
Ucapan Ryan terbukti dalam kurun waktu tidak kurang dari dua puluh empat jam. Perempuan yang menjadi masalah, telah di tangkap dan langsung di jebloskan ke penjara.
Dan di sinilah kini Miko, Ryan dan Alena berada. Menemui perempuan yang telah menjadi tersangka.
“Ku pikir siapa yang menemui, ternyata kamu! Perempuan yang angkuh dan sombong itu.” Erni tetap tenang mencibir Alena, tak ada rasa takut dalam diri perempuan itu. Meski penjara saat ini telah menjadi rumahnya.
Alena meradang mendengarnya, ia akan beranjak lalu menampar pipi perempuan itu. Tapi, Ryan menahannya, ia tidak ingin istrinya bersikap bar-bar, selain karena saat ini berada di kantor polisi, ia juga tengah mengandung belum lagi kondisi Alena yang masih belum sepenuhnya fit. Jika saja Alena tak kekeh ingin ke sana, Ryan tentu lebih merasa tenang.
“Mending aku sombong. Daripada kamu gila!” desis Alena marah.
Brakk!!!
Erni menggebrak meja itu dengan kuat, meski saat itu kondisi tangannya dalam keadaan terborgol.
“Kurang ajar!!”
Gebrakan meja itu tentu membuat ketiganya terkejut, begitu pula dengan polisi yang berjaga di belakangnya. Mereka langsung sigap menahan Erni.
“Kau itu lebih pantas masuk ke rumah sakit jiwa. Hanya orang yang waras yang mempunyai rasa iri dan dengki. Gara-gara kamu, sahabatku kini celaka, kritis. Akan ku pastikan kau membusuk di penjara,” ancam Alena.
Namun, sepertinya itu tidak menjadikan Erni merasa takut. Ia justru tertawa dengan keras. Sebuah tawa seperti orang yang mempunyai penyakit depresi.
“Baguslah. Biarkan saja dia mati, karena telah menjadi pahlawan kesiangan untukmu. Jika saja ia tidak melindungimu, harusnya kau yang saat ini mati. Rasanya aku belum puas karena tak berhasil menyakitimu. Tapi, mendengar sahabatmu itu hampir mati, aku merasa sangat bahagia.”
Plak!!!
Tanpa disangka, Alena langsung maju mendaratkan tamparan keras di pipi Erni, membuat semua orang di sana terkejut.
“Berani sekali kau menyumpahi sahabatku mati. Yang ada, kau yang akan membusuk di penjara!” sentak Alena. Ryan segera menahan tubuh istrinya yang ingin kembali maju, mendaratkan tamparan pada Erni. Ia khawatir istrinya lepas kendali, dan Erni membalas menggunakan kakinya, kemudian terjadi sesuatu dengan kandungannya.
“Lepas Masry. Biarkan aku membeli pelajaran pada perempuan gila itu. Bila perlu aku akan membunuhnya!" Teriak Alena meronta dalam dekapan sang suami.
Tawa menggelegar terdengar dari mulut Erni. “Aku tidak peduli dengan diriku. Mau ku mati sekarang atau nanti. Toh aku sudah tidak ada artinya. Semua orang yang ku sayangi sudah pergi. Dan salah satunya karena dirimu. Perbuatanmu telah membuat kekasihku meninggalkanku, karena ia menganggap aku perempuan yang tidak punya belas kasih. Semua itu karena dirimu, perempuan sombong. Sekarang aku bahagia melihat kamu hancur!”
Erni ingat saat itu, foto-foto dirinya yang perbuatan dirinya yang di supermarket itu, hingga ia di usir oleh seorang petugas keamanan tersebar luas di internet. Kekasihnya merasa malu dengan perbuatannya, akhirnya memilih memutuskan dengan dirinya. Hal itu membuatnya nekat membalas dendam, ia berjanji akan membalas perbuatan Alena. Hingga hari-hari berikutnya ia memang kerap kali memata-matai Alena. Tibalah Alena di mall kemarin, kebetulan mall yang di kunjungi Alena bukankah miliknya hingga membuat Erni nekat melancarkan aksinya. Sayangnya, saat ia mencoba mendorong perempuan itu, seseorang yang ia dengar sahabat Alena, justru menghalanginya.
****
Rena telah di pindahkan ke ruang perawatan VVIP. Ruangan yang lebih nyaman dengan fasilitas yang memadai. Dokter mengatakan kondisi Rena sudah membaik, hanya tinggal menunggunya sadar.
Alby merasa lega mendengarnya. Lelaki itu sejak tadi tidak beranjak dari sisi istrinya sedikitpun. Ia ingin ketika sang istri membuka kedua matanya, dirinyalah yang pertama kali dilihat.
“Sayang, kenapa tidak juga membuka matamu. Ini bahkan sudah sepuluh jam,” keluh Alby dengan mata yang berkaca-kaca. “Apa kau begitu menikmati tidurmu?” sambungnya seraya membelai pipi istrinya, wajahnya terlihat memucat.
Di sofa Dinda menatap menantu dan anaknya dengan mata yang berembun. Sebagai seorang ibu ia juga bisa merasakan kesedihan mereka. Belum lagi kejadian Rena yang tak kunjung sadar, membuat ia kembali mengingat bagaimana dulu ia pun hampir kehilangan suaminya. Dinda hampir saja menjadi janda jika Rava tak kunjung membuka matanya, setelah dokter mengatakan ia koma. [Baca novelnya dengan judul Cinta Segitiga, nah kan jadi promosi, padahal novel banyak typo itu. Tapi PD aja deh.. hehe]
Sementara menunggu Rena sadar, putranya ia beri susu formula. Saat ini putranya masih berada di ruangan bayi. Beruntung dokter mengatakan berat badan normal dan kondisi bayi dalam keadaan sehat, hingga tak perlu di rawat di inkubator.
“Istirahatlah by. Sejak tadi kamu juga belum makan,” tegur Dinda pada menantunya. Karena Alby sejak tadi memang tidak beranjak dari sana, Dinda sedikit terharu merasakan begitu besarnya cinta Alby pada putrinya.
“Nanti Mom. Aku belum ngantuk, dan aku juga gak lapar,” sahut Alby lirih. Saat ini memang hanya ada dirinya dan kedua mertuanya di sana. Soraya dan Galih memilih pulang lebih dulu, karena harus mengurus Misel juga. Mereka tak mungkin membawa Misel untuk menginap di rumah sakit.
“Daddy tadi sudah keluar membeli makan. Kamu makan ya, isi perut kamu sedikit. Sejak pagi kami bahkan tidak makan dan minum,” bujuk Dinda.
Alby menggeleng, tatapan tak lepas memandang istrinya. “Aku akan makan nanti mom. Kalau istriku sudah sadar. Dia juga belum makan dan minum kan, aku bisa menahannya.”
Dinda menghela nafasnya, begitu susahnya membujuk menantunya itu. Dinda menoleh ke arah putrinya yang terpejam.
“Rena pasti akan sadar By. Makanlah, jika nanti kamu sakit. Bukan hanya kami yang sedih, Rena juga iya. Ingatlah kedua anakmu juga membutuhkanmu,” tutur Dinda pelan.
Alby masih diam, mengecup tangan ringkih istrinya. “Kamu gak mungkin biarin aku mengurus putra kita sendiri kan sayang? Gak mungkin, kamu setega itu sama aku kan.”
Alby rasanya ingin menjerit, memaksa Rena untuk membuka kedua matanya. Ia terdiam kembali mengingat dulu ia juga hanya mengurus Misel seorang diri dengan dibantu pengasuh dan ibunya. Saat ini, ketika putranya lahir. Haruskah Tuhan juga membuat cobaan yang sama? Alby sungguh tidak menginginkannya. Ia ingin putranya itu tumbuh dalam naungan kasih sayang Ayah dan Bundanya.
Dinda memilih berlalu kembali ke sofa, karena tak juga bisa membujuk menantunya itu.
Sesaat Alby tersentak mana kala merasakan jemari istrinya perlahan mulai bergerak.