
Rena mondar-mandir di depan pintu, sesekali matanya akan melirik ke jam dinding di mana waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi suaminya tak kunjung pulang. Ia menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Ia khawatir suaminya tak pulang, lantaran masih marah dengan dirinya.
Mengusap wajahnya, perempuan itu kembali duduk di sofa seraya mengambil ponselnya, membuka aplikasi berwarna hijau. Ia membuka pesan yang ia kirimkan pada suaminya beberapa jam yang lalu, yang masih belum terbaca, bahkan terakhir lelaki itu terakhir online pukul tujuh tadi pagi. Ia memberanikan diri menelpon lelaki itu, ternyata tak terhubung, hanya terdengar suara operator yang mengatakan di luar jangkauan. Rena tertunduk lesu, ia berpikir apakah segitu sibuknya sampai selarut ini belum pulang, padahal jika biasanya Alby akan pulang tepat waktu.
Alby tiba di kediamannya dengan wajah lelahnya. Usai memarkirkan mobilnya ia berlalu masuk ke dalam rumahnya, ia harap malam ini Rena sudah tidur seperti biasanya. Tapi, dugaannya meleset, begitu tiba di ruang tamu ia melihat istrinya masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, kadang perempuan itu tersenyum. Entah apa yang terjadi, Alby merasa kesal melihat senyuman itu, pikirannya yang lelah membuat ia berpikir negatif, padahal ia sendiri tidak tau apa yang tengah istrinya lihat.
Alby memilih berlalu, berpura-pura tak melihat keberadaan Rena. Ketika Alby hendak menaiki anak tangga, panggilan dari Rena menghentikan langkahnya.
"Abang baru pulang?" tanyanya.
"Hemmhh," jawab Alby datar membuat Rena sedih. Ia pikir sifat hangat yang Alby tunjukkan saat di kantor tadi menunjukkan bahwa lelaki itu sudah memaafkannya.
Melihat lelaki itu berlalu ke kamar, tanpa berpikir panjang Rena pun menyusulnya. Terlihat Alby mulai melepaskan satu persatu atribut yang melekat pada tubuhnya.
"Abang mau mandi ya, Rena siapin air hangatnya ya bang?" tawar Rena.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
Rena kembali tertunduk sedih, tapi ia berusaha tetap tersenyum, "aku tau abang bisa sendiri. Tapi Rena ingin." Rena berlalu ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk suaminya.
"Bang sudah," ujar Rena begitu keluar dari kamar mandi usai dirinya selesai menyiapkan air hangat untuk sang suami, berikut dengan perlengkapan mandinya.
Tanpa menjawab Alby berlalu masuk ke dalam begitu saja. Rena masih mencoba tersenyum, setidaknya suaminya masih mau pulang itu sudah bagus untuknya. Ia berlalu ke lemari menyiapkan pakaian sang suami, tak lupa meletakkannya di atas ranjang. Setelahnya, Rena keluar dari kamar menuju dapur, ia akan membawakan makanan dan juga teh manis hangat, karena ia yakin suaminya pasti belum makan. Sore tadi Rena sengaja memasak soto ayam untuk suaminya. Kali ini beneran soto ayam, bukan mie instan rasa soto, dan rasanya Rena berani jamin pasti enak, meskipun masih kalah dengan masakan ibu mertuanya.
Kembali ke kamar dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman yang ia bawa, Rena melihat suaminya sudah selesai mengganti pakaiannya, kini Alby tengah mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk. Rena meletakkan nampannya di atas meja, Alby hanya melirik tanpa berniat untuk menegurnya.
Rena menghampiri suaminya, "Rena bantuin keringkan rambutnya ya bang?" tawar Rena dengan senyumnya, bahkan ia hendak mengangkat tangannya mengambil alih handuk di tangan Alby.
"Aku bisa sendiri!" tolak Alby seraya berlalu dari hadapan istrinya.
"Ya udah habis ini Abang makan ya, aku tadi masak buat Abang lho. Cicipin ya kali ini aku jamin, rasanya lumayan meskipun masih belum seenak masakan ibu," terang Rena yang di akhiri dengan kekehan kecil.
"Hemm."
Rena menghela nafasnya, berusaha menguasai perasaannya. Setelahnya ia kembali menatap ke arah suaminya, yang masih betah memunggunginya, lelaki itu terlihat tengah mengambil laptop miliknya, kemudian mulai beranjak.
Melihat lelaki itu hendak beranjak ke luar, Rena segera berlari kecil dan memeluk tubuh suaminya dari belakang, membuat Alby terkejut.
"Maaf bang," lirihnya.
"Aku ngaku salah udah nyakitin Abang, tapi aku mohon jangan diemin Rena seperti ini bang. Abang boleh marahin aku atau maki aku bang. Jangan diam saja bang, Rena sedih bang," imbuhnya kemudian membuat Alby tertegun.
Alby berusaha melepaskan rengkuhan tangan istrinya, "tidurlah Re. Hari sudah malam."
Rena menggeleng, "gak bang. Aku gak akan bisa tidur kalau Abang masih seperti ini. Aku minta maaf bang, jangan diemin aku begini." Perlahan Rena mulai terisak di balik punggung sang suami, membuat hati Alby mencelos. Lelaki itu segera berbalik, hingga posisinya saling berhadapan dengan istrinya.
"Re, Abang tuh-"
"Aku harus gimana bang? Abang salah paham. Aku bukannya tidak mau memiliki anak dari Abang, aku hanya emosi saat itu. Seandainya Abang jujur sama Rena, mungkin akan aku pikirkan bang. Aku hanya kecewa karena Abang mengambil keputusan sepihak," Rena mengerjapkan matanya, membuat air matanya kembali luruh.
"Atau begini saja. Biar Abang percaya. Bagaimana kalau kita program sekarang aja. Ayuk bang, kita lakukan sekarang. Biar Rena bisa hamil, aku juga tidak akan mengkonsumsi pil kontrasepsi itu." Dengan air matanya yang berlinang Rena mulai melucuti pakaiannya, membuat Alby terkejut, keduanya matanya membulat sempurna.
"Re, gak begini maksud Abang," lelaki itu menggeleng seraya menahan tangan istrinya, yang telah berhasil melepaskan kancing piyamanya.
"Aku harus bagaimana? Biar Abang percaya. Aku gak bisa didiemin begini bang. Gak apa-apa, Ayuk kita lakuin biar aku cepat hamil. Atau Abang bingung biar aku yang pimpin dan mulai," pekik Rena kali ini air matanya mengalir dengan deras, tangannya berusaha untuk menepis tangan suaminya, ia hendak melanjutkan aksinya. Biarlah kali ini ia bersikeras murahan, toh pada suaminya sendiri.
Melihat istrinya yang menangis tergugu, Alby segera merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya. "Maafin Abang, Re." Alby mendaratkan kecupan di pucuk kepala istrinya.
Rena masih terisak sementara tangannya mencengkram pakaian suaminya dengan erat, "Abang aku-"
"Sstt!" Alby melepas dekapannya menatap istrinya, lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya, meminta perempuan itu untuk tak lagi melanjutkan ucapannya.
"Kamu gak salah, Re. Abang yang salah. Abang udah egois, Abang hanya tengah kecewa pada diri sendiri. Maafin Abang ya sayang," ujar Alby.
Rena menggelengkan kepalanya, "gak bang. Rena juga salah, udah nyakitin Abang, udah bentak Abang. Maafin Rena ya bang."