
Ryan masih mengecup pipi dan tengkuk leher istrinya. Menurutnya ini adalah jadwalnya ia menjenguk si anak dalam perut Maminya. Tapi, Alena justru tertidur sejak pukul tujuh. Ryan yang memang sudah menantikan hal itu, kini mencoba mengusik istrinya. Dengan cara mengecup dan menyentuh tubuh istrinya dengan lembut. Namun, ia merasa kesal lantaran istrinya itu sama sekali tak terusik.
Hal itu tak juga membuat ia menyerah begitu saja. Ryan justru mulai menggerakkan tangannya di baju istrinya. Meraba perutnya yang sedikit membuncit. Alena meleguh dalam tidurnya, lalu membuka kedua matanya. Terkejut karena belum sempat ia berucap, sang suami justru langsung membungkam bibirnya. Membuat nafasnya terengah-engah, seiring dengan pangutan bibir sang suami yang lebih intens dan menuntut. Ryan terus men cum Bu istrinya, memperlakukannya secara lembut. Seakan-akan ia tengah menjaga sebuah arang dari kaca yang tak boleh sampai retak.
“Masry, ink tuh mau apa?” tanya Alena dengan nafas terengah-engah.
“Jenguk Dede sayang. Papinya kan kangen,” sahut Ryan dengan nafas parau. Tangannya bergerak melucuti satu persatu pakaian istrinya. Ia pun ingin melakukan hal yang sama pada tubuhnya. Namun, di saat tangannya bergerak hendak membuka pakaiannya. Pintu kamarnya di ketuk dari luar.
“Ryan, di bawah ada Miko tuh nyariin kamu!”
Ryan berdecak, padahal ia baru mau mulai. Alena buru-buru menutup tubuhnya dengan selimut. “Temuih gih Masry,” ujar Alena.
“Tapi sayang, Mas kan belom....”
“Dilanjutkan lagi nanti. Lagian aku ngantuk banget,” sahut Alena sambil menguap, entahlah akhir-akhir ini ia lebih suka banyak tidur.
“Iya deh. Mas temuin dia dulu ya.” Ryan kembali memakai pakaiannya, lalu beranjak keluar.
🦋
“Ada apa sih Mik?” tanya Ryan begitu tiba di bawah menemui Miko.
“Mau nagih janjimu lah,” sahut Miko. Ryan mengerutkan keningnya bingung, mencoba mengingat janji apa yang telah ia berikan pada lelaki itu.
“Janji apa? Jangan bilang kamu minta di kawinin, gak ya. Aku masih normal,” pungkas Ryan. Hal itu membuat Miko melemparkan bantal sofa pada suami sahabatnya itu. “Ngaco!"
“Waktu Alena ngidam kan. Kamu minta barter, sekarang aku mau tagih janji. Temanin aku ke sawah, buat cari belut.”
Ryan melongo. “Belut? Ke sawah?”
Miko mengangguk. “Iya ayo buruan. Keburu kemalaman nanti. Nanti mbak Kunti keburu pada datang.”
“Kenapa harus ke sawah sih Mik? Kan bisa gitu cari di supermarket,” sarannya.
“Gak mau. Istriku maunya yang fresh, yang masih bau lumpur, itu juga harus aku yang nyari.”
“Nyusahin aja sih!” celetuk Ryan kemudian.
🦋
Dan di sinilah kini keduanya berada. Di sebuah persawahan dengan minimnya pencahayaan senter yang Miko bawa dari rumah. Sudah tiga jam berlalu, namun ia tak kunjung mendapatkan belut.
“Udah sih Mik. Cari di supermarket aja sih.”
“Bawel banget sih ini Pak Dokter. Udah jelasin pula sejak tadi. Istri ku maunya makan belut hasil tangkapan ku sendiri, yang masih bau lumpur.”
“Halah ribet banget sih Mik. Udah tinggal aja besok pagi kita ke pasar, di sana pasti banyak,” ujar Ryan sambil menepuk pipinya yang di gigit nyamuk. Karena keadaan yang gelap, belum lagi Ryan yang tidak terbiasa di tempat seperti itu. Ia menengok ke arah sekitar, suasana terlihat sunyi, seketika ia merinding membayangkan jika tiba-tiba Mbak Kunti datang menyapanya. Bayangkan bagaimana nanti ia akan lari. Suara kodok terdengar saling bersahutan.
“Pak Dokter gagal mantap-mantap jadi ngeselin banget ya. Di bilangin gak ngerti juga,” omel Miko.
“Mending baru dimulai gak buat nyut-nyutan. Lah aku waktu itu, udah tinggal nyelup doang Pak. Gimana gak kesal coba. Tiba-tiba Pak Dokter datang mengacaukan segalanya. Coba bayangkan betapa nyut-nyutan kepala atas bawah ku.” Miko semakin geram. Mendengar Omelan suami sahabatnya itu, di tambah ia juga tak kunjung mendapat belut seperti yang istrinya ia inginkan.
Melihat Miko yang kesal, Ryan memilih diam. Membiarkan Miko berjuang mencari belut, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya, membawa pancing kail. Meskipun tubuhnya menjadi sasaran nyamuk kali ini, ia tetap diam menyibukkan diri menepuk nyamuk-nyamuk nakal.
Sementara Miko merasa frustasi sudah tiga jam. Namun, ia tak juga kunjung mendapatkan belut. Berkali-kali ia melihat arloji di tangannya. Waktu terus beranjak, bagaimana jika sampai pagi ia tak juga mendapatkan apa yang istrinya inginkan.
Bukan karena takut kena omel Miranda. Tapi, ia merasa akan menjadi suami yang tak berguna. Yang tak dapat menyanggupi permintaan istrinya. Padahal yang ia tahu, orang ngidam itu keinginannya harus di turuti. Dengan berpangku tangan, Miko merasa frustasi dan ingin menangis.
“Lho, kamu nangis Mik?” tanya Ryan dengan wajah terkejut mendengar isakan dari suami Miranda itu.
“Diam!” sentak Miko, sambil mengusap sudut matanya. “Aku tuh gak nangis cuma keluar air mata,” kilahnya.
Ryan terkekeh, apa bedanya? Pikirnya.
“Pusing. Ini gimana kalau aku gak dapat juga ya Pak Dokter?” keluh Miko.
“Cari di pasar besok pagi Mik. Gak usah nangis segala, aku temanin deh. Terus kamu bawa lumpurnya deh dari sini. Pasti Mbak Miranda gak akan tahu kok,” ujar Ryan memberi saran.
Miko menggeleng. “Masa aku berbohong sih. Nanti kalau anak-anak aku kenapa-napa gimana? Karena Papanya bohong. Anakku tiga loh Pak Dokter.”
“Ya gak tahu...” jawab Ryan pasrah seraya memangku tangannya.
“Kalau aku gak dapat belutnya juga. Aku ngerasa kaya suami yang gak guna dong. Masa anaknya minta belut gak bisa Carikan.”
“Lagian kenapa sih harus belut? Lele gitu kan gampang,” celetuk Ryan.
“Emangnya orang ngidam itu bisa request. Itu mah maruk. Ini semua juga karena Pak Dokter, Pak Alby dan Alena,” tandasnya kesal.
“Kok aku dan istriku? Apa salah kami.”
“Nyumpahin aku kan kemarin. Kalau istriku bakal ngidam yang lebih aneh dari Alena,” terang Miko. Ryan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Nah ini contohnya lebih aneh dari Alena. Istrimu mending cuma minta Mia ayam Pak Samsul. Lah aku malam-malam gini nongkrong di sawah orang cuma demi seekor belut.”
“Pak Dokter tahu kan rasanya itu kaya.....” Miko tak lagi melanjutkan ucapannya, saat ia merasakan kailnya bergerak. Wajahnya langsung berbinar dengan cepat ia segera menariknya, dan ia berhasil mendapatkan belutnya. Seketika ia merasa lega dan bahagia bisa pulang membawa belut.
Seketika keduanya langsung berteriak girang, dan melakukan tos.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komentar, dan votenya ya guys.
Yuk mampir juga ke Alana dan Dave.