan, membuat Miranda men de sah, kala merasakan tubuhnya melayang akibat sentuhan lembut sang suami.
Kring... Kring.... Drtt... Drt....
Suara nada dering ponsel Miko terdengar. Namun, lelaki itu berusaha untuk bersikap acuh, niatnya untuk menggapai surga dunia malam ini tidak ingin kembali gagal setelah satu bulan lamanya ia menunggu.
“Sa–sayang,” de sah Miranda ingin mengingatkan perihal ponselnya yang sejak tadi terus berdering.
“Abaikan saja,” jawab Miko seraya merebahkan tubuh istrinya yang terlihat sudah polos tanpa sehelai benangpun. Miko menatapnya dengan pandangan kagum dan penuh gairah, hal itu membuat Miranda merasa malu. Lelaki sedikit beranjak untuk melepaskan pakaian bagian bawahnya sendiri, kemudian kembali mengukung tubuh istrinya. Keadaan keduanya yang sama-sama polos, terlihat sudah mulai siap untuk saling menyatu dan berbagi keringat. Miko kembali menyusuri tubuh istrinya, dengan lidahnya. Menyentuhnya tiap inci tanpa ada yang terlewat.
Kring... Kring.. drt... Drt...
Getaran ponselnya kembali terdengar membuat keduanya merasa terusik.
“Angkat dulu, kayaknya itu penting banget dari tadi bunyi terus,” pinta Miranda seraya mendorong tubuh suaminya dengan pelan.
“Tapi–"
“Nanti bisa dilanjut lagi,” bujuk Miranda.
Miko berdecak, berguling dari atas tubuh istrinya, mengambil ponsel miliknya yang di atas nakas. “Nyesel tau gini, ponsel gak aku matiin aja tadi,” sungutnya seraya menekan tombol hijau lalu meletakkan ponselnya di dekat telinga. Miranda terkekeh menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
“Apa?!!" pekik Miko ketika panggilannya sudah terhubung.
“Oke, Oke saya kesana,” sambungnya seraya menutup telponnya secara sepihak.
“Ada apa?” tanya Miranda.
“Aku harus ke bar dulu sayang.”
“Lho kenapa?”
“Itu si Yanti mabok gak bisa balik sendiri, ini yang punya bar kan temanku, dia nelpon buat ngabarin minta jemput si Yanti.”
“Yanto namanya kok,” ralat Miranda.
“Aku lebih suka panggil Yanti.”
Miranda menghela nafasnya. “Ya udah sana hati-hati."
“Tunggu aku ya sayang, sebentar aja kok,” ujar Miko dengan wajah tak rela, padahal sedikit lagi ia bakal rasain mantap-mantap. Gara-gara asistennya itu semuanya jadi gagal.
“Hemm.”